Friendshut [TAMAT]

Friendshut [TAMAT]
F-DUAPULUHTIGA



“Na,”


“Ta,”


“Sya!”


Natasya menghentikan langkahnya, membalikkan tubuhnya kemudian tersenyum menatap ketiga lelaki yang tengah berlari kecil kearahnya. Dia terdiam, menunggu ketiga lelaki itu sampai didepannya.


“Lo, gak papa?”


Kalimat tanya yang tersirat akan kekhawatiran langsung dilontarkan Delfano, lelaki itu memegang lengan Natasya. Perempuan itu masih saja menunjukkan senyumnya di kala para sahabatnya justru menatap cemas dirinya.


Natasya menggeleng, “Gakpapa, kok. Emangnya gue kenapa?” goda Natasya, dia menaikkan sebelah alisnya menatap satu persatu wajah mereka.


Antonio mendengus, dia menatap sebal Natasya yang malah mengejek mereka. “Lo kemarin pingsan. Masih tanya kenapa?” tanya balik Antonio.


Natasya terkekeh, dia membalikkan tubuhnya berjalan menuju taman sekolah, sontak saja langkahnya itu diikuti mereka yang menatap bingung keterdiamannya. Dia memilih duduk di bangku tembok sekolahnya yang lumayan luas. Dia tersenyum lebar saat ketiga lelaki itu berdiri dihadapannya, mencoba menghalang sengatan matahari pagi yang cukup membuatnya merasa silau.


“Gue gakpapa, cuman pingsan kayak biasa aja.”


“Pingsan kayak biasa?” tanya Sebastian, dia mengerutkan keningnya.


Natasya terdiam, dia mengangguk. “Iya, pingsan kayak kebanyakan orang aja. Karena capek mungkin.” jawab asal Natasya, mengendikkan kedua bahunya.


“Capek kenapa sih, Ta? Emangnya lo ngapain aja?”


“Capek nunggu orang peka,” jawab asal Natasya, dia menatap Delfano dan kedua sahabatnya bergantian yang mengerutkan kening mendengar jawabannya.


“Orang peka?”


“Iya, peka.”


“Siapa, Sya?”


Natasya terdiam, membuat ketiga sahabatnya menunggu penasaran jawaban apa yang akan dilontarkannya. Dia berdiri dengan cepat, membuat ketiga lelaki itu memundurkan tubuhnya saat dia mulai melangkah pelan.


“Kepo!” ucap Natasya, dia terkekeh sambil berjalan begitu saja meninggalkan ketiga sahabatnya yang mendengus sekaligus penasaran dengan jawabannya.


***


Natasya keluar dari perpustakaan dengan satu buku paket yang baru saja di pinjamnya, tangannya membuka setiap lembaran-lembaran buku tersebut sambil terus berjalan, mencari halaman yang dibutuhkannya kini untuk menyelesaikan tugasnya. Hingga tanpa sadar, dia hampir saja menabrak sesuatu didepannya. Namun tubuhnya lebih dulu ditarik seseorang, membuat dia terkejut seketika.


“Lo gakpapa, Nat?” tanya Anya, orang yang baru saja menarik Natasya yang hampir menabrak sebuah pot besar dihadapannya.


Natasya menatap pot besar itu, sedikit bergidik ngeri membayangkan dia yang kalau saja tidak ditarik Anya mungkin akan menabrak pot tersebut. Dia kini menatap Anya, tersenyum kearah perempuan itu. “Gakpapa, makasih ya lo udah tarik gue.” ucap Natasya, tulus. “Kalau enggak, gue gak bisa bayangin gimana jadinya kalau gue nabrak tuh pot.” lanjutnya sambil bergidik ngeri.


Anya mengangguk, tersenyum simpul membalas senyuman Natasya. “Makanya, lo jangan terfokus sama buku deh. Liat jalan juga.” ucap Anya, dia mencoba mengingatkan Natasya.


Natasya mengangguk, mereka berjalan beriringan entah kearah mana.


Natasya melirik Anya, dia ingat sesuatu. “Oh iya, kemarin gimana teaternya, seru?” tanya Natasya, dia menaikkan kedua alisnya.


Anya terdiam, dalam hati dia menggeram. Dia kesal dengan pertanyaan yang dilontarkan Natasya. Apa perempuan itu sedang mengejeknya sekarang? Dengan senyum yang kali ini terkesan paksa, Anya menjawab. “Gak jadi nonton gue.”


Kening Natasya mengerut, “Kenapa?”


“Delfano batalin.” jawab Anya, terkesan malas menjawab pertanyaan Natasya. Jujur, dia mulai malas sekarang dengan Natasya, apalagi perempuan itu—ah, sudahlah.


Natasya terdiam, dia ingat sekarang. Apa mungkin alasan Delfano membatalkan itu semua karena dia? Tapi, sepertinya iya. Dia menatap tak enak Anya, “Sorry, ya Nya, pasti gara-gara gue dia batalin janji sama lo.” ucap Natasya, dia menghentikan langkahnya membuat Anya pun melakukan hal yang sama.


Anya terdiam, namun kemudian terkekeh sambil menepuk pelan pundak Natasya. “Santai aja kali, gakpapa lah. Ya, gue ngerti juga sih. Jelas dia lebih prioritaskan lo daripada gue. Secara lo lebih deket sama dia ketimbang gue, orang baru.” jawab Anya dengan tawa palsunya.


Natasya hanya bisa tersenyum, meskipun apa yang diucapkan Anya memang benar adanya. Tapi, jujur, dia masih merasa tak enak dengan Anya.


“Yaudah, ya, gue cabut duluan. Udah mulai pelajaran OR nya. Bye!” ucap Anya, melambaikan tangannya kemudian berlari kecil kearah lapangan dimana murid kelasnya sudah berkumpul di lapangan.


Ah, ya, Natasya baru ngeh ternyata Anya memakai pakaian olahraga.


***


Natasya mengehentikan langkahnya saat Delfano tiba-tiba menarik lengannya, membawanya ke sudut koridor anak IPA yang lumayan sepi. Semua orang berada dikelas mereka masing-masing, sedangkan Delfano dengan mudahnya keluar dari kelas lelaki itu.


Bukannya langsung menjawab, Delfano malah menampilkan senyum lebarnya membuat Natasya mengerutkan kening melihat senyum lelaki itu yang menurutnya aneh.


“Kenapa, lo?” tanya Natasya pelan, menautkan kedua alisnya menatap bingung Delfano dan sungguh itu sedikit membuatnya menarik sudut bibirnya itu.


“Gakpapa sih, pengen senyum aja. Masalah?” tanya Delfano, dia menggerakkan tubuhnya ke samping Natasya, ikut menyenderkan punggungnya ke tembok, melakukan hal sama yang dilakukan Natasya.


Natasya semakin menautkan kedua alisnya, melirik sekilas Delfano kemudian memutar tubuhnya menghadap Delfano. “Kenapa, sih?” tanya Natasya, sungguh dia bingung dengan sikap Delfano.


“Gakpapa...”


“Bohong,”


“Serius...”


“Bohong,”


“Ya ampun... Asli,Ta.”


Natasya berdecak, dia memutar tubuhnya kembali dan menatap lurus ke depan. Dia melipat tangan di depan dada. “Kenapa di luar kelas?” tanya Natasya, dia menaikkan sebelah alisnya meskipun dia yakin Delfano tak melihat itu semua.


“Situ juga di luar,”


“Dih, gue sih abis pinjam buku.” elak Natasya, dia menunjukkan buku paket di tangannya.


“Abis beli pulpen,” balas Delfano, mengeluarkan pulpen dari saku celananya, dia menunjukkan pulpen tersebut sambil terkekeh.


Natasya melirik pulpen yang ditunjukkan Delfano, mencebik. “Yaelah, gue kira abis ngapain.” ucap Natasya.


“Oh, iya! Kenapa kemarin batalin nonton teater?” tanya Natasya, dia ingat ini yang memang ingin ditanyakan nya ke lelaki itu, meskipun dia tau sebabnya, tapi hanya untuk memastikan semata.


“Karena lo.”


“Gue?”


“Lo kemarin pingsan dan apa masih wajar kalau gue dengan santainya malah mentingin nonton teater daripada lo?” tanya Delfano, dia terkekeh diakhir kalimatnya.


Natasya terdiam, lagi-lagi hatinya bersorak senang mendengar kalimat itu terlontar dari mulut Delfano, meskipun dia sudah tahu itu semua. Tapi, rasanya berbeda jika kalimat itu terlontar langsung dari orangnya.


“Kasian Anya,” ucap Natasya selanjutnya.


“Lebih kasian lo, kalo tahu gue lebih mentingin teater daripada sahabatnya sendiri.”


Natasya tersenyum kecut. Heh, sahabat? Cuma sahabat ya?


***


“Ih... Coba-coba!”


Natasya mengambil alih begitu saja tangan Antonio yang tengah menyuapkan bakso ke mulut lelaki itu. Namun dia lebih cepat dan sekarang bulatan daging itu sudah berada di mulutnya, dinikmati mulutnya.


“Enak banget,” ujar Natasya, dia memejamkan matanya menikmati setiap kunyahan bakso di mulutnya, sedangkan Antonio yang baksonya direbut Natasya justru mendengus.


“Ya, ampun Na... itu bakso terakhir kali, lagi enak-enak nya juga.” dengus Antonio, dia meletakkan sendok ditangannya. Melihat kekesalan lelaki itu, membuat Natasya dan yang lainnya terkekeh.


“Pelit banget sih,” balas Natasya, dia terkekeh sambil menggoda Antonio dengan sedikit membunyikan suara makannya, memainkan kedua alisnya.


Anya terdiam, entah apa yang lucu, tapi dia hanya ikut tertawa saja untuk mengimbangi yang lainnya. Ini kesempatan, dia mengambil bakso miliknya dan langsung menyuapkan kearah Antonio yang duduk disampingnya. “Nih... Nih... Punya gue aja.” ucapnya sambil menyuapi Antonio dengan baksonya yang langsung diterima senang hati oleh lelaki itu.


Antonio terkekeh, dia memainkan kedua alisnya menatap menggoda Natasya yang berdecak pelan. Tangannya terarah merangkul Anya disampingnya. “Ini nih, baru sahabat.”


“Bodo amat, gak peduli.” balas Natasya, menjulurkan lidahnya dan kembali menikmati makanannya yang belum selesai, meskipun dalam hati dia merutuki itu semua.


“Sya, abisin punya gue nih.” ucap Sebastian, membuat Natasya mendongak dan tersenyum lebar saat Sebastian menyerahkan bakso terakhir milik lelaki itu.


“Uh... Sebastian tuh pengertian banget sih, sayang deh.” ucap Natasya kemudian melahap bakso terakhir milik Sebastian dan merangkul lelaki itu sambil menatap sebal Antonio yang merasa tersindir dengan ucapan Natasya.


Kali ini bukan Natasya yang menggerutu dalam hati, melainkan Anya yang cemburu dengan sikap perhatian Sebastian yang ditunjukkan hanya untuk Natasya.