Friendshut [TAMAT]

Friendshut [TAMAT]
TAMAT



Antonio menatap tajam Bramantyo yang berdiri dihadapannya. Mereka berpapasan tepat saat dia hendak masuk ke rumahnya dan mendapati pria paruh baya itu sudah berdiri di depan gerbang rumah.


“Mau apa lagi?” tanya Antonio datar. Dia menatap malas dan datar Bramantyo yang berdiri dihadapannya.


Bramantyo cukup memaklumi sikap Antonio yang berbeda padanya. “Kamu tahu semuanya?” tanya Bramantyo yang membuat Antonio mengerutkan keningnya bingung. “Kamu tahu tentang sakitnya Nata?” jelas Bramantyo yang langsung dimengerti Antonio akan kemana arah pembicaraan ini.


Antonio tersenyum miris, sinis lebih tepatnya. Dia mengalihkan sejenak pandangannya dari Bramantyo, kemudian kembali menatap pria paruh baya itu. “Iya, kenapa?” tanya Antonio, belum sempat Bramantyo menjawab dia sudah lebih dulu menyelanya. “Oh... Atau jangan-jangan Ayah gak tahu?” tanya Antonio cepat.


Melihat keterdiaman Bramantyo membuat Antonio mengangguk yakin. “Oh.. Iya, aku lupa. Ayah kan sibuk, sibuk sama keluarga ayah yang lain. Jadi, keluarga yang disini gak keurus.” tukas Antonio, dia menarik sudut bibirnya.


“Anton—”


“Emang itu kenyataannya kan, yah? Ayah sibuk ngurusin Anya, ayah sibuk ngurusin keluarga ayah yang lain!” tukas Antonio, suaranya naik satu oktaf. “Sampai-sampai ayah gak tahu gimana keadaan anak ayah yang lain.” lirih Antonio, sedih jika mengingatnya.


Bramantyo mengerjap. Dia menggeleng. Apa yang diucapkan Antonio tak sepenuhnya benar.


Hingga dering ponsel milik Bramantyo membuyarkan semuanya. Bramantyo segera merogoh saku celana bahannya, mengeluarkan ponsel miliknya kemudian mengangkat panggilan telepon tersebut.


“Hallo?”


“...”


Rasanya kini semua sendi-sendi nya terasa lemas. Tubuhnya bergetar hebat seketika saat mendengar ucapan dari orang diseberang sana. Pikirannya kosong dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Bahkan, ponsel ditangannya pun kini sudah jatuh bebas dari genggamnya.


Antonio mengerutkan keningnya bingung. “Kenapa, yah?” tanya Antonio, dia mengguncang bahu Bramantyo mencoba menyadarkan kembali kesadaran pria itu yang sepertinya hilang beberapa saat.


Tubuh Bramantyo merosot kebawah dengan air mata yang kini mengalir di pipinya.


Antonio menggeleng, tak mendapat jawaban apapun. Dia mengambil ponsel milik Bramantyo yang jatuh tadi. Untung ponsel itu tak rusak atau apa, bahkan panggilan itu masih terhubung sehingga membuat dia langsung menempelkan ponsel itu ke telinganya.


“Hallo?”


“...”


Antonio menggeleng tak percaya mendengar kabar itu. Sama seperti Bramantyo, air mata kini jatuh dari matanya dengan getaran hebat yang ditimbulkannya tubuh.


“Enggak, enggak, enggak!”


***


Dokter tersebut melepas masker yang menutupi sebagian wajahnya. Dia menggeleng. “Donor ginjal, satu-satunya jalan untuk menyelamatkan nyawanya.” jawab dokter tersebut yang membuat Sebastian menghela napas pelan.


“Tapi, dok, saya masih belum bisa mendapatkan donor ginjal tersebut.”


“Tolong di usahakan, ya, karena hanya itu yang bisa menyelamatkan pasien.”


Sebastian mengangguk. “Iya, dok. Terima kasih.”


***


Beberapa hari kemudian.


Delfano mengerjapkan matanya, dia tersenyum tipis menatap Sebastian dan Antonio yang duduk disampingnya. “Makasih, ya, kalian selalu ada buat gue.” ucap Delfano, tulus.


Sebastian dan Antonio sudah seperti saudara bagi Delfano, bukan lagi hanya sekedar sahabat. Mereka jauh lebih hanya untuk sekedar sahabat. Beruntung, Delfano mempunyai mereka dihidupinya. Tak bisa dibayangkan bagaimana jadinya jika tak ada mereka.


Mereka mengangguk. “Bentar lagi lo operasi, tenangkan diri lo dulu. Rileks.” ucap Antonio, dia menyentuh pelan pundak Delfano.


Delfano mengangguk. “Makasih juga, berkat kalian ada juga orang yang mau donorin ginjalnya buat gue.” ucap Delfano, dia tersenyum sambil sedikit ******* bibirnya yang kering.


Antonio mengangguk, namun ekspresinya yang sendu membuat Delfano mengerutkan keningnya bingung. Delfano melirik Sebastian, wajah datar yang sepertinya biasa itu bahkan kini sudah berubah sendu. Seperti ada awan mendung yang menutupi wajah mereka.


“Kalian kenapa sih?” tanya Delfano, dia beranjak dari baringannya dan duduk di atas ranjang.


Bukannya langsung menjawab, Antonio malah memeluk Delfano, menumpahkan semua air mata yang sejak tadi tak bisa dia tahan. Pelukan serta tangisan Antonio semakin membuat Delfano kebingungan, apalagi saat ini dia juga melihat air mata yang jarang sekali keluar bahkan tak pernah keluar dari lelaki datar seperti Sebastian.


“Kalian kenapa sih?” tanya Delfano, Antonio masih memeluknya.


“Semuanya selesai, Fan, selesai.”


“Apanya?”


Antonio hanya menggeleng, sedangkan Sebastian hanya diam dengan air matanya. Delfano menggeleng, firasatnya berkata buruk. Dia berharap, semoga semuanya baik-baik saja.


Meskipun kenyataannya semuanya tak baik. Dan semuanya telah selesai.


...T A M A T...