
Suasana kekeluargaan sangat terasa di ruang tamu rumah Mega, kedatangan bunda Rini setelah sekian lama tidak bertemu tentunya sangat menyenangkan untuk Mega. Terlebih lagi mama, kedua wanita kesayangan Mega itu telah saling mengenal sejak lama dan sudah seperti saudara kandung saja layaknya.
Keduanya langsung terlibat obrolan hangat, mengenang masa-masa dulu hingga sampai pada percakapan tentang anak-anak mereka.
Perhatian mereka berdua kini tertuju pada sepasang anak muda yang tengah berdiri di teras rumah.
“Aku pulang ya,” ucap Fajar menatap wajah Mega. Kedua tangannya memegang jemari tangan wanita itu, mengayunkannya ke kiri dan ke kanan.
Mega memutar bola matanya, “Dari tadi juga bilangnya gitu, tapi nggak pulang-pulang juga. Masihh saja di sini,” koreksi Mega.
“Masih kangen,” jawab Fajar pelan sambil mengusap tengkuknya, lalu berpaling menatap ke arah lain.
Mega menahan senyumnya, wajah lelaki di hadapannya itu terlihat memerah.
“Mas Inug kalau lagi malu, mukanya passti langsung merah!” ucap Mega lalu mengulurkan tangannya, menyentuh pipi kanan Fajar agar kembali menatapnya.
“Masa sih!” Fajar memegang pipinya, balas menatap ke arah Mega.
“Iyya! Coba saja lihat di kaca,” ucap Mega lagi, kali ini ia tidak dapat menahan tawanya.
“Ish! Kamu ya, ini bukan karena malu. Kepanasan tau,” jawab Fajar lalu memegang kancing kemejanya dan menggerakkannya agar ada udara yang masuk ke tubuhnya.
“Kepanasan apaa, sih. Gerah? Memang habis ngapain, sudah sore juga. Sinar matahari bahkan sudah tidak terlihat lagi.” Mega menengadah, menatap ke atas langit. “Sekarang langit malah tertutup awan hitam,” gumamnya perlahan, tertunduk dengan wajah muram.
“Kamu kenapa, kok kelihatan sedih gitu. Ada apa?”
Mega menggeleng perlahan, sambil tersenyum kecil. “Nggak ada apa-apa kok. Cuman pengen ajak jalan-jalan bunda ke pasar malam saja, itu pun kalau nggak hujan. Bunda kan hanya tiga hari nginap di sini,” jawab Mega.
“Ish, kirain ada apa. Besok saja bareng Aku, sekalian ajak bundamu jalan-jalan.”
“Besok? Besok pagi, siang, atau malam?”
“Besok malam. Pagi sampai siang Aku masih ada kerjaan di lapangan, setelah itu agak longgar ke sini sekaligus cek bangunan ruko baru.”
Mega melirik ke bangunan di samping rumahnya, para pekerja bangunan terlihat bersiap-siap untuk pulang setelah selesai membersihkan sisa bahan bangunan dan membersihkan diri.
“Ya sudah, Aku tunggu. Nanti Aku sampaikan sama bunda, lagi pula pagi besok Aku juga masih harus masuk kerja.”
“Aku pamit pulang ya,” ucap Fajar kemudian.
“Iya, hati-hati.”
Kali ini Fajar benar-benar berpamitan pulang dan masuk ke dalam mobilnya, lalu pergi meninggalkan halaman rumah Mega.
Saat masuk ke dalam rumahnya, Mega mendapati mama dan bundanya tersenyum penuh arti padanya.
“Untuk saat ini, Bunda mungkin hanya tiga hari saja menginap di sini. Tapi tidak lama lagi, sepertinya Bunda akan kembali dan menginap lebih lama lagi di sini.” Bunda Rini mengedipkan matanya pada Mega, dan tersenyum lebar pada mama.
“Oh ya, kapan itu Bunda?” Mega langsung duduk dan menatap penuh harap pada keduanya, pasti akan sangat menyenangkan bisa bersama bundanya dalam waktu yang lama.
“Maunya Mega kapan? Semua kan tergantung sama keputusan Mega, mama sama bundamu tinggal oke-oke saja.”
“Kok gitu?” Mega bingung, masih belum paham maksud mama dan bundanya.
“Bunda hanya tinggal tunggu undangan dari Mega dan Fajar, kalau bulan depan oke juga. Atau mungkin Mega mau cepat-cepat, Bunda siap kok datang kapan saja.”
Astaga, undangan itu toh maksudnya! Pipi Mega langsung merona.
“Nanti Bun, kalau ruko di sebelah sudah jadi. Baru Mega sebar undangan,” jawab Mega cepat tanpa pikir panjang.
“Serius, Nak.” Ayah muncul tiba-tiba dari dalam kamar. “Wah, berita bagus ini. Apa sebaiknya Ayah segera menyuruh Fajar buat cepat-cepat menyelesaikan pembangunan ruko di sebelah. Bagaimana Ma, setuju? Bunda Rini juga pasti setuju.”
“Setuju,” jawab mereka serempak, lalu tertawa bersama.
Astaga, salah bicara nih. Mega memijat pelipisnya, tiba-tiba saja kepalanya pening. Baru juga jadian, masa sudah mau tebar undangan?
Malam harinya, bersama dengan mama dan bunda Rini, mereka bertiga pergi ke pasar malam yang hanya diadakan satu kali dalam sebulan dan letaknya berada tidak jauh dari rumah Mega.
“Mega bawa payung?” tanya mama saat melihat Mega berjalan ke luar rumah sambil menenteng payung.
“Sebaiknya tidak usah berlama-lama di sana nanti, setelah melihat-lihat sebentar kita pulang saja. Kecuali kalau ada yang Mega mau beli,” ucap bunda Rini menatap ke arah Mega.
“Iya, Bun. Lihat gimana nanti saja, kalau ada yang cocok ya beli. Kalau nggak, ya lihat-lihat saja.”
Walau langit tertutup awan hitam, tidak mengurangi keramaian di tempat itu. Ramai tenda-tenda berbaris sepanjang jalan, pedagang dan pembeli saling berinteraksi.
Ada juga beberapa makanan khusus yang dijual di sana, yang biasanya hanya ada saat bulan-bulan tertentu saja.
Di salah satu tenda yang menjual berbagai macam lukisan, Mega berhenti. Matanya langsung tertuju pada salah satu gambar yang tergantung di sana.
“Ma, Mega ke sana dulu ya.”
Mama menoleh ke arah tenda yang ditunjuk Mega, “Iya, nanti Mama susul ke sana. Mama mau lihat di sini dulu,” ucap mama lalu bersama bunda, kembali sibuk melihat-lihat daster yang tergantung di depannya.
Mega mulai sibuk melihat kartu-kartu ucapan di depannya itu, mengagumi garis-garis halus yang terukir di atasnya. Kata-kata yang tertera di dalamnya, membuatnya tersenyum saat membacanya.
“Bagus ya, kreatif. Suka kalau lihat anak muda kita bisa menghasilkan karya bagus seperti ini.”
Mega menegakkan tubuhnya, menoleh pada lelaki yang berdiri sambil memilah gambar di sampingnya itu.
“Kok tau Aku di sini,” tanya Mega pada Fajar yang masih sibuk membolak-balik kertas di depannya.
“Barusan dari rumah Kamu, kata ayahmu kalian ke mari tadi. Ya sudah, Aku coba susul ke sini.”
“Jadi ke rumah tadi cuma mau nanya kita lagi ada di mana, gitu?”
“Nggak juga sih, tadi ada urusan sedikit sama ayahmu. Soal pembangunan ruko,” jawab Fajar.
“Memangnya ayah nanya apa?” Mega penasaran, teringat ucapan ayah sore tadi.
“Target waktu saja, kapan perkiraan ruko selesai dibangun. Itu saja,” jawab Fajar lagi.
Deg!
“Memang kapan kira-kira selesainya, masih lama ‘kan?”
“Kalau bahan siap semua, nggak sampai dua bulan juga selesai. Kenapa, tumben Kamu penasaran gitu?”
Astaga, dua bulan?
“Hei, Kamu kenapa?”
“Nggak apa-apa, cepat juga kalau nggak sampai dua bulan sudah selesai.”
“Kalau lembur terus malah satu bulan bisa selesai.”
Oh my God!
Mega tiba-tiba merasa oleng, ia langsung memegang tiang tenda. Ditariknya napas panjang lalu mengembuskannya perlahan.
“Ega, Kamu suka nggak kartu undangan ini.” Fajar menunjukkan kartu undangan di tangannya. “Bagus ya.”
Mega hanya mengangguk lemah, kartu-kartu di hadapannya itu sudah tidak menarik minatnya lagi.
“Bagus nak Fajar, sederhana tapi terlihat elegant. Mama suka, lagi pula itu warna kesukaan Mega.” Mama dan bunda Rini muncul dengan tas hitam di tangan masing-masing.
“Kalau begitu Saya beli yang satu ini,” ucap Fajar, lalu menyerahkan pada si penjual.
Mama dan bunda tersenyum melihatnya, sementara Mega hanya terdiam di tempatnya berdiri saat ini.
“Sudah nggak ada yang dibeli lagi ‘kan, kita pulang sayang.” Mama merangkul lengan Mega dan membawanya berjalan bersama.
Sementara Fajar tersenyum lebar sambil terus melihat kartu undangan di tangannya.
🌹🌹🌹