![Friendshut [TAMAT]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/friendshut--tamat-.webp)
Natasya keluar dari kelasnya, dia membawa bekal makanan di tangannya. Langkah kakinya terarah menuju kelas Delfano berada. Dia tersenyum lebar mendapati Delfano yang baru saja keluar dari kelasnya.
“Eh, udah disini aja.” ucap Delfano, lelaki itu sedikit terkejut mendapati Natasya yang sudah berdiri di depan kelasnya.
“Iyalah. Lihat, gue bawa apa.” tukas Natasya, menunjukkan kotak bekal makanan di tangannya sambil tersenyum lebar.
Delfano segera merampas bekal tersebut, membukanya dan langsung menghirup aroma makanan yang menguar dari makanan tersebut. “Wah, pasti enak banget nih.” ucap Delfano dengan wajahnya yang seolah tengah membayangkan kelezatan makanan di tangannya.
“Iya, dong. Yaudah, yuk, ah!”
Natasya segera menarik tangan Delfano menuju kantin seperti biasa. Mereka melangkahkan kakinya sambil sesekali Delfano yang mencoba mencomot makanan tersebut yang langsung dihentikan Natasya. “Gak boleh, nanti bareng-bareng di sana.” tukas Natasya, segera merebut bekal makan tersebut yang membuat Delfano mendengus.
Delfano seperti biasa selalu merangkul pundak Natasya, membuat perempuan itu merasa nyaman dan aman diperlakukan seperti itu.
Mereka sampai di kantin dan langsung melangkah menuju sahabat mereka yang sudah menunggu di meja pojok kantin. “Hai, coba lihat gue bawa apa.” tukas Natasya, dia meletakkan kotak bekal makan tersebut di atas meja, di hadapan mereka.
Antonio dan Sebastian saling tatap, memberikan sebuah isyarat yang membuat Natasya dan Delfano mengerutkan keningnya bingung. Mata Natasya beralih pada sebuah bekal makanan yang ada di hadapan mereka dan tentunya bukan miliknya.
“Kalian udah makan, ya?” tanya Natasya pelan. Dia menarik kembali bekal makanan yang dibawanya, sedikit kecewa tentunya mengetahui fakta sahabatnya sudah lebih dulu memakan makanan yang entah siapa pemilik bekal tersebut.
“Gimana, enakkan?”
Mereka menoleh kearah sumber suara. Di sana, Anya dengan senyum lebarnya membawa sebuah nampan berisi 3 botol minuman. Natasya sekarang tahu, siapa pemilik bekal makanan tersebut.
Anya duduk disamping Antonio, mengerutkan keningnya melihat keterdiaman diantara mereka. “Kenapa?” tanya Anya, bingung yang dibuat-buat.
“Lo bawa bekal, Nya?” tanya Delfano yang langsung diangguki oleh Anya. Delfano tersenyum lebar kemudian mendengus, “Gue gak di sisain, ah!” lanjut Delfano yang membuat Natasya seketika menoleh kearah lelaki itu.
Coba... Coba. Coba jelaskan maksud ucapan Delfano tadi itu apa. Maksudnya lelaki itu mau makan makanan buatan Anya dan melupakan makanan yang dibawa Natasya?—padahal beberapa menit yang lalu lelaki itu sangat excited untuk mencicipi bekal makan Natasya itu.
“Untung Tata bawa, jadi punya Tata aja deh.“ sambung Delfano yang langsung menarik bekal makanan milik Natasya yang sedari tadi didekap perempuan itu.
Tanpa menolak, Natasya memberikan bekal tersebut dan langsung dibuka seketika oleh Delfano. “Aduh... Gila sih, ini aromanya bikin perut gue makin lapar.” ucap Delfano, menghirup aroma yang menguar dari makanan tersebut.
Natasya tersenyum lebar, dia senang karena ternyata Delfano mau memakan makanannya. Btw, dia hari ini membawa bekal nasi goreng butter yang dicampur dengan ayam geprek suir yang menjadi andalannya. Dan, tolong ingat ini! Dia sendiri lah yang membuat makanan tersebut, tanpa campur tangan siapapun.
“Gila sih, fix gak pernah berubah rasanya. Tetap nampol!” seru Delfano, menunjukkan jempolnya dengan mulut masih di penuhi makanan. Dasar Delfano.
Natasya tersenyum lebar.
“Bagi-bagi!” dengus Sebastian, dia mencoba menarik bekal makanan yang tengah dinikmati Delfano. Namun, dengan cepat Delfano menjauhkan bekal tersebut dari jangkauan Sebastian, bahkan dari Antonio.
“Enggak... Enggak... Orang gue aja itu gak di sisain.” tolak Delfano, dia menggeleng keras sambil terus menikmati makanan Natasya tersebut dan masih terus berusaha menjauhkannya dari jangkauan dua lelaki itu.
“Gue minta lah. Itu pasti enak banget.”
“Gak ada yang bisa ngalahin nasi goreng ayam geprek nya Nana tuh, bagi lah, Fan.”
Natasya terkekeh melihat itu semua, dia senang saat mengetahui fakta bahwa dia masih di nomor satukan oleh ketiga sahabatnya itu. Ya, meskipun tak bisa dipungkiri ada bagian hati kecilnya yang was-was setelah mendengar pernyataan yang dilontarkan Kinara saat itu. Iya, tentang sesuatu yang buruk, bisa saja terjadi diantara persahabatan mereka.
Sedangkan, Anya yang melihat itu mendengus pelan, dia menatap tak suka ketiga lelaki itu, terutama Sebastian yang sepertinya sangat menginginkan bekal makan tersebut. Oh, ayolah, apa dia harus kalah juga dalam urusan makanan? Dulu kasih sayang dan sekarang makanan? Apa dia ditakdirkan untuk selalu kalah?
***
Natasya menatap pantulan dirinya di cermin kamar mandi sekolahnya, senyuman tak pernah putus dari wajahnya. Dia menumpu kedua tangannya di pinggir wastafel. Pikirannya melayang ke kejadian beberapa menit lalu, lebih tepatnya saat melihat Delfano yang dengan lahapnya menyantap bekal makanannya. Sebenarnya bukan hanya Delfano, tapi dua sahabatnya yang lain pun sama lahapnya dengan lelaki itu. Tapi, perasaan senang yang dia rasakan berbeda jika melihat Delfano yang lahap menyantap bekalnya tersebut.
“Ah... Gila sih gue. Masa suka sama sahabat sendiri sih!?”
Natasya mengerang pelan, tersenyum lebar sambil kembali membayangkan wajah Delfano yang entah kenapa selalu terbayang-bayang di pikirannya. Tangannya bergerak menyalakan keran, membasuh tangannya yang beberapa menit lalu baru saja di keringkannya. Ini nih, ini efek dari kasmaran. Jadi, agak gitu deh.
Orang itu keluar dari salah satu bilik di toilet ini, menatap pintu keluar kamar mandi yang baru saja ditutup.
“Oh... Dia suka sama sahabatnya?” gumam orang itu, bertanya pada dirinya sendiri setelah mendengar pernyataan dari Natasya yang baru saja di dengarnya.
Orang itu menyenderkan tubuhnya, mengerutkan keningnya. “Tapi, siapa?” gumamnya pelan sambil terus mengernyit memikirkan jawaban atas pertanyaannya.
Orang itu menarik sudut bibirnya, tersenyum misterius. “Okay, kita liat siapa cowok itu. Dan... Lo bakalan kalah kali ini, gue pastiin itu.” lanjut orang itu dengan kekehan di akhir kalimatnya.
Tubuhnya dia putar, menatap cermin besar yang menampilkan wajahnya dengan seringai misterius. “Gue gak mau kalah, lagi. Gue, Anya Gerral Bramantyo, gak akan kalah kali, lagi.”
***
Delfano menatap langit siang ini yang lumayan cerah tanpa awan-awan yang menghiasi langit biru tersebut. Kedua tangannya diletakkan di bawah kepalanya. Saat ini, dia sedang berbaring di atas sofa buluk di rooftop sekolahnya.
Matanya sedikit memicing, namun kemudian perlahan terpejam sambil menarik sudut bibirnya, tersenyum semakin lebar membuatnya sudut matanya menampilkan kerutan.
“Lo kenapa sih Fan, senyum-senyum gak jelas gitu.” ucap Antonio, lelaki yang baru saja sampai di rooftop dan mendapati Delfano yang tengah tersenyum lebar seorang diri di tempat ini.
“Kesambet lo?” tukas Antonio, dia melangkahkan kakinya kearah pagar pembatas rooftop, memperhatikan keadaan sekolahnya dari atas.
Mata Delfano terbuka, senyumnya semakin lebar kala melihat punggung Antonio yang membelakanginya. “Ton, lo percaya gak, kalo cinta tuh ada?” tanya Delfano yang membuat Antonio memutar tubuhnya.
Kini punggung Antonio bersandar pada pagar pembatas tersebut, “Maksud, lo?” tanya Antonio, dia masih belum bisa mencerna pertanyaan Delfano tersebut.
“Ya... Maksud gue, lo percaya atau enggak gitu, kalau cinta tuh emang bener-bener ada.”
Belum sempat Antonio menjawab pertanyaan tersebut, pintu rooftop lebih dulu dibuka seseorang. Sebastian, pelakunya yang berjalan dengan santainya dan memilih duduk di sofa kosong, menatap bingung Delfano dan Antonio.
Antonio tersenyum simpul, dia menatap Sebastian. “Lo tanya aja sama Tian, kira-kira dia percaya atau enggak. Secara dia kan kaku banget.” tukas Antonio yang membuat Sebastian merasa bingung saat namanya dibawa.
“Percaya apaan?” tanya Sebastian, keningnya mengerut menatap bingung Antonio dan Delfano.
“Lo percaya, cinta itu ada?”
“Percaya,”
Jawaban Sebastian membuat Antonio dan Delfano terkejut bukan main. Seorang Sebastian, lelaki yang terkenal kaku dan anti dengan namanya 'wanita' memberikan jawaban yang diluar ekspektasi mereka.
Sebastian mengangguk, “Iya, gue percaya. Ton, kan di kelas kita ada cewek yang namanya Cinta.”
Oh my God.
Ayolah, ternyata lelaki kaku seperti Sebastian akan tetap kaku.
Ayo, dong! Kita sedang membahas cinta yang dalam artian sesungguhnya. Bukan cinta nama seseorang. Come on, Yan. Lo kok kaku banget sih! Hadeh.
Baik Antonio dan Delfano mendengus seketika mendengar ucapan Sebastian, membuat Sebastian yang melihat itu menarik sudut bibirnya tersenyum simpul.
“Yaelah, becanda kali.” ucap Sebastian, dia terkekeh. “Lagian kenapa sih, kok tiba-tiba ngomongin cinta?” lanjut Sebastian.
Antonio mengendikkn bahunya, dia menunjuk Delfano dengan dagunya. Dia berjalan kearah sofa yang di tiduri Delfano, kemudian mendudukkan bokongnya di sana. Delfano langsung mendudukkan tubuhnya, menyugar rambutnya.
“Ya, tanya aja.” jawab Delfano asal.
“Gak percaya gue,”
Delfano terkekeh, dia menatap bergantian Antonio dan Sebastian. “Suka sama sahabat sendiri boleh gak sih?” tanya Delfano yang seketika membuat mereka terdiam