![Friendshut [TAMAT]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/friendshut--tamat-.webp)
“Keluar, yuk, Ta! Mumpung mataharinya udah keluar.” ajak Delfano, dia sudah duduk di samping Natasya yang tengah bersandar pada sandaran ranjang. Antonio dan Sebastian tak ada disini, mereka keluar membeli makanan untuk mereka.
Natasya mengangguk, “Boleh. Bantuin, ya?” pinta Natasya yang tentunya langsung diangguki Delfano.
“Dengan senang hati.”
Delfano menarik kursi roda, membantu Natasya duduk diatasnya. Natasya sudah duduk manis di kursi roda dengan selang infus di tangan kanannya.
Natasya mendongak, menatap Delfano yang sudah berdiri dibelakangnya. “Makasih, ya.” ucap Natasya, dia tersenyum lebar.
Delfano mengangguk, dia mulai mendorong kursi roda Natasya keluar dari ruang inap perempuan itu. Dia melewati lorong juga beberapa orang yang tengah duduk di depan rawat inap. Mereka sampai di taman rumah sakit yang lumayan ramai. Beberapa orang tengah berjemur, ada anak kecil yang tengah disuapi makan oleh ibunya dengan selang infus di sebelah tangannya.
Delfano tersenyum, dia memutari kursi roda Natasya, kemudian berjongkok dihadapan perempuan itu. “Mau sambil makan sesuatu?” tawar Delfano, dia memegang kedua sisi kursi roda tersebut seolah dia tengah mengungkung tubuh Natasya.
Natasya menggeleng, dia menolak tawaran lelaki itu. Delfano mengangguk-angguk, dia ikut memperhatikan sekitar, sama seperti apa yang tengah dilakukan Natasya.
“Gue ke kamar, ternyata kalian disini.”
Antonio dan Sebastian baru saja datang, mereka menghampiri Natasya dan Delfano dengan jinjingan ditangan mereka. Natasya hanya bisa tersenyum, entah kenapa rasanya sulit sekali untuk berkata seolah ada sesuatu yang menahannya.
“Yaudah, kita sarapan dulu deh. Gue beli ini di depan.” ucap Sebastian, dia mengeluarkan nasi yang baru dibelinya di depan. Ini sudah lumayan siang, jadi bisa baginya dan Delfano makan nasi. Dia mengeluarkan satu persatu nasi beserta lauknya tersebut dan membagikannya.
Antonio melirik sekitar, mencari tempat duduk yang kosong. “Kita pindah kesana aja, dekat batu itu.” ajak Antonio, dia tak menemukan kursi taman yang kosong, hanya beberapa saja dan itupun sudah terisi oleh orang lain.
Mereka mengangguk, beranjak dari tempat mereka sekarang menuju batu yang bisa dijadikan tempat duduk untuk mereka. Tentu Delfano yang mendorong kursi roda Natasya.
“Eh, bentar, ya. Gue ke toilet dulu, kebelet.” ucap Delfano, sebenarnya dia sudah menahan sejak tadi. Tapi, berhubungan Natasya tak ada yang menjaga jadi dia menahannya.
Mereka hanya mengangguk, sedangkan Delfano langsung beranjak meninggalkan mereka.
Antonio merogoh sakunya, mengerutkan kening saat tak merasakan keberadaan dompet di saku celana jeans nya. “Dompet gue mana?” tanya Antonio bingung, dia meronggoh semua saku di celananya.
Sebastian dan Natasya mengerutkan keningnya, menatap Antonio.
“Ada, gak?” tanya Sebastian. Antonio menggeleng.
“Jatuh kali di tempat lo beli jus.”
“Iya kali, ya?”
“Yaudah sana, cari.”
Antonio diam. Sebenarnya dia malas mencari dompetnya, toh tak ada uang didalamnya. Tapi, yang penting itu adalah kartu-kartu di dalamnya. Dia akan lebih malas lagi membuat ulang-ulang kartu yang hilang di dalam dompet itu. Dia menghela napas pelan, beranjak dari duduknya. “Yaudah deh, gue cari dulu.” ucap Antonio.
Antonio menghentikan langkahnya, dia membalikkan badannya lagi. “Gue titip Natasya, ya.” lanjut Antonio yang langsung mendapat toyoran dari Sebastian.
“Bacot!”
Antonio mendengus, dia segera beranjak meninggalkan mereka.
Tersisa Sebastian dan Natasya. Sebastian sudah membuka makanannya, dia mulai menyuapkan makanan itu ke mulutnya. Dia melirik Natasya, menatap perempuan itu yang sejak tadi diam.
“Kenapa, Sya?” tanya Sebastian, dia beranjak dari duduknya berjalan ke depan Natasya dan bersimpuh dihadapan perempuan itu.
Natasya diam, dia menatap cukup dalam Sebastian. Matanya kembali berkaca-kaca, kemudian menggeleng sambil menunjukkan senyumnya, memberi tahu seolah tak terjadi apapun.
Sebastian ikut menatap dalam mata Natasya, dia meletakkan makanannya di atas batu tempat dia duduk tadi—bersama makanan milik Antonio dan Delfano. Dia kembali menatap Natasya, menggenggam erat tangan perempuan itu. “Kenapa?” tanya Sebastian, lagi. Nada suaranya lebih lembut dari tadi, dia tengah mengirimkan energi kepada perempuan yang tengah digenggamnya.
Natasya kembali menggeleng, entah kenapa sekarang dia merasa hatinya sakit. Entah kenapa juga sekarang rasanya dia ingin menangis apalagi saat penglihatannya kini sedikit tak jelas, rasa mual dan pusing yang dirasakannya. Semuanya membuatnya bingung.
Hiks... Hiks... Hiks...
Sebastian kebingungan. Dia bingung kenapa Natasya tiba-tiba menangis. “Kenapa? Ada yang sakit?” tanya Sebastian yang tak sedikitpun mendapat jawaban dari Natasya. Perempuan itu masih menangis, wajah putih itu kini memerah karena tangis.
Sebastian tak tahu, tak tahu harus berbuat apa. Satu hal yang bisa dilakukannya kini, yaitu memeluk perempuan itu erat. Memberikan ketenangan yang mungkin sedikit membantu perasaan perempuan itu.
“Udah, Sya, udah.” gumam Sebastian pelan tepat di telinga Natasya. Dia masih memeluk perempuan itu sambil mengusap pelan punggung perempuan itu.
Delfano memberikan tatapan tajam, dia membalikkan tubuhnya pergi meninggalkan Sebastian yang kini sudah melepas pelan pelukannya.
Sebastian menatap Natasya, tangannya terulur menghapus sisa air mata yang membasahi pipi perempuan itu. “Jangan nangis.” ucap Sebastian pelan, dia tersenyum sambil mengangguk.
Natasya hanya diam.
“Nana kenapa?” tanya Antonio yang baru saja datang dan melihat Natasya yang sepertinya orang sehabis menangis.
Antonio semakin mengerutkan keningnya saat tak mendapat jawaban apapun dari Natasya, perempuan itu masih diam. Dia menatap Sebastian, meminta penjelasan atas pertanyaannya.
Sebastien menggeleng, “Gakpapa, kok.” ucap Sebastian singkat.
Antonio mengerutkan keningnya, dia mengendikkan bahunya acuh kemudian mengambil makanan miliknya dan memilih duduk lesehan di atas rerumputan dihadapan Natasya, sehingga posisinya kini tepat di depan perempuan itu.
“Gimana, dompet lo ada?” tanya Sebastian, dia kini tengah meminum minuman yang sempat dibeli Antonio tadi.
Antonio mengangguk, “Alhamdulillah, ada. Untungnya anak yang jualan jus nemuin tuh dompet, katanya ada dibawah gerobak. Dan, bagusnya lagi, si bapaknya itu jujur. Yaudah, gue kasih aja duit.” jelas Antonio, dia kini menikmati makanannya.
Sebastian mengangguk-angguk.
“Fano, mana? Belum balik juga tuh anak?” tanya Antonio, dia mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Delfano.
Sebastian menggeleng, “Biar gue susul aja.”
***
Delfano duduk di sebuah kursi dekat kolam ikan, dia menatap lurus ke depan dengan wajah dan tatapan tajamnya. Pikirannya masih tertuju pada kejadian beberapa saat yang lalu. Dia kesal, tentu. Cemburu? Jangan ditanya.
Saat kamu melihat orang yang kamu cinta tengah berpelukan dengan orang lain, apa kamu akan diam saja? Apa kamu tidak cemburu? Ya, meskipun orang itu adalah sahabatmu sendiri? Kalau jawabannya 'biasa saja'. Tolong pertanyaan kembali rasa cintamu itu.
“Anjir!” umpat Delfano.
Delfano sudah dua kali mendapati Sebastian dan Natasya yang tengah berpelukan. Hal itu membuatnya ragu dan kembali bertanya, sebenarnya perasaan Natasya kepadanya itu seperti apa.
“Fan,”
Delfano mendongak, dia menatap tajam lelaki datar di hadapannya. Bukannya menjawab, dia malah beranjak dari duduknya berniat pergi meninggalkan lelaki itu.
“Fano!”
Sebastian, lelaki itu dia. Dia menahan lengan Delfano yang langsung disentak oleh empunya.
“Lo mau kemana? Natasya butuh lo.”
Delfano terkekeh, dia menarik sudut bibirnya tersenyum kecut. “Butuh gue? Bukannya dia cuma butuh lo?” tanya Delfano, nada suaranya seperti mengejek. Entah mengejek pada Sebastian atau pada dirinya sendiri.
Sebastian menghela napas pelan, “Lo salah paham.”
“Apanya yang salah paham?” tanya Delfano, suaranya sudah naik satu oktaf. “Dua kali gue mergokin kalian pelukan, entah karena apa. Dan berkali-kali gue lihat Natasya yang diam-diam tatap lo, kalian saling tatap. Jadi, apanya yang salah paham?” lanjut Delfano.
Sebastian diam.
“Lo gak tahu apa-apa,”
Delfano tertawa, tawa mengejek. “Oh, gue gak tahu apa-apa. Terus apa yang gue gak tahu? Apa yang gue gak tahu dan cuma lo sama Tata yang tahu? Kasih tahu gue, biar gue tahu.”
“Tapi, ini gak segampang yang lo kira, Fan. Gue juga udah janji sama Syasya untuk gak bilang apapun.”
Delfano terlonjak. “Wow, gue kaget loh. Ternyata kalian berdua simpan rahasia gitu? Wow.”
“Fan—”
“Udahlah, bacot!”
Delfano langsung meninggalkan Sebastian yang hanya bisa diam menatap kepergian lelaki itu.