Friendshut [TAMAT]

Friendshut [TAMAT]
F-ENAMPULUHENAM



Natasya tersenyum lebar saat Delfano membuka pintu mobil untuknya. Bukan hal istimewa sebenarnya, karena hal itu sudah biasa dilakukan Delfano sebelum mereka menjalin hubungan seserius ini. Namun, entah kenapa semua ini terasa spesial baginya dan perasaan yang dia rasakan pun membuatnya berbunga-bunga.


“Silahkan, beb.”


Natasya mencebik, sedikit geli sebenarnya dengan panggilan Delfano itu. Tapi, mau gimana lagi. Delfano tetap Delfano, tak bisa di ubah. Toh, bukan hal buruk juga tentang panggilan itu.


Mereka berjalan beriringan, tanpa Sebastian dan Antonio tentunya. Entah kenapa, ada angin apa dengan dua lelaki itu. Tiba-tiba sudah berangkat duluan katanya, aneh sekali.


“Mau langsung ke kelas?” tanya Delfano, dia sedikit memastikan lebih tepatnya. Masalahnya perempuan ini belum sarapan, sedangkan dia baru saja sembuh dari sakit. Ah, Natasya. Bisa-bisanya perempuan itu meningkatkan tingkat kekhawatirannya.


“Mau nya sih langsung, tapi lapar.” jawab Natasya yang diakhiri kekehan. Dia sebenarnya tak berselera makan, entah karena apa. Sehingga tadi pagi memutuskan untuk tak sarapan. Tapi, tiba-tiba perutnya kini berbunyi, berdemo minta diisi. Maklum, hanya diisi bubur sejak kemarin.


Delfano tersenyum, dia merangkul pundak Natasya. “Berangkat!” seru Delfano, dia menarik Natasya menuju kantin sambil sesekali bercanda gurau.


***


Sebastian hanya bisa tersenyum tipis melihat Natasya yang sejak tadi tertawa lebar bersama Delfano. Dia bahagia. Sungguh, dia bahagia. Tak ada yang bisa membuatnya bahagia selain melihat orang yang dicintainya bahagia. Meskipun bahagianya bukan bersama dirinya.


Iya, Sebastian tidak munafik. Ada rasa tak suka sekaligus cemburu sebenarnya tiap kali melihat kedekatan Delfano dan Natasya. Tapi, apa boleh buat. Delfano dan Natasya pacaran, jadi apa yang salah.


Sebastian menghela napas pelan, dia memutar tubuhnya berniat pergi dari tempat ini menuju kelas. Namun, langkahnya langsung terhenti saat tanpa sengaja berpapasan dengan Anya.


Anya.


Perempuan itu tak sedikitpun melempar senyum seperti biasa, hanya wajah datar yang ditunjukkan perempuan itu. Bahkan, perempuan itu berjalan begitu saja melewati Sebastian yang kini tak henti menatap kepergian perempuan itu.


Sebastian terdiam, kembali memikirkan kejadian kemarin. Mungkin ini efek dari penolakannya kemarin maka dari itu Anya bersikap demikian padanya.


Tak apa, Sebastian tak peduli dan tak mempermasalahkannya sikap Anya padanya. Anya hanya orang asing, bukan siapa-siapa baginya.


Sebastian menggeleng pelan, dia mencoba mengacuhkan semuanya. Baru saja dia berniat melangkahkan kakinya kembali, tepukan pelan dipundaknya membuat dia memutar tubuhnya.


Terkejut? Tentunya. Tapi, bukan Sebastian namanya kalau tidak bisa menyembunyikan wajah terkejut dibalik wajah datarnya.


Di hadapan Sebastian sekarang ada Delfano.


Ya, Delfano tak sengaja menangkap Sebastian dan Anya yang hanya diam saling tatap.


“Gue gak tahu masalah antara lo sama Anya. Tapi, satu hal yang harus lo tahu, Yan. Dia tulus suka sama lo. ” ucap Delfano, dia terkekeh. “Jangan sampai nyesel.” lanjut Delfano, dia menepuk pelan pundak Sebastian dan pergi kembali menghampiri Natasya yang tengah menikmati bubur ayam.


Sepertinya yang hanya bisa dilakukan Sebastian adalah diam. Buktinya sekarang lelaki itu hanya diam setelah mendengar ucapan Delfano barusan.


***


Natasya berjalan pelan menyusuri koridor sekolah yang lumayan sepi, hanya ada teriakan siswa-siswi yang berada di lapangan serta suara guru yang tengah menjelaskan pelajaran.


Natasya memasuki perpustakaan—tempat yang jarang sekali disinggahi siapapun kalau bukan karena ada urusan, sama seperti dia. Iya, dia itu salah satu siswi yang jarang sekali masuk ke perpus kalau bukan karena ada kepentingan. Ya, kayak gini. Dia datang ke tempat ini hanya untuk pinjam buku paket yang memang diprioritaskan untuk setiap murid 'punya'. Jadi, disinilah dia sekarang.


Natasya mulai menyusuri satu persatu rak buku, mencari buku yang diperlukannya kini.


“Sastra... Sastra... Sastra...”


Ah!


Namun, langkah Natasya terhenti saat tiba-tiba Anya sudah berdiri di hadapannya. Sebenarnya, bukan hanya keberadaan Anya saja yang membuatnya terkejut, melainkan wajah datar yang perempuan itu tunjukkan yang semakin membuatnya bingung.


“Anya, lo ngapain disini?”


Mungkin, itu terdengar seperti pertanyaan yang klise. Tapi, dia mau bertanya apa lagi selain itu. Toh, Anya anak IPS dan anak IPS punya citra aneh kan tentang perpustakaan. Jangankan anak IPS yang anti masuk perpustakaan. Dia saja sebagai anak IPA rasanya juga seperti anti. Jarang sekali masuk ke tempat ini.


Bukannya langsung menjawab, Anya hanya diam dan terus menatap datar Natasya. Bahkan kini wajah Anya seolah dipenuhi kemarahan.


“Nya?”


“Gak puas? Apa lo gak puas?” desis Anya yang membuat Natasya mengerutkan keningnya bingung.


Natasya menggeleng, tak paham dengan maksud dan arah pembicaraan Anya ini. “Maksud lo apa sih? Gue gak ngerti?” tanya Natasya, dia terkekeh. Apakah Anya sedang bergurau kini?


“Sampai kapan lo mau jadi maling? Sampai kapan lo mau ambil kebahagiaan gue? Sampai kapan?” tanya Anya, dia terus mencecar Natasya dengan segala pertanyaan yang sama sekali tidak dimengerti Natasya.


Natasya kembali menggeleng, dia memundurkan tubuhnya saat Anya perlahan mendekatinya. “Nya, gue gak ngerti sumpah sama omongan lo.” cicit Natasya, dia terkejut saat tubuhnya sudah mentok dengan meja.


Natasya memundurkan wajahnya saat wajah Anya semakin mendekat kearahnya. Dia tak bisa bergerak karena tubuh Anya sudah menghalanginya.


“Kenapa lo sama nyokap lo tuh egois! Kalian gak pernah mau kita bahagia. Lo boleh gak kasih kebahagiaan gue seutuhnya, tapi seenggaknya lo bisa berbagi kebahagiaan lo dengan gue.”


Rasanya kepala Natasya sakit mendengar ucapan Anya. Sungguh, dia tak paham kemana arah pembicaraan ini. Dan, semakin tak paham saat melihat mata Anya yang berkaca-kaca seolah siap meneteskan air mata.


“Lo dan nyokap lo adalah orang paling egois yang pernah gue temuin.” tukas Anya, dia menekan kata ‘paling’ yang membuat Natasya harus memejamkan matanya karena terkejut. “Gak cukup apa, lo ambil kebahagiaan terbesar gue sejak kecil. Lo ambil kebahagiaan masa kecil gue. Gak cukup!?” lanjut Anya. Rasanya, Anya ingin berteriak sekarang juga didepan wajah Natasya. Tapi sayang, dia tahu tempat. Tak mungkin dia melakukan hal senekat ini.


“Nya... gue—”


“Lo egois, Na. Lo egois!”


Natasya menggeleng. Dia tak pernah ditatap sedemikian rupa oleh siapapun. Dia tak pernah sekalipun mencoba menyakiti orang lain. Dan, dia tak bisa saat melihat wajah seseorang yang sepertinya kesakitan karena ulahnya. Dan itu semua bisa dia lihat dalam wajah Anya. Semuanya terlukis jelas di wajah perempuan itu.


Natasya tak sanggup. Rasanya dia tak kuat. Apalagi saat kepalanya kembali sakit. Ya Tuhan, dia tak bisa seperti ini.


“Lo ingat gue? Perhatiin wajah gue, lo ingat?”


Natasya kembali menggeleng, bahkan rasanya dia sesak sekarang. Anya terlalu mencecarnya. Perempuan itu terlalu menekannya dengan segala sesuatu yang sama sekali tak dimengerti nya. Anya terlalu, berlebihan.


“Yaya. Lo ingat?”


Deg.


Yaya?


Natasya terdiam. Dia tak asing dengan nama  yang disebutkan Anya tadi. Yaya—teman sekolah dasarnya dulu. Gadis yang datang kerumahnya bersama seorang wanita cantik, gadis yang selalu memintanya bercerita tentang ayahnya. Gadis yang— Jangan bilang, Anya adalah Yaya. Tolong, jangan bilang—


“Iya. Gue, Yaya.”


Argh...


Sakit di kepala Natasya semakin menjadi, dia memejamkan matanya erat berharap rasa sakit itu sedikit berkurang. Namun sayang, bukan keredaan yang dirasakannya melainkan kegelapan yang kini menyelimutinya. Ya, Natasya pingsan. Tapi, dia masih bisa mendengar sayup-sayup suara Anya yang berucap.