Friendshut [TAMAT]

Friendshut [TAMAT]
F-ENAMPULUHDUA



Delfano membuka pelan pintu kamar inap Natasya, dia masuk dan tak menemukan siapapun disini, kecuali perempuan itu yang masih terlelap. Dia tersenyum kecil, tangannya terulur menyentuh rambut dan berakhir dipermukaan wajah perempuan itu, dia mengusapnya pelan.


“Maaf,” gumam Delfano, pelan.


Delfano terus memperhatikan wajah damai Natasya. Perempuan itu berjuta-juta kali lipat lebih cantik dari biasanya, hanya saja wajah cantik itu terlihat pucat kini—khas orang sakit. Dia kembali mengusap pelan wajah Natasya, namun sayang sepertinya usapannya kini membuat si empunya tak nyaman sampai kini mulai tersadar.


“Fano,” ucap Natasya, pelan. Dia memicingkan matanya, kemudian membuka matanya lebar saat Delfano tersenyum dihadapannya.


Delfano mengangguk. “Iya, ini gue.”


Natasya masih setia pada posisinya, berbaring di ranjang. “Lo ngapain disini?” tanya Natasya pelan, suaranya sedikit serak.


“Jenguk pacar gue,”


Natasya tersenyum mendengarnya. Dia melirik jam dinding yang ada di ruangan ini. 05.45 wib. Masih terlalu pagi untuk menjenguknya, bagaimana bisa lelaki itu masuk di jam segitu?


Delfano tahu kerutan di kening Natasya, dia mengusapnya pelan membuat perempuan itu menghilangkan kerutan itu. Delfano terkekeh, “Jangan keseringan mengerut gini keningnya, nanti banyak kerutan loh.” ucap Delfano.


Natasya mencebik pelan, “Gakpapa, gak masalah.” jawab Natasya sakit. “Kok kesini lagi sih? Pagi banget juga.”


Delfano duduk di kursi, dia menatap Natasya sambil menggenggam erat tangan perempuan itu. Dia menautkan kedua tangannya pada salah satu tangan Natasya yang terbebas dari infus. “Kenapa, emangnya? Masalah?” tanya Delfano, dia menaikkan kedua alisnya.


Natasya mengangguk, “Masalah. Kan seharusnya sekolah, sana sekolah!” titah Natasya, dia mengulum senyumnya.


“Masih pagi juga, mana ada sekolah udah buka.”


“Ada,”


“Dan, gue gak peduli,”


“Terus yang buat lo peduli apa?”


“Lo.”


Natasya terdiam, mereka sama-sama terdiam saling tatap.


“Gue gak mau kehilangan lo, Ta.” ucap Delfano pelan, tangannya semakin menggenggam erat tangan Natasya. Natasya bisa merasakannya, seperti ada rasa yang berbeda.


Ada rasa sedih dan sedikit menyayat dihatinya, dia mengerjapkan matanya mencoba menghalang air mata yang takutnya jatuh dari pelupuk matanya. “Gue juga gak mau kehilangan, lo. Delfano Juan Carlos.” balas Natasya, dia sama tersenyum seperti Delfano.


Entah kenapa, ada yang berbeda kali ini.


***


Delfano melirik jam di pergelangan tangannya. Sudah satu jam dia berada di sini. Dia berjalan menyusuri koridor rumah sakit yang mulai ramai, seperti biasa banyak pasien yang tengah duduk berjemur dibawah sinar mentari.


“Fano,”


Delfano menghentikan langkahnya, dia tersenyum menatap dua orang remaja sepertinya. Memang aneh. Kemarin dia dengan jelas marah-marah karena Sebastian dekat dengan Natasya. Tapi, sekarang? Dia malah tersenyum menatap lelaki itu. Rasanya tak etis, harus bertengkar dengan orang yang dekat dengan kita. Memang itu sudah alamiah. Tapi, ya—


“Lo sejak kapan disini?” tanya Antonio, dia mengerutkan keningnya menatap Delfano. Antonio meneliti penampilan Delfano— seragam.


Delfano mengangguk, dia segera merangkul kedua sahabatnya kemudian berjalan membuat mereka kini membalikkan tubuhnya berjalan kearah pintu keluar.


“Dih! Apaan sih lo, Fan? Gue mau ketemu Nana lah!” ketus Antonio, dia menepuk-nepuk tangan Delfano yang merangkulnya, mencoba melepaskan namun tak kunjung terlepas.


Sebastian mengendikkan sebelah bahunya yang dirangkul Delfano, dia membenarkan ucapan Antonio. “Iya, lo apaan sih!?”


Delfano menghentikan langkahnya, dia masih merangkul pundak kedua sahabatnya meskipun mereka terus mencoba melepaskan rangkulan itu. Ya, gimana gak mau dilepas coba. Mereka kini menjadi pusat perhatian orang-orang di rumah sakit. Kan tak etis rasanya jika mereka dikira belok.


Delfano melirik bergantian kedua sahabatnya. “Natasya gak bakalan mau ketemu kalian. Ujung-ujungnya apa? Kalian di usir.” ucap Delfano. “Udahlah, mending kita sekolah. Lagian kalian juga bakal disuruh gitu sama Tata.” lanjut Delfano.


“Sotoy, lo!”


Delfano mengendikkan bahunya, dia tetap menarik tubuh kedua sahabatnya sambil menuliskan pendengaran meskipun mereka terus memaksa.


Bodo amat.


***


Anya menyerahkan helm pada ojek online, dia memberikan beberapalembar untuk ongkosnya kesini. “Makasih, ya, pak.” ucap Anya yang diangguki bapak ojol tersebut.


Anya mengedarkan pandangannya sambil membenarkan tatanan rambutnya yang sedikit berantakan. Dia tersenyum lebar saat melihat mobil milik Delfano melaju melewatinya beberapa saat yang lalu. Dia segera melangkahkan kakinya menghampiri mobil itu, menunggu penumpang didalamnya keluar. Dan, hanya butuh beberapa detik mereka semua keluar. Antonio, Delfano dan tentunya Sebastian.


Sebastian memicingkan matanya, dia memutus kontak mata antara dirinya dan Anya. Dia kembali menatap Anya kemudian memutar bola mata jengah. “Menurut, lo?” tanya Sebastian, dia segera melangkahkan tanpa mempedulikan Anya yang kini mendengus karenanya.


Anya tersenyum kecut, dia menatap Delfano yang hanya diberi tatapan 'Ya, sorry, emang gitu sifat nya'. Dia menghela napas dan saat tatapannya tertuju pada Antonio, seketika itu juga dia terdiam.


Anya baru sadar sekarang. Sekarang Antonio sudah tahu siapa dirinya.


***


“Anton!”


Antonio menghentikan langkahnya, dia tahu siapa pemilik suara itu. Dia hanya berhenti, tanpa niatan membalikkan tubuhnya.


Anya, pemilik suara itu bergegas menghampiri Antonio. Dia berdiri didepan lelaki itu. Dia mendongak, menatap wajah Antonio. Tak seperti biasa, wajah Antonio kini datar dan terkesan acuh terhadapnya. Dia mengalihkan pandangannya, meneguk air liurnya susah, kemudian kembali menatap Antonio.


“Gue mohon, jangan kasih tahu siapapun.”


Baik Antonio maupun Anya, mereka tahu kemana arah pembicaraan ini. Pembicaraan yang tentunya berhubungan dengan kejadian semalam.


Antonio diam, membuat Anya ikut terdiam menunggu jawaban apa yang akan diberikan lelaki itu. Tapi, bukannya jawaban seperti yang diharapkannya melainkan sebuah pertanyaan yang terlontar dari mulut lelaki itu.


“Natasya tahu?”


Anya menggeleng.


Antonio menarik sudut bibirnya, tersenyum sinis. “Gimana bisa dia gak tahu, sedangkan lo tahu.” ucap Antonio tak percaya, dia menggeleng pelan. “Gak masuk akal.” lanjut Antonio.


“Gue gak bisa jelasin itu sekarang. Yang gue mau, lo jangan kasih tahu siapapun, gue mohon.” ucap Anya, dia sedikit memelas meminta ini semua.


“Gue gak janji,”


“Lo harus janji,”


“Bukan hak lo, atur-atur gue.”


Setelah mengucapkan itu, Antonio bergegas pergi meninggalkan Anya yang kini terdiam menatap lurus ke depan. Wajah Anya sedikit memerah karena marah, kesal dan perasaan yang bercampur aduk di hatinya.


“Semua gara-gara lo!” dengus Anya.


Jangan salahkan dia yang semakin membenci Natasya. Sudah jelas terpampang di matanya. Karena Natasya, perlahan semuanya menjauh dari dia. Dulu ayahnya, Sebastian dan kini Antonio.


***


“Fano!”


Delfano menghentikan langkahnya, dia membalikkan tubuhnya dan menatap Kinara yang tengah berjalan menghampirinya. Dia menaikan sebelah alisnya, seolah bertanya pada perempuan itu.


“Natasya gak sekolah lagi?” tanya Kinara, dia sudah ada di hadapan Delfano.


Delfano menggeleng, “Enggak. Dia masih di rawat.”


“Dimana?” tanya Kinara. “Soalnya gue ada niatan gitu buat jenguk dia. Sedangkan, dari kemarin, hp nya gak aktif.” jelas Kinara.


“Di rumah sakit *** ”


Kinara mengangguk-angguk. “Makasih, ya.”


“Yoi.”


Kinara sebenarnya ragu untuk mengatakan ini. Tapi, hatinya tak bisa tenang setiap kali dia berhadapan dengan Delfano. Bukan, bukan rasa tak tenang yang gimana-gimana. Tapi, lebih ke yang menjerumus khawatir.


“Fano,”


Delfano yang baru saja melangkah hendak pergi kembali membalikkan tubuhnya, mengerutkan kening bingung melihat keraguan di wajah Kinara. “Kenapa, lo?” tanya Delfano.


“Gue, gue cuma mau bilang. Apapun yang terjadi nanti, jangan sampai lo sakiti Natasya. Jangan percaya sama omong kosong orang, percaya sama hati lo aja.” ucap Kinara yang membuat Delfano semakin kebingungan.


“Maksud lo apa sih?”


Kinara tersenyum, dia mengendikkan bahunya. “Lo juga bakal tahu sendiri nanti.” jawab Kinara. “Yaudah, gue cabut duluan, ya. Bye.” lanjut Kinara kemudian bergegas pergi meninggalkan Delfano dengan berbagai pertanyaan di otak lelaki itu.


“Maksudnya?”