![Friendshut [TAMAT]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/friendshut--tamat-.webp)
Natasya menatap pemandangan di depannya dengan terkejut, seharusnya dia tak terlalu terkejut melihat itu semua karena apa yang dilihatnya adalah hal biasa. Delfano yang tak datang kerumahnya pagi ini dan tiba disekolah dengan perempuan baru yang menaiki mobil lelaki itu adalah hal biasa. Tapi, yang membuat Natasya berpikir tak biasa adalah saat perempuan yang datang bersama Delfano itu adalah perempuan yang kemarin dia kenalkan.
Natasya keluar dari mobil Sebastian, dia mengeratkan backpack nya dan menatap Delfano yang tengah membuka kan pintu mobil lelaki itu untuk perempuan yang bersamanya, yang tak lain adalah Anya.
Natasya mencebik, “Gue duluan, ya. Bye.” ucap Natasya, dia tersenyum kearah Sebastian dan Antonio yang berdiri di kedua sisinya.
Natasya melangkahkan kakinya, mulutnya tak henti-hentinya mengeluarkan gerutuan tentang Delfano. Tentang Delfano yang tak datang menjemputnya pagi ini. Tentang Delfano yang tak menyapanya pagi ini. Tentang Delfano yang lebih memilih membiarkan perempuan lain duduk di jok depan—tempat khusus untuknya. Tentang Delfano yang lebih memilih menampilkan senyumannya itu untuk perempuan lain. Tentang—
“Pagi, Beb.”
Natasya terlonjak kaget saat tiba-tiba seseorang merangkul pundaknya, dia menatap Delfano—orang itu yang tengah tersenyum kearahnya— dengan kening mengerut. Untung saja dia tak sedang di tangga, kalau di tangga? Mungkin mereka akan jatuh, mungkin. Dia melepaskan rangkulan Delfano dari pundaknya, berjalan lebih cepat membuat lelaki itu menghentikan langkahnya, menatap bingung Natasya.
“Lo kenapa, Ta?” tanya Delfano, dia kembali merangkul Natasya, berjalan beriringan menuju koridor anak IPA. Dia sedikit memiringkan kepalanya, menatap Natasya dari samping, hal tersebut membuat mereka kembali menjadi pusat perhatian.
“Gak papa, kok.”
“Bohong.”
“Benaran.”
Delfano menghentikan langkahnya, membuat Natasya ikut berhenti karena di tarik lengannya oleh lelaki itu. “Terus, ini kenapa dari tadi manyun mulu, hm?” tanya Delfano, dia menggoyangkan pelan pipi Natasya, membuat si empunya meringis sambil terkekeh, dia gemas sendiri dengan perempuan dihadapannya ini. Dan tolong jangan lupakan fakta, bahwa apa yang dilakukan Delfano itu membuat kaum hawa menjerit histeris.
So sweet. Pikir orang-orang.
Natasya melepaskan tangan Delfano dari pipinya yang tak berisi ini. “Sakit, tahu!” kesal Natasya, dia memanyunkan bibirnya membuat Delfano semakin gemas dibuatnya.
“Yaudah...Yaudah... Yuk, ah ke kelas aja, keburu masuk nanti.” ajak Delfano, kembali merangkul Natasya menuju kelas perempuan itu.
“Lo lagi PDKT, ya sama Anya?” tanya Natasya saat mereka telah sampai di kelasnya, membuat Delfano menoleh kearahnya dengan senyum jahil di wajah lelaki itu.
Delfano berjalan kembali menghampiri Natasya, langkahnya semakin dekat membuat Natasya mau tak mau memundurkan tubuhnya hingga kini tubuh perempuan itu sudah menempel pada tembok kelasnya. Delfano menumpu tangan kanannya di tembok, mengunci Natasya dengan kungkungannya.
Delfano menarik sudut bibirnya, tangannya yang lain bergerak kearah dagu Natasya membuat perempuan itu mau tak mau menahan napasnya saat jarak diantara mereka sangat dekat. “Cemburu, heh?” tanya Delfano jahil, dia menaikkan sebelah alisnya tersenyum menggoda menatap Natasya.
Natasya terdiam, otaknya masih belum sinkron dengan keadaan. Otaknya masih sibuk mengontrol jantungnya yang berdetak tak karuan di dekat Delfano kali ini. Ada sebagian hatinya yang senang merasakan kedekatan ini, namun bagian hatinya yang lain malah ragu, takut kecewa.
Delfano mengerutkan keningnya melihat keterdiaman Natasya, lelaki itu mengulum senyumnya.
Huh!
Natasya tersadar saat wajahnya diterpa angin beraroma mint dari mulut Delfano, membuat dia semakin gugup saat matanya bertemu dengan mata lelaki itu. Pipinya terasa memanas, membuatnya yakin bahwa wajahnya kini sudah seperti kepiting rebus.
“Cemburu?” tanya Delfano, lagi.
Natasya mendorong tubuh Delfano, membuat lelaki itu terpental beberapa langkah darinya. “Ge-er!” tukas Natasya, membalikkan tubuhnya memasuki kelas meninggalkan Delfano yang kini terkekeh saat melihat wajah memerah Natasya, entah malu atau marah.
***
Sebastian menaikkan sebelah alisnya saat seseorang menghalangi jalannya, dia menatap datar perempuan dihadapannya yang kini tersenyum kearahnya.
“Ngapain lo halangi jalan gue?” tanya Sebastian datar, dia memasukkan kedua tangannya ke saku celananya.
Anya, perempuan itu dia. “Gue boleh minta nomor lo, gak?” tanya Anya, dia tersenyum manis berharap Sebastian luluh dengan senyumannya itu.
“Buat apa?”
“Hm... Buat kalau ada perlu gue bisa hubungin lo.” jawab Anya, asal.
Sebastian menarik sudut bibirnya tipis, tersenyum sinis. “Kita punya kerjasama apa, ya sampai-sampai lo harus ada perlu sama gue?” tanya Sebastian, dia menaikkan kedua alisnya.
Anya tersenyum kikuk, dia mengedarkan pandangannya kesemua arah, bingung harus menjawab apa lagi. “Hm... Maksudnya, gini-gini. Nanti kalau supir gue gak bisa jemput lagi, gue bisa hubungin lo buat nebeng.” elak Anya, dia tersenyum menampilkan deretan giginya, tersenyum puas saat mendapat jawaban yang masuk akal.
“Lo kira, gue supir lo apa.” balas Sebastian, lelaki itu segera melangkahkan kakinya meninggalkan Anya yang terdiam menatap punggung lelaki itu yang menghilang dibalik pintu kelas lelaki itu.
Anya mengerucutkan bibirnya, kesal karena penolakan yang diberikan Sebastian terang-terangan. Namun, dia segera menoleh saat pundaknya ditepuk pelan. Dia tersenyum saat mendapati Antonio di hadapannya kini.
“Kenapa? Dicuekin, ya?” tanya Antonio, Anya mengangguk.
Antonio terkekeh, “Sabar, ya. Bastian emang gitu, ya sabar-sabar aja sih.” jelas Antonio.
“Iya, thank you.”
***
“Hai!”
Mereka semua menghentikan acara makan yang diselingi tawa itu, mereka menatap kemana datangnya suara. Anya, perempuan yang membawa nampan berisi makanan dan minuman ditangannya, tersenyum manis menatap satu persatu diantara mereka.
“Hai, Nya, duduk-duduk... Sini dekat gue!” ajak Delfano, dia menggeser tubuhnya sambil mengusir Antonio yang duduk di sampingnya.
Natasya mencebik, dia menatap sebal Delfano yang mulai mengeluarkan taktik seorang playboy. Dia meletakkan sumpit mie ayamnya, melirik Sebastian yang masih tenang dengan makanan lelaki itu. “Jangan, Nya! Sini duduk di samping gue aja.” ucap Natasya, membuat semua mata menatapnya.
Delfano mencebik, Antonio tersenyum lebar sedangkan Sebastian mengerutkan keningnya.
“Lah, gue?” tanya Sebastian sambil menunjuk dirinya sendiri. Kalau Anya duduk di samping Natasya, lalu dia duduk dimana? Jadi, tempat duduk di kantin tuh hanya muat untuk 4 orang di satu meja nya. Dan mereka sekarang berempat. Jika Anya duduk bersama mereka, maka harus ada yang disentil keluar. Dan apakah harus dia?
Natasya memutar bola matanya jengah, dia memangku sebelah pipinya, menatap Sebastian. “Gak mau ngalah nih ceritanya?” tanya Natasya, menaikkan sebelah alisnya.
“Enggak, ngapain juga.” jawab Sebastian santai, dia kembali menikmati makannya.
Anya yang melihat itu mencebikkan bibirnya, dia kesal dengan sikap Sebastian. Jika saja lelaki itu tau, dia tuh pegel membawa nampan ini.
Natasya menghela napasnya, dia berdiri membuat ketiga sahabatnya menatapnya. Dia mengangkat mangkuk mie ayamnya, “Yaudah, gue yang ngalah.” ucap Natasya sambil mencoba beranjak dari tempatnya.
Mereka semua melotot. Sebastian lebih dulu mencekal lengan Natasya. “Yaudah, gue ngalah.” ucap Sebastian akhirnya, membuat senyum langsung terpatri di bibir Natasya. Lelaki itu segera berdiri, melangkahkan kakinya hendak mengambil satu buah kursi milik pedagang. Sedangkan yang lainnya langsung tersenyum senang melihat Sebastian yang mau mengalah.
“Puas?” tanya Sebastian, dia menaikkan sebelah alisnya, menatap Natasya dengan wajah datarnya.
Natasya tersenyum lebar. “Puas, banget.” jawab Natasya, tangannya terulur kearah wajah Sebastian. “Baik deh.” lanjut Natasya sambil menepuk pelan pipi Sebastian, membuat yang lainnya terdiam melihat itu semua.
“******!”
“Dih, harusnya gue tuh. Kan tadi gue yang punya niatan baik,”
“Beruntung banget sih,”
“Gila, gue deg-degan.”
Natasya kembali menyantap mie ayamnya, dia menghentikan kunyahannya, menatap satu persatu orang yang satu meja dengannya. “Kenapa?” tanya Natasya, dia bingung.
“Gak papa kok.” jawab mereka serempak.
Natasya mengendikkan bahunya, kembali menikmati makanannya begitupun yang lain.
“Oh iya, kalian mau nonton gak?” tanya Anya, dia ingat sesuatu. Dia menatap satu persatu dari mereka yang hanya mengerutkan kening mendengar pertanyaannya.
“Nonton, apa?”
Anya menatap Antonio, “Itu loh, kan anak teater sekolah kita mau adain pertunjukan gitu di gedung seni. Kalian mau nonton?” tanya Anya sambil dia mengaduk pelan makanannya.
“Kapan, emangnya?”
“Besok sore.”
“Gimana, Na?” tanya Antonio, dia meminta persetujuan perempuan itu. Biasanya memang seperti itu, yang satu 'oke' yang lainnya pun 'oke'.
Natasya mengerutkan kening, “Kenapa tanya gue? Terserah lah.”
“Kan kita nurutin lo, Ta, gimana sih.”
“Gini, gue gak bisa. Gue ada acara besok.” balas Natasya.
“Acara apa?”
Natasya terkekeh menatap Sebastian, “Kepo, ah.”
“Serius kali.”
“Udahlah, pokoknya ada acara gitu.”
“Yaudah, gue gak ikut deh.” putus Antonio yang disetujui oleh Sebastian. Mereka tak akan pergi saat salah satu diantara mereka juga tak pergi.
Anya mendesah pelan, “Yah... Padahal gue pengen banget nonton.” desah Anya, dia menampilkan raut sedihnya, berharap di kasihani.
“Yaudah, tinggal nonton apa susahnya sih.” kesal Sebastian. Ini nih, ini yang semakin membuat dia tak suka dengan yang namanya cewek, ribet. Mau nonton? Ya nonton lah, apa susahnya.
“Tapi, kan gak ada temen.” balas Anya, sebal dengan apa yang diucapkan Sebastian.
“Bodo amat.”
Anya semakin menekuk wajahnya, melirik sinis Sebastian.
“Yaudah, gue temenin nanti.”
Natasya seketika mendongakkan wajahnya mendengar apa yang diucapkan Delfano. Dia kembali memakan kembali kerupuk ditangannya, mencoba mengalihkan rasa aneh di hatinya dengan rasa yang berasal dari kerupuk yang dimakannya.