![Friendshut [TAMAT]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/friendshut--tamat-.webp)
Natasya mendengus kemudian mematikan panggilan yang baru saja berlangsung dengan Kinara yang baru saja memberitahunya jika jam pelajaran olahraga akan segera dimulai. Natasya sebenarnya sudah tahu saat mendengar suara bel pergantian berbunyi, tapi diabaikannya karena dia masih mau disini bersama para sahabatnya.
Delfano mengerutkan keningnya, meneguk minuman miliknya yang tinggal beberapa teguk. “Kenapa, Ta?” tanya Delfano, dia mengunyah es balok di mulutnya.
Natasya menghela napas pelan, kemudian menggeleng. “Gakpapa,” jawab Natasya sambil beranjak dari duduknya, dia memasukkan ponsel ke saku rok nya.
“Gue cabut dulu ya, mau pelajaran OR. Bye, guys!” lanjut Natasya sambil melambaikan tangannya, kemudian bergegas pergi meninggalkan mereka yang hanya mengangguk sebagai balasan.
Seragam putih abu yang tadi melekat di tubuh Natasya kini sudah berganti dengan setelan olahraga dengan celana panjang dan baju lengan pendek. Kelas Natasya saat ini sedang masuk di pelajaran olahraga. Semuanya bergegas pergi menuju lapangan saat suara peluit dari guru pelajaran berbunyi nyaring.
“Nat, buruan!” teriak Kinara sambil bersandar pada pilar, menunggu Natasya yang masih memasukkan seragam nya kedalam loker.
Natasya segera mengunci lokernya dengan cepat, membalikkan tubuhnya dan berlari menghampiri Kinara. “Iya... Iya... Ini udah kok. Yuk!” ajak Natasya, dia segera menarik tangan Kinara untuk berlari menuju lapangan.
“KINARA, TASYA! KALIAN BARIS CEPAT!” teriak Pak Syam—guru olahraga mereka sambil menunjuk menggunakan jarinya.
Natasya dan Kinara segera bergabung dengan teman kelasnya, ikut berbaris di bagian belakang sambil mulai merentangkan tangannya mengikuti instruksi dari seksi olahraga kelas mereka yang kali ini memimpin didepan. Sebelum melakukan olahraga, mereka berdoa terlebih dahulu sebelum kemudian mulai melakukan pemanasan, lalu ke bagian inti pelajaran, yaitu praktek bermain bola basket.
Seperti biasa, bukan hanya kelas Natasya saja yang melakukan pelajaran olahraga di jam segini. Biasanya, bisa dua sampai tiga kelas mulai dari kelas 10, 11, dan 12 atau bisa saja kelas IPA dengan IPS. Dan untuk satu semester ini, kelas mereka berbarengan dengan kelas IPS.
Natasya mengedarkan pandangannya dan terhenti pada Maya yang terus menerus menatap tajam dirinya. Dia sih biasa saja, toh dia tak merasa punya masalah dengan perempuan itu. Hanya saja, Maya terlalu sensitif terhadapnya dan selalu beranggapan dirinya adalah musuh.
Oke, biar dijelaskan siapa Maya itu.
Jadi, Maya itu salah satu dari mantan Delfano. Satu-satunya mantan Delfano yang menaruh dendam kepada Natasya. Entah kenapa dan bagaimana bisa, Maya begitu tak suka terhadap Natasya. Perempuan itu selalu saja melempar tatapan tajam pada Natasya, seperti saat ini dan juga mulut pedasnya yang tak mau berhenti mengeluarkan sindiran untuk Natasya.
Natasya sih masa bodo saat Maya terus menerus mengeluarkan ucapan dari mulut pedasnya itu. Dia tak merasa apa yang diucapkan Maya itu benar, makan dia biasa saja.
Masa bodo dengan si Maya, Maya itu.
“Oke, silahkan kalian selesaikan dulu pemanasannya. Setelah itu bawa agenda kelas pada saya dan persiapkan satu team basket putra dan satu team basket putri untuk di tandingkan dengan anak IPS nanti, seperti apa yang sudah saya sampaikan sebelumnya.” jelas Pak Syam sambil berdecak pinggang menatap semua siswa nya yang tengah melakukan pemanasan.
“Satu, dua, tiga, empat... Lima, enam, tujuh, delapan...”
Kinara mengangguk-anggukan kepalanya mengikuti instruksi di depan, namun ekor matanya menatap Natasya yang juga tengah melakukan hal yang sama. “Lo ikutan aja Nat, lo kan jago banget main basket.” saran Kinara, dia tersenyum lebar sambil menaikkan kedua alisnya.
Natasya menarik sudut bibirnya. “Enggak, ah. Gak mau.” tolak Natasya, dia menoleh menatap Kinara. “Lo kan tau, Nad kita tandingnya nanti sama kelasnya Maya. Kayak gak tau aja tuh cewek gimana sama gue.” tukas Natasya.
“Ah, elehan lo.”
“Dih?”
“Udahlah ikut aja. Fix, lo salah satu anggota team yang ikut tanding nanti. Titik, gak ada koma.”
“Maksa,”
“Bodo amat.”
Pemanasan yang dipimpin seksi olahraga telah selesai dilaksanakan dan Pak Syam pun mulai mengabsen satu persatu murid didiknya kemudian segera menutup buku absensi saat pengabsenan telah selesai.
Pak Syam sudah berdecak pinggang kembali, mengapit absensi di lengan kanannya. “Jadi, mana timnya? Putra? Putri?” tanya Pak Syam, dia menaikkan kedua alisnya.
Tim Putra sudah lebih dulu maju, siap menjadi perwakilan dari tim basket putra kelas mereka. Begitupula tim Putri, namun hanya 4 orang yang maju, itu artinya masih kurang satu orang lagi untuk melengkapi tim putri tersebut.
“Kok cuma empat? Satu lagi nya siapa?”
“Gak ada yang mau pak,”
“Apa? Dari 20 siswi gak ada yang mau?” tanya Pak Syam tak percaya, dia berdecak kemudian kembali menatap tajam barisan putri yang tak masuk tim. Tak ada jawaban, hanya kediaman dari mereka.
Pak Syam menghela napas kasar. “Ya sudah, kalau tidak ada yang mau maju untuk melengkapi tim basket putri. Kalian semua siap-siap aja dapet nilai C di bab ini. Udah, gitu aja. Simple.”
“Yah.. Jangan dong pak,”
“Ih pak, jangan please...”
“Ya, sudah. Ayo siapa lagi?”
Kinara menatap Natasya yang biasa saja sedari tadi, perempuan itu tak terlalu mementingkan nilai. Natasya yang merasa di perhatikan sejak tadi segera mendongak, dia menatap satu persatu teman satu kelasnya yang menatap memohon padanya. Dan hanya dengan helaan napas, dia mengangguk sambil beranjak dari duduknya.
“Saya, pak!”
“Bagus. Yaudah, ayo kita mulai aja. Itu tim basket IPS sudah siap dari tadi.”
Permainan bola basket di mulai oleh tim putri yang nantinya akan dilanjut oleh tim putra. Natasya dan timnya berdiri di sebelah kiri, berhadapan langsung dengan tim Maya yang berdiri di seberang sana. Maya melipat tangannya didepan dada, menatap tajam Natasya yang hanya menatap datar perempuan itu.
Maya maju satu langkah, begitupun Natasya. Mereka dipilih sebagai ketua tim masing-masing. Mereka menatap guru olahraga yang lebih tua yang ditugaskan sebagai wasit dalam pertandingan. Permainan awal ada di tim Maya dan Natasya menerima itu semua dengan senang hati, toh tak ada yang perlu di cemaskan.
“Siap-siap aja kalah,”
Natasya menatap datar Maya, dia menarik sinis sudut bibirnya. “Gue atau lo yang siap-siap kalah?” tanya balik Natasya mencemooh Maya yang kini sudah menggeram kesal Natasya dengan kepalan di tangannya.
Natasya menarik sudut bibirnya, dia segera membalikkan tubuhnya meninggalkan Maya yang dirundung kekesalan.
***
Memang dasarnya mereka anak nakal dan tak takut hukuman, sehingga kini mereka dengan santainya melihat pertandingan bola basket putri antara anak IPA melawan anak IPS. Mereka bahkan tak memperdulikan kemungkinan apa yang akan terjadi, misalnya ketahuan guru. Mereka tak peduli jika hal itu terjadi, lihat nanti saja apa mereka akan mendapat hukuman atau tidak karena perilaku mereka kini.
Mereka—Antonio, Delfano dan Sebastian asik menyaksikan Natasya yang dengan lihainya menggiring bola menuju ring lawan. Senyum mereka mengembang saat Natasya berhasil memasukkan bola ke ring lawan, berlari kearah timnya sambil tersenyum lebar dan bertos ria.
“Gila, cantik banget tuh si Natasya.”
“Iya, pengen banget gue jadiin pacar.”
“Coba liat deh, keringat nya itu loh... Bikin dia tambah sexy aja.”
Seketika, mereka langsung mengalihkan pandangannya kearah sumber suara. Rahang Delfano seketika mengeras mendengar pernyataan yang baru saja di lontarkan oleh seseorang. Mata tajam dan datar milik Sebastian pun tak kalah menusuk orang itu. Wajah tengil Antonio pun sudah berganti dengan wajah penuh kekesalan.
Sebastian langsung berdiri dengan kasar dari duduknya, kemudian berjalan kearah kumpulan lelaki yang duduk di pinggir lapangan. Mereka langsung mengerutkan keningnya melihat keberadaan Sebastian dengan mata tajamnya di hadapan mereka.
“Kenapa, bro?” tanya lelaki yang memiliki bulu mata yang cukup lentik untuk ukuran seorang lelaki. Dia menaikkan sebelah alisnya sambil melirik bergantian penuh tanya teman di sampingnya.
“Siapa yang bilang Natasya sexy?” tanya Sebastian dingin, dia sama sekali tak peduli akan konsekuensi yang bisa saja di dapatkannya.
Lelaki yang tengah mengunyah permen karet itu mengangkat tangannya, tersenyum tengil menatap Sebastian. “Gue, Bas. Kenapa, emangnya? Lo, setuju juga?” tanya lelaki itu, dia terkekeh sambil mengendikkan bahunya. “Wajar sih kalau lo juga berpikir gitu. Natasya tuh—”
BUGH!
Lelaki itu langsung terjungkal saat Sebastian dengan cepatnya menarik kerah seragamnya dan melemparkan pukulan telak yang cukup mampu memberi hiasan di wajah tengilnya itu. Lelaki berbulu mata lentik dan yang satunya segera membantu temannya itu berdiri, menatap tajam Sebastian yang masih setia menatap tajam mereka dengan wajah kesalnya.
“Jaga tuh bacot, gak sopan banget!”
“Sekali lagi lo ngomong gitu. Kita gak segan-segan kasih lo peringatan, lebih dari ini.”
“Cabut!”
***
Maya berdecak pinggang, menatap kesal Natasya yang baru saja kembali memasukkan bola ke ring nya. Tim nya sudah kalah jauh dengan Tim Natasya, membuat dia tak terima kalau harus kalah. Apalagi kalah karena seorang perempuan bernama Natasya yang merupakan musuh terbesarnya.
Maya menghela napas kasar dan langsung berlari. Dia langsung berlari kencang menuju Natasya, langsung menubruk tubuh perempuan itu yang tengah berjalan kearah timnya, membuat Natasya langsung tersungkur ke depan.
“WOY! CURANG TUH!”
“ANJIR!”
“EH, LO NGAJAK RIBUT YA!?”
Natasya terkejut, dia memejamkan matanya dan langsung berusaha bangkot dari posisi tengkurapnya kini, dibantu teman-temannya yang sudah mengerubunginya.
“Nat, lo gak papa?” tanya Kinara khawatir, perempuan itu segera membantu Natasya untuk berdiri, namun karena tak kuat Natasya hanya bisa duduk.
Kinara meringis menatap luka di dagu dan lutut Natasya, sedangkan Natasya hanya bisa tersenyum sambil menggeleng mencoba menyampaikan bahwa dia baik-baik saja. Namun, itu tak berlangsung lama saat rasa sakitnya itu mulai di rasakannya.
“Kita ke UKS sekarang! Luka lo parah banget!” ringis Kinara, dia menatap ngeri luka Natasya.
“MINGGIR!” titah Pak Syam, dia langsung berjongkok di hadapan Natasya dan terkejut melihat luka yang di alami muridnya. Dia menatap Kinara. “Kamu bawa dia ke UKS, obati lukanya itu.” lanjut Pak Syam sambil beranjak berdiri.
Kinara mengangguk. “Iya, pak!”
“Misi-misi,”
“Minggir-minggir,”
“Awas-awas.”
Antonio, Delfano dan Sebastian langsung ternganga melihat keadaan Natasya. Mereka segera jongkok, menyejajarkan tubuhnya dengan Natasya yang masih meringis dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
Tanpa aba-aba, Antonio langsung mengangkat tubuh Natasya, membuat perempuan itu sempat terlonjak kaget dan beberapa siswi lainnya yang melihat itu semua menjerit histeris. Bayangkan saja, di depan mereka kini ada adegan romantis layaknya di sinetron-sinetron.
Delfano meraih lengan Kinara, beberapa saat sebelum kemudian segera melepaskannya. “Itu, dia kenapa sih?” tanya Delfano, mencegat langkah Kinara yang mencoba menyusul ke UKS.
Kinara berdecak, menatap kesal Delfano. “Mantan lo tuh, Maya. Dia yang buat gara-gara.” jawab Kinara ketus, dia segera meninggalkan Delfano yang kini tengah diselimuti kekesalan mendengar itu semua.
Delfano menggertak giginya, bahkan buku-buku tangannya sudah memutih karena mencoba menahan kekesalan dalam dirinya. Dia segera membalikkan tubuhnya, melangkah lebar menghampiri Maya yang berdiri kaku di hadapannya.
“Maksud lo, apa?” tanya Delfano dingin, dia jengah dengan mantannya yang satu ini yang seringkali membuat masalah, terutama pada Natasya.
“M-Maksudnya?”
“Maksud lo apa buat Natasya kayak tadi.”
Maya mendengus, dia memutar bola matanya jengah sambil melipat tangan didepan dada. “Itu pelajaran buat dia, karena udah bikin kita putus.” jawab Maya santai.
“Bikin kita putus?” tanya Delfano tak percaya, dia ternganga.
“Iya, dia kan yang udah racunin otak kamu buat putusin aku? Iya kan?”
Delfano menarik sudut bibirnya, dia menatap sinis Maya yang mengerutkan kening. “Asal lo tau ya, gak pernah ada satu orang pun yang maksa gue putus dari siapapun. Termasuk putus sama lo.”
“Tapi, aku spesial kan buat kamu? Dan, karena Nat—”
“—Gak, bahkan lo gak ada harganya dimata gue. Lo sama aja kayak mantan-mantan gue yang lain, gak berharga. Bahkan, setelah gue tau perbuatan lo ini, gue anggap lo sampah.” jawab Delfano tajam. Dia segera memutar tubuhnya meninggalkan Maya yang kini sudah berkaca-kaca mendengar kalimat yang dilontarkan Delfano.
Namun, Delfano kembali memutar tubuhnya, menatap Maya yang kini tersenyum, berharap lelaki di depannya ini akan mengucapkan permintaan maaf karena ucapannya barusan. Tapi, ternyata dia salah. Delfano tidak melakukan itu semua.
“Ah iya gue lupa, yang spesial itu, cuma Natasya. Ingat itu!” lanjut Delfano kemudian pergi meninggalkan Maya yang kini tengah menjerit kesal dengan ucapan Delfano.