Friendshut [TAMAT]

Friendshut [TAMAT]
F-DUAPULUHEMPAT



Natasya merenggangkan otot-otot tangannya yang mulai terasa pegal, dia menghela napas dengan lega saat melihat tugas essay nya selesai dikerjakan. Dia memilih membuka ponsel, menyalakan data selulernya yang langsung menampilkan berbagai notifikasi dari media sosialnya. Dia tersenyum lebar saat ada notifikasi yang berasal dari youtuber favoritnya. Tanpa membuang waktu, dia langsung menekan notifikasi tersebut dan terpampang lah video dari youtuber nya itu.


Tok... Tok... Tok...


Natasya menyahut tanpa mengalihkan pandangannya dari ponselnya. Sedangkan pintu kamarnya langsung terbuka saat dia mengijinkan pengetuk pintu itu masuk. Di sana terlihat Emma yang berjalan kearahnya dengan nampan berisi makanan dan juga botol obat-obatan.


“Bun,” sapa Natasya, dia tersenyum menatap sekilas Emma dan kembali terfokus pada ponselnya.


Emma meletakkan nampan tersebut di atas nakas samping ranjang putrinya, berjalan menghampiri Natasya yang masih setia dengan kegiatannya. “Jangan lupa makan, ya, terus obatnya diminum.” ucap Emma mencoba mengingatkan, dia mengusap pelan rambut Natasya yang membuat perempuan itu terdiam sejenak namun kemudian tersenyum lebar dan mengangguk.


Kali ini, Natasya mengabaikan video di ponselnya, memutar tubuhnya menghadap Emma dan memeluk perempuan paruh baya itu dari samping. Dia meletakkan kepalanya tepat di perut Emma, melingkarkan tangannya di pinggang perempuan itu. “Makasih, ya, bun.” ucap Natasya, dia sedikit mendongak untuk melihat wajah Emma.


Emma mengangguk, menatap haru putrinya yang masih bisa tersenyum. “Semangat ya!” ucap Emma yang mendapat anggukan mantap dari Natasya.


“Pasti dong, bun! Anak bunda ini pasti semangat!”


Natasya semakin mengeratkan pelukannya, memejamkan matanya menahan tangis hatinya.


***


Lagi dan lagi.


Natasya duduk termenung di balkon kamarnya, dia menatap langit malam yang lumayan cerah malam ini meskipun tanpa bintang yang menemani. Dia memasang earphone ke telinga, menikmati alunan musik yang berasal dari benda tersebut meskipun tak sepenuhnya sampai ke hatinya.


Ponsel di sakunya tiba-tiba bergetar, membuat dia mau tak mau melepas earphone yang menyumpal telinganya dan melihat siapa nama yang tertera di layar ponselnya.


Nomor tidak dikenal.


Natasya mengerutkan keningnya saat melihat nomor tanpa nama pemiliknya, dia hanya menatap ponselnya yang bergetar itu tanpa niatan sedikitpun mengangkat panggilan tersebut. Dia mengendikkan bahunya, memilih meletakkan ponsel tersebut disampingnya.


Natasya itu tipe perempuan yang bisa disebut masa bodo tidak, tapi peduli juga tidak terlalu. Jadi, bisa dibilang, tengah-tengah lah antara itu semua. Tapi, percaya, dia jarang sekali meladeni nomor-nomor tak dikenal yang masuk ke ponselnya, dia akan memilih mengabaikannya saja.


Berkali-kali ponselnya kembali bergetar, membuat dia sebal. Dengan terpaksa, dia mengangkat panggilan tersebut dengan malas.


“Halo?”


“...”


***


Natasya mengeratkan kardigan yang melapisi kaosnya. Dia melirik orang-orang yang memasuki tempat dengan musik yang bergema dengan hebatnya, lampu-lampu disko yang berkedip-kedip lumayan kencangnya—membuat siapa saja yang tak biasa melihatnya mungkin akan pusing, ditambah aroma alkohol yang cukup menyengat sampai menusuk hidung siapa saja yang tak suka aroma tersebut, termasuk dia.


Dia melirik pakaiannya—kaos dilapisi kardigan, celana tidur dan sendal jepit hitam menjadi penampilannya kini, berbeda dengan perempuan lain yang memasuki tempat ini dengan pakaian kurang bahan. Dia melangkah pelan memasuki tempat ini, merasa risih saat ada beberapa lelaki yang terang-terangan menggodanya. Namun diacuhkan itu semua, tujuannya datang kesini hanya satu.


Menjemput dia.


Matanya terus menelusuri tempat remang-remang ini, menajamkan matanya untuk segera menemukan orang yang dicarinya lalu pergi dari tempat laknat ini. Dan, ya, dia menemukan orang itu ketika seseorang melambaikan tangan kearahnya. Dia segera berjalan cepat menuju orang itu.


“Tuh, lihat! Tepar tuh anak.” ucap seorang Bartender yang entah siapa namanya, menunjuk Delfano yang sudah terkapar di atas meja bar dengan seragam sekolah yang masih melekat di tubuh lelaki itu, meskipun terbungkus jaket boomber.


Ya, orang yang dicarinya adalah Delfano.


Tadi, dia di telpon oleh lelaki yang sepertinya adalah bartender yang ada di hadapannya. Bartender ini meminta dia datang untuk menjemput Delfano ke tempat ini. Dengan berbagai pertimbangan dan keraguan yang hinggap dihatinya, akhirnya dia memutuskan menjemput lelaki itu di tempat laknat ini.


Satu yang menjadi pertanyaan, kenapa dia yang diminta menjemput orang ini?


“Ini, dia kenapa, ya?” tanya Natasya, dia sedikit mengeraskan suaranya karena harus beradu dengan musik yang menggema cukup keras di ruangan ini.


“Dia mabuk, udah berapa gelas dia minum. Jadi, gini deh.” jawab Bartender tersebut sambil meracik minuman dalam gelas kecil untuk pelanggannya yang lain.


Dia mengangguk, segera memapah tubuh Delfano dengan susah payah karena berat Delfano yang lumayan, apalagi Delfano itu seorang lelaki sedangkan dia perempuan, bisa dibayangkan.


Baru saja dia melangkah, dia kembali menghentikan langkahnya saat Bartender tersebut kembali memanggilnya. Dia sedikit memutar kepalanya dengan susah payah, menaikkan sebelah alisnya seolah bertanya.


“Ini handphone nya ketinggalan.” ucap Barista tersebut sambil menyerahkan ponsel berlogo apel tersebut kearah Natasya, dengan susah payah perempuan itu menerima ponsel tersebut dan memasukkan ke saku kardigan nya.


“Btw, gue tadi bingung banget mau telpon siapa. Dan pas gue buka handphone Fano, eh nama lo yang disematkan paling atas. Jadinya, gue telpon lo deh.” jelas Barista tersebut yang membuat Natasya terdiam.


Ada bagian hati Natasya yang bersorak senang karena ucapan Barista tersebut. Ah, Delfano.


“Gue cabut dulu, ya. Makasih.”


***


Natasya hanya melirik Delfano yang masih belum sadarkan diri namun tak henti-hentinya meracau tak jelas. Dia mengusap pelan kepala Delfano yang bersandar di pundaknya, membenarkan letak rambut lelaki itu yang memang ingin selalu disentuhnya.


Saat ini, mereka berada di taksi online. Untung Delfano mempunyai aplikasi taksi online, sehingga memudahkan Natasya untuk memesan taksi tersebut yang nantinya akan mengantarkan Delfano ke rumahnya. Sebenarnya, ada mobil Delfano di bar tadi, tapi berhubung Natasya tidak bisa mengendarai mobil dan keadaan lelaki itu yang tak sadarkan diri, membuat dia memilih taksi online ini. Dia tak mau mengambil resiko. Toh, ini sudah malam, susah kalau harus mencari taksi manual.


“Fan... Fan... Bingung gue, kenapa juga lo selalu kayak gini? Mabuk-mabukan gak jelas, aneh.” gumam Natasya tanpa menghentikan kegiatannya, dia masih memperhatikan wajah Delfano.


“G-gue suka.”


Natasya mengerutkan keningnya saat kalimat tersebut terlontar dari mulut Delfano, bingung maksud dari ucapan tersebut dan tertuju pada siapa kalimat itu.


“Mbak, sudah sampai.”


Natasya mengenyahkan lamunannya saat suara supir taksi online tersebut menginterupsinya. Dia segera mengambil dompet Delfano dari saku celana lelaki itu dan mengeluarkan uang untuk pembayaran taksi tersebut.


Masa bodo, toh Delfano banyak duit. Diambil 300 ribu gak akan berpengaruh apapun.


“Makasih, ya, pak.”


Dia segera menyerahkan ongkos taksi tersebut dan keluar dari taksi sambil memapah Delfano susah payah memasuki rumah lelaki itu. Dia menghela napas dengan lega saat sudah sampai di depan pintu rumah Delfano dengan segala perjuangan yang dilakukannya untuk sampai di posisinya saat ini.


Tanpa menunggu waktu lama, dia segera memasuki rumah Delfano yang tak dikunci. Menggiring lelaki itu kearah sofa sambil memanggil pembantu rumah tangga di rumah ini.


“Kenapa sih, kenapa harus lo yang taklukkan hati gue. Kenapa?” racau Delfano, lelaki itu tak henti-hentinya meracau tak jelas sejak keluar dari bar tersebut.


Natasya menghempaskan dengan keras tubuh Delfano, meringis sesaat. “Untung dia gak sadar, kalau sadar bisa abis gue ketahuan main lempar badan orang gitu aja.” gumam Natasya, dia berdecak pinggang menatap Delfano yang masih komplit dengan seragam sekolah.


Natasya menghela napas, dia segera berjongkok, mulai melepas sepatu bermerek yang masih menghiasi kaki Delfano.


“Gue suka sama lo, kenapa lo gak peka sih!?”


Natasya semakin mengerutkan keningnya saat lagi-lagi mendengar racauan Delfano, “Sama siapa sih?”


Natasya mulai membuka jaket yang melapisi seragam Delfano, kemudian menyimpannya begitu saja di atas meja. Dia mengedarkan pandangannya, mencari keberadaan pembantu rumah tangga yang masih belum menunjukkan batang hidungnya.


“Mbak!”


Berkali-kali dia memanggil pembantu rumah ini tapi, tak sedikitpun mendapat jawaban.


“Udah tidur kali, ya?” tanya Natasya pada dirinya sendiri. Dia kembali menatap Delfano, sedikit kasihan saat melihat wajah Delfano yang sedikit kusam. “Gue ambil dulu air anget deh buat lap mukanya,” lanjut Nataysa sambil beranjak menuju ke dapur.


Hingga tanpa disadari, Delfano kembali meracau.


“Tata,”