I Am Yours

I Am Yours
74. Akhir pekan bersamamu



Waktu lima bulan berlalu begitu cepat, Mega menjalani kehidupan rumah tangganya bersama Fajar dengan penuh suka cita.


Ia sangat bahagia bersama Fajar, lelaki itu selalu memperlakukan dirinya dengan penuh cinta. Apalagi saat mengetahui Mega tengah mengandung anaknya, sikapnya semakin hangat dan kasih sayangnya semakin bertambah saja.


Setiap hari selalu saja ada ide baru yang membuat hari-hari Mega jadi lebih ceria, dan Fajar sangat piawai dalam hal itu. Meski begitu, Fajar tidak pernah membatasi kegiatan Mega selama kehamilannya. Ia tahu wanitanya itu kuat dan terlihat senang dengan semua yang dilakukannya.


“Aku mencintaimu, dan akan selalu mencintaimu sampai akhir. Akan kulakukan apa pun itu asal kamu selalu tersenyum dan bahagia saat hidup bersama denganku. Terima kasih sudah mau menerimaku, menjadi istriku dan ibu untuk anakku.”


Setiap kata yang terucap dari bibirnya, Mega tidak pernah meragukan hal itu. Fajar memberinya banyak cinta, sejak awal bahkan sebelum pernikahan mereka Fajar akan selalu ada untuknya. Menemani hari-hari sibuknya, menunggunya tanpa mengeluh sedikit pun. Mega menyadari hal itu, dan membalasnya dengan sepenuh hatinya.


Tak ingin membuat suaminya itu khawatir padanya karena takut ia kelelahan di masa kehamilannya, meski Mega tahu Fajar tidak pernah sekalipun melarangnya melakukan hal yang disukainya Mega pun mulai membatasi kegiatannya.


Mega kini tidak lagi bekerja di puskesmas dan memilih fokus bekerja di kliniknya saja, karena sudah ada dokter muda yang datang dan menggantikannya di sana. Jadwal kerjanya pun berubah, kliniknya buka dari pagi jam sembilan hingga jam lima sore. Sementara apotek tetap buka hingga malam hari seperti biasanya.


Klinik dan kantor tempat Fajar dan dirinya bekerja bersebelahan dengan rumah orang tuanya, hingga Mega banyak menghabiskan waktu istirahatnya di sana.


Meski begitu, tidak jarang Mega harus pulang telat karena masih ada saja pasien yang datang mengetuk pintu rumah orang tuanya karena klinik sudah tutup saat pasien itu sampai di sana.


Dan Mega tidak mungkin mengabaikannya, dan tetap melayani mereka apalagi saat mengetahui mereka datang dari tempat yang cukup jauh dari kliniknya. Hingga akhirnya Fajar dan Mega sepakat untuk menghabiskan setiap akhir pekan mereka hanya berdua saja tanpa disibukkan dengan masalah pekerjaan.


Seperti sekarang ini, di akhir pekan saat keduanya tidak bekerja dan akan menghabiskan waktu berdua saja seperti biasanya.


Fajar yang bangun lebih awal, sudah menyiapkan sarapan untuk Mega. Segelas coklat panas dan beberapa lembar roti berlapis coklat kesukaan istrinya itu. Fajar tersenyum cerah, membawa nampan sarapan ke dalam kamar dan menaruhnya di atas nakas.


Mega terbangun saat mendengar tirai jendela kamar di buka, cahaya matahari pagi yang indah menerobos masuk menembus lewat kaca jendela yang kini terbuka lebar.


Angin sejuk berembus, Mega merentangkan tangannya lebar seraya tersenyum menatap punggung lelaki tampan yang berdiri membelakanginya itu.


“Mas,” panggilnya sambil meraih guling di sebelahnya, berbaring miring memeluknya erat dan menempelkannya di pipi.


Guling kesayangan yang pada ujungnya bergambar foto Fajar yang sedang tersenyum lebar.


Fajar menoleh, tersenyum melihat wanitanya itu sudah bangun dari tidurnya meski masih dalam posisi berbaring.


“Sayang,” balas Fajar lalu mengambil tempat duduk di tepi tempat tidur. “Sudah bangun rupanya.”


Tangannya terulur merapikan helai rambut Mega yang menutupi sebagian wajahnya ke balik telinganya, lalu mengusap perut Mega yang mulai terlihat membesar karena kehamilannya.


“Mas bawakan sarapan buat Kamu,” ucap Fajar lalu mengambil nampan di atas nakas.


Mega bangun dan duduk bersandar pada bantal besar di belakangnya, matanya berbinar menatap nampan di tangan Fajar.


“Beruntung banget punya suami yang sangat pengertian seperti Mas gini,” ucap Mega lalu mengambil gelas minumannya. “Aku benar-benar merasa sangat dimanjakan olehmu, Mas. Bangun pagi bisa langsung menikmati sarapan di atas tempat tidur.”


“Aku pikir Kamu pasti akan menyukainya,” jawab Fajar balas menatap Mega, melihat pada sudut bibirnya yang terdapat noda coklat.


“Masa sih, dikit kok kayak biasanya.”


“Coba rasain, ini rasanya lebih manis dari pada biasanya Mas bikin.” Mega mendekatkan gelas minumnya ke mulut Fajar, dan lelaki itu mengambilnya dari tangannya.


“Ehm, nggak kok. Manisnya sudah sesuai,” ucap Fajar meminumnya sedikit, lalu meletakkannya kembali ke atas nampan dan menaruhnya di atas nakas. “Tapi nggak tau kalau yang di sini.”


Fajar mendekatkan bibirnya ke wajah Mega, mencium sudut bibirnya lama.


“Eh!”


“Kalau bagian yang ini memang manis banget,” ucap Fajar menarik wajahnya dan tersenyum menggoda. “Kelewat manis malah.”


“Eh.”


“Ah eh ah eh!”


Mega tersipu malu, wajahnya langsung merona. “Mau lagi,” bisiknya pelan.


“Lagi?” Fajar bersorak dalam hati, dan kembali mendekatkan wajahnya.


“Eyy!” Mega menarik wajahnya menjauh, tangannya menahan bibir Fajar. “Mau coklatnya lagi, bukan mau yang itu.”


“Ish, kirain.” Fajar berdiri mengambil nampan, bibirnya manyun tapi tetap sabar menunggu Mega menyelesaikan sarapannya.


Mega melipat bibirnya, menahan senyum. Wajah Fajar terlihat menggemaskan, Mega melirik dari balik gelas kaca di tangannya.


“Mas nggak sarapan juga?” tanya Mega memakan potongan roti terakhirnya yang masih bersisa setengah.


“Sudah barusan sambil buatin sarapan buat Kamu tadi,” jawab Fajar, masih terus menatap Mega.


Ia menahan napas melihat Mega menggelung rambutnya ke atas dengan wajah setengah menunduk dan masih menggigit sisa potongan roti di mulutnya. Wanita itu terlihat begitu cantik di matanya dengan tangan masih sibuk menata rambutnya.


“Hap!”


Fajar menyambarnya roti di mulut Mega dan menempelkan bibirnya, membuat Mega terkejut untuk sesaat lamanya dan sontak melepaskan tangannya dari rambutnya.


Tanpa rasa bersalah Fajar mengunyah makanannya di depan Mega sambil terkekeh melihatnya bengong.


“Rotiku!” teriak Mega tersadar seketika dan tidak terima rotinya dimakan Fajar.


“Ish!”


🌹🌹🌹