![Friendshut [TAMAT]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/friendshut--tamat-.webp)
“Aw... Sakit... Pelan-pelan!”
Rintisan Natasya itu mengisi ruangan UKS yang hanya berisi dirinya dan salah satu petugas UKS—Luna. Dia memejamkan matanya kuat-kuat, meringis merasakan sakit di dagu nya yang tengah di bersihkan menggunakan antiseptik.
Luna ikut meringis, dia segera meneteskan obat merah pada kapas di tangannya. Kemudian mulai menepuk-nepuk pelan pada luka di lutut dan dagu Natasya. Dia melakukannya dengan pelan dan hati-hati, bahkan tangannya sampai bergetar seolah ikut merasakan nyeri yang dirasakan Natasya.
“Selesai!”
Natasya membuka matanya, masih dengan rintisan yang keluar dari mulutnya. Luna tersenyum sambil membereskan semua kapas yang digunakan untuk mengobati Natasya. Dia segera mengumpulkannya dan membuangnya ke tempat sampah yang tak jauh dari tempatnya berdiri saat ini.
“Untung aja luka lo gak parah banget.” ucap Luna, dia berdiri di samping brankar yang di tempati Natasya.
Natasya mencebik, menatap sebal Luna yang tersenyum lebar. “Gak parah gimana? Ini sakit banget loh... Bahkan, gue ngomong gini aja sakitnya nauzubillah.” tukas Natasya, dia kembali meringis.
Luna terkekeh, “Maksud gue tuh. Luka lo gak sampai harus di jahit gitu. Gitu loh... Maksudnya.” jelas Luna yang dibalas diangguki oleh Natasya.
“Yaudah, ya gue tinggal dulu. Kalau butuh apa-apa, lo bisa panggil gue atau anak PMR yang lain.”
“Makasih, ya.”
“Siap! Yaudah, gue cabut dulu. Cepat sembuh, ya.”
“Iya, makasih sekali lagi.”
Luna langsung membuka pintu UKS yang tadinya dia tutup rapat dan langsung di serbu teman-teman Natasya yang ingin melihat dan memastikan keadaan perempuan itu. Mereka meringis, menatap ngilu luka yang dialami Natasya.
Sedangkan Antonio dan Sebastian hanya bersandar pada kusen pintu, menatap jengah semua teman Natasya yang terus melontarkan pertanyaan-pertanyaan yang sebenarnya mereka sendiri tahu jawabannya.
“Sakit, gak Nat?”
“Sakit banget ya...”
Antonio menghela napas dengan kasar, dia segera bergegas menghampiri mereka semua yang mengerubungi ranjang Natasya. Dia menatap satu persatu dari mereka. “Mending sekarang kalian balik OR lagi. Natasya mau istirahat, sana!” usir Antonio yang langsung diangguki semuanya, meskipun dari mereka ada yang sempat menyorakinya.
Dan kini hanya ada mereka. Antonio dan Sebastian yang berdiri dikedua sisi brankar yang ditempati Natasya.
Antonio menatap Natasya, dia menarik kursi yang tak jauh dari tempatnya berdiri saat ini. “Kenapa sih, Na? Kok bisa kayak gini?” tanya Antonio bingung sambil beranjak duduk.
Natasya mencebik, “Gak tahu tuh, mantannya Fano. Gak jelas banget. Tiba-tiba dorong gue gitu aja.” kesal Natasya, dia meringis saat dagunya kembali terasa nyut-nyutan saat dia berbicara.
Sebastian mengerut kan keningnya. “Mantan Fano?” tanya Sebastian bingung atas pernyataan Natasya. Karena kalau dipikir-pikir, mantan Delfano itu banyak.
Natasya menatap Sebastian sambil mengangguk. “Iya, mantan Fano. Si Maya itu, anak IPS.”
Sebastian mengangguk-angguk. “Oh... Yang pacaran agak lama kan sama Fano?” tebak Sebastian yang jelas benar. Natasya terkekeh mendengarnya, sedangkan Sebastian masih mempertahankan wajah datarnya.
Antonio mencebik, “Sehari aja bangga.” dengus Antonio yang diakhiri tawa.
Jadi, seperti ini. Delfano itu terkenal dengan status playboy nya. Dia juga terkenal dengan sifatnya yang suka mempermainkan hati wanita. Dia sering sekali gonta-ganti pacar hanya dalam kurung waktu satu minggu. Padahal sudah jelas, mereka (read:wanita) itu di permainkan oleh seorang Delfano. Diputuskan saat Delfano sudah merasa bosan. Tapi, saat mereka di dekati oleh Delfano mereka malah terlihat senang.
Jadi, sebutan apa yang pantas untuk perempuan seperti mereka?
Polos?
Bodoh?
Atau apa?
Bruk!
Mereka menoleh kearah sumber suara, di sana terlihat Delfano yang tersenyum lebar menampilkan deretan giginya berjalan kearah mereka dengan bungkusan hitam ditangannya. Delfano menyimpan bungkusan tersebut di atas brankar di samping Natasya, dia sudah berdiri disamping perempuan itu yang masih menatapnya.
“Kemana aja lo?” tanya Antonio, dia berdiri dari duduknya, berjalan menghampiri Delfano yang kini duduk di atas ranjang yang ditempati Natasya, duduk di tempat kosong di sana.
“Abis jadi guru gue.” jawab Delfano sambil terkekeh, dia beralih masih menatap Natasya, lebih tepatnya pada luka-luka perempuan itu.
“Jadi guru?”
Delfano mengangguk, dia menatap satu persatu dari mereka. “Bukannya tugas guru itu, kasih pelajaran, ya? Nah, gue tuh baru aja ngasih pelajaran tadi. Berarti benar dong, gue jadi guru.” lanjut Delfano, dia terkekeh kembali.
Antonio menggeleng-geleng, tak peduli pada ucapan Delfano barusan, dia hanya penasaran siapa yang diberi pelajaran oleh Delfano itu. “Kasih pelajaran ke siapa?” tanya Antonio.
“Najis!”
“ANTON, TIAN! KENAPA KALIAN DISINI?”
Mereka menoleh kearah datangnya suara, terkejut mendapati Pak Zae disini padahal ini adalah jadwalnya pria muda itu mengajar di kelas Antonio dan Sebastian. Mereka masih menatap Pak Zae yang tengah berjalan kearah mereka dengan kikuk. Mereka bisa menebak akan ada sesuatu. Sedangkan Natasya dan Delfano terkekeh, mereka merasa senang melihat wajah dua sahabatnya yang kikuk sekaligus tegang.
“Kalian ini, ngapain disini? Sudah tau pelajaran saya, bukannya di kelas, malah disini. Mau absen kelas saya lagi?” cecar Pak Zae, dia menatap kesal dua murid didiknya itu. Dia bahkan semakin kesal melihat wajah tengil Antonio dan kedataran dari Sebastian.
“Kita izin ya pak, gak ikut pelajaran Bapak.”
Pak Zae terkejut, meskipun dia harusnya tak terkejut lagi apalagi aneh melihat kelakuan muridnya yang paling ajaib ini. “Loh, kenapa?” tanya Pak Zae dengan suara kerasnya.
“Natasya sakit, pak.” jawab Sebastian, dia menarik tubuh Antonio yang menutupi Natasya, berharap Pak Zae melihat keadaan perempuan itu dan memaklumi mereka.
Pak Zae terlonjak, melihat keadaan Natasya sedangkan perempuan itu hanya tersenyum kikuk. “Kamu kenapa? Ini sampe berdarah gini.” tanya Pak Zae, dia menggeleng-geleng melihat luka di dagu dan lutut siswinya itu.
“Gak papa pak, cuman teledor aja tadi.” jawab Natasya pelan.
Pak Zae mendengus, dia kini menatap murid yang seharusnya berada di kelas yang akan di ajarnya. “Alasan saja kalian. Sudah, ayo, ke kelas!” titah Pak Zae, dia menggiring Antonio dan Sebastian untuk ikut bersamanya ke kelas.
“Tapi, pak, Natasya—”
“Itu ada Delfano, sudah jangan jadi alasan. Ayo! Natasya cepat sembuh ya.”
“Iya pak, makasih.”
Antonio dan Sebastian mendengus, mereka menghela napas kasar kemudian segera bergegas meninggalkan Natasya dan Delfano dengan malas, meninggalkan mereka berdua di ruang UKS.
Delfano turun, menarik kursi yang tadi di tempati Antonio dan duduk di sana kemudian membuka bungkusan hitam yang dibawanya. Sedangkan Natasya diam memperhatikan setiap gerak-gerik Delfano.
Kening Natasya mengerut bingung, menatap penasaran bungkusan itu. “Apaan, sih?” tanya Natasya penasaran, dia masih menunggu Delfano mengeluarkan isi bungkusan tersebut.
Delfano memilih mengacuhkan pertanyaan Natasya, lebih fokus pada kegiatannya saat ini. Dia segera mengeluarkan styrofoam berisikan bubur dari bungkusan itu, mencoba membantu Natasya duduk dengan tiba-tiba nya.
“Aaa... ”
Natasya menatap sendok di depan matanya yang disodorkan Delfano berisikan bubur, mengerutkan keningnya menatap sendok bubur dan Delfano bergantian. “Ngapain? Gue gak laper.” ucap Natasya, dia menggeleng.
“Bodo amat, gak ada yang nanya juga lo laper atau enggak.” balas Delfano, dia semakin mendekatkan sendoknya membuat Natasya mau tak mau menganga dan menerima suapan itu.
“Enak, kan?”
“B aja,”
Delfano mendengus, kembali menyuapkan bubur pada Natasya yang langsung di lahap perempuan itu, sepertinya Natasya menikmati bubur tersebut. Natasya hanya bisa diam, dan menerima setiap suapan Delfano, bertanya dalam diam alasan kenapa bubur ini malah berkali-kali lipat lebih nikmat dari biasanya. Mungkinkah ini karena efek Delfano? Maksudnya, apa karena Delfano yang menyuapinya sehingga bubur ini lebih nikmat? Maybe.
Suapan terakhir sudah masuk ke mulut Natasya, perempuan itu memakan bubur tersebut dengan lahapnya. Delfano segera memberikan botol mineral yang langsung diteguk oleh Natasya, meskipun harus dibarengi rintisan karena luka di dagu perempuan itu.
“Makasih,” ucap Natasya, dia menyerahkan botol mineral yang tinggal setengah itu ke Delfano yang langsung disimpan di atas meja.
Mereka diam.
Delfano yang sedari tadi diam terus memperhatikan wajah Natasya, membuat perempuan itu mendengus saat dirinya terus di perhatikan. Kesal sih tidak, gugup iya. Coba bayangkan, kalian di tatap dalam diam oleh lelaki tampan. Bagaimana rasanya? Gugup bukan? Tentulah. Meskipun, lelaki itu sahabat sendiri. Tapi tetap saja, gugup ya, gugup.
Natasya mengibaskan tangannya ke muka Delfano, menatap kesal lelaki itu. ”Apa sih Fan! Ngapain juga ngeliatin mulu!” dengus Natasya, dia mencebik.
Bukannya menjawab, tangan Delfano terulur memegang pipi Natasya, memutarnya pelan ke kiri dan ke kanan yang membuat Natasya menegang seketika.
“Cantik, masih tetep cantik.”
Blush!
Pipi Natasya kini merona mendengar ucapan Delfano, entah kenapa detak jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya, ada sedikit bagian hatinya yang berbunga-bunga saat mendengar kalimat itu terlontar dari mulut lelaki itu.
“Ya... Meskipun ada ini nya sih!”
“AW... SAKIT!”