
Benar-benar sebuah pengalaman baru bagi Mega siang hari itu. Menempuh perjalanan jauh hanya dengan berjalan kaki saja, melihat secara langsung pekerjaan Fajar di lapangan.
Kedua tangan yang saling bertaut sepanjang perjalanan, beristirahat dan makan bersama di alam terbuka. Dengan bebas Mega menyandarkan kepala di dada Fajar, dan dalam perjalanan pulang lelaki itu menggendong Mega di punggungnya lalu mengobati luka di kakinya.
Segala perhatian Fajar terasa menyentuh perasaannya. Keakraban yang terjalin di antara mereka berdua itu menimbulkan rasa baru di hatinya. Bukan hanya sekedar rasa kagum biasa, tapi Mega menyukai perhatian Fajar padanya.
Fajar yang dikenal dingin dan suka sekali memarahinya dulu, kini berubah jadi sosok yang peduli padanya. Saat bersamanya, Mega merasa nyaman dan terlindungi. Perlahan ia mulai bisa membuka hatinya kembali.
Mega menyentuh lembut plester kecil di dekat mata kakinya itu, tersenyum kecil. Ia menggeser tubuhnya, dan bergerak turun dari tempat tidurnya. Belum juga kakinya melangkah, senyum di raut wajahnya memudar berganti dengan raut kesakitan.
Malam hari itu menjadi pengalaman baru pula bagi Mega saat sekujur tubuhnya terasa kaku dan pegal, terutama di bagian pinggang dan betisnya. Mega kembali terduduk di pinggir ranjang sambil meringis nyeri.
Tok tok!
“Mega? Mama masuk ya sayang,” kata mama dari luar kamar.
“Ya, Ma. Pintunya nggak Mega kunci kok. Mama masuk aja,” sahutnya dari dalam.
Kakinya ia naikkan kembali, ditaruhnya guling di belakang punggungnya untuk menahan tubuhnya agar tetap duduk tegap.
Mama masuk sambil membawa teko kecil di atas nampan, lalu menaruhnya di atas nakas yang ada di samping tempat tidurnya.
“Sudah malam, sayang. Kenapa jendelanya masih dibiarkan terbuka?” ucap mama lalu menutup jendela kamar Mega.
Mega menoleh sambil terus memijat pahanya, “Biar ada angin masuk aja, Ma. Sepertinya mau turun hujan, dari tadi siang hawanya panas banget.”
“Kamu kenapa, sakit?” tanya mama lembut, lalu duduk di tepi tempat tidur sembari menyentuh kaki Mega.
“Iya, Ma. Rasanya pinggang kaku dan kaki Mega pegaaall banget,” jawab Mega sambil memiringkan tubuhnya ke kiri dan ke kanan dengan kaki berselonjor lurus di atas tempat tidur.
Mama tersenyum mendengarnya, teringat pada Fajar yang meminta maaf padanya, lalu menceritakan bagaimana anak gadisnya itu kelelahan setelah melakukan perjalanan jauh dengannya.
“Kalau seperti ini, yang ada Kamu akan sulit tidur semalaman nanti Nak. Tunggu sebentar, mumpung belum terlalu malam. Masih jam delapan, biar Mama panggilkan tukang pijat.”
Mama lalu berdiri dan keluar dari kamar Mega. “Memang jam segini masih ada yang mau kalau dipanggil buat pijat, Ma?”
“Ada, asal bukan di atas jam sepuluh malam. Mbok Ratmi pasti mau datang,” jawab mama di ambang pintu, menoleh sesaat kemudian berlalu dari kamar Mega.
Tidak lama berselang, mama sudah kembali masuk ke dalam kamar Mega bersama mbok Ratmi, tukang pijat yang rumahnya berada di ujung gang.
“Ini Mbok, anak gadis Saya yang minta dipijat badannya.” Mama mengenalkan mbok Ratmi pada Mega.
“Maaf, jadi ganggu istirahat Mbok malam ini.”
Mbok Ratmi tersenyum pada Mega, ia berjalan mendekat. “Nggak apa-apa, sini biar Mbok pijat badannya.”
Supaya tidak mengotori seprai, mama merentangkan kain di bawah kedua kaki Mega.
Tangan terlatih mbok Ratmi mulai beraksi, dengan ramuan beras kencur yang tersedia di mangkuk kecil ia mulai melumuri kaki Mega dan memijatnya.
“Hemm, sampai kenceng gini uratnya. Tahan ya nak,” ucap mbok Ratmi kemudian.
Mega hanya meringis menahan sakit, membiarkan mbok Ratmi memijat pinggang dan kakinya yang kencang hingga pada akhirnya membuat tubuh Mega rileks dan menjadi lebih nyaman.
☆☆☆☆☆☆
Pagi-pagi sekali Fajar sudah datang ke rumah Mega. Ia memarkir mobilnya di luar pagar. Ia sengaja datang lebih awal untuk menjemput Mega, karena ia tahu motor Mega masih ada di parkiran puskesmas.
Fajar lalu mengirim pesan singkat pada Mega, ia lalu duduk menunggu di teras rumah yang pintunya masih tertutup rapat.
Aku sudah di depan rumah, pintunya masih tutupan.
Ting!
Fajar menoleh dan tersenyum saat melihat Mega membuka pintu rumahnya.
“Kamu sudah enakan?” tanya Fajar, dilihatnya Mega sudah mengenakan pakaian kerjanya. “Semalam Aku mampir kemari, tapi kata orang rumah Kamu sudah tidur.”
“Lumayan, habis dipijat mbok Ratmi semalam. Masih rada sakit sih, mungkin karena lama nggak pernah dipijat jadi badan kayak abis dibongkar habis. Terus masih njarem juga bekas tangan si mbok semalam,” sahut Mega, ia lalu duduk di samping Fajar.
“Memang Mas ngapain malam-malam datang kemari,” tanya Mega lagi.
“Ada urusan dikit sama ayah Kamu,” jawab Fajar sembari mengambil ponsel dari saku bajunya yang berbunyi. “Bentar Aku jawab telpon masuk dulu.”
“Silahkan, Aku masuk ke dalam dulu.” Mega kemudian beranjak masuk ke dalam rumahnya, meninggalkan Fajar yang tengah berbicara serius dengan seseorang di seberang sana.
“Mas sudah sarapan? Kalau belum biar Aku siapin, kebetulan mama habis masak nasi goreng.” Mega keluar sambil menenteng sepatunya.
“Sudah tadi di rumah,” sahut Fajar sambil memasukkan ponselnya kembali ke dalam saku kemejanya.
“Segelas susu lagi?” tanya Mega sambil tersenyum kecil.
“Ish! Bukan lah, itu cuman pelengkap saja. Sama kayak yang Kamu bilang barusan,” jawab Fajar.
“Oh, kirain!” Mega tersenyum lebar, lalu memakai sepatunya. Ia kini telah siap berangkat kerja kembali.
“Nak Fajar, kalau ada waktu luang nanti malam Bapak tunggu kedatangannya di rumah. Sekalian bahas soal yang semalam tertunda,” suara ayah yang muncul tiba-tiba dari dalam rumah.
“Inshaa Allah nanti malam Saya siap datang ke mari, Pak.”
“Bapak tunggu, biar cepat selesai urusannya dan segera kita bangun tempatnya.” Ayah kembali berbicara, kali ini beliau menatap Mega yang sedari tadi hanya menjadi pendengar.
“Fajar kenapa nggak diajak sarapan bareng di dalam,” tanya ayah pada Mega.
“Sudah Mega ajak tadi, Yah. Tapi dianya nolak, sudah sarapan katanya.”
“Terima kasih, Pak. Saya sudah sarapan tadi di rumah, sekarang mau jemput Mega berangkat kerja bareng,” jawab Fajar sekaligus berpamitan.
Keduanya lalu berpamitan, Mega mencium punggung tangan ayahnya.
“Kamu kenapa kok lihatnya kayak gitu,” tanya Fajar di sela perjalanan mereka menuju puskesmas, sembari sesekali melirik pada Mega yang sedari tadi terus menatapnya tak berkedip.
“Tanpa bertanya, harusnya Mas sudah tahu. Kenapa nggak pernah cerita sama Aku soal gudang sebelah rumah yang mau dibangun, bukannya Mas yang jadi penyandang dananya. Sementara ayah sebagai pemilik lahan melimpahkan segala urusan pembangunan sepenuhnya pada Mas,” ucap Mega dengan pandangan penuh selidik.
“Kalau urusannya sudah beres pasti Aku cerita sama Kamu. Sekarang kami sedang mengurus surat perijinannya terlebih dahulu,” jawab Fajar kalem.
“Aku dengar dari ayah juga, Mas mau bangun ruko tiga pintu. Salah satunya untuk klinik kesehatan,” ucap Mega lagi, lalu berpaling menatap lurus jalan di depannya.
“Iya betul,” jawab Fajar singkat.
“Apa dokter Rendra yang akan menempati ruko itu nantinya?” tanya Mega hati-hati.
“Hem, bisa jadi seperti itu nanti.”
Ish! Mega mengerucutkan bibirnya. Seharusnya lelaki itu bertanya terlebih dahulu padanya dan meminta pendapatnya, biar bagaimana pun ia kan anak pemilik lahan.
Paling tidak menawari dirinya, ia kan juga mau punya klinik sendiri. Bukannya langsung memutuskan dokter Rendra yang akan menempati ruko itu dan buka praktek di sana.
Fajar berusaha menahan senyumnya melihat wajah Mega yang cemberut. Ia memang berencana membangun ruko yang salah satunya diperuntukkan sebagai klinik kesehatan. Tapi ia tidak pernah memutuskan Rendra yang nantinya akan menempati salah satu ruko yang dibangunnya, seperti dugaan Mega padanya.
Ia tidak ingin Mega salah paham padanya, tapi untuk saat ini ia juga tidak bisa menceritakan soal rencananya itu sekarang.
🌹🌹🌹