![Friendshut [TAMAT]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/friendshut--tamat-.webp)
“Ton, lomau minta gue temenin kemana?” tanya Natasya, dia melirik Antonio yang berjalan di samping kirinya membuat yang lain ikut menatap lelaki itu yang hanya menampilkan wajah penuh tanya.
Antonio melirik satu persatu, mulai dari Sebastian, Delfano dan Anya yang menuntut jawabannya. “Kenapa? Biasa aja dong mukanya.” tukas Antonio, dia terkekeh sambil mengendikkan bahunya.
Delfano mendengus, dia segera mengapit kepala Antonio diantara lengannya membuat lelaki itu meringis sambil berusaha melepaskan apitan Delfano itu.
Antonio melepas apitan Delfano dengan kasar, dia menatap tajam Delfano yang terkekeh. “Sakit bg, ah!” dengus Antonio, dia membenarkan kerah seragam juga rambutnya.
Antonio melirik Natasya, tersenyum lebar. “Enggak, Na, gue bercanda aja tadi.” balas Antonio, dia menaikkan kedua alisnya.
“Ya elah, gue kira beneran ternyata cuma bercanda.” tukas Natasya, dia segera bersandar pada mobil Sebastian memikirkan akan pulang dengan siapa dia kali ini. Delfano atau Sebastian? Pasalnya, dia bingung harus ikut dengan siapa. Sebenarnya dia ingin pulang bersama Delfano, tapi dia terlalu ta-kut? Takut-takut ada kesalahpahaman saat dimana dia ingin selalu bersama lelaki itu.
“Sya, lo pulangnya enggak sama gue dulu, ya. Soalnya gue ada urusan, gak bisa anterin lo. Gak papa?” tanya Sebastian, dia menaikkan sebelah alisnya menunggu jawaban Natasya.
Natasya terdiam, dalam hati dia bersorak senang saat Sebastian menyatakan pernyataan itu. Artinya, dia bisa bersama Delfano begitu saja tanpa memikirkan Sebastian dan Antonio. Pasalnya dia punya alasan untuk menolak Antonio, karena lelaki itu membawa motor dan Sebastian yang ternyata ada urusan. Dia yakin, alasan itu termasuk logis karena memang alasan seperti itu yang dilontarkan. Baru saja dia hendak bicara, Anya lebih dulu menyelanya.
“Fan, gue pulang sama lo ya? Gak papa, kan?” tanya Anya, dia menatap Delfano dengan senyumannya membuat Natasya mengerutkan kening melihat senyuman yang selalu ditunjukkan Anya.
Delfano diam sesaat, bergetar melihat senyum Anya itu. “Boleh, lo sama gue aja.” jawab Delfano membuat Natasya membelalakkan matanya mendengar jawaban lelaki itu.
Sedangkan, Anya semakin melebarkan senyumnya, melirik sekilas Natasya yang memilih mengalihkan pandangannya. Dia senang, rencananya berhasil. Memang ini niatnya, mendahului Natasya saat perempuan itu hendak bicara. Dia sudah tahu dan yakin, Natasya akan meminta Delfano pulang bersama dan sayangnya dia lebih dulu satu langkah didepan Natasya. Otaknya lebih cepat dibanding perempuan itu and see? Anya menang kali ini.
Sejak Anya mengumbar kan senyumannya itu, sejak itu pula ketiga lelaki itu terus menatap Anya tepatnya di senyuman perempuan itu yang anehnya membuat hati mereka bergetar.
Natasya mengalihkan pandangannya kembali, semakin mengerutkan kening saat ketiga sahabatnya malah dengan terang-terangan memperhatikan Anya dengan tatapan kagum mereka. Dia berdehem lumayan keras, membuat semuanya kembali ke kesadaran masing-masing dan menatap Natasya.
Delfano menyugar rambutnya, berdehem pelan kemudian menatap Natasya. “Lo pulang sama Anton aja, ya, gue juga ada urusan soalnya.” ucap Delfano membuat Natasya mengerutkan keningnya.
“Urusan apa lo?” tanya Sebastian, dia mengerutkan keningnya dan menatap tak suka Delfano dan Anya yang hanya diam menatap lelaki itu.
“Ada lah,”
“Emang searah sama dia?” tanya Sebastian, lagi sambil menunjuk Anya dengan dagunya. “Perasaan dia searah sama rumah gue dan beda jalur sama rumah lo.” lanjut Sebastian.
“Oh... Gue udah pindah, gue pindah ke apartemen. Kebetulan satu jalur sama Delfano.” jawab Anya, dia menjawab pertanyaan yang dilontarkan Sebastian.
“Tapi—”
“—udahlah, Yan, katanya lo ada perlu. Ayo, cepetan pulang sana.” potong Natasya, melerai peraduan mulut yang dilakukan Sebastian, lelaki itu tak kan berhenti jika sudah berhubungan dengan Natasya.
Natasya melirik sinis Delfano, “Lagian siapa juga yang mau nebeng sama lo? Orang niatnya gue pengen naik motor sama Anton, udah lama gak naik motor.” sambung Natasya, dia berjalan pelan kearah Antonio dan mengapit lengan lelaki itu.
Delfano diam —memperhatikan tangan Natasya yang mengapit lengan Antonio—, namun kemudian mengendikkan bahunya. “Yaudah.” balas Delfano, dia segera berjalan kearah mobilnya sambil menggandeng lengan Anya, menuntun perempuan itu masuk ke mobilnya.
Natasya hanya bisa melihat itu semua dalam diam, dia diam memperhatikan Delfano yang mulai memasuki mobilnya. Begitupun Sebastian yang juga sudah memasuki mobilnya, melajukan mobilnya lebih dulu meninggalkan sekolah diikuti Delfano dibelakangnya.
Natasya terus memperhatikan mobil sahabatnya yang sudah hilang dari penglihatannya. Dia menoleh saat Antonio menepuk bahunya dan mengulurkan helm yang hendak digunakan perempuan itu.
“Pakein, tolong.” pinta Natasya, dia sedang malas saat ini setelah melihat Delfano tadi.
Antonio terkekeh, mendengus pelan sambil mulai memakaikan helm di tangannya ke kepala Natasya. “Manja banget,” ucap Antonio, mengakhiri kegiatannya dengan mengaitkan helm tersebut agar tetap aman di kepala perempuan itu.
Natasya mencebikkan bibirnya, “Biarin. Makasih, ya.” ucap Natasya, dia mengeratkan tasnya sambil menunggu Antonio selesai memakai helm dan memarkirkan motornya.
“Yuk!”
Natasya mulai menaiki motor Antonio, berpegangan pada pundak lelaki itu untuk keamanan. Tapi, beberapa saat setelah dia duduk dengan nyaman di motor lelaki itu, masih belum ada pergerakan sama sekali dari motor tersebut.
“Kenapa?” tanya Natasya, dia menaikkan sebelah alisnya sambil sedikit mencondongkan tubuhnya menatap Antonio dari samping.
Bukannya menjawab, Antonio malah melepas pegangannya pada setiran, memilih membuka jaketnya, membuat motor sedikit bergerak yang pada akhirnya Natasya sedikit waspada karena takut terjatuh.
Antonio menyerahkan jaketnya, “Nih, tutupin pahanya. Jadi tontonan gratis nanti.” ucap Antonio membuat Natasya melirik pahanya yang lebih terekspos karena posisinya sekarang.
Dengan senyuman, Natasya menerima jaket milik Antonio mulai mengikat di pinggangnya untuk menutupi pahanya. “Makasih,” ucap Natasya sambil memeluk perlahan Antonio dan menjatuhkan kepalanya di pundak lelaki itu meskipun sedikit terhalang helm yang dikenakannya.
Antonio tak menjawab, dia hanya tersenyum senang saat tangan Natasya melingkarkan tangannya di pinggang lelaki itu.
***
Anya melirik Delfano yang terfokus dengan jalanan di depannya, belum sedikitpun ada percakapan diantara mereka sejak memasuki mobil ini. Keduanya sama-sama diam, tak ada yang memulai obrolan lebih dulu atau memang tak berniat?
Delfano masih sibuk dengan pikirannya, dia melajukan santai mobilnya dengan berbagai pernyataan dan pertanyaan yang hinggap di pikirannya.
Anya mengerutkan keningnya, dia berdehem mencoba mencari perhatian Delfano yang sejak tadi mengacuhkannya. “Makasih, ya, Fan.” ucap Anya dengan senyuman saat Delfano menoleh kearahnya.
Anya mengangguk, dia sedikit membasahi bibirnya kemudian sedikit memutar tubuhnya menghadap Delfano, membuat Delfano yang ditatap secara langsung seperti itu mengerutkan keningnya.
“Kenapa, lo?” tanya Delfano aneh, dia sedikit terkekeh sambil melirik sekilas Anya.
Anya menggeleng, “Gakpapa, pengen aja.” jawab Anya yang hanya mendapat anggukan dari Delfano.
“Gue boleh nanya gak?”
“Nanya apa? Sorry... Sorry aja nih, ya, meskipun gue banyak pengalaman sama cewek-cewek, gue masih gak paham sama sesuatu tentang cewek, kalo lo mau tau itu.”
Anya terkekeh mendengar jawaban Delfano.
Delfano itu tipe lelaki playboy yang kebanyakan ngomongnya, entah itu omongan tentang gombalan atau hal lainnya yang jelas lelaki itu banyak omong, menurut Anya. Tapi dia cukup senang, senang karena diantara ketiga sahabat Natasya, lelaki inilah yang paling mudah di dekatinya, meskipun masih Sebastian nomor satu di pikirannya.
“Lo udah sahabatan berapa lama?”
“Sama siapa? Tian, Anton atau Tata?”
“Semuanya,”
Delfano mengangguk. Dia menghentikan mobilnya saat APILL menunjukkan warna merah. Dia melirik Anya yang menunggu jawaban darinya.
“Kalo sama Tian, itu sejak gue masih kecil banget. Masih segede gini nih.” ucap Delfano sambil terkekeh, membayangkan tubuhnya masih sebatas lutut membuat Anya yang mendengarnya terkekeh.
“Kita tuh kayak sohib kental gitu, soalnya dimana ada dia pasti ada gue. Ya, secara keluarga kita punya kerjasama gitu, jadi kita sering banget ketemu. Dan, temenan mungkin?”
Delfano mulai menyiapkan kembali mesin mobilnya, saat angka lampu merah sudah menunjukkan angka sepuluh yang artinya lampu merah akan segera berakhir dan berganti lampu hijau.
“Terus, sama Natasya?”
“Aduh, pengen ketawa rasanya kalo ingat gimana pertama kalinya ketemu perempuan itu.” ucap Delfano tanpa bisa menyembunyikan tawanya saat otaknya harus mengingat kembali kejadian pertama bertemu Natasya.
“Kenapa emangnya?”
Flashback on
“Bagusan punya Fano, punya Tian mah jelek.” cibir Delfano kecil, dia berjongkok kembali memainkan mainan mobilnya di temani Sebastian kecil yang juga melakukan hal yang sama sepertinya.
Delfano mendengus, dia menatap jengah Sebastian yang menurutnya tak asik. Sebastian itu terlalu diam, membuatnya bosan sekaligus kesal saat omongannya selalu dibalas singkat oleh Sebastian.
“ANTON! BALIKIN BONEKA NANA!”
Teriakan itu sukses membuat Delfano menoleh, mencari sumber suara teriakan itu. Matanya tak henti-hentinya mencari keberadaan pemilik suara itu diantara anak-anak lain seusianya di sekolahnya ini. TK Al-Iftidah.
Matanya menangkap sosok gadis mungil dengan rambut di kepang kanan kiri yang bagian kirinya sudah tak memiliki rupa cantik lagi. Dia berdiri, memperhatikan gadis itu yang terlihat sangat marah dengan boneka kecil ditangan perempuan itu sambil mengejar Antonio—teman satu kelasnya.
Delfano menarik sudut bibirnya saat melihat perempuan itu yang mencoba menaiki kursi hanya untuk menangkap Antonio di atas meja dengan boneka yang sepertinya milik gadis itu. Dan bibirnya justru mengeluarkan senyum saat gadis itu terlihat semakin kesal ketika Antonio dengan teganya langsung turun dan kembali berlari saat gadis itu sudah berada di atas kursi.
“Boneka jelek, boneka jelek.” ejek Antonio, mengacungkan boneka pink sambil menatap gadis itu yang kini berlari kearahnya.
Antonio berdiri di belakang Delfano, menjulurkan lidahnya menatap gadis itu yang sudah berdiri dihadapannya, mencoba mengambil boneka tersebut bahkan sampai membuat mereka seperti bermain putar-putaran di tubuh Delfano.
“Kamu, bukannya bantuin aku malah diam aja! Bantuin, dong!” kesal gadis itu, dia menatap kesal Delfano yang diam saja. Gadis itu semakin kesal saat Delfano tak memberikan reaksi apapun, selain senyum di bibir lelaki itu.
“Ayo, ambil! Kalau, bisa!” ejek Antonio, memutar-mutar boneka ditangannya.
Gadis itu menggeram, “Anton!”
Buk!!
Gadis itu menganga saat sasarannya melesat. Dia menganga, memeluk erat boneka kecil ditangannya yang hendak digunakan memukul Antonio.
“Aduh... Aduh... Maaf, aku gak sengaja. Aku tadi mau pukul Anton. Aduh! Anton!”
Flashback off
Anya mengangguk-angguk, dia mengerutkan keningnya saat melihat raut wajah Delfano yang lebih sumringah saat menceritakan tentang Natasya.
“Lo suka, ya sama Natasya?”
Delfano diam.