Friendshut [TAMAT]

Friendshut [TAMAT]
F-ENAMPULUHTIGA



Anya keluar dari salah satu bilik kamar mandi, dia mematut wajahnya didepan cermin dihadapannya. Dia membasuh tangannya di wastafel. Dia mengerutkan keningnya, kerutan yang dikarenakan kekesalannya.


Ceklek...


Pintu toilet terbuka membuat dia mendongak untuk tahu siapa yang masuk. Dia menatap orang itu lewat pantulan cermin dihadapannya. Dia berdiri mematung, membiarkan air terus mengalir dari keran tanpa niatan untuk menutupnya. Mereka—dia dan orang itu masih saling tatap.


Orang itu memberikan tatapan tajam, sedangkan dia mengerutkan keningnya melihat tatapan tajam itu.


Anya mengerutkan keningnya bingung, dia kembali menatap wajahnya saat orang itu sudah memasuki salah satu bilik di toilet ini. “Dia itu kan temennya Natasya. Kenapa sih tuh cewek? Kayak gak suka gitu sama gue.” gumam Anya pelan.


Anya masih menunggu orang itu keluar. Orang itu Kinara, teman satu kelas Natasya. Perempuan yang selalu melemparkan tatapan tajam kearahnya, bahkan sejak kemarin. Padahal itu adalah pertemuan pertama mereka. Tapi, Kinara bersikap seolah dia sudah memberikan kesan buruk sejak pertemuan pertama mereka. Nyata nya dia mencoba bersikap baik saat pertemuan pertama itu.


Kinara keluar dari salah satu bilik, berjalan kearah wastafel dan mencuci tangan di sana. Dia mengacuhkan keberadaan Anya disini, bahkan dia tak melirik Anya sedikitpun. Untuk apa? Pikirnya.


Anya langsung menarik lengan Kinara saat perempuan itu berbalik badan hendak pergi dari sini. Dia menatap tajam Kinara yang dibalas tatapan tak suka oleh perempuan itu.


Kinara langsung menghempaskan tangan Anya yang mencekal lengannya. “Apaan sih, lo?” ketus Kinara, dia mengusap-usap tangannya yang sempat di cekal Anya tersebut. Tak sudi rasanya di pegang oleh perempuan seperti Anya.


Anya yang melihatnya terlonjak, dia tak habis pikir dengan perempuan dihadapannya ini. Dia memicingkan matanya, “Lo tuh punya masalah apa sih sama gue? Perasaan kita baru ketemu kemarin dan lo seakan-akan bersikap seolah kita tuh udah kenal lama dan punya masalah.” cecar Anya, dia tak kuasa menahannya.


Kinara diam sesaat, kemudian tersenyum kecut. “Gue emang gak punya masalah sama lo. Tapi, gue gak suka cara lo!”


Anya mengerutkan keningnya, dia bingung kemana arah pembicaraan ini. Cara? Cara apa?


Kinara bisa lihat kebingungan itu dan dia merasa muak dengan wajah sok polos Anya. Kini dia tersenyum sinis. “Gak usah sok amnesia deh, gak usah sok polos juga. Lo kira gue gak tahu akal busuk lo? Gue tahu, ya!”


Anya menggeleng, dia semakin tak mengerti dengan Kinara. “Lo tuh ngomong apa sih? Gue gak ngerti!”


“Gak ngerti lo bilang?” tanya Kinara tak percaya, dia mengedarkan pandangannya ke sembarang arah, kemudian kembali menatap Anya. Dia menghela nafas kasar. “Apa perlu gue ingetin tentang rencana busuk lo buat Natasya.” ucap Kinara, pelan.


Boom!


Anya terpaku.


Mereka diam, saling tatap.


Kinara hanya bisa tersenyum mengejek. “Ingat sekarang?” ejek Kinara.


Anya kesal, tentu. Dia menatap tajam Kinara yang dibalas tatapan tak kalah tajam oleh perempuan itu. “Lo tuh gak tahu apa-apa. Jadi, jangan bersikap seolah disini gue yang paling salah.” cicit Anya.


Kini Kinara yang bingung.


“Lo tuh gak tahu, rasa sakit apa yang gue rasain bertahun-tahun.”


Kinara semakin mengerutkan keningnya.


“Lo tahu siapa penyebab rasa sakit itu?”


Apa maksud Anya?


“Itu, Natasya.”


***


Delfano menatap mereka dengan kening mengerut, lebih tepatnya kearah Antonio dan Anya. Kalau tentang diam nya seorang Sebastian, dia sudah tak aneh lagi, sudah terbiasa. Tapi, saat melihat keterdiaman antara Anya dan Antonio, hal tersebut terlihat aneh dimatanya.


Delfano mengunyah pelan siomay di mulutnya, dia berdehem membuat mereka menatap kearahnya. “Hm... Gue cabut dulu, ya.”


“Mau kemana, lo?”


“Ada deh, bye!”


Delfano langsung bergegas pergi begitu saja. Seharusnya ini bukan tujuan awalnya, tujuannya awalnya adalah mencari tahu tentang keterdiaman Anya dan Antonio. Tapi, saat pikirnya tiba-tiba tertuju pada Natasya, dia mengurungkan niat awalnya dan memilih duduk di salah satu kursi pohon biasanya.


Delfano mengeluarkan ponselnya, dia langsung mengklik nomor orang yang di pin paling atas olehnya. Dia tersenyum, akhirnya panggilan itu tersambung.


“Fano,”


“Hi!”


“Kenapa?”


Delfano mengerutkan keningnya, dia tak suka pertanyaan itu muncul. “Kok kenapa sih? Kan gue pengen tahu keadaan pacar gue.” ucap Delfano, dia sedikit mendengus sambil mencebikkan bibirnya.


Natasya di sana terkekeh. Delfano senang melihat senyum itu, meskipun senyuman itu terbit dari bibir pucat perempuan itu.


“Makin cantik, deh.”


“Dih, kok ditutup sih? Gue kan pengen lihat muka cantiknya pacar gue. Apalagi kayak sekarang lagi merona-rona deh.”


“Ih... Apaan sih! Malu tahu!”


“Sama pacar sendiri malu. Udah, ah, mana mukanya, tunjukkin lagi.”


“Gak mau,”


“Harus mau!”


“Enggak!”


“Harus...”


“Enggak..”


“Ta...”


“Fano...”


“Ish, nyebelin banget sih!”


Perlahan, wajah Natasya kembali terpapar di layar ponsel Delfano. Perempuan itu tengah tersenyum lebar. Delfano hanya bisa diam sambil tersenyum, matanya masih menikmati wajah cantik dan senyum manis perempuan itu.


“Ta! Lo mimisan?”


Natasya sontak diam dan...


Tut!


Layar ponsel gelap. Bukan karena Natasya menutup kameranya melainkan karena perempuan itu memutus panggilan mereka.


Delfano tak bisa menyembunyikan wajah khawatirnya kini, dia tadi dengan jelas melihat darah yang keluar dari hidung perempuan itu.


***


Sebastian mendongak, dia mengerutkan keningnya bingung melihat keterdiaman Anya yang tak seperti biasanya. Dia menatap bingung Antonio yang sejak tadi juga diam, biasanya Antonio akan melontarkan berbagai ungkapan untuk membuat suasana tak secanggung ini. Tapi, lihat sekarang. Meskipun suasana ramai hanya keheningan yang tercipta diantara mereka.


Antonio beranjak, membuat Sebastian semakin bingung. “Lo mau kemana?” tanya Sebastian, dia mendongak menatap Antonio.


“Kelas,” ucap Antonio, acuh. Bahkan wajahnya terkesan datar kini. Antonio segera bergegas pergi, meninggalkan Sebastian dan Anya berdua di meja ini.


Anya menunduk, dia mengaduk makanannya tak berselera. Dia menatap sekilas Sebastian yang memasukkan ponselnya, seperti bersiap beranjak dari sini. “Lo mau ninggalin gue juga?” tanya Anya, dia tak sedikitpun menatap Sebastian.


Sebastian yang sudah siap berdiri pun kembali mendudukkan bokongnya. Dia menatap bingung Anya yang sejak tadi menunduk.


Sebastian diam.


“Kenapa sih, semuanya gak suka sama gue. Gue salah apa?” tanya Anya bingung, dia masih menunduk, sedangkan Sebastian hanya bisa diam. Entah kenapa, seperti ada sesuatu yang menahannya untuk tetap disini bersama perempuan ini.


“Pertama lo, cewek itu, Anton bahkan mungkin Fano juga bakal gak suka sama gue. Padahal gue gak tahu, apa salah gue.” lanjut Anya, dia tersenyum miris.


Sebastian mengerutkan keningnya. Sebenarnya apa yang diucapkan Anya ada benarnya. Memang tak ada alasan spesifik yang bisa menjelaskan mengapa orang-orang tak suka dengan perempuan itu, terkhusus dia. Tapi, kembali lagi, sejak awal pun dia memang tak suka dekat dengan perempuan manapun, bukan hanya pada Anya melainkan hampir pada semua perempuan yang mencoba dekat dengannya.


“Lo emang gak salah, tapi kan gue udah bilang. Gue gak suka orang asing.”


Anya mendongak, dia menatap Sebastian dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Sontak, itu membuat Sebastian terkejut melihatnya.


“Terus apa kabar sama Natasya? Dia juga orang asing.” ucap Anya, terdengar sekali nada tak suka keluar dari mulut perempuan itu.


Sebastian yang sempat berempati dengan Anya pun seketika hilang rasanya. Dia tak suka dengan nada bicara itu apalagi ini tentang Natasya. Natasya orang asing katanya? Hei, bahkan Natasya hampir menguasai bagian hatinya. Bagaimana bisa perempuan ini berpikir Natasya orang asing baginya. Lucu!


Sebastian menarik sudut bibirnya, tersenyum sinis menatap Anya. Dia beranjak dari duduknya membuat Anya ikut beranjak. “Bahkan, hampir seluruh isi hati gue buat Natasya dan dia lebih dari apapun.” ucap Sebastian, pelan dan cukup sampai di hati Anya.


Sebastian beranjak, namun Anya lebih dulu mencekal lengannya. Sebastian menatap cekalan itu, dia menatap bergantian Anya dan tangannya.


“Kalau gitu, biarin gue yang tempati bagian kosong itu, Yan.” ucap Anya yang membuat Sebastian tertegun. “Jadiin gue bukan orang orang asing lagi buat lo.” lanjut Anya, dia menatap dalam mata Sebastian yang menatapnya.


Diam.


“Gue gak bisa,”


Deg.