Friendshut [TAMAT]

Friendshut [TAMAT]
F-EMPATPULUHDELAPAN



Seperti biasa, Natasya keluar dari mobil Sebastian, Anya yang keluar dari mobil Delfano dan Antonio yang baru saja selesai memarkirkan motornya. Mereka berkumpul, tepat di depan mobil Sebastian.


Delfano sejak tadi tak henti-hentinya memancarkan senyumnya melihat keberadaan Natasya. Matanya sejak tadi tak lepas dari perempuan itu yang kini tengah mengikat rambutnya. Sebastian dan Antonio pun tak lepas menatap Delfano yang sejak tadi menatap Natasya. Sedangkan, Anya menatap Sebastian yang sesekali melirik Natasya. Namun, yang ditatap, yaitu Natasya malah mengedarkan pandangannya ke sembarang arah sambil membetulkan ikatan rambutnya.


“Eh, gue—”


Natasya menghentikan ucapannya saat melihat tatapan Delfano yang tak lepas darinya. Dia menatap terkejut Delfano yang membuat lelaki itu mengulum bibirnya sambil memutuskan tatapannya dari Natasya, Delfano memilih menyugar rambutnya.


Bersemu, pipi Natasya rasanya panas menangkap Delfano yang diam-diam terus memperhatikannya. Dia malu tentunya, entah kenapa dia malu padahal ditatap seperti itu sudah biasa dirasakannya. “Ke kelas langsung kan?” tanya Natasya, dia berdehem sebelumnya.


Anya menatap jengah Natasya, namun kemudian tersenyum. “Ya, iyalah, Nat, orang bentar lagi masuk. Emangnya mau kemana?” tanya Anya, sungguh nada sinis terdengar jelas di telinga Natasya.


“Ya kali aja ada yang mau ke kantin, belum sarapan kan?” balas Natasya, dia mengendikkan bahunya. Anya hanya ber'oh' ria, dia memilih mengedarkan pandangannya ke sembarang arah.


“Yaudah lah, langsung ke kelas aja deh.”


Kini yang ambil suara adalah Delfano yang tentunya langsung disetujui semua, termasuk Natasya. Mereka berjalan beriringan, berpisah di koridor kelas jurusan masing-masing.


Dan, seperti biasa Natasya beriringan bersama Delfano. Belum ada pembicaraan diantara mereka, hanya ada keheningan ditengah keramaian orang-orang. Delfano berdehem, dia merangkul pundak Natasya seperti biasa.


“Liburan kemana? Kok gak ngajak sih?” tanya Delfano, menatap Natasya yang tengah dirangkulnya.


Natasya menoleh, melempar senyumnya. “Ada deh,” jawab Natasya sambil terkekeh, membuat Delfano mendengus.


Mereka telah sampai di depan kelas Natasya. Delfano langsung melepas rangkulannya. Natasya tersenyum. “Yaudah, gue masuk duluan ya.” ucap Natasya, kemudian bergegas melangkahkan kakinya memasuki kelas.


Namun baru saja Natasya melangkah, Delfano lebih dulu mencekal lengannya membuat perempuan itu mau tak mau menghentikan langkahnya dan menatap bingung Delfano.


“Kenapa?” tanya Natasya, dia menaikkan kedua alisnya.


Bukannya langsung menjawab, Delfano malah mendekatkan wajahnya membuat Natasya memundurkan wajahnya. Natasya membulatkan matanya saat wajah Delfano tepat di depan wajahnya, sedangkan Delfano mengerutkan keningnya sambil sedikit memiringkan wajahnya.


“Lo kayaknya sakit deh, pucat.” ucap Delfano, dia memundurkan wajahnya membuat Natasya bisa bernapas lebih lega.


Natasya mengulum bibirnya, mengedarkan matanya sebelum akhirnya kembali menatap Delfano. “Sakit? Enggak kok, gue sehat.” elak Natasya.


“Bohong,”


“Benar, kok.”


Delfano terdiam, kemudian menghela napas dengan gusar. Dia melepas cekalan nya. “Yaudah, deh. Tapi, kalau sakit, bilang sama gue. Ok?” ujar Delfano yang diangguki Natasya.


“Gue cabut dulu deh,”


“Ke kelas,”


Delfano terkekeh, “Tenang, ke kelas kok sekarang.” jawab Delfano, dia melangkahkan kakinya meninggalkan Natasya yang masih menatap kepergian lelaki itu.


“Jangan bolos,”


“SIAP, BOS!”


***


Tak henti-hentinya Anya menatap Sebastian yang berjalan dihadapannya. Dia tak sedikitpun melepas senyum manis di bibirnya. Tangannya langsung mencekal lengan Sebastian, membuat Sebastian menghentikan langkahnya dan memutar tubuh menatap bergantian tangan Anya yang mencekal lengannya dengan wajah perempuan itu.


Antonio pun ikut menghentikan langkahnya, namun kemudian memilih melangkah kembali meninggalkan Anya dan Sebastian.


“Lepas,” ucap Sebastian datar, matanya terarah pada tangan Anya di lengannya.


Anya tersenyum paksa, kemudian melepas cekalan nya perlahan. “Bentar, Yan, gue punya sesuatu buat lo.” ucap Anya, dia langsung mengeluarkan kotak makan dari tasnya dan dengan percaya diri menyodorkan itu pada Sebastian yang sejak tadi mengerutkan keningnya.


Seperti tadi, Sebastian menatap kotak makan yang disodorkan Anya juga perempuan itu bergantian. Tatapannya kini tertuju pada Anya dengan kening mengerut.


Seolah paham dengan kebingungan Sebastian, Anya tersenyum lebar menjawab. “Ini gue bikinin lo sarapan, siapa tahu lo belum sarapan kan?” ujar Anya, dia menarik tangan Sebastian untuk menerima kotak makan tersebut.


Kini kotak makan tersebut sudah ditangan Sebastian. Perlahan, lelaki itu membuka kotak makan tersebut dan aroma sedap langsung menguar dari dalamnya. Di kotak makan tersebut, terdapat nasi goreng yang terlihat menggoda tentunya. Beberapa hiasan yang cukup memanjakan matanya.


“Buat lo,”


“Gue gak doyan,”


Anya menerima kotak makan itu, membukanya dan langsung menyendokan nasi goreng tersebut dengan sendok yang sudah tersedia didalamnya. Dia mengarahkan sendok berisi nasi goreng tersebut ke arah Sebastian. “Enak kok, lo harus coba.” ucap Anya, kekeh.


“Gue gak doyan,”


“Coba sekali aja.”


Buk!


Anya menatap nanar kotak makannya yang sudah tergeletak di lantai dengan isinya yang berhamburan. Sedangkan, Sebatas terkejut sendiri dengan sikapnya.


Anya kembali menatap Sebastian, “Kok lo tega sih? Gue kan capek masak itu, gue—”


“Gue udah bilang, gue gak doyan.”


“Tapi, seenggaknya lo gak tepis makanan gue juga, bisa kan?”


“Gue gak sengaja, lagian—”


Tanpa mendengar lebih lanjut ucapan Sebastian, Anya langsung melangkahkan kakinya meninggalkan lelaki itu dengan raut wajah yang sulit diartikan yang jelas raut wajah itu mampu membuat Sebastian merasa bersalah.


Mata Sebastian melirik kearah nasi goreng yang berhamburan. “Gue gak sengaja, lagian gue gak bisa makan yang gituan buat sarapan.” gumam Sebastian, dia kembali menatap punggung Anya yang telah menghilang memasuki kelas perempuan itu sendiri.


Sedangkan Anya, dia menarik sudut bibirnya. Dia yakin, Sebastian pasti merasa bersalah. Dan rasa itu akan dimanfaatkannya.


Let's see!


***


Natasya menjatuhkan bokongnya di tempat biasa, dia melempar senyum kearah Kinara yang sudah menjerit histeris melihat keberadaan dirinya. “Histeris banget sih, orang cuma gak sekolah dua hari juga.” ucap Natasya, dia terkekeh sambil mengeluarkan buku dan alat tulis dari tasnya.


“Ih... Gue tuh kangen tahu sama lo. Lagian lo kemana sih kemarin? Pakai izin segala, gaya banget.” cibir Kinara, dia kembali menyalin tugas dari ponselnya untuk dicatat di buku catatan.


“Ada, deh.” jawab Natasya. Tiba-tiba pikirannya tertuju pada satu hal, satu hal yang membuatnya penasaran. Dia memutar tubuhnya, meletakkan kedua lengan di atas meja dan kursi.


“Eh, kemarin pas gue gak sekolah. Sahabat gue gimana tuh?” tanya Natasya, dia menaikkan sebelah alisnya.


Kinara memutar tubuhnya, mengerutkan kening bingung mendengar pertanyaan Natasya. “Maksudnya?” tanya Kinara, bingung. Bahkan saking bingungnya, dia menghentikan sejenak kegiatannya untuk fokus mendengar maksud pertanyaan Natasya.


Natasya berdehem, “Maksud gue tuh. Gimana, ya? Pokoknya lo ceritain deh kemarin sahabat gue pada ngapain kek yang lo lihat aja.” tukas Natasya.


Kinara terdiam, mencoba memikirkan kemudian kembali menatap Natasya. “Oh, iya, kemarin pas gue di kantin sama Rio,” ucap Kinara.


Just info, Rio itu pacar Kinara dan mereka sering sekali menikmati istirahat bersama. Jadi, kalau ditanya, kenapa Kinara jarang bareng Natasya kalau istirahat? Jawabannya adalah karena Kinara punya pacar, jadi sama pacarnya.


“Gue lihat sih kemarin mereka cuma bertiga, Sebastian gak ada.” lanjut Kinara. Natasya mendengar sambil ber'oh'ria, dia tak bertanya kemana Sebastian karena dia tahu jawabannya.


“Gak tahu kenapa, Antonio sama Delfano itu kayak sama-samain lo sama Anya. Mereka kayak ngomong di beberapa situasi lo sama Anya tuh sama.” sambung Kinara yang membuat Natasya terdiam.


Kinara terdiam, dia memperhatikan dengan seksama Natasya yang terdiam. “Tapi, kalau dilihat-lihat, muka lo sama Anya tuh emang gak jauh beda tahu. Kayak ada yang sama, tapi gak tau di bagian mana.” ucap Kinara yang membuat Natasya mendongak.


Natasya terkekeh, “Masa, sih?” tanya Natasya, Kinara mengangguk.


“Tapi, bodo amatlah, ya. Yang harus lo tahu adalah gue gak suka sama Anya. Dia itu kayak fake gitu loh, gue harap lo lebih hati-hati sama cewek itu.” ujar Kinara, dia menepuk pelan pundak Natasya.


Natasya mengangguk-angguk.


“Udahlah, gue mau ngerjain tugas lagi. Ganggu banget lo.” tukas Kinara, dia mencebik sambil kembali melanjutkan kegiatannya yang terganggu karena Natasya.


“Tugas apaan? Gue lihat dong!”