![Friendshut [TAMAT]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/friendshut--tamat-.webp)
“Hi, Yan!”
Sebastian membalikkan tubuhnya dan langsung memasang wajah datar seketika saat melihat siapa orang dihadapannya. Anya.
Anya berjalan memutari tubuh Sebastian, berdiri dihadapan lelaki itu dengan senyuman yang tak pernah luput dari bibirnya. “Lo ngapain disini?” tanya Anya.
Sebastian terdiam, dia menatap Anya dari ujung kaki sampai kepala dengan tatapan yang cukup intens. Celana jeans dengan kaos polos yang dikenakan perempuan itu, ditambah sebuah plastik berisi makanan di tangan perempuan itu. Entah kenapa, melihat Anya yang sekarang membuat Sebastian berdebar.
Cantik, itulah yang pertama terlintas di benaknya saat melihat Anya. Namun, dengan cepat dia mengenyahkan pikiran itu.
“Pikir aja sendiri.” ketus Sebastian, dia melangkahkan kakinya meninggalkan Anya di tengah keramaian.
Anya mendengus, dia segera mengikuti langkah lebar Sebastian. Tak peduli harus melalui orang-orang, yang terpenting dia bisa bersama Sebastian sekarang.
“Aduh!”
Anya meringis, dia mengusap pelan keningnya yang tak sengaja menabrak punggung kokoh milik seseorang. Dia mendongak, menatap Sebastian dengan bibir mencebik. Ternyata, orang yang ditabraknya adalah Sebastian.
“Bisa hati-hati gak sih lo kalau jalan? Ceroboh!” dengus Sebastian, dia menatap Anya dengan kesal.
Anya mengerucutkan bibirnya sambil mengusap keningnya. “Ya, salah sendiri, kenapa tiba-tiba berhenti coba?” elak Anya, dia tak terima disalahkan Sebastian begitu saja.
“Yang ikutin gue siapa?”
“Gue.”
“Yang jalan di belakang siapa?”
“Gue.”
“Yang nabrak siapa?”
“Gue.”
“Berarti yang salah?”
“Gue.”
“Nah!”
Anya terlonjak kaget saat mendengar suara Sebastian yang sedikit menyentak. Dia mendengus kembali, menatap sebal Sebastian yang malah menarik sudut bibirnya setelah mendengar jawabannya. Dia merasa tertipu. Tertipu dengan semua pertanyaan Sebastian yang sepertinya menjebak. Huh!
Anya mengedarkan pandangannya dengan wajah ditekuk, masih mengusap keningnya. Sebastian memerhatikan itu semua.
“Sakit, emangnya?”
Anya menatap Sebastian. Seulas senyum terbit di bibirnya. Dia meringis, “Iya, sakit banget. Punggung lo keras.” jawab Anya. Sebenarnya tak sakit sih, biasa aja. Tapi... ya, sudahlah. Dia tersenyum lebar, menunggu respon yang diberikan lelaki dihadapannya.
“Oh,”
Anya ternganga mendengar jawaban Sebastian yang tak sesuai ekspektasinya. Dia menatap sebal Sebastian yang kini sudah kembali melangkahkan kakinya meninggalkan Anya. Dia sedikit berlari, menyejajarkan tubuhnya dengan Sebastian.
Anya mengikuti kemana Sebastian melangkah. Sedikit berdesak-desakan dengan orang-orang yang ada disini. Dan, itu semua menjadi kesempatan baginya untuk bisa lebih dekat dengan Sebastian. Buktinya, dia kini tanpa ragu memeluk erat lengan Sebastian, membuat lelaki itu mendengus.
“Sorry, tadi desekan sama orang-orang.”
Kalimat itulah yang langsung dilontarkannya saat Sebastian menatap tajam dirinya. Dan beruntungnya, lelaki itu tak mengeluh lagi.
Anya menghentikan langkahnya saat Sebastian juga menghentikan langkahnya. Dia mendesah, menghela napas lelah. “Kita mau kemana sih? Gak jelas banget. Dari tadi muter, cape tahu.” dengus Anya.
“Yang suruh lo ikutin gue, siapa?”
Anya mendengus, “Ya, kan gue niatnya mau nemenin lo,” elak Anya.
“Yang minta ditemenin, siapa?”
“Ya... Emang gak ada. Tapi, kan gue baik. Lagian nih ya, lo cari apa sih? Kasih tahu kek, siapa tahu gue bisa bantu.” ucap Anya, dia mengeluarkan sesuatu dari kresek yang sejak tadi dibawanya. Sebuah minuman botol keluar dari sana dan dengan segera, dia meneguk minuman tersebut. Asli, ya, Anya capek sekali dari tadi mengikuti Sebastian.
Sebastian terdiam, dia menatap datar Anya cukup lama. Sedangkan, yang ditatap sibuk meneguk minuman sambil mengedarkan pandangannya. Dia menghela napas, tangannya dia masukkan ke saku celananya. “Gue cari martabak 'Martabak Bangka Mang Usep'.” jelas Sebastian.
Anya terlonjak, “Oh... Lo cari itu?” tanya Anya, dia terkekeh menatap Sebastian. Tangannya terulur memukul pelan lengan lelaki itu. “Ngomong kek dari tadi, kita kan gak perlu muter-muter.” lanjut Anya.
“Lo tahu?”
Anya mengangguk mantap, “Tahu lah, orang itu martabak langganan gue.”
“Yaudah,”
Anya mengerutkan keningnya. “Yaudah, apa?” tanya Anya bingung.
Sebastian mengedarkan pandangannya, menatap kembali Anya. “Anterin gue kesana,” ucap Sebastian yang malah membuat Anya mengulum senyumnya melihat wajah penuh kegengsian Sebastian.
“Gue dapet apa?” tanya Anya, dia menghela napas sedikit kasar melihat wajah bingung Sebastian. “Kalo gue anterin lo, gue dapet apa?” jelas Anya, lagi.
Sebastian geram, geram melihat senyum Anya yang tak pernah pudar. “Dapet amal!” ketus Sebastian.
Hahaha...
“Lo bisa ngelucu juga ternyata.”
“Apaan sih!” ketus Sebastian. “Udah sekarang gini aja, lo mau anterin gue atau enggak? Simpel.”
Anya sedikit memicingkan matanya, mengerutkan bibirnya yang malah memberikan kesan lucu di mata Sebastian. Entah kenapa, otak Sebastian sudah rusak kini.
“Ya dapet apa dong gue nya?” tanya Anya, lagi.
Sebastian menghela napas kasar, dia mengibaskan tangannya. “Bodo amat ah!” balas Sebastian begitu saja meninggalkan Anya.
“Eh, iya, iya. Gitu aja ngambek.” seru Anya, dia segera bergegas menyusul langkah Sebastian.
***
Disini lah mereka kini. Di salah satu tenda milik penjual Martabak Bangka yang sejak tadi dicari Sebastian. Mereka duduk di sebuah kursi dengan meja panjang, menunggu pesanan lelaki itu yang tengah dibuat. Lumayan ramai, jadi mau tak mau mereka duduk sedikit berhimpitan dengan orang-orang.
Anya memperhatikan sekitar, menatap si penjual Martabak yang tengah membuat martabak pesanan pembeli disini yang mengantri. Dia mengeluarkan makanan dari kresek yang dibawanya, tersenyum sedih melihat bentuk makanan itu yang tak seindah saat pertama dibeli. Sepertinya, karena dia tak berlari-lari mengejar Sebastian dan juga berhimpitan dengan orang-orang membuat makanannya jadi tak secantik awalnya.
Sebastian melirik Anya, mengerutkan keningnya melihat wajah perempuan itu yang sendu. “Kenapa, lo?” tanya Sebastian.
Anya menoleh, “Lihat tuh, karena lo makanan gue jadi gak secantik awalnya.” ucap Anya, menunjuk makanan dihadapannya.
“Lah, kok salah gue?”
“Ya tadi kan lari-lari, terus—”
“Gue ganti,”
Anya tersenyum lebar, “Bener, ya?” tanya Anya, dia menunjuk Sebastian. Sebastian mengangguk.
Anya, happy? Tentu. Dengan Sebastian mengganti makanannya, dia punya sedikit waktu lebih bersama lelaki itu. Dia langsung membuka makanan tersebut dari bungkusannya, mulai menyuapkan makanan itu dan menikmatinya.
“Katanya udah gak cantik, tapi tetep aja di makan.” sindir Sebastian tanpa melirik pelaku yang disindir nya.
Anya menelan makanan di mulutnya, “Gak cantik bukan berarti gak bisa di makan kan?” tanya balik Anya yang sontak membuat Sebastian menatap perempuan itu. “Bener dong?”
“Terserah,”
Anya mengendikkan bahunya, menikmati kembali makanannya. “Oh, iya, lo kenapa tadi gak sekolah?” tanya Anya.
“Bukan urusan lo.”
Anya mendengus. “Ya urusan gue dong, lo kan temen gue.”
“Sejak, kapan?”
“Sejak gue temenan sama Natasya,”
Sebastian kini menoleh, menatap Anya dengan mata memicing tajam. “Emang gue pernah ngomong, kalo lo temen gue juga? Kayaknya enggak deh,” balas Sebastian sambil menggeleng.
“Tapi, kan gue anggapnya kita temenan,”
“Tapi, gue enggak.”
“Ih, nyebelin!” ketus Anya, dia mengerucutkan bibirnya dan memakan makanannya dengan kasar membuat Sebastian diam-diam melirik perempuan itu dan tanpa sadar menarik sudut bibirnya.
Lucu.
***
Buk!
Anya menundukkan tubuhnya, mengetuk kaca pintu mobil milik Sebastian. Tak lama kemudian, kaca pintu itu menurun, mulai memperlihatkan seseorang di depan matanya.
Anya melebarkan senyumnya, kali ini sungguh-sungguh bahagia, sungguh. “Makasih ya, makasih banget lo udah mau anterin gue pulang. Ternyata lo—”
“—berisik!”
Anya mencebikkan bibirnya saat Sebastian dengan tidak sopan nya memotong ucapannya. Sebastian melirik sinis Anya dan lagi-lagi ada debaran aneh yang hinggap dihatinya melihat wajah Anya yang menurutnya lucu.
Oh, sepertinya otaknya sudah rusak kini.
Ayolah, Yan, cuma ada Natasya di hati lo. Gak ada cewek lain. Sebastian mencoba menegaskan itu di hatinya.
“Udah sana masuk!”
Anya menegakkan tubuhnya, menatap sebal Sebastian. Namun, senyum lebar kembali menghiasi wajahnya saat dia ingat sesuatu. Dia kembali menundukkan tubuhnya, bertumbuh pada pintu. “Makasih, ya sekali lagi. Dan, ya, ternyata gini ya rasanya duduk di samping Sebastian.” ucap Anya, mengedipkan matanya sambil menaikkan sekilas kedua alisnya, kemudian segera bergegas pergi meninggalkan Sebastian yang terdiam.
Lagi.
Sebastian baru sadar sekarang. Dia membiarkan Anya duduk begitu saja di kursi penumpang depan, tepat disampingnya. Tempat yang hanya di khususkan untuk Natasya. Dan, apa ini? Tolong jelaskan, kemana pikirannya sejak tadi?
Argh!