Friendshut [TAMAT]

Friendshut [TAMAT]
F-DUABELAS



Hoam...


Natasya segera mencepol rambutnya yang dibiarkan tergerai, tangannya masih senantiasa mengucek mata saat rasa kantuk masih tersisa. Dia berjalan kearah lemari es, mengeluarkan tumbler berisi air putih dan berjalan kearah mini bar. Dia duduk, segera menarik gelas bersih dan menuangkan air. Hanya dengan beberapa kali tegukan, satu gelas air putih sudah mengalir di tenggorokannya.


Diliriknya jam dinding, tersenyum simpul saat dirinya kembali mencetak rekor bangun pagi. Weekend seperti ini biasa digunakannya untuk berleha-leha, mengistirahatkan otak dan tubuhnya dengan tayangan web drama dan kasur empuk yang menjadi tempat bersarangnya. Ya, meskipun telinganya harus bekerja lebih ekstra karena teguran sang bunda melihat kemalasannya.


Natasya baru ingat, dia tak sendiri di rumahnya. Ada sahabat-sahabatnya yang semalam terpaksa menginap di rumahnya. Ya, meskipun dengan berbagai drama yang sudah mereka lalui semalam.


Natasya bergegas turun dari kursi, kemudian berjalan kearah ruang games. Ruangan itu merupakan tempat dimana koleksi games milik ayahnya berada. Para sahabatnya memilih ruangan itu daripada kamar tamu. Ya, iyalah di kamar tamu. Mana mungkin dia mengijinkan mereka tidur di kamarnya, meskipun hanya sebatas tidur di sofa. Mereka masuk ke kamarnya saja, pintu kamar wajib di buka selebar mungkin. Bagaimana jika mereka menginap? Bisa di gorok langsung Natasya sama Emma.


Ceklek...


Natasya hanya mampu menggeleng saat pintu dibukanya justru menampilkan pemandangan dimana sahabatnya itu tidur lesehan di atas karpet dengan berbagai sampah camilan yang berserakan dimana-mana. Dia berjalan masuk ke arah gorden dan langsung menyibakkan nya sehingga cahaya langsung masuk kedalam ruangan.


Natasya berdecak pinggang melihat ketiga sahabatnya yang masih belum terganggu dengan cahaya yang masuk lewat jendela. Dia bingung, apa yang membuat ketiga lelaki itu bisa tidur di tempat ini?


Memang, ruangan ini seperti kamar tidur pada umumnya. Yang membedakannya, disini ada lemari dengan berbagai koleksi games milik ayahnya. Tapi, kenapa mereka malah tidur lesehan saat ada kasur empuk yang sudah menanti disini? Huh! Dan parahnya lagi, mereka tidur tanpa bantal atau guling, murni hanya beralaskan karpet bulu halus itu. Apa memang laki-laki seperti ini? Bisa tidur di manapun tanpa harus ribet? Bahkan, seperti mereka tidak terganggu dengan sampah yang berserakan disekitarnya itu.


Dia berjongkok, memungut bungkusan ciki yang sudah tak berisi itu. Dia berdecak pelan saat menemukan abu rokok di salah satu bungkusan itu. Dia mengambil kresek kosong yang tak jauh dari jangkauannya, kemudian memasukkan satu persatu sampah disini mulai dari bungkusan ciki, abu rokok, sampai kaleng bekas minuman.


“Woy... Bangun. Udah siang.”


Natasya berdecak pelan saat guncangan yang dia lakukan pada tubuh mereka tak berefek. Bahkan, mereka seperti nya tak merasakan sedikitpun guncangannya itu. Dia menggeram kesal, berdiri dengan kasar sambil berdecak pinggang.


“Susah banget, sih. Bangun dong.”


Akhirnya, ada Antonio yang bangun juga meskipun dengan gerutuan yang lolos dari mulutnya. Natasya masih memperhatikan Antonio yang baru beranjak duduk, lelaki itu terdiam dengan mata setengah terpejam. Sepertinya, Antonio masih mengumpulkan nyawanya.


Antonio mengucek matanya, sedikit menyipit karena silau matahari yang masuk ke kelopak matanya. Tatapannya kini beralih kepada Natasya. “Jam berapa, sekarang?” tanya Antonio, dia menguap pelan.


“Jam 6,” jawab Natasya, dia kini beralih pada Sebastian. Kembali mencoba membangunkan lelaki itu. Sama seperti Antonio, Sebastian pun kini terbangun dari tidurnya. Pemandangan lucu yang selalu Natasya abadikan, yaitu wajah datar Sebastian yang tergantikan dengan wajah bantal.


“Kalian kenapa sih tidur disini? Disuruh di kamar juga.” ucap Natasya, dia mencoba membangunkan kembali Delfano, tapi lelaki itu malah semakin merapatkan tubuhnya, menepis tangan Natasya.


Antonio merenggangkan tubuhnya, dia kembali menguap. “Kita ketiduran disini, semaleman main game.” jawab Antonio, dia beranjak berdiri kearah lemari es berukuran kecil di pojok ruangan ini. Kemudian, mengeluarkan botol berisi jus instan dan meneguknya perlahan.


Natasya menggeleng-gelengkan, dia memperhatikan Sebastian yang masih diam dengan wajah datarnya. “Kenapa?” tanya Natasya, dia menyentuh lengan Sebastian yang membuat lelaki itu menatapnya.


“Gak salat subuh,”


“Makanya, jangan begadang mulu. Terus, begadangnya sampai pagi. Kesiangan kan.”


Sebastian mengangguk.


“Ini Fano kenapa sih? Susah banget di bangunin.” kesal Natasya, dia menatap sebal Delfano yang masih berkeliaran di alam mimpi itu.


“Kayaknya dia tidur paling pagi deh, Sya.”


Natasya mengangguk, “Pantes.”


Just info. Semalam Antonio, Delfano dan Sebastian memilih bermain game setelah mereka berhasil memberikan kejutan ulang tahun untuk Natasya tadi malam. Mereka memainkan berbagai games yang menjadi koleksi ayah Natasya. Ayah Natasya tuh memang pengusaha sukses, tapi dibalik jiwa pengusahanya ada jiwa gamers yang memang dari dulu terselip di jiwanya. Tak ayal, setiap mereka di sini selalu saja diajak bermain game. Semalam, Antonio dan Sebastian tepar lebih dulu, berbeda dengan Delfano yang semakin kecanduan apalagi saat game yang dimainkannya selalu menang.


Tiba-tiba senyum devil muncul di bibir Antonio dengan mata yang tertuju pada Delfano. Dia kini berjalan menghampiri Sebastian, membisikkan sesuatu yang membuat Natasya mengerutkan kening melihatnya.


“Apa sih?” tanya Natasya dengan membeo.


Mereka saling pandang, saling melempar tatapan mencurigakan untuknya kemudian beranjak berdiri membuat dia mau tak mau ikut berdiri. Netranya memperhatikan setiap gerak-gerik mereka yang kini sudah mengangkat tubuh Delfano secara berbarengan.


“Eh, mau dibawa kemana?”


“Ssttt .. Liat aja nanti, Na.”


Mereka berjalan perlahan, menuruni setiap anak tangga dengan hati-hati menuju ke arah belakang rumahnya. Mereka berhenti tepat di taman belakang yang bersebalahan dengan kolam renang.


“Ngapain dibawa kesini? Masih pagi, dingin.” ucap Natasya sambil memeluk tubuhnya sendiri. Memang, akhir-akhir ini cuaca terasa dingin sekali, bahkan rasa dinginnya sampai menusuk ke tulang.


Dan...


Byur...


Memang ya, hukum alam itu ada. Terbukti, saat Antonio dan Sebastian berniat mengerjai Delfano dengan melempar tubuh sahabatnya itu ke dalam air kolam yang dingin, malah terkena getah nya sendiri. Mereka bertiga, kini sudah berada di dalam kolam itu dengan keterkejutan dan umpatan keluar dari mulut mereka.


“Anjim!”


“Dingin banget...”


“Haha...”


Delfano dan otak cerdasnya tak terpisahkan sekarang. Dia dengan kecerdasannya hanya berpura-pura tertidur, padahal nyatanya dia sudah terbangun sejak tubuhnya tiba-tiba diangkat oleh Antonio dan Sebastian. Bahkan, dia sudah mencium aroma-aroma keisengan dari mereka dan terbukti. Alhasil, saat tubuhnya hendak di lempar, kedua tangannya langsung mencengkram erat kaos yang mereka kenakan. Dan sekarang, disinilah mereka. Berendam didalam air kolam yang rasanya seperti air es, membuat tubuh mereka menggigil di dalamnya.


Hahaha...


Tawa yang berasal dari mulut Natasya menggelegar juga, bahkan matanya terasa berair karena terlalu menikmati tawanya. Lucu sekali melihat wajah kaget, kesal dan kedinginan di wajah mereka. Dengusan dan umpatan saling mereka lempar, namun hanya dibalas tawa mengejek oleh Delfano.


Antonio mengusap wajahnya, menatap sebal Delfano yang kini sudah berenang mengitari kolam renang. “Bangke, lo! Dingin, woy!” umpat Antonio.


Sebastian menepikan tubuhnya, dia kini sudah duduk di pinggir kolam, “Dingin banget.”


Delfano menghentikan gerakan berenangnya, tubuhnya sepenuhnya masuk kedalam air kolam dan detik berikutnya keluar keluar dengan rambut hitam legam miliknya kini di kibaskan. Tak ayal, cipratan air dari rambut Delfano itu mengenai Natasya yang duduk di gazebo samping kolam.


“Ya salah sendiri. Ngapain pake acara nyeburin gue ke kolam. Makan tuh!”


“Lo udah bangun kan dari tadi?”


Delfano terkekeh, dia menyugar rambutnya. “Lo pikir?” tanya Delfano balik, dia menaikkan sebelah alisnya. Dia menyandarkan tubuhnya pada tembok pembatas kolam. “Kerasa kali. Apalagi suara cekikikan Lo pas bopong gue. Ya kali gak kerasa, mati gue? Aneh lo!”


“Anjir lo, gue jadi ikutan dingin nih.”


“Bodo amat!”


“Rencana kita gagal, Ton.”


“Ya iyalah, seorang Delfano dikibulin. Ya gak akan pernah bisalah. Iya, gak, Na?” tanya Delfano, dia kini tersenyum lebar menatap Natasya yang hanya duduk diam, anteng di atas gazebo.


Natasya mengangguk, menjentikkan jarinya. “Ya iyalah, Fano kan tukang ngibulin cewek. Jadi, gak mempan deh. Bener, gak?” balas Natasya yang mendapat dengusan dari Delfano.


“Sini, dong!”


Natasya menggeleng, menolak. “Ogah, dingin.”


“Cemen.”


“Biarin.”


Delfano berenang kearah pinggir kolam dimana Natasya berada. Dia mengulurkan tangannya, “Ta, tolongin dong gue mau naik nih.” ucap Delfano yang langsung mendapat dengusan dari Natasya.


“Ketebak banget sih. Nanti gue pasti ditarik kalo bantuin lo naik,”


“Enggaklah,”


“Yaudah, itu ada tangga ini.”


“Males ke sananya.”


“Enggak ah, lagian luka gue masih setengah basah kali nanti kebuka lagi.”


Oh iya, mereka melupakan bahwa Natasya memiliki luka yang masih segar sekali. Gagal deh niat mereka membuat Natasya ikut bergabung bersama mereka di dalam kolam, diselimuti kedinginan.