Friendshut [TAMAT]

Friendshut [TAMAT]
F-EMPATPULUHTIGA



“Gue pulang dulu, ya. Besok gue kesini lagi.” ucap Sebastian, dia sedikit menundukkan tubuhnya menatap Natasya tepat di wajah perempuan itu yang terbaring.


Natasya tersenyum, mengangguk. “Iya, makasih, ya.” ucap Natasya tulus, dia masih sempat-sempatnya tersenyum lebar meskipun wajah pucat masih menghiasi wajahnya.


Sebastian mengangguk-angguk, dia mengusap pelan puncak kepala Natasya. Beberapa saat kemudian, dia menegakkan kembali tubuhnya, berjalan kearah sofa hendak mengambil tasnya yang tersimpan di sana.


Sebastian menyampirkan tasnya, “Yaudah, ya, gue balik dulu.” lanjut Sebastian, dia tersenyum kembali menatap Natasya yang masih memperhatikan gerak-geriknya.


“Hati-hati.”


“Iya,”


“Yan!”


Sebastian menghentikan pergerakannya yang hendak membuka pintu, membalikkan tubuhnya kembali menatap Natasya. Dia menaikkan sebelah alisnya, menatap penuh tanya perempuan itu.


“Jangan bilang yang lain.” pinta Natasya yang membuat Sebastian terdiam. Dia tak mau sampai sahabatnya tahu tentang keadaannya kini. Dia tak ingin.


Sebastian diam, ragu untuk mengiyakan permintaan perempuan itu.


“Please...”


Sebastian kembali mendongak, menatap Natasya yang sudah menunjukkan wajah sendunya penuh permohonan. Dengan terpaksa, dia menganggukkan kepalanya, mengiyakan permintaan perempuan itu. Natasya tersenyum senang melihatnya.


“Makasih.”


Sebastian mengangguk, “Gue cabut dulu,” ucap Sebastian yang kini sudah menghilang dibalik pintu kamar inap yang tertutup rapat.


***


Delfano berjalan dengan santainya menyusuri anak tangga rumahnya. Tangannya tak berhenti memainkan kunci mobilnya. Dia melirik jam di pergelangan tangannya.


19.46 wib


Ceklek...


Delfano langsung memasuki kamarnya dan menjatuhkan begitu saja tubuhnya diatas ranjang. Dia menatap langit-langit kamarnya, melipat tangan dibalik kepalanya dengan kaki terlipat yang kini di gerakkannya.


Dia langsung merogoh ponselnya, mengerutkan keningnya saat masih tak menemukan satupun pesan dari perempuan yang sejak tadi pagi memenuhi pikirannya.


“Kemana sih nih anak?” gumam Delfano pelan, dia langsung menekan tombol panggilan video untuk perempuan itu.


Natasya.


Dia tersenyum lebar saat panggilan tersebut tersambung, namun langsung mendengus kesal dan heran saat panggilan tersebut ditolak oleh perempuan diseberang sana.


Delfano ternganga, “What? Telpon gue, di tolak?” tanya Delfano tak percaya. “Nih anak liburan kemana sih? Ya, kali gak bisa angkat telpon.” sambung Delfano, dia kembali menghubungi perempuan itu dan lagi-lagi ditolak.


Delfano kembali menghubungi Natasya dan akan terus mengubungi perempuan itu sampai telponnya diangkat. Namun, baru saja saat hendak kembali menghubungi perempuan itu, sebuah pesan lebih dulu masuk ke ponselnya.


Delfano mendengus membaca balasan dari Natasya. Dia tersenyum jahil, langsung saja tangannya mengetikan balasan untuk perempuan itu, tak sabar menunggu balasan apa lagi yang akan di berikan nantinya.


Dia terkekeh, dia sudah bisa membayangkan bagaimana kesalnya Natasya di sana. Tanpa membuang waktu, dia langsung saja menghubunginya lewat telepon. Ponselnya dia letakkan di samping telinga, tangannya menarik guling yang terbungkus sarung guling berwarna abu, di letakkan guling tersebut dibawah kepalanya.


“Nyebelin,”


Delfano terkekeh mendengar kata yang diucapkan pertama kali Natasya saat panggilan darinya tersambung.


“Yang duluan nyebelin siapa?”


“Lo,”


“Dih, orang situ juga. Dasar.”


“Enggak, ya, orang ngomong baik-baik juga. Eh, malah—”


“Enggak-enggak, orang mau video call malah dilarang.”


“Ya kan—”


“Liburan juga, gak ngasih tau.”


“Ih... Kok malah kesitu sih. Orang lagi bahas—”


“Sebel! Orang mau ngomong juga di potong mulu!”


Delfano tertawa, dia tengah membayangkan wajah kesal Natasya kini karena sudah terdengar dari nada suara yang dikeluarkan perempuan itu.


“Hallo?”


“Hallo,”


“Kok diem sih?”


“Lah? Katanya tadi mau ngomong, gak mau dipotong.”


Natasya di sana mendesah pelan, sepertinya frustasi dengan Delfano. Lagi dan lagi, Delfano terkekeh.


“Iya, iya, becanda. Liburan kemana sih, kok gak kasih tahu?”


“...”


Delfano mengerutkan keningnya, dia menatap ponselnya saat tak ada jawaban dari Natasya. Dia pikir, panggilannya terputus, ternyata tidak.


“Ta?”


“...”


“Tata,”


“Oh, iya. apaan sih!? Panggil-panggil mulu!”


“Liburan kemana? Kok sampai gak kasih tahu.”


“Ada deh, pokoknya ke tempat yang sangat... Sangat... Indah juga memorable. Dan kenapa gak kasih tau? Alasan satu. Supaya kalian gak IKUT-IKUTAN.”


Delfano terlonjak, tak percaya dengan jawaban perempuan itu. “Dih, dasar ya. Awas aja nanti, gak diajak juga.”


“Bodo amat,”


Delfano menarik sudut bibirnya, baru saja dia hendak mengeluarkan kembali suaranya. Tiba-tiba panggilan diputus sepihak oleh Natasya membuat Delfano mengerutkan keningnya bingung. Dia kembali menghubungi perempuan itu, namun hanya suara operator yang menjawab.


“Gaje banget, tiba-tiba gak aktif.” gumam Delfano, menatap layar ponselnya.


Dia bangun dari posisinya kini, melempar asal ponselnya diatas ranjang. Dia berniat mandi malam ini, berhubungan badannya yang terasa lengket yang memang belum dibersihkan sejak sepulang sekolah tadi. Namun, baru saja kakinya melangkah hendak mengambil handuk di tempat biasa, dia lebih dulu terduduk dilantai—meresapi remasan kuat di perutnya yang tak bisa ditahannya.


***


Antonio berjalan kearah balkon kamarnya, dia menatap kamar Natasya yang menyala terang. Dia menyenderkan tubuhnya, mengerutkan keningnya bingung menatap kamar Natasya. Entah apa, ada sesuatu yang masih mengganjal dipikirannya.


Antonio langsung memerhatikan mobil Bramantyo yang baru saja memasuki pelantaran rumah nya sendiri.


Dia bingung melihat Bramantyo yang baru saja keluar dari mobilnya, melonggarkan dasi yang melingkar di lehernya, mulai berjalan memasuki kamarnya dengan raut wajah yang sulit di artikan.


“Kok, Ayahnya Nana, gak ikut liburan sih? Bingung gue.” gumam Antonio dengan kening mengerut.


Antonio menghela napas dengan kasar, memilih duduk di kursi yang ada di balkonnya, mengeluarkan ponselnya hendak menghubungi pemilik kamar di depan matanya kini. Namun sayang, hanya suara operator yang menjawab panggilannya tersebut.


“Gue berharap, semoga semuanya baik-baik aja.” gumam Antonio, menatap lurus ke depan. Entah kenapa, tiba-tiba ada sedikit perasaan tak enak hinggap di hatinya.


***


Sebastian menghentikan mobilnya diparkiran, dia terdiam beberapa saat menatap lurus ke depan. Pikirannya masih melayang tertuju pada Natasya, entah kenapa sulit sekali menghilangkan perempuan itu dari pikirannya. Apalagi kini dia sudah tahu satu fakta tentang perempuan itu yang semakin membuatnya sulit menghilangkan perempuan itu dari benaknya.


Dia menghela napas dengan kasar, turun dari mobilnya dengan malas. Dia menatap cukup lama jajaran pedagang yang ada di hadapannya. Kakinya di langkahkan menyusuri para pedagang yang tersusun rapi di pinggir jalan ini.


Tadi, ibu nya meminta dia membawa sebuah martabak khas Bangka yang merupakan langganan ibunya. Ini kali pertamanya dia datang ke tempat ini. Tak pernah sekalipun dia datang, kalau bukan karena permintaan ibunya itu.


Dan, ya, jangan salah sangka. Meskipun di pinggir jalan, para pedagang ini memang sudah diperbolehkan karena tempat ini memang dikhususkan untuk mereka berjualan—dirapihkan oleh pemerintah.


“Yang mana sih 'Martabak Bangka Mang Usep'?” tanya Sebastian pada dirinya sendiri, dia sejak tadi sudah menyusuri tempat ini guna mencari tempat martabak langganan ibunya itu.


Tempat ini lumayan ramai, membuat dia sedikit kesusahan mencari apa yang dicarinya. Hingga sebuah tepukan di pundaknya menghentikan langkahnya.


“Hai, Yan!”