Friendshut [TAMAT]

Friendshut [TAMAT]
F-EMPATPULUHDUA



Ceklek..


Natasya menoleh, tersenyum pada Sebastian yang memasuki ruang kamar inapnya. Dia terus memperhatikan lelaki itu yang kini tengah menarik kursi mendekat kearahnya. Dia mencoba beranjak untuk duduk dan dengan sigap Sebastian membantunya.


Natasya tersenyum lebar. “Makasih...”


Sebastian mengeluarkan piring plastik, kemudian meletakkan bungkusan berisi nasi Padang yang dibelinya tadi di depan rumah sakit. “Mantap,” ucap Sebastian menatap nasinya. Dia kini sudah duduk di samping Natasya yang masih belum mengalihkan perhatian darinya.


Sebastian mulai menikmati makannya dengan lahap, maklum dia belum sedikitpun menyentuh nasi sejak tadi pagi sampai sore ini. Jadi, perutnya sudah mulai berdemo karena belum terisi nasi. Sedangkan Natasya, dia menatap lapar Sebastian yang dengan lahapnya menikmati nasi Padang itu. Sepertinya, lelaki itu tak ada niatan untuk menawarkan makanan itu kepadanya. Buktinya, sudah beberapa suapan pun Sebastian belum juga menatapnya dan malah sibuk dengan makanannya itu.


“Enak ya, Yan?” tanya Natasya yang membuat Sebastian menatap pelan kearah Natasya dengan mulut penuh.


Sebastian mengangguk kikuk, “Iya. Mau?” tanya Sebastian pelan yang langsung diangguki cepat oleh Natasya.


Sebastian menaikkan sebelas alisnya, “Emangnya, boleh?”


Natasya mengendikkan bahunya, “Gak tahu, boleh kali. Udah, ah, boleh aja. Ayo, gue lapar. Aaa...” ucap Natasya, dia kini sudah menganga meminta disuapi nasi Padang oleh lelaki dihadapannya.


Sebastian terkekeh, dia segera menyuapi Natasya dengan makanan yang tengah dinikmatinya. Tersenyum lebar menatap perempuan itu yang menyantap lahap makanan tersebut. Mereka menikmati makanan itu dengan hati senang karena rasa lezat yang ditimbulkan makanan itu.


“Gak mual lagi?” tanya Sebastian, dia meneguk air mineral yang dibelinya tadi. Natasya menggeleng sebagai jawaban.


Sebastian terkekeh, dia meletakkan kembali botol air mineral itu ke tempatnya. Tangannya terulur menyentuh sudut bawah bibir Natasya yang terdapat bumbu dari Rendang nya membuat Natasya tertegun mendapat tindakan lelaki itu.


“Udah gede, masih aja belepotan.” tukas Sebastian yang langsung membuat Natasya mengelap sendiri bibirnya oleh tangan yang terbebas dari infusan.


“Gakpapa, kan ada lo yang bersihin.”


Sebastian sontak menatap Natasya, menatap dalam mata perempuan itu yang juga menatapnya. Mereka diam dalam hening beberapa saat.


“Kalo gue gak ada?” tanya Sebastian.


Natasya menarik sudut bibirnya, “Gak mungkin karena Tuhan udah garisin takdir, bahwa lo akan selalu ada di samping gue. Titik, gak ada yang bisa ubah.” jawab Natasya dengan senyuman manisnya.


Sebastian terkekeh mendengar jawaban itu, dia mengacak rambut Natasya yang membuat perempuan itu mendengus. “Udahlah, lanjutin aja makannya, ya?” tawar Sebastian yang diangguki Natasya.


Natasya membenarkan rambutnya yang diacak Sebastian, dia terdiam saat tiba-tiba pikirannya tertuju pada seseorang yang biasanya melakukan hal sama yang dilakukan Sebastian beberapa saat lalu.


Ah, rasanya dia rindu dengan acakan lelaki itu di rambutnya.


Ah, Delfano.


***


Anya menyembulkan kepalanya, dia menatap rooftop dan langsung menemukan seorang lelaki yang tengah merebahkan tubuhnya diatas sebuah sofa buluk. Dengan senyuman dan langkah pelan, dia mulai berjalan menghampiri lelaki itu yang masih belum menyadari keberadaannya karena tertidur.


Dia menghentikan langkahnya, mengerutkan keningnya bingung saat orang yang dicarinya tak ada disini.


“Kok, Tian gak ada disini sih?” tanya Anya bingung, dia berdecak pinggang sambil mencebikkan bibirnya. “Gue kira disini, lagian tadi di kelas gak ada.” lanjut Anya.


Anya menghela napas dengan kasar, dia melangkahkan kakinya menuju pembatas rooftop, menatap sekolahnya dari atas sini. Dia tersenyum lebar, baru kali ini dia melihat keadaan sekolah dari ketinggian. Banyak yang bisa dilihat dari atas sini, semuanya bahkan bisa tertangkap oleh matanya. Dia kini sibuk memperhatikan kegiatan dibawah sana, tak peduli lagi dengan tujuan awalnya datang ke tempat ini.


Sedangkan, Delfano yang sejak tadi merebahkan tubuhnya kini mulai merenggangkan ototnya, entah bagaimana dia bisa tertidur, padahal sejak tadi dia sibuk memainkan ponselnya. Dia beranjak dari posisinya menjadi duduk, masih mengumpulkan nyawanya. Dia mengerutkan keningnya saat melihat punggung perempuan yang ada dihadapannya. Matanya memicing, memastikan siapa perempuan itu.


“Anya,” gumam Delfano pelan, namun masih bisa didengar Anya yang membuat perempuan itu membalikkan tubuhnya dan kaget melihat Delfano yang sudah bangun dari tidurnya.


Anya meringis, “Eh, sorry. Lo kebangunan karena kedatangan gue, ya? Gue minta maaf, ya.” ucap Anya, tak enak.


Delfano menggeleng, dia mulai melangkah kakinya menghampiri Anya. “Lo ngapain disini? Tahu darimana juga tempat ini?” tanya Delfano, dia mengeluarkan permen mint yang selalu ada di saku celananya. Permen yang biasa digunakannya untuk menutupi berbagai bau yang timbul dari mulutnya.


Delfano mulai memakan permen mint tersebut, menyodorkan satu pada Anya yang langsung diterima perempuan itu.


Delfano mengangguk-angguk, dia membalikkan tubuhnya dan kini menatap lurus ke depan membuat Anya mengikuti arah pandangan lelaki itu.


“Sebastian, mana?” tanya Anya, akhirnya setelah lama dia menunggu untuk mengungkapkan pertanyaan singkat itu. Dia harus menyiapkan diri hanya untuk sebuah pertanyaan singkat.


Delfano mengerutkan keningnya bingung, dia melirik Anya sekilas. “Mana gue tahu, bukannya di kelas?” tanya balik Delfano yang membuat Anya mengerutkan keningnya pula.


“Gak ada kok, orang tadi pas gue lewat kelas cuman ada Anton aja.” jawab Anya.


“Kemana tuh anak?”


Anya mengendikkan bahunya.


“Kok lo gak ke kelas, sih?” tanya Anya, dia bingung sendiri dengan Delfano. Lelaki itu anak IPA, biasanya anak IPA itu rajin dan anti banget sama yang namanya bolos pelajaran. Nah, sedangkan Delfano? Jangan ditanya, lihat saja sekarang.


Delfano terkekeh, dia membalikkan tubuhnya menyender pada pembatas sambil melipat tangannya didepan dada. “Lo juga, kenapa gak ke kelas?” tanya Delfano yang membuat Anya mendengus.


Anya memutar bola matanya, dia menatap Delfano di sampingnya. “Kan tadi gue udah bilang, gue boring di kelas. Makanya kesini. Gimana sih ah?” ketus Anya.


Delfano tertawa, “Ya, sama, gue juga gitu.”


“Maksudnya?”


Delfano semakin tertawa, tangannya terulur mengacak rambut Anya. “Lo tuh ya, sama banget kayak Natasya. Harus banget di jelasin dengan detail apa-apanya tuh.” ucap Delfano yang membuat Anya mendengus dalam hati.


Delfano melangkahkan kakinya kearah sofa, duduk di sana. “Gue juga males di kelas, makanya kesini.” lanjut Delfano yang hanya mendapat anggukan dan 'oh'ria dari Anya.


“Sini, duduk!” ajak Delfano, dia menepuk pelan sofa buluk kosong disampingnya.


Anya mencebik, dia melangkahkan kakinya menghampiri Delfano. “Nyebelin, jadi acak-acakan kan rambut gue.” kesal Anya, dia sudah duduk di samping Delfano sambil membenarkan kembali tatanan rambutnya yang diacak Delfano.


Lagi dan lagi, Delfano tertawa membuat Anya mengerutkan keningnya.


Melihat kebingungan Anya, Delfano langsung menjawab. “Sumpah, ya, lagi-lagi lo tuh kayak Natasya. Dia juga selalu ngambek kalau gue acak-acak rambutnya.” ucap Delfano, dia terkekeh sambil membayangkan wajah Natasya yang selalu mencebik bila dia mengacak rambut perempuan itu.


“Gue gak suka di samain.”


Ucapan Anya itu sukses membuat Delfano menatap perempuan itu.


***


“Anjay, temen gue pada kemana sih? Gak ada satupun yang keliatan batang hidungnya.” gerutu Antonio. Dia terus mengedarkan pandangannya mencari keberadaan para sahabatnya. Namun, tak ada satupun dari mereka yang berhasil ditangkap matanya. Entah matanya yang tak jeli mencari keberadaan para sahabatnya itu di keramaian atau memang mereka tak ada di sekolah.


Antonio mendengus, dia melirik jam di pergelangan tangannya. Dia kini sudah menegakkan tubuhnya yang sejak tadi menyender pada mobilnya. “Bodo amat, ah. Lagian pada kemana sih!?” ketus Antonio, sumpah ya menunggu itu lelah. “Mending pulang duluan gue, tiduran di rumah daripada nungguin yang gak pasti.” lanjut Antonio, mulai memasuki mobilnya.


Antonio mulai menyalakan mesin mobilnya, mengendarai mobilnya meninggalkan pelantaran sekolah membelah jalanan menuju rumahnya.


Beberapa saat, dia menghentikan mobilnya saat lampu lalu lintas berwarna merah. Tangan terulur menyalakan musik, mengetukkan tangannya diatas setir sambil menunggu lampu berganti. Dia mengedarkan pandangannya dan langsung terkesima menatap pemandangan di depan matanya.


Antonio memicingkan matanya, mencoba memastikan penglihatannya. “Lah, itu bukannya ayah Natasya? Kok malah sama cewek lain sih?” tanya Antonio bingung.


Di depan matanya kini, terlihat dua pasang paruh baya tengah duduk di sebuah cafe. Keduanya seperti tengah membicarakan sesuatu yang serius yang jelas seperti bukan sesuatu yang berhubungan dengan pekerjaan. Pasalnya, mana ada pekerjaan yang sampai pada tahap berpegangan tangan.


Antonio sibuk dengan berbagai pertanyaan yang tiba-tiba muncul di benaknya, banyak pikiran negatif yang timbul dengan sendirinya melihat dua pasang paruh baya itu, sampai-sampai dia tak sadar bahwa lampu telah berganti.


Tin... Tin...


Antonio terlonjak, dengan segera dia mulai melajukan kembali mobilnya. Meskipun sudah jauh dari tempat tadi, pikirannya masih tertuju pada kejadian tadi.


“Siapa tuh cewek?”