Friendshut [TAMAT]

Friendshut [TAMAT]
F-TIGAPULUH



Natasya masih kepedasan, dia bahkan sampai menitikkan air mata karena pedas itu tak ingin hilang. Dia menyesal sudah meracik bakso sedemikian pedasnya. Baru saja tangannya hendak mengambil minumannya, namun di urungkan saat botol minuman teh tersebut tak bersisa, hanya tetesan sedikit. Dia menatap tajam Antonio yang malah tersenyum menunjukkan deretan giginya.


“Gue pesan lagi deh,” ucap Antonio yang hendak beranjak dari duduknya setelah mendapat anggukan dari Natasya. Namun, belum sempat Antonio keluar dari kursinya tersebut, sebuah minuman sudah lebih dulu disodorkan dihadapan mereka, di depan Natasya tepatnya.


Natasya mendongak, begitupun Antonio. Perempuan itu membelalakkan matanya saat mendapati keberadaan Delfano disini. Btw, tempat bakso ini tak jauh dari daerah dimana Delfano tinggal, jadi tak ayal kalau mereka kini bertemu dengan Delfano.


“Yeh... Malah lihatin gue mulu, terpesona baru tahu rasa lo.” ucap Delfano, dia terkekeh kemudian mengambil alih duduk di samping Antonio yang kebetulan sejak tak ada yang menempati. Karena itu pula, Natasya dan Antonio bisa lebih bebas sejak tadi.


“Di minum, Ta.” lanjut Delfano, dia menyodorkan sebotol minuman teh tersebut kearah Natasya dan dengan cepat perempuan itu meminumnya saat otaknya kembali sadar dan anehnya saat otaknya sadar, rasa pedas itu kembali menggerogoti mulutnya.


“Lo ngapain disini, Fan?” tanya Antonio, dia menyenderkan tubuhnya pada tembok dan menatap Delfano.


Delfano melirik, menaikkan sebelah alisnya. “Masalah? Lagian ini tempat umum, ada larangannya tuh seorang Delfano gak boleh masuk.” jawab Delfano sambil memperagakan dengan tangannya, kemudian tangannya terulur mengambil kerupuk kulit, membukanya dan seperti biasa dicocolkannya ke kuah bakso milik Natasya.


But, sepertinya kali ini Delfano sedang sial, sebab kuah bakso Natasya pedasnya bukan main, membuat mulutnya langsung terbakar seketika saat kerupuk yang sudah layu itu masuk ke mulutnya. Dengan cepat, dia merampas minuman teh yang tadi diberikannya untuk Natasya, meneguknya hingga tandas.


Natasya dan Antonio terkekeh, mereka saling tatap kemudian tertawa melihat wajah merah Delfano yang kepedasan. “Makanya, jangan asal deh, diliat dulu.” ejek Natasya, dia masih belum menghilangkan tawanya.


Natasya menghela napasnya, mencoba mengatur tawanya. Dia kini menatap Delfano yang sepertinya sudah mulai mereda rasa pedasnya. “Lo kok disini sih? Bukannya tadi bilang mau nganterin Anya, ya?” tanya Natasya, dia terdiam menunggu jawaban yang akan dilontarkan lelaki itu.


Delfano menelan kerupuk kulit murni di mulutnya, murni tanpa ada rasa pedas dan hanya tersisa rasa gurih di mulutnya. “Gak papa, udah ini. Kalian juga, katanya mau langsung pulang, kenapa malah disini, gak ajak-ajak lagi.” balas Delfano, dia mendengus di akhir kalimatnya.


Natasya memutar bola matanya malas, “Dih, ngapain juga ajak-ajak, orang situ juga lagi pergi sama cewek lain.”


“Ya kan setidaknya —”


My Mommy is calling...


My Mommy is calling...


Nada dering ponsel milik Antonio langsung menghentikan obrolan mereka, nada dering yang merupakan rekaman langsung suaranya yang dikhususkan untuk panggilan dari mommy nya.


“Bentar-bentar, gue angkat dulu.” ucap Antonio, dia menjawab panggilan tersebut, sedangkan Natasya dan Delfano hanya mengangguk sambil kembali melanjutkan beberapa obrolan diantara mereka yang belum selesai.


“Gue seksi, ya bibirnya kalau merah merona gini,” ucap Natasya, menatap pantulan wajahnya di layar ponselnya yang menunjukkan bibirnya yang lebih merona karena pedas tadi.


Delfano terkekeh, dia menoyor pelan Natasya yang membuat perempuan itu mendengus. “Seksi dari Hongkong! Kayak bimoli, iya!” jawab Delfano yang langsung mendapat lemparan gumpalan tisu bekasnya.


“Enak aja, bibir seksi gini disamain sama bimoli.” dengus Natasya, dia kembali memperhatikan wajahnya dengan berbagai raut muka yang ditunjukkan.


Antonio selesai dengan panggilannya, lelaki itu memasukkan kembali ponselnya ke saku celananya tersebut. Dia menatap Natasya dan Delfano bergantian, “Guys, gue harus pergi sekarang nih soalnya nyokap minta jemput gitu di rumah Tante gue.” ucap Antonio yang membuat Natasya mengerutkan keningnya.


“Pulang dulu, kan? Ambil mobil?” tanya Natasya. “Kan lo bawa motor, gak mungkinkan jemput tante Mer pake motor?” lanjut Natasya, menjentikkan jarinya, seolah pikirannya memang benar adanya. Oh iya, Tante Merina itu adalah mama nya Antonio.


“Jadi, pulang sekarang nih?” tanya Delfano, menimpali pertanyaan Natasya yang belum terjawab.


Antonio menggeleng, “Enggak, gue langsung kesana. Gak tau juga kenapa disuruh langsung kesana, urgent gitu katanya.” jawab Antonio yang membuat Natasya mencebikkan bibirnya.


“Terus gue pulang sama siapa?” tanya Natasya disertai rengekannya, dia menampilkan raut wajah sedihnya.


Antonio terdiam.


Natasya tersenyum lebar, “Masa?”


“Iya, asli.”


Anton tersenyum lega, “Yaudah, gue cabut duluan ya. Nih nyokap udah calling gue mulu.” tukas Antonio, menunjukkan panggilan yang berasal dari Mama nya. Dia segera menyambar tas yang diletakkannya dibawah meja, menyampirkan ke pundaknya kemudian bertos-ria dengan keduanya.


Antonio membalikkan tubuhnya kembali saat sudah melangkah beberapa langkah, “Oh, iya, sekalian bayarin, ya.” ucap Antonio, menunjuk pesanannya tadi sambil terkekeh kemudian kembali melangkahkan kakinya membuat Delfano mendengus.


Delfano kini menatap Natasya. “Pulang, sekarang?” tanya Delfano, menggeser tubuhnya ke tempat yang tadi ditempati Antonio. Natasya mengangguk, kemudian segera memakai kembali tasnya.


Mereka beranjak dari duduknya, berjalan beriringan. “Gue bayar dulu ya,” ucap Delfano sambil menyerahkan kunci mobilnya ke Natasya.


Natasya mengangguk, dia menerima kunci tersebut. “Sekalian bungkus dong, Fan, masih pengen.” ucap Natasya dengan tawa pelannya.


Delfano menatap seolah jengah Natasya, “Dasar! Siapa yang makan siapa yang bayar.” dengus Delfano sambil terkekeh dan kembali mengacak rambut Natasya pelan.


Natasya terkekeh, dia merapikan kembali rambutnya yang diacak Delfano. “Gakpapa, kan lo banyak duit.” tukas Natasya, berjalan meninggalkan Delfano yang tengah membayar semua tagihan bakso miliknya dan Antonio tadi, sekaligus bungkusan bakso yang sempat di pintanya itu.


***


Natasya keluar dari mobil Delfano, diikuti lelaki itu. Delfano bersandar pada mobilnya, sedangkan Natasya hanya berdiri di hadapan lelaki itu.


“Makasih, ya, udah di traktir.” ucap Natasya, menunjukkan kresek putih yang berisi bakso miliknya.


Delfano mengangguk, dia bersandar pada mobil dengan kaki selonjor yang dilipat dan tangan yang dilipat di depan dada. “Yup! Kalau mau lagi, calling-calling aja, nanti Abang gojek siap antar.” jawab Delfano dengan candaannya yang diselipi senyuman tipis di sudut bibir lelaki itu membuat Natasya terkekeh mendengarnya.


“Iya, siap Abang gojek. Makasih, ya sekali lagi.” balas Natasya. “Udah ah, gue mau masuk. Pengen mandi, gerah.” sambung Natasya kemudian membalikkan tubuhnya namun dengan cepat Delfano menarik lengannya.


Natasya kembali memutar tubuhnya, menatap bingung Delfano yang menahan lengannya. Dia menatap bergantian Delfano dan lengannya yang ditahan lelaki itu.


“Ada yang mau gue omongin, Ta.” ucap Delfano, entah kenapa muncul nada keseriusan di ucapan lelaki itu.


“Apa?”


Delfano terdiam, membuat Natasya dibuat penasaran oleh jawaban lelaki itu.


“Gue suka,”


Deg.


Rasanya jantungnya berdetak lebih kencang mendengar dua kata yang dilontarkan lelaki itu. Dia menatap serius lelaki itu, mencoba membaca isi pikiran lelaki itu. Tapi sayang, dia bukan cenayang yang bisa dengan mudahnya tau isi pikiran seseorang.


“Lo suka...?”


Delfano diam, dia menghela napas dengan kasar. “Gue suka sama Anya, gue jadian sama dia.”


Deg.