![Friendshut [TAMAT]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/friendshut--tamat-.webp)
“Ada apa?” tanya Antonio cemas, dia baru saja sampai di rumah sakit kembali setelah pulang terlebih dahulu. Niatnya, dia dan Sebastian akan bergantian menjaga Delfano sehingga membuat dia memutuskan pulang lebih dulu daripada Sebastian. Namun, tiba-tiba Sebastian menghubungi Antonio dan memintanya kembali datang.
Sebastian beranjak dari duduknya, dia mengulum bibirnya yang terasa kering. Jangan lupakan wajah cemas yang tak bisa dihilangkan dari wajahnya.
Sebastian menggeleng membuat Antonio semakin tak paham. Ada, apa?
“Delfano kenapa? Dia gak kenapa-napa kan?”
Sebastian menggeleng. “Bukan Fano, tapi Natasya.”
“Apa!?”
Sebastian mengangguk. Dia menjatuhkan tubuhnya kembali di atas kursi didepan ruangan Delfano. Dia menatap lurus ke depan dengan pikiran yang sulit diartikan. Antonio menggeleng, dia takut mendengar kalimat apa yang akan terucap dari mulut Sebastian, dia duduk disamping Sebastian.
“Natasya tiba-tiba drop. Gak ada lagi yang bisa dilakuin, dia—”
“Natasya kenapa?”
“Dia...”
***
Emma menggenggam erat tangan Natasya yang terasa dingin, air mata tak henti-hentinya mengalir di pipinya. Mulutnya tak henti-hentinya berdoa, berharap datangnya keajaiban itu.
Emma merogoh ponsel di tasnya yang tak henti-hentinya berdering. Di sana, tertera nama Bramantyo—suaminya. Dengan cepat, dia segera menggeser tombol hijau—mengangkat panggilan tersebut.
“Halo?”
“...”
“Natasya, dia—dia drop mas. Sekarang kita akan ke Amerika supaya—”
Emma tak bisa melanjutkan kalimatnya, hanya isakan penuh pilu yang bisa dilakukannya kini. Hingga tiba-tiba ponsel di tangannya terjatuh saat tak lagi mendengar suara detak jantung yang berasal dari layar monitor.
“Natasya... Natasya...”
***
Delfano mengerutkan keningnya saat melihat wajah Antonio dan Sebastian. Dia beranjak untuk duduk di atas ranjang. “Kalian kenapa?” tanya Delfano, dia menatap bingung mereka yang masih belum mau menjawab pertanyaannya.
“Ton?”
Antonio mendongak, dia melirik Sebastian meminta persetujuan dari lelaki itu. Dia berjalan perlahan menghampiri Delfano, tepat saat dia sudah berdiri dihadapan Delfano, rasa sesak yang dia rasakan sejak tadi semakin menjadi.
“Kenapa, sih?” tanya Delfano, dia gemas sendiri.
“Fan, Natasya—”
“—Natasya kenapa!?”
Antonio menghela napas kasar. “Dia, pergi ke Amerika. Dia—”
“What!?” pekik Delfano, dia menggeleng tak percaya.
“Fan, dia—”
“Dia pergi? Amerika?” tanya Delfano, dia tak percaya. “Dia pergi dan kalian tahu, sedangkan gue pacarnya sendiri, enggak?” tanya Delfano, dia menatap tajam Sebastian dan Antonio.
Delfano tak punya siapapun disini. Hanya mereka dan Natasya yang dia punya. Natasya, perempuan yang memiliki arti penting dalam hidupnya. Menghilang tanpa kabar dan sekarang saat dia tahu dimana perempuan itu, kenyataan malah menyakitinya. Ayolah, apa takdir tengah mempermainkannya? Kenapa takdir tak pernah berpihak padanya?
“Fan—”
“Dia anggap gue apa sih?” sela Delfano, dia tak membiarkan siapapun berkata. “Keadaan gue lagi begini, gue butuh dia. Sedangkan, dia? Hilang tanpa kabar dan sekarang pergi tanpa pamit?”
“Fano, Natasya—”
“Keluar!”
“Fan, lo harus dengerin kita dulu?” ucap Sebastian, dia mencoba menjelaskan semuanya. Dia tak mau memperkeruh keadaan. Delfano hanya tak tahu cerita aslinya seperti apa.
“Jelasin, apa? Jelasin kalau pacar gue sendiri lebih milih ngabarin kalian, daripada gue? Pacarnya sendiri. Gitu!?”
“Fan, lo salah paham. Nana—”
“Keluar! Gue bilang keluar, ya, keluar!”
Huh!
***
“Fan,” panggil Anya yang tak mendapat respon apapun dari Delfano. Dia mengerutkan keningnya, menyimpan parsel berisi buah-buahan yang sempat dibelinya tadi sebelum kesini di atas meja.
Anya berjalan menghampiri Delfano.
“Delfano?”
Delfano terlonjak saat Anya menyentuh pundaknya yang terbalut baju rumah sakit. Anya tersenyum, sedangkan Delfano menatapnya bingung.
“Kemarin pada heboh banget, lo katanya sakit dan dirawat disini. Makanya, gue kesini mau jenguk lo.” ucap Anya, dia seolah menjawab pertanyaan yang sepertinya timbul dibenak Delfano sejak kedatangannya.
Delfano mengangguk, dia tersenyum tipis. “Thank you,” ucap Delfano, singkat. Dia kembali menatap lurus ke depan.
Anya tersenyum miris, dia menyentuh kembali pundak Delfano membuat lelaki itu menoleh kearahnya. “Lo baik-baik aja?” tanya Anya, dia sedikit memiringkan kepalanya menatap Delfano.
“Maybe,”
“Mau cerita?”
Delfano menggeleng.
Anya menghela napas pelan, dia tersenyum mencoba memakluminya. “Oh, iya, gue bawa buah-buahan buat lo. Gue ambilin, ya?” tawar Anya dan tanpa menunggu jawaban dari lelaki itu, dia segera mengambil buah yang dibawanya.
Delfano memutar kursi rodanya, menatap Anya yang tengah fokus mengupas buah apel. Anya kembali ke hadapannya dengan potongan apel yang dibawanya itu. “Gue suapi, ya.” ucap Anya, dia langsung menyuapkan potongan buah apel tersebut yang langsung dimakan oleh Delfano.
Delfano tak henti-hentinya menatap Anya, berdebar saat melihat senyuman perempuan itu yang sama seperti Natasya. Ah, kenapa harus Natasya lagi?
“Makasih, Nya.” ucap Delfano tulus, dia tersenyum simpul.
Anya mengangguk. Dia kembali menyuapi Delfano.
***
Anya keluar dari ruangan Delfano dan terkejut saat melihat Sebastian yang sudah berdiri dihadapannya. Tak bisa dipungkiri, berada didekat Sebastian membuat hatinya bergetar. Dia tak munafik, sakit rasanya saat mendapat penolakan, tapi sepertinya cinta nya itu cukup besar sehingga membuat rasa sakit itu sedikit terkikis.
Anya mencoba acuh, dia berniat melenggang begitu saja meninggalkan Sebastian yang terus memperhatikannya. Namun, baru saja kakinya melangkah, Sebastian mencegahnya.
“Lo ngapain disini?” tanya Sebastian, dia mencekal lengan Anya.
Anya melepas cekalan tersenyum, menatap ke depan. “Jenguk Fano.” Jawab Anya, dia mencoba bersikap acuh.
Sebastian menarik sudut bibirnya membuat Anya mengerutkan keningnya bingung. “Cuma jenguk doang kan? Gak cuci otak dia?” tanya sinis Sebastian.
Oh ayolah, sejak kapan Sebastian banyak bicara dan tanya?
“Maksud lo apa?” tanya Anya, dia kini menatap Sebastian tak paham.
“Maksud gue? Bukannya lo tahu kalau Natasya pergi ke Amerika. Bisa aja kan, lo cuci otak Fano buat benci sama Syasya. Supaya lo punya temen buat benci sama Syasya.”
Anya menganga. Dia menggeleng tak percaya. “Lo pikir, gue sepicik itu? Oh my God.”
“Emang nyatanya gitu kan? Lo emang cewek licik, cewek—”
“Stop!”
“Kenapa? This is true. Lo licik, egois, pen—”
“Stop! Lo gak tahu apapun, lo cuma ngeliat dari sisi lo. Bukan dari sisi gue.”
Sebastian menggeleng. “Apa yang gue lihat, itu bener dan itu kenyataannya. Jadi, gue gak perlu, lihat dari sisi lo ataupun—”
“Lo gak tahu apapun. Lo gak tahu, alasan gue benci sama Natasya karena apa?” tukas Anya, napasnya memburu karena marah.
“Lo mau tahu?” tanya Anya yang hanya membuat Sebastian diam.
“Ok, gue kasih tau. Gue, Anya Bramantyo.” ucap Anya pelan, dia tersenyum sinis. “Bramantyo?” tukas Anya, dia mengendikan bahunya mencoba menyadarkan Sebastian kata apa yang baru saja diucapkannya.
“Bramantyo, ayah Natasya.”
Sebastian sadar, iya. Bramantyo, nama ayah Natasya.
“Dia juga bokap gue,”
Deg.