Friendshut [TAMAT]

Friendshut [TAMAT]
F-ENAMBELAS



“Natasya!”


Natasya menghentikan langkahnya saat ada seseorang memanggil namanya, begitupun ketiga sahabatnya. Mereka saat ini tengah berjalan beriringan menuju parkiran sekolah, tapi saat ada orang yang memanggil salah satu diantara mereka, otomatis mereka menghentikan langkahnya.


Di sana, seorang perempuan melambaikan tangan sambil berlari menghampiri mereka. Natasya yang tahu siapa perempuan itu, tersenyum. Berbeda dengan yang lainnya yang malah mengerutkan kening bingung karena tak tahu siapa perempuan itu.


Anya, dia lah orangnya . Anya berjalan menghampiri mereka, berdiri dihadapan Natasya dan ketiga sahabatnya sambil mengeratkan tote bag hitam di lengan kanannya.


Anya tersenyum lebar, menatap mereka satu persatu.


Natasya pun membalas senyuman itu, pun dengan Delfano yang memang pada dasarnya mudah senyum, terutama pada kaum hawa. Lain halnya dengan Antonio dan Sebastian yang saling tatap, saling bertanya dalam diam mereka.


Natasya terkekeh melihat kebingungan di wajah sahabatnya, dua berdehem. “Kenalin, kenalin, dia Anya, teman baru kita.”


“Hah?”


Anya tersenyum lebar, menampilkan deretan giginya. “Kenalin, gue Anya.” ucap Anya sambil mengulurkan tangannya, dia mencoba berkenalan dengan mereka satu persatu. Dia mengulurkan tangannya terlebih dahulu pada Delfano yang sontak diterima dengan cepat oleh lelaki itu.


“Lo tau gue dong, pasti?” tanya Delfano, dia menaikan kedua alisnya sambil tersenyum manis menatap Anya yang juga tersenyum tak kalah manis darinya. “Gue ini terkenal banget loh, asal lo tahu.”


Anya mengangguk, dia terkekeh. “Tahu, dong! Cowok ganteng dan punya banyak mantan dimana-mana.” jawab Anya terkesan polos, membuat yang lain dibuat tertawa oleh jawabannya, kecuali Sebastian.


Delfano melepas uluran tangan tersebut, dia mendengus pelan. “Yang gantengnya sih, itu bener ya 100%. Tapi kalo yang punya banyak mantan dimana-mana, kayaknya gak bener deh.” dengus Delfano.


Antonio mendengus, “Bohong banget, itu malah 1000%, gak akan ada yang menyangkal lagi, orang itu faktanya.” timpal Antonio.


Anya kini menatap Antonio, dia mengulurkan tangannya. “Nama lo, siapa?”


Antonio mengerjapkan matanya, dia tersenyum tipis. “Gue, Antonio.” jawab Antonio. Dia memperhatikan wajah Anya, seperti tak asing baginya. “Btw, lo anak IPS bukan sih? Kok kayaknya gue gak asing, ya sama muka lo?” tanya Antonio, mencoba memastikan tebakannya.


Anya mengangguk, “Iya, gue anak baru di IPS, lebih tepatnya sih tetangga lo.”


“Tuh, kan! Gue bilang juga apa.”


Kini Anya menatap Sebastian, lelaki yang tak berekspresi sedikitpun sejak tadi. “Kalau lo, siapa?” tanya Anya, dia sama mengulurkan tangannya.


Tanpa membalas uluran tangan Anya dan masih dengan wajah datarnya, Sebastian menjawab. “Sebastian.” jawab Sebastian dengan datarnya.


Anya tersenyum lebar menatap Sebastian, ada sedikit hatinya yang merasa tersentil melihat sikap lelaki itu yang terkesan acuh, dingin. Namun sebagian hatinya yang lain malah terkesan suka dengan sikap lelaki itu. Dia menarik perlahan uluran tangannya yang tak dibalas Sebastian itu sambil mengangguk-angguk.


Natasya terdiam, sejujurnya dia tak enak hati saat melihat sikap Sebastian yang tadi. Tapi mau bagaimana lagi, itulah Sebastian, anti sama cewek kecuali dia dan mungkin ibunya. Dia kini beralih menatap Anya. “Oh, iya. Ada apa ya lo panggil gue?” tanya Natasya.


Anya terlonjak mendengar pertanyaan Natasya, dia tadi masih sibuk dengan pikirannya yang tertuju pada Sebastian. “O-oh, itu, gimana ya ngomongnya? Gue gak enak jadinya.” ucap Anya sambil meringis, menyelipkan rambut ke belakang telinganya yang entah kenapa malah membuat Delfano dan Antonio yang melihatnya terkesima.


“Ngomong aja, gakpapa kok.” jawab Natasya.


“Gimana, ya—”


“Lo mau ngomong apa sih? Buruan deh, pegel gue nunggunya.” potong Sebastian, sedikit kesal terdengar dari nada bicaranya.


Delfano mengerutkan kening, dia menatap Sebastian yang air mukanya sedikit berubah menjadi kesal. “Santai aja kali, toh kita gak ada perlu ini.” ucap Delfano, sepertinya sedikit membela Anya yang membuat Natasya kembali mengumpat dalam hati, kenapa sih Delfano gak pernah berubah?


“Jadi, mau apa?” tanya Delfano dengan halusnya, dia menatap Anya sambil tersenyum.


“Jad, gini, sopir gue gak bisa jemput gue. Makanya, gue punya niat mau nebeng sama lo, Nat.” jelas Anya yang langsung mendapat 'oh' ria dari Delfano dan Antonio.


Natasya menarik tipis sudut bibirnya, “Masalahnya gue juga nebeng sama yang lain. Emang rumah lo di daerah mana?” tanya Natasya.


“Rumah gue di daerah *** ” jawab Anya.


“Oh... Kalau itu lo nebeng Bastian aja, rumah lo searah sama dia.” Natasya menatap Sebastian. “Gakpapa kan, Yan?” tanya Natasya, dia mengangguk menatap Sebastian yang sepertinya hendak menolak.


“Yaudah,” jawab singkat Sebastian.


Natasya tersenyum lebar. “Yaudah, yuk! Lo mau langsung naik mobilnya Bastian atau ikut mobil Delfano dulu?” tanya Natasya, membuat Anya mengerutkan keningnya. Masalahnya, menurut Anya untuk apa dia ikut mobil Delfano sedangkan dia nantinya satu arah dengan Sebastian?


Mengerti dengan kerutan di wajah Anya, Natasya tersenyum lebar. “Mereka tuh biasanya nganterin gue dulu, baru pulang ke rumah masing-masing.” jelas Natasya.


Mereka berjalan beriringan menuju mobil Delfano, sedangkan yang lain langsung menuju kendaraan masing-masing. Sebastian kearah mobilnya dan Antonio kearah motornya.


***


Mereka telah sampai di depan rumah Natasya.


Natasya sedikit memutar tubuhnya kearah jok belakang, dimana Anya berada. “Lo mau mampir dulu, gak?” tanya Natasya, membuyarkan lamunan Anya yang tengah memperhatikan rumah besar di depan matanya ini.


Anya menggeleng, “Enggak, deh. Lain kali aja, soalnya gue masih sibuk, lagi ngejar beberapa pelajaran yang sempet ketinggalan karena gue baru di sekolah.” jawab Anya.


Natasya mengangguk-angguk, “Yaudah, oke. Lain waktu gue tunggu lo main di rumah gue.” ucap Natasya yang langsung diangguki Anya.


Kini Natasya beralih menatap Delfano, “Kalau, lo? Pulang aja deh, gue sibuk ngerjain tugas.” ujar Natasya, dia sedikit mencondongkan tubuhnya.


Tuk!


Delfano menyentil kening Natasya, membuat si empunya meringis sambil mendengus. Berbeda dengan Anya yang terkekeh melihat itu, meskipun tidak bisa dipungkiri ada sedikit iri dalam hatinya.


“Geer, siapa juga yang mau mampir.”


“Bagus deh,”


“Nanti malem tapi ya, minta makan.”


“Dasar.”


“Udah, sana!”


“Iya... Iya... Ini juga mau keluar.” dengus Natasya, melepaskan seatbelt kemudian segera membuka pintu mobil dan keluar.


Anya pun segera bergegas hendak keluar, namun Delfano mencegahnya. “Boleh minta nomor handphone?” tanya Delfano, menaikkan sebelah alisnya sambil tersenyum manis yang mampu menghipnotis siapa saja.


Anya mengangguk, dia segera menyebutkan nomor ponselnya dan langsung dicatat di ponsel milik Delfano kemudian segera bergegas keluar dari mobil lelaki itu.


Natasya mengerutkan kening saat Anya tak kunjung keluar, namun dia segera merubah raut wajahnya seperti biasa saat perempuan itu sudah berdiri di sampingnya. “Nah, kalo itu rumah Anton,” tunjuk Natasya pada rumah besar di samping rumahnya, di sana ada Antonio yang menyender pada perbatasan rumah mereka sambil melipat tangan di depan dada, menggerakkan kedua alisnya saat matanya bertemu dengan mata kedua perempuan itu.


Tittt...


Semuanya terlonjak kaget mendengar bunyi klakson dari mobil Sebastian, Natasya mendengus sambil menengok sebentar Sebastian dari luar mobil, membuat lelaki itu terkekeh dibuatnya.


“Yaudah, gue pulang dulu, ya. Makasih semuanya.” ucap Anya, dia segera berjalan kearah mobil Sebastian, hendak membuka pintu depan namun si suara pemiliknya menghentikannya.


“Di belakang,”


Otomatis, Anya segera berjalan kearah pintu kursi belakang dengan kening mengerut, berbeda dengan yang lainnya yang sudah tau mengapa lelaki itu melakukannya.


“Bye,” sapa Anya, melambaikan tangannya.


Di dalam mobil, Anya sedikit mencondongkan tubuhnya menatap wajah Sebastian yang sejak tadi tetap datar. Dia menghela nafas gusar, beda sekali antara Delfano dan Sebastian. Tadi saat di mobil Delfano, lelaki itu lebih banyak mengeluarkan kata-kata sehingga mobil pun terasa hangat, sedikit tak canggung saat pembicaraan mereka, berbeda dengan disini, Sebastian yang cenderung diam membuat dia canggung.


“Hm... Kenapa gue gak boleh duduk didepan?”


Pertanyaan Anya itu membuat Sebastian melirik sekilas perempuan itu lewat spion tengah mobil, terdiam cukup lama namun kemudian mengeluarkan suaranya.


“Itu, khusus Natasya.”


Anya terlonjak mendengar jawaban itu, dia menarik sudut bibirnya. “Tapi, kalau gue di belakang, lo nanti dikira supir gue.”


“Yaudah, sih.”


Ucapan Sebastian berhasil menciutkan Anya yang mencoba mengajak ngobrol lelaki itu.


Lo beruntung, Nat, sedangkan gue? Let's see later.