![Friendshut [TAMAT]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/friendshut--tamat-.webp)
“Assalamualaikum...”
Natasya memasuki rumahnya. Hal pertama yang dilihatnya adalah Emma yang duduk melamun menatap kosong ke depan. Dia menghela napas dengan pelan, berjalan menghampiri bundanya.
“Bun...” panggil Natasya, sedikit lebih keras untuk menyadarkan Emma dari lamunannya. Emma terlonjak, menyesuaikan raut wajahnya senormal mungkin.
Emma berdiri, dia segera merangkul Natasya sambil menggiringnya duduk. Natasya menyenderkan kepalanya di dada Emma, mengeratkan pelukannya saat Emma mulai memeluknya sambil terisak.
Natasya mengerutkan keningnya, dia tersenyum tipis. “Kenapa, bun?” tanya Natasya, dia mendongakkan kepalanya di pelukan Emma.
Emma menggeleng, dia justru tersenyum lebar sambil terus mengeratkan pelukannya membuat Natasya semakin bertanya-tanya.
***
Natasya keluar menuju balkon kamarnya, dia duduk di sofa seperti biasa. Dia terdiam memikirkan kembali apa yang terjadi dengan bundanya. Tatapannya kosong ke depan dengan pikirannya, membuatnya tak sadar bahwa ada seseorang yang membuka pintu kamarnya.
Di sana, Bramantyo mengerutkan keningnya menatap Natasya yang sepertinya masih belum sadar dengan kedatangannya. Dia berjalan menghampiri putrinya, semakin bingung dengan keterdiamannya itu.
“Nata,” panggil Bramantyo yang sama sekali tak mendapat sahutan dari Natasya.
Tangan Bramantyo terulur menyentuh pundak Natasya, membuat perempuan itu terlonjak seketika. Natasya tersadar, dia menatap terkejut ayahnya yang sudah berdiri di sampingnya. “Ayah? Sejak kapan disini?” tanya Natasya, keningnya mengerut bingung. Entah bingung atau linglung.
“Sejak tadi, sejak kamu melamun, entah mikirin apa.” jawab Bramantyo, membuat Natasya menunduk. Natasya kembali duduk, namun kini kedua kakinya ikut naik keatas sofa, di dekapnya.
Bramantyo menghela napas, dia duduk di sofa kosong samping putrinya, memiringkan tubuhnya menatap putrinya yang masih terdiam. “Ada, apa? Apa ada yang ganggu pikiran kamu? Cerita sama ayah.” tukas Bramantyo.
Natasya menoleh, dia melepas pelukan pada kakinya, dia kini memeluk ayahnya dari samping. “Gak tahu, yah. Tiba-tiba tadi bunda nangis sambil peluk aku. Pas aku tanya, bunda gak jawab, cuman geleng, tapi tetap nangis.” ucap Natasya, dia sedikit terisak mengingat itu semua.
Bramantyo terdiam, dia terus mengelus punggung Natasya yang masih dalam pelukannya.
Apa karena kesalahan saya?
“Ayah tahu kenapa?” tanya Natasya, dia mendongak. Dia menatap Bramantyo yang terdiam.
Bramantyo menggeleng, dia melepas pelan pelukan itu, tersenyum hangat menatap Natasya. “Kamu tenang aja, biar nanti ayah yang tanya sama bunda.” ucap Bramantyo, mencoba menenangkan putrinya. “Mending sekarang kamu istirahat, ayah keluar dulu ya.” lanjut Bramantyo diangguki Natasya.
Bramantyo tersenyum, beranjak dari duduknya kemudian keluar dari kamar putrinya, meninggalkan putrinya seorang sendiri.
Natasya mengalihkan pandangannya saat pintu kamarnya sudah ditutup Bramantyo, dia kembali memeluk lututnya sambil menumpu dagu di atas lutut, kembali menatap kosong ke depan.
***
Antonio mengerutkan keningnya melihat Natasya lewat jendela balkonnya. Dia melihat perempuan itu tengah memeluk lututnya sambil menenggelamkan wajahnya diantara kedua lututnya.
“Itu beneran Nana, kan? Bukan cewek jadi-jadian?” tanya Antonio pada dirinya sendiri. Dia berjalan kearah balkon kamarnya, menatap perempuan yang diyakininya adalah Natasya.
“Nana!” panggil Antonio cukup keras, dia duduk di atas tembok pagar balkon kamarnya. Tenang dia pegangan kok, jadi tak akan jatuh, do'akan saja.
Natasya mendongak, dia menatap Antonio dengan wajahnya yang entah sudah tak karuan. “Kenapa?” ketus Natasya, dia menurunkan kakinya, menyenderkan tubuhnya ke sofa.
Antonio mendelik, “Biasa aja, dong! Jutek banget.” delik Antonio yang tak di hiraukan Natasya. Perempuan itu kembali menatap kosong ke depan.
“Bener-bener nih, bentar lagi pasti kesambet tuh anak.” gumam Antonio, bergidik ngeri sambil turun dengan pelan namun tergesa dari posisinya, berlari memasuki kamarnya dan mengambil cepat gitar yang tergeletak di atas ranjangnya.
Antonio kembali keluar, bergegas menghampiri Natasya ke balkon kamar perempuan itu.
“Lo ngapain disini?” tanya Natasya, dia mendengus mendapati Antonio yang kini sudah duduk begitu saja disampingnya tanpa menjawab pertanyaannya.
Natasya mendengus, dia menatap jengah Antonio yang tengah memetik gitarnya— mencoba mencari nada yang pas. “Lo ngapain sih?” kesal Natasya.
Antonio menoleh, tersenyum menatap Natasya. “Mau nyanyi.” jawabnya singkat, kembali memetik gitarnya.
“Nyanyi buat siapa? Gue gak minta di nyanyiin ya.”
“Gakpapa, gue cuman pengen menghibur lo.Takut-takut lo frustasi, ngelamun, kesambet dan you know lah nantinya gimana.” ucap Antonio asal, dia melirik sekilas Natasya yang mendengus mendengar ucapannya.
“Ya kali gue kesambet, amit-amit deh.” sahut Natasya, dia bergidik ngeri membayangkan dirinya nanti kesambet.
“Apa, ya? Terserah, deh.”
Antonio berdecak, “Request dong. Gue bingung kalo lo ngomong terserah. Masalahnya, gue bisa semuanya.” ucap Antonio, tersenyum lebar sambil menaikkan kedua alisnya. Ini nih satu lagi sifat Antonio, selalu membanggakan dirinya sendiri. Dia lebih suka membanggakan dirinya sendiri untuk menggoda orang-orang, termasuk Natasya kali ini.
Natasya menghela napas, dia memutar bola matanya jengah sambil mengulum senyumnya. “Pede banget gila,” tukas Natasya, tersenyum simpul menatap Antonio sambil menggelengkan kepala.
Antonio mengendikkan bahunya, “Ya, harus dong!”
Natasya terdiam, tersenyum lebar menatap Antonio yang kini mengerutkan kening melihat keterdiamannya. “Kenapa?” tanya Antonio bingung, namun tiba-tiba dia tersenyum lebar. “Jatuh cinta, ya sama gue?” tukas Antonio yang langsung mendapat pelototan dari Natasya.
“Hah! Jatuh cinta sama lo? Najis!”
“Yaelah, gue gak najis-najis amat kali.” kesal Antonio, dia mencebikkan bibirnya menatap seolah sebal Natasya yang terkekeh.
Natasya terkekeh, menggeser tubuhnya mendekati Antonio yang masih mengerucutkan bibirnya sambil mendekap gitar di hadapannya. “Gitu aja ngambek,” tukas Natasya, dia mencolek dagu lelaki itu membuat si empunya melengos sambil terkekeh.
“Enggak lah. Emang gue cewek, dikit-dikit ngambek.“ elak Antonio, dia kembali memetik gitarnya.
Natasya tersenyum haru, dia menatap cukup lama Antonio. “Ton,” panggil Natasya yang membuat lelaki itu menoleh.
“Kenapa?”
“Boleh peluk?”
“Harus banget ya di jawab?”
Natasya mengangguk.
“Kalo gak boleh?”
“Harus boleh,”
“Yaudah, kenapa nanya.”
Mereka tertawa. Antonio menyingkirkan gitarnya, membawa Natasya ke pelukannya. Natasya menyenderkan kepalanya di dekapan Antonio, menghirup aroma lelaki itu yang cukup menenangkannya.
“Makasih, ya.” ucap Natasya tanpa menatap Antonio.
Antonio menatap Natasya yang ada di pelukannya. “Makasih, kenapa?” tanya Antonio.
“Makasih karena lo selalu ada kalo gue lagi kayak gini,” ucap Natasya, dia bingung harus menjelaskan bagaimana keadaannya. Yang jelas, Antonio lah yang selalu ada untuknya dalam keadaan apapun.
“Gak perlu terimakasih. Kalo lo ada masalah atau apapun itu, lo cuman harus ingat. Ada gue, ada gue yang siap ada buat lo. Jangan pendam sendiri.”
Natasya menarik bibirnya, tersenyum tipis. “Iya, lo kan sahabat gue yang paling...Ter... Ter... Ter... Pokoknya.” ucap Natasya, mengeratkan pelukannya.
Antonio terdiam.
Sahabat, ya?
Natasya melepas pelukan mereka, dia segera mengambil gitar Antonio, sedikit memetik gitar. Dia mengerutkan keningnya melihat keterdiaman Antonio. Dia berdecak, “Tuh, bilang sama gue jangan melamun nanti kesambet. Sendirinya melamun, aneh deh.”
Antonio tersadar, “Siapa yang melamun? Enggak, kok.”
“Yaudah. Yuk, nyanyi!”
“Mau lagu apa?”
“Jingga aja,”
“Yaudah, yuk!”
“Bentar-bentar, live Ig dulu dong.”