I Am Yours

I Am Yours
76. Kelahiran Rumi Algifari



Mama membisikkan banyak doa di telinga Mega, mengusap punggung anak perempuannya itu dengan sayang.


“Tetap tenang ya, nak. Istigfar, inshaa Allah semua berjalan lancar.”


“Iya, Ma. Doakan Mega ya, Ma.”


Mega menyeka pipinya, berusaha tersenyum meski ada rasa khawatir yang melingkupi hatinya menjelang persalinan dirinya.


Beberapa lama menunggu, Mega kembali diperiksa. Saat kontraksi semakin cepat dan waktunya telah cukup untuk Mega melahirkan, Ia dibawa masuk ke ruang bersalin.


“Ya Allah, hanya pada-Mu aku menyembah dan hanya pada-Mu aku memohon pertolongan.”


Beberapa saat kemudian, Mega berjuang melahirkan putranya diiringi doa orang-orang yang menyayanginya di luar sana.


Ya, hari ini hari kelahiran putranya. Bayi mungil tampan berambut tebal itu lahir selamat dan juga sehat, demikian pula dengan ibunya.


“Selamat ya bunda, putranya lahir sehat dan tampan sekali. Tidak ada yang kurang dalam dirinya, ia terlahir sempurna.”


Mega menangis haru saat dokter yang membantu persalinannya itu memperlihatkan bayinya yang masih merah itu padanya dan meletakkan di atas dadanya.


“Alhamdulillah ya Rab,” ucapan syukur terlontar dari bibir Mega.


Hilang sudah semua rasa sakit yang dirasakannya tadi saat melahirkan bayinya, berganti dengan rasa bahagia.


“Barakallah, selamat datang anakku sayang. Terima kasih karena sudah lahir sehat dan sempurna,” ucapnya seraya menyentuh rambut tebal di kepala anaknya lalu turun pada punggungnya, dan menepuknya perlahan.


“Oweee ...”


Dan bayinya pun bersuara, menangis kencang membuat Mega tersenyum lebar di sela air matanya yang semakin deras mengalir.


Suara tangisnya yang kencang membuat semua orang di luar ruangan tertegun untuk beberapa saat lamanya, lalu tersadar dan mengucap syukur seraya menengadahkan kedua tangan ke atas.


Fajar yang sedari tadi duduk dan terus berdoa di samping kedua orang tua Mega, seketika menolehkan wajahnya.


“Ayah, Mama, dengar suara itu?” Fajar bertanya pada mama dengan suara bergetar menahan haru, “Putraku sudah lahir, Ma. Putraku sudah lahir!” serunya girang.


Mama mengangguk kuat, “Sekarang Kamu sudah menjadi seorang ayah yang sebenarnya,” ucap mama tersenyum mengusap bahu Fajar yang bergetar.


Lelaki itu menundukkan wajahnya tak kuasa menahan tangisnya. Ayah yang berada di sampingnya menepuk pelan pundaknya.


“Tolong jaga dan rawat putri juga cucu kami dengan baik, didiklah dia dengan benar. Kami percayakan mereka padamu,” ucap Ayah.


Fajar mengangkat wajahnya, perlahan ia turun dan bersimpuh di kaki keduanya.


“Terima kasih sudah melahirkan seorang Mega untuk Fajar, Ma. Terima kasih sudah menjaga dan membesarkan Mega dengan penuh kasih, Ayah. Terima kasih sudah mengizinkan Mega jadi pendamping hidup Fajar, istri juga ibu untuk anak-anak Fajar.”


“Ini hari kelahiran putra kalian, juga cucu kami. Bangunlah nak, jangan bersimpuh seperti itu.”


Ayah mengangkat lengan Fajar dan membawa lelaki itu berdiri.


Fajar tersenyum lebar menatap wajah ayah, lalu beralih menatap mama.


“Apa benar seperti itu, Ma?”


“Lihat saja nanti, toh sebentar lagi Kamu akan menjalaninya.” Mama tersenyum penuh arti.


Saat Mega sudah dipindahkan ke ruang perawatan, keluarga bergegas mendatanginya.


Ayah dan Mama lalu memberi kesempatan pada Fajar untuk menemui Mega terlebih dahulu, sementara mereka menunggu di luar.


Saat memasuki ruangan Mega dirawat, Fajar tidak dapat menahan lagi rasa harunya. Ia menangis, melangkah perlahan mendekati tempat tidur istrinya.


“Apa Kamu baik-baik saja?”


“Hemm.”


“Apakah tubuhmu masih terasa sakit?”


Mega menganggukkan kepalanya, “Sedikit.”


“Katakan apa yang harus aku lakukan untuk mengurangi rasa sakitmu?”


“Ish!”


Mega menggeleng, tersenyum menatap wajah yang kini dipenuhi air mata itu.


“Jangan tersenyum seperti itu padaku! Kamu tahu bagaimana khawatirnya Aku saat Kamu menolak untuk kutemani dan memilih melewatinya seorang diri. Hahh!”


Mega kembali tersenyum saat Fajar memalingkan wajahnya tak ingin menatapnya.


“Mendekatlah,” ucap Mega lalu merentangkan kedua tangannya, dan Fajar langsung memeluknya erat menciumi seluruh wajah Mega.


“Pria tampanku, mengapa terus menangis seperti ini? Lihatlah, Aku baik-baik saja. Hari ini hari kelahiran putra kita, apa Mas sudah melihatnya. Ia tampan sekali,” ucap Mega menangkupkan kedua tangannya, membingkai wajah suaminya.


“Ya, Aku sudah melihatnya. Dia tampan sekali,” ujar Fajar bangga.


“Dia mirip sekali dengan Mas.”


“Tentu saja, karena dia putraku.”


Saat perawat datang membawa kereta bayi, mama dan yang lainnya langsung berhambur masuk ke dalam ruangan Mega untuk melihat putra pertamanya.


Fajar mengangkat putranya, mencium keningnya lalu melafalkan azan di telinganya.


Untaian doa dan pujian terlontar dari mereka yang ada di dalam ruangan itu, semoga kelahiran Rumi Algifari jadi penenang dan penyejuk hati kedua orang tuanya juga orang-orang sekitarnya.


🌹🌹🌹