Friendshut [TAMAT]

Friendshut [TAMAT]
F-EMPATPULUH



Kring...


Mereka menghela napas lega mendengar suara bel istirahat yang berbunyi cukup keras. Mereka langsung berlari ke pinggir lapangan yang teduh lalu menjatuhkan tubuh mereka di lapangan. Delfano yang merebahkan tubuhnya dengan mata terpejam karena silau matahari yang cukup menyengat pagi ini. Antonio yang meluruskan kakinya dan menumpu kedua tangannya di belakang tubuhnya sambil menengadah sedangkan, Sebastian yang memilih duduk dengan sebelah kaki di tekuk, menyimpan tangannya di atas kaki yang di tekuknya, menatap lurus ke depan tanpa tertuju pada siapapun dan apapun.


“Hai!”


Mereka menoleh mendengar suara sapaan itu, di sana Anya dengan senyuman di wajahnya berjalan menghampiri mereka, tak lupa sebuah kresek putih berlogo ditangan kanannya. Mereka tersenyum membalas senyuman Anya, kecuali Sebastian tentunya. Bahkan lelaki bernama Sebastian itu hanya melirik sekilas Anya, kemudian kembali membuang muka.


Anya tersenyum kikuk melihat Sebastian, membuat Antonio dan Delfano saling tatap melihat itu semua.


Delfano berdehem hendak mencairkan suasana, membuat semua mata menatap kearahnya. “Bawa apaan tuh, Nya?” tanya Delfano, dia mengendikkan dagunya kearah kresek putih yang dibawa Anya.


Anya terkekeh, dia ingat niat awalnya apa. Dia mendudukkan tubuhnya pelan, ikut duduk di lapangan. “Ini, gue bawa minum buat kalian. Pasti haus kan?” tebak Anya, mulai mengeluarkan satu persatu minuman dingin dan menyerahkan satu persatu.


Antonio menerima dengan senang hati tentunya, begitupun Delfano yang langsung meneguk dengan cepat. Lumayan, tenggorokan mereka yang sudah kekeringan sejak tadi langsung segar seketika saat minuman dingin itu mengalir dengan lancarnya di tenggorokan mereka.


“Ini, Yan.” ucap Anya, dia menggerakkan minuman dingin di tangannya yang masih belum disentuh Sebastian. “Lo juga pasti haus.” lanjut Anya dengan senyuman.


Tapi, bukannya menerima. Sebastian langsung beranjak dari duduknya dengan cepat. “Enggak, gue gak haus.” jawab Sebastian—cuek— yang sebenarnya berbeda jauh dengan kenyataan. Tapi, entah kenapa, dia merasa tak nyaman jika berdekatan dengan Anya, seperti ada sesuatu yang berbeda jika dirinya berdekatan dengan perempuan itu, terlalu berbahaya.


Anya menghela napas dengan kasar, menatap Sebastian yang langsung berjalan dengan cepat setelah mengambil tasnya kasar dan melenggang meninggalkan mereka di lapangan.


“Sabar aja ya, Nya, Tian emang gitu.” ucap Antonio, mencoba menenangkan Anya yang takut-takut tersinggung melihat sikap Sebastian itu.


Delfano merangkul pundak Anya, menepuk pelan pundak perempuan itu. “Santai aja, dia emang gitu kalo sama orang asing. Tapi, kalo udah deket, beuh... Beda jauh.” sambung Delfano sambil terkekeh yang diangguki Antonio.


Anya terkekeh, dia menatap cukup lama Delfano dan rangkulan lelaki itu. “Dia bahkan lebih care dari Sebastian, lebih lebih dari Sebastian. Tapi, kenapa gue malah suka sama Tian?” tanya hati Anya, bingung dengan hatinya sendiri.


“Oh iya, Natasya mana?” tanya Anya, dia baru menyadari. Tak ada keberadaan Natasya diantara mereka saat ini.


Delfano mengerutkan keningnya bingung, dia pun baru sadar sekarang bahwa tak ada Natasya sejak tadi. Dia menatap Antonio, “Oh, iya, gue baru ng-eh. Kemana tuh anak?” tanya Delfano.


“Jalan-jalan,”


“Jalan-jalan?”


Antonio mengangguk, mengiyakan pertanyaan Delfano dan Anya yang sama. “Iya, jalan-jalan. Ngerti dong? Berekreasi, berlibur, refreshing, berpindah tempat dari satu tempat ke tempat lain—”


Tuk!


Antonio mendengus saat kepala mendapat jitakan dari Delfano, dia menatap sebal lelaki itu. “Gaje lo,” dengus Antonio yang malah membuat Anya terkekeh melihat kejahilan dua manusia di hadapannya ini.


“Ya, gue juga tahu jalan-jalan tuh apa. Maksud gue tuh, jalan-jalan kemana, sama siapa, kenapa gak kasih tahu kita. Gitu maksud gue.” jelas Delfano.


“Ya, mana gue tahu, orang ngomongnya juga cuma jalan-jalan.” balas Antonio. Dia mendengus, mendapat dengusan pula dari Delfano dan kekehan dari Anya.


Anya ikut tertawa saat berbagai lontaran tak bermutu di keluarkan Antonio dan Delfano. Kedua lelaki itu membahas sesuatu yang tak penting, namun bisa menciptakan suasana yang menyenangkan, penuh tawa, dan kalian tahu? Mereka kini masih berada di lapangan, otomatis masih banyak orang yang berlalu-lalang dan menjadikan mereka sebagai pusat perhatian. Bahkan sepertinya kantin mulai sepi karena semua siswi memilih memperhatikan si cogan mereka yang berada di lapangan. Toh, kantin ramai karena keberadaan mereka di kantin kan? Haha, terlalu percaya diri memang.


Anya menghentikan tawanya perlahan, namun masih terkekeh pelan. Dia sekarang tahu, tahu artinya sebuah persahabatan. Benar kata orang, berteman atau bersahabat dengan lelaki itu jauh lebih baik daripada dengan perempuan karena ya, seperti sekarang ini, hanya canda tawa yang tercipta tanpa adanya—


“Woy!”


Anya terlonjak kaget, membuat dia menatap polos penuh tanya Delfano yang malah terkekeh menatapnya. Entah Delfano terkekeh karena apa, entah karena melanjutkan tawa mereka tadi atau karena melihatnya.


“Kenapa, Fan?” tanya Anya, dia masih menunjukkan wajah polosnya.


Delfano menggeleng, masih dengan tawanya. “Enggak, gue lucu aja lihat muka lo. Polos, polos, gimana... gitu.” jawab Delfano


Anya mendengus, melipat tangan di depan dada. “Apaan, sih! Gak polos juga.” dengus Anya. “Nih lihat baik-baik muka gue, emang ada kesan polosnya? Enggak, kan?” tanya Anya, dia menunjuk wajahnya dengan jarinya sendiri, memperlihatkan wajahnya pada Delfano dan Antonio.


“Iya, emang gak polos, tapi jahat.”


Jawaban Delfano itu seketika mengubah air muka Anya. Anya diam seketika mendengar kalimat itu terlontar dari mulut Delfano.


Antonio tertawa, namun dia menghentikan tawanya saat melihat keterdiaman Anya. Dia menyenggol lengan Delfano, membuat si empunya bertanya-tanya. Hanya dengan lirikan matanya, Delfano tahu maksud Antonio.


“Becanda kali, jangan serius, ah!” seru Delfano, dia terkekeh sambil kembali merangkul Anya. Anya terlonjak, namun kemudian tersenyum.


“Guys, gue cabut bentar, ya. Kebelet nih.” ucap Antonio yang langsung beranjak dari duduknya meninggalkan mereka, Delfano dan Anya.


Anya mendongak, menyipitkan matanya. “Pindah yuk, panas nih.” ajak Anya, dia mengibaskan tangannya, mencoba memberikan udara untuk mengurangi rasa gerahnya.


Delfano mengangguk, “Yuk!”


Mereka beranjak, memilih duduk di sebuah kursi semen yang di desain sedemikian rupa.


“Eh, bentar deh.” ucap Anya yang membuat Delfano mengerutkan keningnya bingung melihat gerak-gerik Anya. Anya mengeluarkan tisu dari sakunya, mengelap kening Delfano yang dibanjiri keringat.


Entah kenapa, Anya sendiri tak merasa jijik saat harus mengelap keringat di kening Delfano. Justru dia terkesima melihat ketampanan Delfano yang semakin berkali-kali lipat, ditambah dengan jarak mereka yang cukup dekat kini.


Matanya keduanya bertemu, diam dalam pikiran masing-masing seolah atmosfer di sekeliling mereka berhenti dan hanya tertuju pada mereka. Tak peduli dengan orang-orang disekitar mereka yang kini mulai memperhatikan mereka.


Cekrek.


***


Natasya menatap sendu layar ponselnya yang menampilkan sebuah foto dua insan. Di sana, seorang lelaki bersama perempuan dengan seragam sekolah, duduk berhadapan dengan tatapan yang sulit diartikan.


“Maksudnya apa sih? Tatap-tatapan begitu, di sekolah lagi.” dengus Natasya, dia meletakkan begitu saja ponselnya di samping tubuhnya.


Natasya memutar kepalanya, menatap jendela kamar inap nya yang menunjukkan taman rumah sakit yang cukup hijau. Dia mendengus saat kembali ingat foto itu. Foto Delfano dan Anya. Pertanyaan, kenapa harus di share di grup sekolah mereka? Harus di post di akun gosip sekolah mereka? Kenapa coba? Tolong, jelaskan!


Ceklek...


Natasya menoleh saat terdengar suara pintu kamarnya terbuka, di sana seorang perawat datang menghampirinya bersama Emma yang berjalan mengikuti.


“Jangan banyak pikiran, ya, kan sebentar lagi mau kemo. Ok?” ucap Suster tersebut sambil tersenyum, Natasya mengangguk membalas senyuman itu dengan bibir pucat nya. “Di periksa dulu, ya, sebentar.” lanjut suster itu.


Setelah melakukan pemeriksaan, suster tersebut langsung meninggalkan kamar inapnya meninggalkan Natasya dan bundanya.


Emma berjalan menghampiri Natasya, mengelus pelan rambut Natasya. “Ingat tuh, jangan banyak pikiran, rileks.” ucap Emma yang diangguki Natasya.


“Bunda udah makan?”


“Nanti, tunggu kamu kemo dulu.”


Natasya menggeleng, tak suka dengan jawaban Emma. “Sekarang aja, nanti bunda sakit.” ucap Natasya.


“Nanti aja.”


Natasya mendengus, “Yaudah, aku juga nanti deh makannya.”


“Loh, kok gitu? Kan supaya cepat sembuh, kamu harus segera makan.”


“Lagian, bunda gak makan.”


“Ya, kan, bunda nanti makan.”


“Enggak, enggak. Sekarang.”


Emma menghela napas dengan kasar, menggeleng melihat tingkah putrinya. “Yaudah, bunda sekarang makan. Kamu kalau ada perlu, telpon bunda atau teken bel nya aja.” ucap Emma, menunjuk bel yang tertera di atas ranjang Natasya.


Natasya mengangguk, puas dengan jawaban Emma.


“Yaudah, bunda ke kantin dulu, ya, cari makan.”


“Iya.”


Natasya mengalihkan pandangannya dari pintu yang sudah tertutup, kembali menatap taman rumah sakit, menyaksikan beberapa orang yang ada di tempat itu.


Ceklek...


“Loh, kenapa balik, Bun? Ada yang—Tian!?”