![Friendshut [TAMAT]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/friendshut--tamat-.webp)
Dengan lesu, kaki itu melangkah memasuki rumah yang keadaannya sangat sepi. Orangtuanya sedang tak ada disini, mereka sudah beberapa hari pergi ke acara kondangan rekan kerja ayahnya. Hanya ada dirinya dan satu asisten rumah tangga beserta pak satpam di pos depan. Dan mungkin, baru besok orangtuanya pulang.
Natasya langsung menjatuhkan tubuhnya begitu saja di atas sofa, kembali menghela napas kasar dengan pandangan lurus ke depan. “Sepi banget sih.” keluh Natasya.
Natasya bergumam pelan, bahkan saking sepinya mungkin hanya suara detak jantung dan dentikkan jarum jam saja yang di dengarnya. Entah kenapa, jika dalam keadaan sepi ini dirinya selalu waspada. Bahkan sepertinya, telinganya pun jadi lebih sensitif terhadap suara. Dan karena suara itu juga yang selalu membuat jantungnya berdetak tak karuan.
“Non, mau makan sekarang?”
Lihat, bahkan hanya karena kedatangan Bi Marni yang tiba-tiba saja sudah membuat Natasya terlonjak kaget. Dan itu semua, tak lepas dari pandangan Bi Marni sehingga membuatnya meringis merasa bersalah melihat keterkejutan di wajah anak majikannya itu.
Natasya menetralkan kembali wajahnya, kemudian menggeleng sambil tersenyum simpul. “Nanti aja deh, bi. Belum lapar.” jawab Natasya yang diangguki Bi Marni.
“Aduh... Itu lutut sama dagu non teh kenapa?” tanya Bi Marni, dia terkejut dan meringis pelan melihat luka yang dialami anak majikannya itu.
Natasya terkekeh pelan, melihat luka di lututnya sambil meringis kemudian kembali menatap Bi Marni. “Tadi gak sengaja jatuh di sekolah pas lagi olahraga.” jawab Natasya jujur. Toh, memang benar kan? Dia jatuh saat pelajaran olahraga. Hanya saja, disini dia tak menceritakan kronologi sebenarnya.
“Bibi obati, ya?”
“Gak usah bi, udah kok tadi di sekolah.” tolak Natasya, dia segera beranjak dari duduknya yang langsung dibantu dengan sigap oleh Bi Marni. “Yaudah ya, aku ke atas dulu.” pamit Natasya sambil menyampirkan tasnya dan berjalan pelan menuju kamarnya dilantai atas.
Natasya memasuki kamarnya, menyimpan ransel berisi beberapa buku dan iPad di atas meja serbaguna, kemudian berjalan keluar kearah balkon kamarnya. Tak ada yang menarik, bahkan saat dia menoleh ke kamar Antonio pun seperti tak ada kehidupan di kamar itu. Terbukti dengan pintu kamar Antonio yang tertutup rapat. Dia menghela napas pelan, memilih menjatuhkan bokongnya di sofa kecil disini sebelum kemudian mengeluarkan ponsel dari rok seragamnya.
Natasya mengetikan nama seseorang yang langsung terpampang di layar ponselnya itu. Dan hanya suara tut... tut... tut... yang diakhiri suara operator saat ponsel itu di tempelkan ke telinganya.
Dia mengerutkan keningnya saat panggilannya tak di angkat. Bukan Anton banget, pikirnya. Ya, secara Anton, Delfano dan Sebastian itu tak pernah sekalipun mengabaikan panggilannya. Mereka akan dengan gercep mengangkat telpon darinya. Tapi, aneh sekali hari ini.
Entah lah, coba sekarang dia menghubungi Delfano atau Sebastian, siapa tahu diangkat.
Namun, lagi-lagi panggilannya diabaikan padahal nomor mereka tak menunjukkan tanda-tanda sibuk atau berada di luar jangkauan. Menyebalkan, gerutunya. Bibirnya sudah mencebik, menatap layar ponselnya yang perlahan mati terkunci.
“Sok ngartis banget deh mereka. Nyebelin!”
Natasya memilih beranjak memasuki kamarnya, sepertinya membersihkan tubuhnya yang lengket dengan air dingin akan menyegarkan. Tapi, bagaimana dengan lukanya? Huh! Dia harus bekerja ekstra agar lukanya tak ikutan terkena air nantinya.
***
“Jadi, gimana?”
Antonio menatap bergantian kedua sahabatnya, dia sesekali menyeruput americano iced coffee miliknya. Masih menatap bergantian mereka yang duduk di hadapannya. Punggungnya sudah bersandar pada sandaran sofa yang didudukinya.
Saat ini mereka berada di coffee shop, sebuah tempat vintage yang dulunya adalah rumah. Aksen kuno jaman dulu masih melekat, bahkan sengaja tak di ubah dan di biarkan saja. Hanya saja, tempat yang dulunya merupakan tempat tinggal ini sudah berubah menjadi tongkrongan anak-anak muda kekinian. Tempat ini bukan hanya menjual berbagai racikan minuman kopi, melainkan semua makanan, camilan, pewangi sampai aksesoris berbau kopi.
Delfano menyugar rambutnya, melirik sekitar dan tersenyum simpul melihat gerombolan wanita yang terang-terangan memperhatikannya. Memang ya, pesonanya itu terlalu kuat hingga siapapun sulit untuk menolaknya. Buktinya, siapapun pasti akan terjerat pada pesonanya. Tak pernah ada dalam sejarah hidupnya, ada satu wanita pun yang menolak pesonanya. Tak ada dan tak akan pernah ada.
Antonio mendengus saat tak mendapat respon apapun, apalagi saat ini dia melihat Delfano dengan kelakuannya yang kurang ajar. Salah apa dia sampai punya teman yang sayangnya sahabat modelan Delfano ini? Hadeh. Sedangkan, Sebastian hanya diam seolah tak terpengaruh apapun karena kelakuan Delfano. Dia dan sifat santainya tak bisa di pisahkan.
“Jadi?”
Sebastian meletakkan cup kopi nya di atas meja, menatap Antonio dan Delfano bergantian. “Ya... Sesuai rencana kemarin aja. Kita bakal surprise in Syasya nanti malam.” jawab Sebastian dengan kedua alis terangkat.
Delfano mendengus pelan. “Iya, kenapa sih ribet banget? Udahlah, sesuai rencana awal aja!” timpal Delfano menatap sebal Antonio.
“Oke kalau emang mau sesuai kayak rencana kemarin. Kalian malam ini nginep di rumah gue, biar gampang.” ucap Antonio yang langsung diangguki oleh Delfano dan Sebastian.
***
Perempuan mana sih yang tidak akan baper jika di perlakukan romantis oleh pasangannya? Pasti semua perempuan ingin mendapatkan perlakuan itu.
Sama seperti Natasya. Dia tengah baper hanya karena melihat adegan romantis antara sepasang kekasih lewat layar laptop di pangkuannya. Senyum lebar tak henti-hentinya dia sunggingkan karena sudah berapa episode film yang di tontonnya menampilkan adegan romantis.
Waktu sudah menunjukkan pukul 23.50 WIB. Namun, Natasya masih belum ada niatan untuk menghentikan tontonannya meskipun sudah berapa jam sejak dia duduk menatap layar laptopnya ini. Salahkan ranjang yang nyaman, mata yang masih terbuka lebar dan camilan yang masih masuk ke mulutnya serta film yang tengah di tontonnya sehingga dia tak ada berniat untuk beranjak pergi ke alam mimpinya itu.
Bip!
Hingga saat lampu kamar Natasya yang tiba-tiba mati membuat dia menegang seketika dalam diamnya. Semuanya gelap dan hanya satu penerangan, yaitu cahaya dari layar laptopnya. Tubuhnya langsung bergetar seketika dengan keringat dingin yang mulai berjatuhan dari pelipisnya. Matanya tak henti-henti bergerak, merasa waspada dalam kegelapan ini. Bahkan, dia melupakan rasa sakit di lututnya saat kakinya di tekuk membuat dia kini meringkuk.
Gelap tak pernah disukainya. Dia benci berada di kegelapan seorang diri. Benci dengan keheningan yang nantinya akan menimbulkan berbagai haluan di benaknya. Keheningan yang justru terasa ramai di telinganya.
Air mata itu akhirnya meluncur juga dari netra Natasya, dia terisak pelan di tengah kegelapan dan keheningan ini. Jantungnya langsung berdetak cepat saat tiba-tiba suara aneh tertangkap telinganya. Tangisnya sudah berhenti, namun air mata itu masih tak mau berhenti mengalir dari pelupuk matanya yang sudah membulat sempurna.
Susah payah dia meneguk air liurnya. “Siapa?” tanya Natasya dengan suara bergetarnya. “Bi? Bibi?”
Tap... Tap... Tap...
Langkah itu semakin terdengar jelas di telinganya, semakin mendekatinya. Bayangan itu terus mendekat, membuat dia otomatis memundurkan tubuhnya dengan isakan yang kembali terdengar.
“Please, jangan dekat-dekat.”
“Aduh... Gue mohon siapapun lo, mau hantu mau bukan. Please, jangan dekat-dekat. Gue takut banget.”
“Kalo lo makin deket, gue bakalan laporin sama sahabat-sahabat gue. Gue bakalan ngadu, supaya lo di hajar sama mereka, supaya—”
“SURPRISE!”
“Happy Birthday to you... Happy birthday to you... Happy birthday, Happy birthday... Happy birthday Natasya.”
Natasya semakin mengeraskan tangisnya, dia tak peduli dengan wajahnya kini yang mungkin tak karuan. Di depannya kini, ada mereka yang berdiri di hadapannya. Sebastian memegang kue ulang tahun diapit Delfano dan Antonio di sisinya.
Mereka berjalan menghampiri Natasya yang masih belum mau menghentikan tangisnya.
“Happy birthday... ”
Natasya mendongak, dia segera turun dari ranjangnya memukul keras mereka. Mereka mengaduh, pura-pura merasakan sakit karena pukulan nya itu.
“Nyebelin tau gak sih kalian!” dengus Natasya, dia terkekeh namun air matanya tak kunjung berhenti mengalir.
Delfano memajukan tubuhnya, menghapus dengan cepat air mata yang masih mengalir itu dengan kedua ibu jarinya. “Udah, jangan nangis dong.” ucap Natasya, dia tersenyum lebar sambil menangkup wajah Natasya.
Natasya menepis tangan Delfano, dia menatap sebal satu persatu sahabatnya yang tersenyum lebar kearahnya. “Abis kalian jahat.”
“Jahat kenapa? Orang kita cuman surprise-in lo. Jahat dimana nya coba?” tanya Antonio, dia memainkan kedua alisnya menggoda Natasya yang kini mencebik.
“Telpon gue gak diangkat, chat gue gak dibales bahkan kalian matiin lampunya. Kalian kan tau, gue gak suka gelap.” kesal Natasya, dia mencebik.
Sebastian menarik sudut bibirnya. “Tapi kan sekarang udah terang, Sya. Udah ah, ayo tiup dulu lilinnya, nanti keburu meleleh.” ucap Sebastian, dia menyodorkan kue ulang tahun yang sedari tadi di pegangnya.
“Make a wish dulu,”
Natasya menghapus air matanya, dia mengangguk kemudian segera memejamkan matanya, mulai berdoa apapun yang diinginkannya.
Huh...
Mereka tersenyum saat lilin di atas kue ulang tahun itu mati.
“Potong kue nya, Na.” ucap Antonio, dia tersenyum lebar dengan kedua tangan dimasukkan kedalam saku jaket yang dikenakannya.
“Pisaunya?”
Delfano berdehem keras, tersenyum lebar. “Tenang, nih!” seru Delfano, dia mengeluarkan pisau plastik yang di dapat dari kue ulang tahun itu dari saku celana jeans nya. Dia menyodorkan pisau itu yang langsung di terima dengan cepat oleh Natasya.
Mereka memilih duduk lesehan di lantai beralas karpet bulu halus dikamar Natasya. Kemudian, memperhatikan perempuan itu yang kini mulai memotong kue ulang tahun bentuk sederhana dengan rasa cokelat kesukaan Natasya.
“Buat siapa tuh potongan pertama?” tanya Antonio, dia menaikkan kedua alisnya dengan senyuman di bibirnya.
Natasya terdiam, dia menatap satu persatu dari mereka kemudian tersenyum lebar. Potongan kue pertama itu, dipotongnya lagi menjadi tiga bagian. “Buat kalian, lah!” jawab Natasya semangat.
Mereka terkekeh karena tingkah Natasya. Biasanya potongan pertama itu untuk Bundanya, berhubung bunda tidak ada di rumah. Alhasil, potongan pertama itu untuk mereka.
“Aaa... ”
Natasya menyuapi mereka bergantian, dimulai dari Sebastian dan berakhir di Delfano, niatnya. Tapi, Antonio tetap lah Anton yang punya tingkat kejahilan tinggi. Buktinya, saat dia hendak menyuapi Sebastian, mulut Antonio dengan nakalnya malah menerima suapan itu. Sehingga, kini hanya kekehan yang tiba-tiba muncul serta dengusan yang berasal dari Sebastian.