Friendshut [TAMAT]

Friendshut [TAMAT]
F-LIMAPULUHTUJUH



“Anya,”


Anya mengerutkan keningnya, sedikit samar-samar melihat orang dihadapannya, mungkin karena pandangannya terhalang air mata sehingga membuatnya sedikit sulit melihat dengan jelas siapa yang ada di hadapannya kini. Namun, dia langsung terlonjak seketika saat dia tahu siapa.


“Sebastian,” gumam Anya pelan, namun masih mampu didengar Sebastian.


Sebastian mengerutkan keningnya. “Lo, kenapa nangis?” tanya Sebastian, dia jongkok menyamakan tubuhnya dengan posisi Anya.


Anya menggeleng, dia cepat-cepat menghapus air matanya. “Enggak, siapa yang nangis? Ngaco, lo!” elak Anya, dia tersenyum menampilkan deretan giginya.


Kening Sebastian semakin mengerut mendengar jawaban Anya. Dia yakin, dia tadi mendengar suara tangisan yang berasal dari Anya dan semakin yakin saat baru saja beberapa saat yang lalu melihat perempuan itu yang dibanjiri air mata.


Anya tahu, Sebastian tak percaya atas jawabannya. Namun, dia mencoba sebisa mungkin menyembunyikan itu semua. “Lo ngapain disini?” tanya Anya, dia masih menunjukkan senyumnya.


Sebastian diam, dia masih memperhatikan senyum Anya. Dia yang fokus pada senyum Anya, sedangkan yang menjadi titik fokus malah semakin melebarkan senyumnya. Dia yakin, senyum itu senyum palsu. Dia mendengus, ternyata perempuan di hadapannya ini tak pandai berakting.


“Yang harusnya tanya tuh, gue. Lo ngapain, cewek, tapi di tempat sepi kayak gini?”


Anya mengedarkan pandangan dan baru sadar sekarang ternyata dia berada di tempat yang lumayan sepi. Dia jadi bergidik ngeri, bagaimana jika nanti terjadi sesuatu padanya? Huh, rasanya dia tak bisa membayangkan itu semua.


“Gue—gue tadi gak sengaja lewat sini.”


“Dan, nangis disini kan? Ketebak sih.”


“Enggak, kok, sotoy.”


Sebastian mengulum bibirnya. Dia melirik tempat kosong disamping Anya. Tak salah juga kan, duduk disamping Anya? Dan, itu semua langsung dilakukannya—duduk di samping Anya. Lagian nih, ya, dia pegal harus berjongkok terus.


Anya kaget tentunya saat Sebastian duduk di sampingnya, dia pikir Sebastian tak pernah mau duduk di dekatnya. Tapi, ternyata—


“Jangan ge-er dulu. Gue pegal jongkok mulu. Lagian, kita jauhan, ya duduknya.” ujar Sebastian, seolah dia bisa membaca isi pikiran Anya.


Anya hanya mampu tersenyum mendengarnya. “Lo sebenarnya ngapain sih disini?” tanya Anya, dia sedikit gemas karena pertanyaan sejak tadi tak kunjung dijawab oleh lelaki yang duduk disampingnya itu.


“Ban bocor,” jawab Sebastian singkat.


“Emang dimana mobilnya?”


“Tuh.”


Anya mengikuti arah dimana Sebastian tadi menunjuk dengan dagunya itu. Dia mengangguk-angguk. “Gue punya ban cadangan. Kalau lo mau sih, boleh aja dipakai.”


“Serius?”


Anya mengangguk.


“Yaudah, mana?”


“Tapi, gak gratis ya.”


“Hah?”


***


Natasya menatap langit-langit ruang inap nya. Tangannya tak henti-hentinya membuat pola abstrak di atas ranjang yang ditempati nya. Pikirannya entah kenapa melayang pada kejadian kedepannya, seolah memprediksi apa yang mungkin saja bisa terjadi kedepannya.


Nanti.


Membayangkan dia yang pergi meninggalkan orangtuanya. Membayangkan dia pergi meninggalkan sahabatnya. Dan, membayangkan dia pergi meninggalkan kekasihnya.


Meninggalkan semua orang yang dicintainya.


Enggak.


Rasanya, hanya membayangkan itu semua saja dia tak sanggup apalagi sampai hal itu terjadi. Tidak.


Ceklek...


Emma menatap sendu Natasya yang belum menyadari kehadirannya. Semakin melihatnya, semakin membuat dia merasakan rasa sakit itu. Dia mengubah raut wajahnya. Perlahan, sudut bibirnya tertarik membentuk sebuah senyuman—senyuman pilu lebih tepatnya. Dia melangkah menghampirinya Natasya.


“Nata,” panggil Emma sambil menyentuh pundak Natasya, membuat putrinya itu tersentak kaget.


Natasya menoleh, dia tersenyum. “Bun, kenapa?” tanya Natasya.


Emma menggeleng, dia menarik kursi disamping ranjang, kemudian duduk di sana. “Harusnya yang tanya itu bunda. Kamu kenapa?” tanya balik Emma.


Natasya diam, dia menghela napas pelan. “Bun, umur aku berapa lama lagi?”


Jleb.


Pertanyaan seperti ini yang tak pernah ingin dia dengar keluar dari mulut Natasya. Dia tak pernah mau sedikit pun dengar pertanyaan seperti itu.


Emma mengelus lembut puncak kepala Natasya, “Kenapa tanya gitu? Emang bunda Allah yang tahu sampai kapan umur manusia.” ucap Emma, dia tertawa kikuk. Antara tertawa atau menutupi raut kecewanya.


Natasya tahu kenapa Emma mengatakan itu. Dia juga tahu sebenarnya Emma menyembunyikan sesuatu. Dia yakin alasan bundanya menyembunyikan itu semua, semata-mata hanya karena dirinya. Natasya menarik sudut bibirnya.


“Aku gak sanggup kalau harus tinggalin bunda.” Natasya tersenyum pilu. “Ninggalin Anton, Tian bahkan Fano. Aku gak sanggup.” lanjut Natasya. Matanya tiba-tiba memanas, bahkan kini pandangannya buram karena tertutup air mata.


“Nata gak boleh ngomong gitu. Percaya, bunda bakalan lakuin apapun demi kamu, demi kesembuhan kamu.” ucap Emma, dia menarik Natasya ke pelukannya sambil memeluk erat mencoba menenangkan perasaan was-was yang hinggap di hati putrinya.


Sedangkan, Natasya dia hanya mampu terisak, tak bisa melakukan apapun kecuali mencoba menenangkan perasaannya ini.


***


Antonio memasuki rumahnya dan langsung terdiam seketika saat melihat siapa yang menjadi objek penglihatannya kini. Di depannya duduk dua orang pria paruh baya, ayahnya dan entah siapa yang satunya. Tapi, dia yakin, pria paruh baya yang tengah bersama ayahnya itu adalah orang tua dari 'orang' yang akan dijodohkan kepadanya.


“Anton,”


Kesadaran Antonio sekarang terkumpul. Dia melihat ayahnya berdiri sambil memberi kode untuk dia mendekati mereka. Dengan sedikit paksaan, dia berjalan menghampiri mereka.


“Kenalin, ini anak aku. Antonio.” ucap ayah Antonio. Dia memperkenalkan putra semata wayangnya pada sahabatnya.


“Anton, Om.”


“Surya Nasution.”


Antonio melepas jabatan tangannya. “Yah, aku ke kamar dulu, ya.” ucap Antonio. “Permisi, Om.” lanjut Antonio.


Antonio melangkahkan kakinya meninggalkan dua pria paruh baya itu. Dia menulikan pendengarannya saat Ayahnya tak henti-henti meneriaki namanya, meminta dia untuk tetap berada di sana bersama mereka. Tapi, Antonio tetap Antonio. Dia tak tertarik bergabung bersama mereka, apalagi nantinya harus berbicara tentang perjodohan. Hatinya masih milik Natasya, bukan yang lain.


***


Delfano menapaki anak tangga rumahnya, dia berjalan menuju kamarnya. Namun, langkahnya langsung terhenti seketika saat melihat sang Papa tengah berdiri menjulang tinggi didepannya kini. Dia merubah raut wajahnya, sedatar mungkin.


“Kamu darimana?” tanya Papa Delfano, dia menatap tajam Delfano yang senantiasa menampilkan raut datar dihadapannya.


Delfano terkekeh pelan. “Apa peduli Papa?” tanya Delfano santai.


“DELFANO!”


Tidak. Delfano sama sekali tidak terkejut mendengar teriakan itu. Toh, sudah biasa baginya. Papa nya selalu melontarkan teriakan tiap kali mereka bertemu. Jadi, lebih baik rasanya jika Papa nya itu pergi kerja dan mereka tak bertemu. Rasanya, telinga Delfano lebih sehat nantinya.


Delfano masih terlihat santai.


“Ini, apa? Obat apa ini?”


Delfano terkejut saat Papa nya menunjukkan sebuah obat-obatan. Dia langsung merebut paksa obat itu dan pergi dari hadapan Papa nya.


“DELFANO! PAPA BELUM SELESAI BICARA. DELFANO!!”


Delfano mengacuhkan teriakan Papa nya. Dia butuh ketenangan dan satu-satunya jalan untuk membuat dia tenang adalah minum. Dia memasukkan obat-obatan itu ke saku celananya, memasuki mobilnya dan meninggalkan rumah ini menuju suatu tempat.


Club.