Friendshut [TAMAT]

Friendshut [TAMAT]
TUJUHPULUHSATU



“Ton, Delfano gimana?” tanya Natasya, dia menyenderkan tubuhnya pada sandaran ranjang. Dia menatap Antonio yang duduk disampingnya.


Antonio terdiam, dia bingung harus menjawab apa. Apa dia harus memberitahu keadaan Delfano yang sebenarnya? Atau mungkin, dia tetap menyembunyikan kebenaran ini? Atau...


“Ton!”


Anton terlonjak, dia menatap terkejut Natasya yang mengerutkan keningnya menatap dirinya. Antonio tersenyum, tangannya terulur menggenggam tangan perempuan itu. “Janji dulu, lo gak boleh khawatir atau apapun itu yang nantinya buat keadaan lo makin drop. Janji?”


Natasya semakin mengerutkan keningnya. “Ada apa sama Fano?”


“Janji?”


Natasya mengangguk.


Antonio menghela napas kasar. Dia membasahi bibirnya yang terasa kering kemudian kembali menatap dalam Natasya yang menunggu jawabannya. “Fano sakit, gagal ginjal. Dia—”


“Apa!?”


Antonio mengelus permukaan tangan Natasya, berdesis. “Dengerin gue dulu.” titah Antonio yang diangguki Natasya. Tak bisa disembunyikan, wajah khawatir perempuan itu terlihat jelas.


“Kita juga baru tahu tadi, ternyata Fano udah sembunyikan ini lama banget. Sekarang dia juga disini, dirawat di rumah sakit ini.”


“Keadaannya, gimana?”


“Kata dokter, ginjalnya udah rusak banget. Harus ada pendonor supaya nyawanya terselamatkan. Karena kalau di biarin aja, bisa bahaya.”


“Udah ada pendonornya?”


Antonio menggeleng. “Fano udah ikutan buat cari pendonor ginjal disini, tapi gak ada satupun yang cocok sama dia.”


“Orangtuanya tahu?”


Antonio mengendikkan bahunya. “Kita aja orang paling deket sama dia gak tahu. Apalagi orangtuanya yang sibuk kerja, bisa aja kan Fano gak kasih tahu.”


“Tapi, bukannya pendonor paling bagus itu dari satu darah?”


Antonio mengendikkan bahunya. “Iya, tapi mau gimana lagi. Tapi, kata dokter sih kemungkinan dari yang bukan satu darah pun bisa, itupun kalau cocok.”


Natasya terdiam.


“Berarti, gue bisa?”


Antonio mengerutkan keningnya. “Maksud, lo?”


Natasya hanya tersenyum.


***


Sebastian menatap Antonio yang berjalan menghampirinya, kemudian duduk di kursi tunggu disampingnya. Mereka berada didepan ruang rawat inap Delfano.


“Darimana?” tanya Sebastian, dia melirik Antonio disampingnya yang tengah menatap lurus ke depan.


“Ketemu Natasya,” jawab Antonio singkat.


“Keadaannya, gimana?”


“Alhamdulillah, tadi dia ingat sama gue. Bahkan, kita ngobrol bentar tadi.” jawab Antonio, dia tersenyum senang saat ingat itu.


Sebastian menghela napas lega, dia mengangguk-angguk. “Syukur kalau gitu.”


“Lo sendiri darimana?”


Bukannya langsung menjawab, Sebastian malah menyerahkan segelas kopi yang sama persis dibelinya tadi di kantin rumah sakit membuat Antonio tahu jawabannya.


Antonio mengambil gelas berisi kopi tersebut, kemudian meneguknya perlahan.


“Keadaan Delfano, jangan sampai Natasya tahu.”


Sontak, ucapan Sebastian membuat dia tersedak kopinya sendiri. Dia langsung menoleh kearah Sebastian, terkejut. “Kenapa?” tanya Antonio, dia menaikan sebelah alisnya.


“Gue gak mau aja, keadaan Syasya malah tambah buruk. Gue—”


“—gue udah kasih tahu.” Sela Antonio yang membuat Sebastian menatap dia tak percaya sambil bergumam 'what'.


Antonio mengangguk, “Iya. Gue kasih tahu Nana tadi. Natasya juga harus tahu kali keadaan Delfano, sahabat kita, pa-car dia.” jawab Antonio, sedikit kaku saat harus mengucapkan pacar yang tertuju untuk Natasya. Ada bagian hatinya yang belum ikhlas sepenuhnya.


Sebastian menggeleng, tak percaya dengan apa yang diucapkan Antonio. Tapi, mau apa lagi. Nasi sudah menjadi bubur, tak akan bisa kembali. Natasya sudah tahu semuanya, tak bisa dibuat apa lagi.


“Kalau?”


“Kalau dia...”


***


Delfano mengerjapkan matanya, dia menatap sekeliling kamar inapnya. Dia meringis, menghela napas pelan sambil mencoba untuk bangkit dari tidurnya.


Ceklek...


Pintu kamarnya terbuka, menampilkan Antonio dan Sebastian yang berjalan kearahnya. Antonio cepat-cepat membantu Delfano, membantu lelaki itu duduk di atas ranjang.


“Lo butuh apa?” tanya Antonio.


“Gue haus,” jawab Delfano yang langsung membuat Antonio mengambil gelas berisi air putih di atas nakas kamar ini. Kemudian, menyerahkannya pada Delfano yang langsung diteguk oleh empunya.


Antonio mengambil gelas yang diserahkan Delfano, meletakkannya di tempat semula. Dia sudah duduk di kursi, sedangkan Sebastian berdiri di samping Antonio sambil berdecak sebelah pinggang.


“Nyokap bokap lo tahu?” tanya Antonio yang membuat Delfano menoleh kearahnya.


Delfano terdiam, namun detik kemudian menggeleng.


“Kenapa lo gak kasih tahu?” tanya Sebastian, dia sekarang yang bingung.


Delfano terkekeh, tersenyum miris. “Gimana gue mau kasih tahu, mereka aja sibuk sama kerjaan. Pulang jarang dan kalau pulang paling cuma ada perselisihan diantara gue sama mereka.” ucap Delfano, dia menjeda ucapannya. “Di telpon? Yang ada, dikira gue minta duit kali.” lanjut Delfano, dia terkekeh.


Antonio dan Sebastian saling tatap. Ternyata Delfano lebih buruk dari mereka. Ya, bisa dibilang begitu. Pasalnya, meskipun orang tua mereka juga sama sibuknya seperti orang tua Delfano, tapi mereka masih mendapatkan sedikit perhatian. Hanya sedikit.


“Gue telpon aja, ya, biar gue kasih tahu nyokap bokap lo. Gimana pun, mereka orang tua lo, Fan.” ucap Sebastian, dia memang yang lebih kenal dan dekat dengan keluarga Delfano.


Delfano mengendikkan bahunya. “Terserah, gue gak peduli.”


Sebastian menghela napas, dia berjalan menjauhi mereka. Dia segera merogoh saku seragamnya. Btw, mereka masih mengenakan seragam, kecuali Delfano tentunya yang sudah memakai baju pasien rumah sakit.


Sebastian segera menekan nomor mami nya Delfano, dia ingin memberitahukan wanita paruh baya itu lebih dulu.


“Hallo, tan.”


Semuanya sontak menatap Sebastian yang kini sedang melakukan panggilan dengan mami Delfano.


“Hallo, ada apa Tian?”


“Ini tan, Fano sakit. Dia sekarang di rumah sakit, terus—”


“Apa? Ya ampun... Yaudah gini aja, Tante transfer uang buat biaya rumah sakitnya, ya. Tante minta tolong sama kamu, soalnya Tante gak bisa pulang. Urusan bisnis di Hongkong masih belum selesai. Gakpapa kan?”


Sebastian melirik Delfano, dia terkejut mendengar jawaban mami Delfano yang tak sesuai ekspetasinya. Sedangkan, Delfano menarik sudut bibirnya, tersenyum sinis. Benar bukan apa yang dia pikirkan?


“Hallo, Tian? Kamu masih di sana kan?”


“Iya, tan.


“Yaudah, nanti bentar lagi Tante transfer. Makasih, ya, maaf Tante sibuk.”


Tut!


“Bener kan?” tanya Delfano, dia tersenyum miris. “Pasti bentar lagi hp gue bunyi, ada notif transferan dari nyokap.”


Dan benar saja, sedetik kemudian ponsel milik Delfano berbunyi menandakan ada notifikasi yang masuk dan ternyata itu berasal dari bank yang memberitahukan adanya transferan uang. Delfano tersenyum miris.


“Gue telpon bokap lo, ya?”


“Gak usah, gak perlu. Gue cape. Mending kalian keluar deh, gue pengen sendiri.” ucap Delfano, dia mengalihkan pandangannya kearah kaca jendela. Rasanya matanya mulai memanas kini.


Tapi, lelaki tidak boleh menangis bukan? Lalu kalau dia menangis sekarang, dia bukan lelaki gitu?


Enggak, siapa bilang lelaki tidak boleh menangis. Siapapun yang mempunyai hati dan saat hatinya sakit, hal wajar untuk menangis. Dan itu pun berlaku untuk Delfano.


Benar saja, detik kemudian air mata lolos dari matanya. Tepat saat pintu kamar inapnya tertutup, meninggalkan dia seorang diri di ruangan ini.


Tangisan Delfano bukan tangisan yang meraung-raung. Lebih ke tangisan pelan tanpa suara, tapi matanya tak henti mengeluarkan air mata.


Merasa sendiri, menyakitkan.


“Andai lo disini, Ta.”