Friendshut [TAMAT]

Friendshut [TAMAT]
F-TIGAPULUHSEMBILAN



“TERUS APA BEDANYA LO SAMA FANO?”


Delfano mengerutkan keningnya bingung dengan maksud Antonio. Perlahan dia berjalan menghampiri Sebastian yang tengah berdiri kikuk mendengar ucapan Antonio, begitupun Antonio yang kini sudah berdiri dihadapan Sebastian dengan tangan dilipat di depan dada.


“Maksudnya, apa sih?” tanya Delfano, dia masih belum yakin dengan maksud ucapan Antonio. Sebenarnya dia tahu maksudnya apa, tapi, dia ingin tahu penjelasan secara langsung dari mulut Antonio, dia tak ingin berspekulasi sendiri.


“Woy!”


Delfano memukul lengan Antonio, mengendikkan bahunya dengan kening mengerut, meminta jawaban atas pertanyaan yang masih belum terjawab. Antonio masih diam, dia menatap datar Sebastian yang terdiam.


“Jawab, Yan!” tukas Antonio, dia ingin Sebastian sendiri yang menjawab pertanyaan Delfano itu. Dia ingin tahu, apa Sebastian akan menjawab dengan jujur atau tidak pertanyaan Delfano itu.


Sebastian diam, dia menatap Antonio yang menatapnya datar dan Delfano yang kebingungan.


Antonio terkekeh, dia menghela napas dengan kasar sambil berdecak pinggang. “Kenapa, diam? Apa perlu gue yang jawab semuanya? Perlu gue perjelas lagi omongan gue barusan?” tanya Antonio, dia menaikkan kedua alisnya.


Melihat keterdiaman Sebastian, Antonio menyimpulkan memang Sebastian ingin dia yang mengungkapkan semuanya. Meskipun dia tak tahu, apa yang nanti terlontar dari mulutnya apakah memang benar adanya atau tidak. Tapi, dia yakin, jawabannya itu seratus persen benar. Dia tak mungkin salah menyimpulkan apa yang didengarnya waktu itu.


Antonio berdehem, membuat Sebastian menatap lelaki itu. “Ok. Jadi, kesimpulannya adalah Sebastian Gunawan SUKA sama NATASYA, SAHABAT KITA!” ucap Antonio dengan yakin serta penuh penekanan dibeberapa kata.


Delfano melebarkan matanya, dia menatap Sebastian tak percaya. Sedangkan, yang ditatap hanya menghela napas sambil terus memasang wajah datarnya.


Sebastian memilih kembali duduk, mengambil sehelai roti. Dia mulai mengoleskan roti tersebut dengan selai cokelat kemudian memakannya, membuang rasa tak enak di mulutnya karena roti ini. Dia tak peduli, tak peduli dengan Antonio yang tengah menatapnya dan Delfano yang kini sudah duduk dihadapannya.


“Serius, lo suka sama Natasya?” tanya Delfano tak percaya, wajahnya masih diselimuti keterkejutan dan kebingungan dalam satu waktu.


Bukannya langsung menjawab, Sebastian malah mengabaikannya dan memilih memakan rotinya. Delfano mendengus, dia menarik roti yang tengah dimakan Sebastian membuat si empunya memberangus kesal.


Sebastian menatap datar sekaligus kesal Delfano, yang ditatap justru mengacuhkannya. “Jadi, bener lo suka sama sama Tata?” tanya Delfano, lagi. Dia butuh jawaban saat ini.


“Kenapa, emangnya?”


Kalimat itulah yang terlontar dari mulut Sebastian membuat Delfano menghela napas dengan kasar, bersandar pada kursi dengan lemas.


Delfano terkejut? Tentu saja.


“Kenapa? Lo tanya kenapa?” tanya Delfano, dia terkekeh dengan pertanyaan Sebastian. Oh, ayolah. Lelaki itu baru saja melontarkan pernyataan yang sama atas pertanyaannya sendiri. Jadi, maksudnya adalah Sebastian yang baru saja menjawab pertanyaannya sendiri yang beberapa menit lalu baru dilontarkan untuk Delfano.


Delfano mengangguk-angguk, dia membenarkan apa yang diucapkan Antonio tadi. “Jadi, benar. Terus apa bedanya gue sama lo, Yan?” tanya Delfano sambil terkekeh, wajahnya sedikit menengadah, menatap menantang Sebastian yang sepertinya sulit menjawab pertanyaannya.


Sebastian diam, dia menatap cukup lama Delfano membuat Antonio yang melihat itu jengah. Dia menghela napas dengan kasar, “Iya, gue suka sama Syasya.” ucap Sebastian dengan lugasnya. “Puas kalian?” tukas Sebastian, dia menatap tajam Delfano dan Antonio.


Beberapa menit belum ada respon apapun yang diberikan atas pernyataan Sebastian.


Antonio hanya menarik sudut bibirnya, tersenyum sinis menatap Sebastian. Akhirnya, lelaki itu bisa berkata jujur. Tapi, bagaimana dengan dirinya sendiri? Apa bisa dia—


Hahaha...


“Kenapa lo?” tanya Antonio, dia kini sudah duduk.


Delfano masih terus tertawa, dia bahkan menggeleng tak percaya saat membayangkan ini semua. “Gue suka sama Tata, Tian juga ternyata suka.” ucap Delfano, mengungkapkan sebab dia tertawa. Lucu rasanya saat diantara persahabatan mereka ternyata ada rasa lain yang tumbuh. “Masa, kita suka sama orang yang sama, sahabat kita sendiri lagi.” lanjut Delfano, dia menatap Sebastian. Delfano masih belum menghentikan tawanya, sebelum kemudian tiba-tiba sebuah pertanyaan muncul di otaknya.


Delfani menghentikan tawanya, dia memicingkan matanya kearah Antonio, membuat si empu yang ditatap itu mengerutkan keningnya bingung. “Jangan bilang, lo juga suka sama Tata?” cicit Delfano, sedikit mendesis.


Mendengar pertanyaan itu, Sebastian pun ikut menatap Antonio dengan tatapan tajam matanya.


Antonio? Jangan di tanya. Sekarang wajahnya sudah pucat pasi mendengar pertanyaan itu. Dia bingung, apakah dia harus mengiyakan pertanyaan Delfano itu dan mengungkapkan perasaannya atau memilih diam, memendam perasaannya seorang diri.


Delfano mengendikkan dagunya, “Jawab!”


Antonio beranjak dari duduknya, “Gak tahu.” jawab Antonio acuh, dia membalikkan tubuhnya dengan santai hendak meninggalkan sahabatnya yang tengah dirundung kebingungan.


Delfano terperangah mendengar jawaban Antonio yang menurutnya tak memberikan kepuasan bagi dirinya sendiri. “Woy! Gue belum selesai!” teriak Delfano, melihat Antonio yang terus melangkahkan kakinya meninggalkan mereka.


“Bodo amat. Cepetan, gue tunggu di mobil. Kita udah telat banget.” jawab Antonio acuh sambil melirik jam di pergelangan tangannya.


***


Disaat semua orang akan mengeluh apabila diberi hukuman, lain halnya dengan ketiga lelaki tampan yang tengah berdiri hormat kearah bendera yang berkibar dengan gagahnya di ujung tiang. Mereka tanpa keluhan terus hormat kearah bendera. Peluh yang mulai membasahi kening mereka, semakin menambah ketampanan mereka yang menjadi yang berkali-kali, bahkan berjuta-juta kali lipat dari nyatanya.


Tampan + Semakin Tampan \= Apa jadinya?


Huh!


Lihat, sekarang bahkan semua orang yang berlalu-lalang malah tersenyum, menikmati ciptaan Tuhan yang terpampang jelas di depan mata mereka. Semua kaum hawa di sekolah ini pasti sangat bersyukur, saat guru BK memberikan hukuman kepada ketiga lelaki itu. Kapan lagi liat cogan dengan peluh di kening mereka yang memberikan kesan seksi, cukup lama? Dan, berharap, mereka semua bisa menjadi salah satu perempuan yang akan mengusap peluh itu. Andai.


Hahaha...


Tawa Delfano yang sesekali pelan dan terkadang terdengar keras itu membuat semua siswi semakin betah melihat mereka yang tengah dihukum.


“Bener, nih? Sumpah, ya, gue masih gak percaya.” tukas Delfano, dia terkekeh kembali saat kembali mengingat satu fakta. Fakta dimana, mereka menyukai sahabat mereka sendiri. Oh my God. Memang sih, belum ada kepastian tentang perasaan Antonio, tapi Delfano sangat yakin, lelaki itu juga punya rasa yang sama seperti dirinya dan Sebastian untuk Natasya.


Antonio menatap malas Delfano, begitupun Sebastian yang menatap tajam Delfano tanpa mengubah posisi hormatnya. Mereka tahu dan mengerti tentunya kemana arah pembicaraan Delfano.


“Berisik Fan, nanti ada yang denger.” tukas Antonio, dia mendengus mendengar Delfano yang tak henti-hentinya tertawa.


Delfano menahan tawanya, “Ya... Gimana, ya, gue kayak ngerasa lucu aja. Eh, ternyata kita bertiga suka sama cewek yang sama, sahabat kita lagi.” ucap Delfano yang sedikit mencicit pelan di kalimat akhirnya yang dilontarkannya, dia menggeleng tak percaya sambil menatap satu persatu sahabatnya.


Tanpa disadari, seorang perempuan dibelakang mereka mendengar itu semua. Tangannya terkepal sempurna, antara terkejut dan tak terima.


“Gak, gak akan gue biarin.” gumam perempuan itu dengan wajah diselimuti kekesalan.