![Friendshut [TAMAT]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/friendshut--tamat-.webp)
“Sebenarnya apa sih mau kamu?” tanya Emma datar, wajahnya sama sekali tak menunjukkan ada aura persahabatan lagi yang ada hanya aura muak yang dia tunjukkan pada wanita dihadapannya yang berstatus mantan sahabatnya.
Wanita dengan dress batik putih cokelat itu tersenyum simpul, dia tahu pasti kenapa sahabatnya bisa bersikap demikian padanya, wajar. Wajahnya yang tak lagi muda itu masih tak mau melepaskan senyuman di bibirnya, tangannya terulur menyentuh tangan Emma yang disimpan di atas meja, namun dengan cepat Emma menjauhkan tangannya dari jangkauan wanita itu.
Emma jijik dengan sentuhan wanita itu.
Wanita itu, Ashilla. Mantan sahabat Emma.
Ashilla menghela napas kasar, dia tersenyum kecut. “Aku tahu, aku salah besar sama kamu Emm. Tapi—”
“—tapi, apa? Kamu masih mau menyalahkan dia?” potong Emma cepat, dia tersenyum miria. “Harusnya kamu sadar, siapa dia sebenarnya!” Emma menatap tajam Ashilla yang hanya terdiam mendengar ucapannya.
Ashilla mengulum bibirnya, dia kembali menatap lekat Emma. Penyesalan masih tersirat jelas dimatanya. “Iya, aku tahu siapa dia. Dan, aku terlalu bodoh karena gak bisa control perasaan ku, rasa cinta aku Emm. Aku—”
“—kamu kenapa sih? Selalu aja mengalihkan semuanya dengan alih-alih perasaan.” kesal Emma, dia lagi-lagi menyela ucapan Ashilla. Dia mengedarkan pandangannya, muak dengan wanita di hadapannya saat ini. Ditatap nya tajam kembali Ashilla. “Kamu pikir, cuman kamu yang punya perasaan? Aku juga punya Ashilla!!” tegas Emma, napasnya mulai memburu karena kesal dengan wanita dihadapannya ini.
Emma jengah, dia jengah dengan keterdiaman Ashilla. Dia segera menarik tas branded miliknya, berdiri dengan kasar berniat pergi, hal itu pun membuat Ashilla melakukan hal yang sama.
“Kamu mau kemana? Kita belum selesai.”
“Selesai? Gak akan pernah selesai, sebelum kamu merelakan dia buat kami.”
Ashilla terdiam, dadanya mulai terasa sakit kembali mendengar permintaan yang sama yang selalu dilontarkan Emma. Matanya mulai memburam, tapi dia menjatuhkan kembali bokongnya ke kursi, tersenyum miris sambil menunduk dan menatap jemari tangannya yang kini bertautan.
“Tapi, kami juga butuh dia, Emma.” lirih Ashilla yang masih bisa di dengar Emma yang masih berdiri dekat dengan wanita itu.
Emma hanya diam, dia menahan rasa sakit hatinya yang sudah sekian lama merasakan sakit ini. Ayolah, kenapa takdir mempermainkan kehidupannya.
***
“Ton, beli bakso dulu, yuk!” teriak Natasya, dia sedikit mencondongkan tubuhnya berharap Antonio mendengar teriakannya itu yang sepertinya terbang dibawa angin karena laju motor lelaki itu.
“Pengen bakso dimana?”
“Itu loh, yang iga sapi. Pengen banget.”
Antonio hanya mengangguk, lelaki itu tahu maksud dari ucapan Natasya. Dan, tanpa membuang waktu lagi, dia segera melajukan motornya menuju tempat bakso yang dimaksud Natasya tadi. Beberapa menit pun berlalu, mereka sampai di tempat bakso yang dimaksud Natasya. Perempuan itu turun terlebih dahulu, menyerahkan helmnya dan menunggu Antonio selesai dengan acara memarkirkan motornya itu.
“Traktir, ya.” pinta Natasya, menaik-turunkan alisnya sambil menunjukkan deretan giginya saat tengah berjalan beriringan memasuki kedai bakso yang tak terlalu ramai itu.
Mereka duduk disalah satu meja kosong, memilih duduk berhadapan dekat dengan tembok, beralih-alih ingin menyender pada tembok disini. “Pengennya.” balas Antonio, dia menarik sudut bibirnya.
Natasya terkekeh, dia mulai membuka buku menu baksonya. Disini bukan hanya dijual bakso iga saja, tapi mulai dari bakso urat, telur, cheese, beranak, tetelan, mercon dan masih jenis bakso disini yang kadang membuat Natasya bingung harus mencoba yang mana. Tapi, tetap saja, pilihannya jatuh pada bakso urat iga sapi dan juga tetelan.
Natasya mendongak, “Samain, aja?” tanya Natasya yang mendapat anggukan dari Antonio. Natasya mengangguk, dia segera memanggil pelayan disini dan menyebutkan pesanan mereka.
Natasya segera mengeluarkan ponselnya, dia ikut memainkan ponselnya tersebut saat Antonio juga memilih memainkan ponselnya sambil sesekali berbincang dengan Natasya yang kadang menjawab seadanya.
Natasya membuka aplikasi Instagram, men-scroll beberapa story instagram orang-orang yang di follow nya. Melihat itu semua, entah kenapa muncul ide dalam otaknya untuk membuat story juga di Instagramnya ini, berhubung dia juga sudah jarang sekali membuat story instagram tersebut.
Dengan senyuman, Natasya memanggil Antonio, membuat lelaki itu mendongak kearahnya dengan wajah yang malah membuatnya ingin tertawa, dan..
Cekrek!
Foto Antonio berhasil ditangkap kamera ponselnya itu, dia terkekeh melihat hasilnya sedangkan, Antonio langsung panik seketika melihat itu semua. Antonio yakin, pasti ada yang salah dengan fotonya tadi.
“Coba lihat.” pinta Antonio yang mendapat gelengan dari Natasya.
“Pasti jelek nih,” tuding Antonio, lelaki itu meletakkan ponselnya di atas meja. “Na, kalo mau foto tuh bilang kek, kan bisa gaya dulu gue nya.” sambung Antonio yang tak dihiraukan Natasya, perempuan itu masih sibuk memposting foto lelaki itu di story Instagramnya.
Antonio berdecak pelan, sedangkan Natasya hanya tersenyum lebar menatap lelaki itu. Dan, beberapa saat pun, pesanan mereka datang.
“Yeay, bakso!” seru Natasya dengan girangnya, dia langsung menyeruput pelan kuah baksonya yang selalu pas di lidahnya. Meskipun belum ada racikan dari tangannya itu, tapi rasa kuah baksonya sudah cukup membuat dia langsung meleleh merasakan rasa nikmat di mulutnya itu.
“Sendiri aja deh, belajar kali.” jawab Natasya, dia mulai meracik saos, kecap dan sambal kedalam baksonya diikuti Antonio yang sejak tadi memperhatikan cara perempuan itu meracik.
Natasya semakin berseru senang saat racikannya dirasa pas di kuah baksonya itu, dengan perlahan dia mulai menikmati bakso tersebut.
“Ta, cobain.” ucap Antonio, dia menyerahkan sesendok kuah hasil racikannya yang mencontek perempuan itu tadi.
Natasya mencicipi nya, namun raut wajahnya langsung berubah seketika. Dia menggeleng, “Enggak, ini bukan selera lo. Gue tambahin lagi, ya kecapnya.” ucap Natasya, mulai menuangkan sedikit kecap di kuah bakso Antonio, mengaduknya pelan kemudian mencicipinya sedikit dan tersenyum lebar kearah Antonio saat racikannya pas untuk selera lelaki itu.
Antonio tersenyum lebar, dia mengangguk segera menikmati baksonya sambil sesekali menatap Natasya yang kini mulai kepedasan dengan baksonya sendiri.
“Pedes banget sih,” gerutu Natasya.
Baru saja Natasya mengatakan jika baksonya itu pedas, tapi perempuan itu malah kembali menyuapkan kuah bakso yang pedas itu ke mulutnya.
Antonio menggeleng, “Jangan kepedasan, Na, sakit perut loh nanti.”
“Enggak, gak bakal. Udah kebal kali perut gue.” ucap Natasya. “Cobain, coba.” sambung Natasya sambil mengulurkan sesendok potongan bakso dengan kuah pedasnya.
Antonio menggeleng, dia tak berminat sedikitpun mencicipi bakso milik Natasya yang kuahnya penuh dengan biji cabai yang diyakininya sangat pedas, terbukti bibir Natasya yang mulai memerah kali ini.
“Makan atau gue marah.”
“Na...”
“Ayo, sekali aja. Janji deh. Cepetan.”
Dengan terpaksa, Antonio menerima suapan bakso tersebut dan dengan cepat dia meneguk minumannya saat rasa pedas langsung menjalar di mulutnya sampai ke tenggorokannya saat masuk di mulutnya.
Cekrek!
Lagi-lagi Natasya puas mendapat wajah kepedasan Antonio.
“Ah, Na, jangan dong ah.” kesal Antonio, di kembali menegak minumannya karena rasa pedas itu semakin menggila di mulutnya. Bahkan kini, dia meminum minuman milik Natasya untuk mengurangi rasa pedas itu.
“Bodo amat.”
***
“Ayo, masuk!” ajak Anya, dia mempersilahkan Delfano memasuki apartemennya.
Delfano memasuki Apartemen milik Anya, mengikuti perempuan itu dari belakang kemudian memilih menjatuhkan bokongnya di sofa pendek depan tv.
“Bentar ya, gue ambil dulu minum.” ucap Anya yang mendapat anggukan dari Delfano.
Setelah kepergian Anya, Delfano mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru apartemen ini. Apartemen tipe Convertible, apartemen yang tak jauh beda dengan apartemen milik Antonio. Apartemen Convertible sendiri adalah tipe apartemen yang ukurannya lebih besar daripada apartemen biasanya. Dia terus mengedarkan pandangan, tak ada yang cukup menarik perhatiannya, masih terlalu monokrom menurutnya.
”Diminum, Fan.” ucap Anya, meletakkan segelas jus jeruk dihadapan Delfano.
Delfano tersenyum, mengangguk. “Thanks ya,” ucap Delfano sambil mulai meneguk minuman tersebut yang langsung membasahi tenggorokannya yang terasa sedikit kering.
Anya tersenyum menatap Delfano. “Menurut lo, bagusnya dikasih apa lagi ya apartemen gue ini? Soalnya kayak polos banget gitu, bosan.” ucap Anya, dia mencoba memperpanjang waktu dengan lelaki itu.
Baru saja Delfano hendak menjawab, suara notifikasi mencegahnya.
Ting!
Delfano langsung membuka notifikasi tersebut karena apa? Karena notifikasi tersebut hanya dia tunjukkan untuk satu akun Instagram seseorang. Dia ternganga, menatap postingan perempuan itu yang entah kenapa membuatnya kesal, bahkan sampai menggerutu pelan.
Anya yang penasaran dengan gerutuan Delfano, sedikit mendongak hanya untuk mengetahui siapa orang di ponsel lelaki itu. Dan, lagi-lagi satu fakta kembali membuatnya benci dengan perempuan itu.
Natasya.