Friendshut [TAMAT]

Friendshut [TAMAT]
F-LIMAPULUHDELAPAN



Ceklek...


Pintu ruang inapnya terbuka, membuat dia menoleh untuk melihat siapa pelakunya. Dia terkejut seketika saat melihat orang yang berdiri diambang pintu. Tapi, seharusnya dia tak seterkejut ini. Toh, ini semua pasti terjadi.


Disana, di ambang pintu. Berdiri tiga lelaki tampan yang merupakan dua sahabat dan satu pacar. Mereka semua tersenyum, menampilkan deretan giginya.


“Kalian ngapain disini?”


Pertanyaan itu terlontar dari mulut Natasya saat mereka berjalan menghampirinya. Dia mencoba bangun dari tidurnya yang langsung dibantu dengan sigap oleh mereka. Tapi, Delfano tetap Delfano, pacarnya. Sehingga membuat dia menerima bantuan lelaki itu. Daripada nanti terjadi sesuatu, kan? Lebih baik di cegah, bukan?


Delfano meletakkan parsel buah yang dibawanya, Sebastian membuka bungkusan bubur yang dibelinya dan Antonio langsung menusukkan sedotan pada jus buah yang dibawanya.


Natasya berdecak saat tak mendapat respon apapun. “Kalian ngapain sih disini? Sekolah, sana!” titah Natasya. Dia sebenarnya bisa menebak dari pakaian yang mereka kenakan. Casual outfit dimana mereka tak memakai seragam yang artinya juga mereka tak sekolah.


“Bolos sekali, Na, gakpapa lah.” ucap Antonio, dia duduk di atas ranjang disamping kaki Natasya.


Natasya mencebik, “Masa sih? Sekali, yakin?” tanya Natasya sedikit mengejek. Dia tahu tak mungkin hanya sekali dua kali mereka bolos, pasti berkali-kali. Cuma, ya gengsi aja ngomong jujur sama dia.


“Benar, Ta, baru sekali. Kita emang bandel, tapi gak pernah tuh sampe bolos sekolah.” timpal Delfano, dia sudah mengambil alih duduk di kursi samping ranjang Natasya.


“Bolos sekolah emang gak pernah, tapi bolos kelas sering dong.” balas Natasya, dia terkekeh yang juga menciptakan kekehan di bibir mereka.


“Sya, mending lo sarapan deh. Gue bawain bubur nih.” ucap Sebastian, dia mengambil bubur yang dibawanya, kemudian mulai menyuapkan sedikit-sedikit ke mulut Natasya, mengabaikan Delfano dan Antonio yang buat kesal oleh lelaki itu. Sebenarnya Sebastian tahu, pasti di rumah sakit juga disediakan bubur. Tapi, dia juga tahu selera Natasya, tak mungkin perempuan itu akan suka dengan bubur rumah sakit, hambar.


Natasya sebenarnya tak enak dengan Delfano. Apa yang akan dipikiran lelaki itu nantinya saat pacarnya tengah disuapi oleh lelaki lain di depan matanya? Ya, meskipun yang menyuapi itu masih termasuk sahabat mereka. Tapi, kan—


“Nih,Na, kalau haus lo minum jus aja, gue bawa jus. Enak benar jus nya.” ucap Antonio. Dia tak mau kalah tentunya dari Sebastian, dia sudah menyodorkan jus tersebut yang langsung diterima Natasya saat bubur di mulutnya tak bersisa.


Oh, ayolah, disini ada Delfano yang notabene nya adalah kekasih dari seorang Natasya. Dia memang sudah satu langkah didepan Antonio maupun Sebastian. Tapi, dia tak mau kalah juga. Dengan sigap, dia mengupas buah yang dibawanya.


“Gue tadi beli Apel, enak banget. Lo harus coba sih, Ta, manis banget buahnya.” ucap Delfano, dia masih fokus mengupas Apel ditangannya.


Natasya terkekeh. Haruskah dia bersyukur memiliki mereka? Rasanya sih, iya.


Ceklek...


“Eh, kok ada kalian sih?” tanya Emma, dia baru saja dari kamar mandi selepas membersihkan diri dan terkejut saat melihat ruang inap Natasya sudah dipenuhi oleh tiga lelaki tampan itu.


Mereka hanya bisa tersenyum, masih sibuk menyuapi Natasya bergantian.


Emma berjalan menghampiri mereka. “Kalian gak sekolah?” tanya Emma, dia menatap bergantian Antonio, Sebastian dan Delfano.


“Enggak, Bun, sekali-kali lah gakpapa.”


Emma terlonjak, dia terkekeh. “Dih, kok gitu?”


“Kan demi Syasya, Bun.”


“Lagian, kita pengen jagain Tata, Bun. Mending bunda pulang aja deh, istirahat. Pasti semalam bunda gak pulang kan? Nungguin Tata.”


Emma tersenyum.


Natasya mengangguk, “Iya, Bun. Bunda mending pulang aja, aku ada mereka kok. Gakpapa lah, sekali-kali bolos, ya. Kan bukan aku yang minta ini.”


Emma menghela napas kemudian mengangguk. “Yaudah, bunda titip Natasya ke kalian, ya. Nanti siang bunda kesini lagi, bunda cuma mau ganti baju aja.”


“Malam aja Bun kesini nya, kita sampai malam kok disini.”


“Eh, Bun, mending bunda sarapan dulu. Tadi aku sekalian beli nasi Padang didepan.” ucap Sebastian yang langsung membuat Antonio dan Delfano menatap lelaki itu.


“Iya, makasih ya.”


Gila, gue di langkahin. Tian Gercep juga.


Gak bisa di biarin, mau caper sama mertua gue.


***


Emma memasuki rumahnya dan langsung tertegun saat mendengar suara deru mesin mobil. Dia membalikkan tubuhnya, mengurungkan niat untuk memasuki rumahnya.


“Kamu dari mana Emm?” tanya Bramantyo, dia baru saja keluar dari mobilnya dan berjalan menghampiri Emma. Namun, yang dilihatnya adalah Emma yang seperti baru datang dari suatu tempat—baru pulang.


Emma menarik sudut bibirnya. “Kalaupun aku kasih tahu, apa kamu peduli?” tanya Emma, dia menatap tajam Bramantyo dihadapannya yang mengerutkan kening bingung maksud dari ucapannya. “Bukannya kamu sibuk dengan urusan kamu yang lain.” lanjut Emma, dia sedikit menekan nada bicaranya.


Bramantyo menghela napas kasar, dia tak suka saat pembahasan seperti ini ada di rumah ini. “Maksud kamu apa sih, Emm? Aku tanya baik-baik, sedangkan kamu malah ketus gitu.” ucap Bramantyo, dia tak habis pikir dengan istri satunya ini.


Mereka beradu tatap.


Emma membuang pandangannya, dia memilih membalikkan tubuhnya melangkah meninggalkan Bramantyo dengan segala kesakitan dihatinya. Entah apa yang membuatnya selalu merasakan sakit saat ini. Tapi, setiap kali dia melihat wajah suaminya itu, luka hatinya kembali sakit. Itu semua karena kenyataan pahit yang memang sejak dulu sudah diketahuinya. Bahkan sampai 16 tahun pun, luka itu tak pernah bisa untuk sembuh.


Bramantyo hanya mampu menghela napas kasar, dia menatap kepergian Emma. “Maaf, Emm.” gumam Bramantyo pelan.


***


Anya mengedarkan pandangannya di area kantin. Objek yang dicarinya masih belum terlihat. Sejak pagi dia sampai di sekolah, bahkan kini sudah memasuki jam istirahat. Batang hidung mereka masih belum terlihat. Entah kemana mereka.


“Eh, lo temennya Natasya kan?” tanya Anya, dia baru saja menghampiri seorang perempuan yang diyakininya adalah teman sekelas Natasya karena dia pernah beberapa kali melihat Natasya dengan perempuan dihadapannya ini.


Kinara, perempuan yang dimaksud Anya adalah dia. Dia tengah bersama kekasihnya seperti biasa di kantin. Tiba-tiba Anya datang menghampiri mereka, lebih tepat menghampiri dirinya.


Kinara menatap tak suka Anya, dia memang tak suka dengan perempuan dihadapannya ini. Apalagi saat dia mendengar dengan jelas ucapan yang terlontar dari mulut perempuan ini tempo lalu. “Iya, kenapa, ya?” tanya Kinara ketus.


Anya menatap Kinara sebentar, dia bisa merasakan aura tak suka perempuan itu terhadapnya. Sebenarnya dia kesal, dia tak punya salah apapun tapi perempuan dihadapannya dengan terang-terangan menatap tak suka kearahnya. Kalau bukan karena dia ingin tahu informasi, dia tak akan menemui perempuan ketus ini. “Gue mau tanya, Natasya sama yang lain dimana, ya?” tanya Anya.


“Lo gak tahu, Natasya kan gak sekolah. Sakit.” ucap Kinara.


“Sakit?”


Kinara tersenyum mengejek, “Iya. Bukannya lo selalu nyempil, ya, diantara persahabatan mereka. Kok sampai gak tahu sih? Aneh.” ucap Kinara, dia melanjutkan memakan mie ayam nya.


Anya terdiam, dia terkekeh. “Sorry, maksud lo apa, ya? Nyempil?” tanya Anya, dia tak suka dengan pertanyaan yang dilontarkan Kinara.


Kinara mengendikkan bahunya, dia kembali menatap Anya. “Tapi, benar kan? Bukannya lo tuh 'nyempil' diantara persahabatan mereka yang udah lama banget. Kalo gue jadi lo sih, sorry... sorry aja nih. Gue gak berani deh deketin atau coba masuk ke lingkungan mereka. Atau... ”


Anya mengerutkan keningnya, “Atau?”


“Atau, lo emang punya niat gak baik sama Natasya?” tanya Kinara pelan, dia menaikkan kedua alisnya menatap mengejek Anya yang diam dan dibuat geram.


Anya rasanya ingin mengacak mulut tak sopan Kinara. Tapi, dia tahu situasi, dia tak mau mempermalukan diri sendiri disini. Dia langsung membalikkan tubuhnya meninggalkan Kinara. Bisa didengar olehnya, suara tawa mengejek yang diyakininya berasal dari Kinara.


Sial!