![Friendshut [TAMAT]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/friendshut--tamat-.webp)
Sebastian menatap seorang perempuan yang tengah berjalan melewati lapangan dengan beberapa buku yang didekap perempuan tersebut. Senyumnya langsung terpatri melihat perempuan itu. Dia kini tengah memperhatikan perempuan itu yang sedang mengobrol dengan salah satu teman perempuannya, yang entah mengobrol tentang apa tapi, kini perempuan itu menghentikan langkahnya dan memilih duduk di kursi pinggir lapangan sambil melanjutkan kegiatan ngobrolnya itu.
“Entah kenapa, gue bisa suka sama lo.” gumam Sebastian pelan, matanya tak sedikitpun mengalihkan atensinya dari perempuan itu yang kini tengah tertawa. Tawa manis yang untuk kesekian kalinya berhasil menggetarkan perasaanya.
“Mungkin, gak sih kalau kita bisa lebih dari sahabat?” tanya Sebastian pada dirinya sendiri, padahal jelas sekali dia sendiripun tak tahu jawaban atas pertanyaannya itu.
Sedangkan, tanpa disadari ada Antonio yang melihat dan mendengar apa yang diucapkan Sebastian.
Awalnya, Antonio hendak mengajak Sebastian pergi ke rooftop, berhubung tak ada guru jadwal yang mengajar di kelas mereka. Tapi, mendengar kalimat yang dilontarkan Sebastian, dia mengurungkan niatnya. Dan, kini dia berdiri termenung memperhatikan Sebastian yang masih dengan senyumnya terus memperhatikan perempuan itu.
Antonio cukup terkejut mendengar pernyataan yang dilontarkan Sebastian.
Sekarang Antonio paham dan mengerti, kenapa Sebastian se-anti itu sama yang namanya perempuan. Ternyata, lelaki itu sudah mempunyai seseorang di hatinya yang membuatnya jadi bersikap demikian. Dan, paling disayangkan, kenapa perempuan yang ada di hati Sebastian juga harus ada di hatinya?
Kenapa?
Antonio mengalihkan pandangannya kearah perempuan yang tengah ditatap Sebastian. Hatinya pun sama bergetarnya kala perempuan itu tersenyum. Entah sihir apa yang dimiliki perempuan itu, sampai-sampai dari dulu sampai sekarang dia tak bisa melepaskan perasaannya ini.
Antonio menghela napas dengan pelan namun dalam, mencoba menenangkan hatinya dan memilih meninggalkan tempat ini menuju rooftop seorang diri.
***
Delfano terkekeh, dia menatap bergantian Antonio dan Sebastian. “Suka sama sahabat sendiri boleh, gak sih?” tanya Delfano yang seketika membuat mereka terdiam.
Antonio menatap Sebastian yang sepertinya menegang mendengar pertanyaan yang dilontarkan Delfano. Dia menyenderkan punggungnya pada sandaran, menunggu Sebastian memberikan jawaban.
“Kenapa diem, Yan?” tanya Antonio yang sontak membuat Sebastian mendongak menatap lelaki itu.
Sebastian berdehem, “Maksudnya?” tanya Sebastian, sebisa mungkin dia menutupi ketegangannya kini.
Antonio mengalihkan pandangannya, kemudian menarik sudut bibirnya. “Fano tanya, kalau suka sama sahabat sendiri boleh, gak, tuh?” ujar Antonio. “Jawab, dong!” desak Antonio, dia berusaha sebisa mungkin membuat Sebastian mengungkapkan semuanya.
Delfano terdiam, dia menunggu jawaban.
Sedangkan, Sebastian semakin mengerutkan keningnya, “Kok lo seakan desak gue sih? Kenapa gak lo aja dulu yang jawab?” tanya balik Sebastian yang membuat Antonio terdiam, lelaki itu seakan kalah telak saat dia membalikkan pertanyaan.
Antonio menegangkan tubuhnya, berdiri dengan cepat kemudian melangkah meninggalkan kedua sahabatnya tanpa mengucapkan sepatah katapun. Hal tersebut membuat Sebastian dan Delfano mengerutkan kening bingung melihat sikap Antonio yang menurut mereka aneh.
Entah apa yang terjadi pada lelaki itu, apakah ada yang salah dari pertanyaan yang dilontarkannya?
“Gue salah, ya tanya kayak tadi?” tanya Delfano, dia menatap Sebastian yang berdiri tegak menatap pintu keluar rooftop.
Lagi dan lagi, tanpa mengucapkan sepatah katapun, Sebastian pun meninggalkan Delfano yang dibuat semakin kebingungan dengan sikap kedua sahabatnya itu.
Delfano mengerutkan keningnya, dia menggaruk sudut alisnya yang terasa gatal. “Gue salah ngomong emangnya?” tanya Delfano bingung.
Delfano mengendikkan bahunya, “Bodo amat ah, mending gue balik ke kelas deh, bentar lagi pelajaran olahraga ini.” ucap Delfano, dia melangkahkan kakinya meninggalkan rooftop menuju kelasnya.
***
Natasya hendak berbalik menuju kelasnya kembali, namun di urungkan niat tersebut saat melihat gerombolan kelas Delfano memasuki lapangan. Dia mengerutkan keningnya heran saat matanya tak menemukan keberadaan Delfano diantara teman sekelasnya lelaki itu.
“Kok tuh cowok gak ada, ya?” tanya Natasya bingung, keningnya semakin mengerut sambil matanya tak henti-hentinya mencari keberadaan lelaki itu.
“Cari siapa sih?”
Sontak, Natasya memutar tubuhnya mendengar pemilik suara orang yang dicarinya kini. Dia tersenyum lebar menatap lelaki itu yang berdiri dihadapannya dengan pakaian olahraga sekolah mereka.
“Cari siapa?” tanya lagi Delfano, orang itu. Dia menyugar rambutnya sambil menatap Natasya yang masih belum menghilangkan senyumannya itu.
“Cariin lo,” jawab santai Natasya yang membuat Delfano mendongak menatap perempuan itu.
Delfano mengulum senyumnya, dia berusaha menutup senyum lebarnya itu, namun sayang sepertinya dia tak bisa melakukan itu semua. Senyumnya akan selalu terpatri untuk perempuan dihadapannya ini. Dia menjatuhkan bokongnya di kursi pinggir lapangan, menyenderkan tubuhnya sambil terus memainkan rambutnya yang mulai lebat.
“Masa sih?”
Natasya mengulum senyumnya, dia menjatuhkan bokongnya disamping Delfano. “He'em.”
“Kenapa nyariin? Butuh sesuatu?”
Natasya menggeleng.
“Terus?”
“Gak tahu kenapa, pengen nyariin aja.”
“Masa, sih?”
Natasya memutar bola matanya, dia menatap jengah Delfano yang mengeluarkan kalimat itu untuk kedua kalinya. “Masa, sih?” ejek Natasya, dia mencoba menirukan ucapan Delfano yang membuat lelaki itu terkekeh.
Mereka saling tatap, tersenyum simpul satu sama lain.
“Kenapa, Ta?” tanya Delfano khawatir, dia merangkul pundak perempuan itu.
Natasya menggeleng, dia meletakkan asal buku yang dibawanya tadi dan menggunakan kedua tangannya untuk menutup mulutnya yang siap mengeluarkan sesuatu karena rasa mualnya itu. Tanpa mengucapkan sepatah katapun, dia langsung berlari meninggalkan Delfano.
Delfano hendak mengejar Natasya, namun dia terpaksa mengurungkan niatnya saat suara Pak Kuat —guru olahraga yang memanggil namanya untuk bergabung bersama teman sekelasnya melakukan pelajaran olahraga tersebut.
Dengan terpaksa, dia melangkahkan kakinya menuju barisan teman sekelasnya dengan pikiran yang masih tertuju pada Natasya.
***
Bruk!
Natasya hampir saja terjatuh jika saja orang yang ditabraknya tidak menangkap tubuhnya itu. Dia menatap mata orang dihadapannya, posisinya kini seolah berada di pelukan orang itu.
Namun, tiba-tiba rasa pusing menghampiri kepalanya, ditambah rasa mual yang semakin menjadi-jadi. Dia segera menegakkan tubuhnya, segera berlari secepat mungkin menuju toilet untuk menuntaskan ini semua.
Hoek... Hoek...
Tak ada apapun yang keluar dari mulutnya, hanya rasa mual saja yang kini masih menghinggapinya. Perlahan Natasya menatap pantulan wajahnya dari kaca di depannya, dia menatap wajah pucat nya itu, hingga setetes air mata jatuh dari kelopak matanya. Perlahan dia terisak, apalagi rasa pusing di kepalanya semakin menjadi.
“Huh! Huh!”
Napasnya tersengal, mencoba mengatur napasnya agar normal seperti biasanya, meskipun air mata masih keluar dari matanya dan rasa sesak masih hinggap di hatinya.
“Tenang, Nat, tenang. Lo kuat, lo perempuan kuat, jangan lemah, jangan nangis. Udah, cukup.” ucap Natasya, mencoba menyemangati dirinya sendiri.
Natasya mencoba menampilkan senyuman di wajahnya, dia menghapus pelan air matanya sambil terkekeh. “Jangan nangis, okay? Kamu kuat Natasya, kamu bukan perempuan lemah. Stay strong, okay?”
Dengan kepala yang masih berdenyut, namun senyuman masih melekat di bibirnya, dia keluar dari toilet dan langsung dikejutkan dengan keberadaan orang yang tadi di tabrak nya.
Sebastian.
Orang itu, dia. Sebastian menatap diam Natasya, menatap teliti wajah pucat perempuan itu. Tadi dia sangat khawatir saat tak sengaja di tabrak Natasya yang tiba-tiba berlari memasuki toilet. Kalau saja dia bisa masuk, dia mungkin akan langsung menemui perempuan itu dan bertanya kenapa. Namun, karena dia lelaki dan tentunya dilarang memasuki toilet perempuan, akhirnya dia menunggu Natasya di luar toilet.
“Lo kenapa, Sya?”
Natasya diam, kemudian menggeleng sambil tersenyum. “Kenapa apanya?” tanya balik Natasya, dia berjalan melewati Sebastian, namun dengan cepat di halang lelaki itu.
Tangan Sebastian terulur menyentuh wajah Natasya, tangannya memutar pelan wajah Natasya. Natasya terdiam, merasa ada yang aneh saat Sebastian melakukan ini semua. Namun, dengan cepat dia mengenyahkan itu semua.
“Apaan sih, Yan,” ucap Natasya, dia mengenyahkan tangan Sebastian dari wajahnya.
“Lo sakit?”
“Enggak, kok.”
“Pucat,”
“Masa? Karena gak pake liptint kali, makanya pucat.”
“Serius...”
“Dua rius malah,”
“Sya,”
“Apa sih, Yan?”
“Jangan bohong, gue gak suka.”
“Gak ada yang bohong.”
Sebastian menghela napas dengan kasar, tangannya kembali terulur menyentuh wajah Natasya di bagian bawah dagu kemudian menunjukkan jemari tangannya yang sedikit basah. “Ini, apa?” tanya Sebastian, tangannya menunjukkan sisa air yang diyakininya air mata.
“Itu...”
“Nangis?”
Natasya terdiam.
“Enggak kok, Yan, itu tadi bekas gue cuci muka, beneran deh.”
“Gak percaya,”
“Yan...”
Natasya berdecak, “Bodo ah, gue mau ke kelas. Awas!” dengus Natasya, dia langsung menubruk begitu saja tubuh Sebastian, berjalan meninggalkan lelaki itu yang hanya terdiam menatap kepergiannya.
“Gue harus cari tahu, kenapa.” gumam Sebastian pelan, matanya masih menangkap sosok Natasya yang semakin menghilang dari pandangannya.