Friendshut [TAMAT]

Friendshut [TAMAT]
F-LIMAPULUHLIMA



“Nana?”


Sebastian segera melepas pelukannya pada Natasya, sedangkan Natasya langsung menghapus air mata di pipinya. Mereka terkejut melihat keberadaan Antonio dan Delfano di hadapan mereka kini. Sebastian langsung merubah raut wajah datarnya kembali, sedangkan Natasya menatap takut pada Delfano yang menatap datar kearahnya kini.


Delfano dan Antonio berjalan menghampiri Natasya yang terduduk di atas brankar, sedangkan Sebastian berdiri tegak di samping brankar tersebut sambil melipat tangan di depan dada.


“Kalian kok bisa tahu kalau gue disini?” tanya Natasya, suaranya sedikit serak. Mungkin ini efek dari menangis tadi.


“Gue tahu dari anak-anak,” jawab Antonio, dia mengambil alih duduk di atas brankar tersebut disamping kaki Natasya yang diluruskan.


Natasya mengangguk-angguk, dia melirik Delfano yang diam dan masih setia menatap dirinya dan Sebastian bergantian. Apalagi tatapan Delfano sangat tajam dan penuh selidik saat menatap Sebastian yang sayangnya hanya diacuhkan oleh Sebastian.


“Lo?”


Delfano sadar Natasya bertanya padanya, “Dia yang kasih tahu gue.” jawab Delfano, dia menunjuk Sebastian dengan dagunya.


“Lo sakit apa sih, Na? Sampai harus dibawa ke rumah sakit segala?” tanya Antonio, dia mengerutkan keningnya bingung.


Natasya terdiam, dia mengulum bibirnya yang terasa kering kemudian menggeleng sambil tersenyum. “Enggak kok, ini cuma karena kecapekan aja.” elak Natasya.


Delfano dan Antonio hanya mengangguk-angguk, mereka mencoba percaya dengan apa yang diucapkan Natasya.


Kening Delfano mengerut saat melihat seragam Sebastian yang sedikit memerah karena darah. “Baju lo kok ada darah?” tanya Delfano, tangannya terulur menyentuh seragam Sebastian yang terdapat darah mengering.


Antonio dan Natasya mengikuti kemana arah tangan Delfano terulur, sedangkan Sebastian dia menyentuh darah kering di seragamnya kemudian terdiam sambil melirik Natasya. “Cuma darah mimisan Syasya.” jawab Sebastian santai.


“Mending lo pulang deh, ganti seragam lo, gak enak dilihat.” titah Delfano.


Sebastian menarik kursi di samping brankar Natasya yang sejak tadi dianggurkan. “Nanti aja, gampang ini.” jawab Sebastian, dia mengacuhkan titah Delfano yang membuat lelaki itu mendengus pelan.


“Bener kata Fano, mending lo pulang dulu aja. Ganti seragam, itu darah mimisan nya banyak banget, maaf, ya.” ucap Natasya yang membuat Sebastian terdiam.


Drttt...


Disaat semuanya tengah terfokus pada seragam Sebastian yang kotor karena darah, tiba-tiba ponsel Antonio berdering membuatnya mau tak mau mengangkat panggilan tersebut dan beranjak dari ruangan ini.


Sebastian masih teguh dengan pendiriannya, dia masih belum mau meninggalkan Natasya disini bersama Delfano dan Antonio. Dia memilih membiarkan seragamnya kotor daripada harus meninggalkan Natasya. Memang tak perlu ada yang dikhawatirkan, toh Natasya disini bersama kedua lelaki yang mencintainya. Jadi, kecil kemungkinan kalau mereka tak menjaga Natasya.


Antonio kembali memasuki ruangan dimana Natasya berada, dia kembali duduk di tempat semula. “Gue kayaknya cabut duluan, ya.” ucap Antonio yang membuat semuanya menatap lelaki itu.


“Gak tahu kenapa, bokap nelpon gue suruh pulang gitu. Ada yang mau di omongin katanya.” jelas Antonio seolah menjawab kebingungan yang mungkin muncul di benak ketiga sahabatnya.


Natasya mengangguk-angguk, “Yaudah, bareng aja sama Tian.”


“Ih, apaan sih? Gue kan udah bilang, gue—”


“Udahlah, Yan, mending pulang aja bareng Anton. Gue disini ada Fano,” ucap Natasya, dia memotong ucapan Sebastian yang hendak kembali membantahnya.


“Lagian bener kata Tata, ada gue ini, pacarnya, kalau lo lupa.” tambah Delfano, dia melipat tangan didepan dada sambil memutar bola matanya jengah, menunjukkan wajah jengah nya.


Dengan berat hati, Sebastian beranjak dari duduknya. “Fine! Gue cabut dulu.” ucap Sebastian kemudian beranjak meninggalkan ruangan Natasya.


“Yaudah, gue cabut juga. Lo jagain Nana, jangan—”


“—gue juga tahu, gue bahkan lebih tahu daripada lo. Sana, minggat!” usir Delfano, dia mengerutkan keningnya menatap tajam Antonio yang sudah pergi meninggalkan ruangan ini menyisakan mereka—Delfano dan Natasya.


Setelah kepergian mereka, Delfano menarik kursi yang sempat diduduki Sebastian tadi, dia duduk di tempat itu sambil menghadap Natasya yang masih terduduk di atas brankar. Dia masih diam, masih belum mood mengeluarkan suaranya untuk Natasya.


Natasya mencebikkan bibirnya, tangannya terulur menyentuh tangan Delfano yang berada tepat di samping tubuhnya. “Kenapa sih?” tanya Natasya pelan.


Delfano mendongak, “Sebal.”


“Kenapa?”


“Kenapa sih, Ta?” tanya Delfano yang membuat Natasya mengerutkan keningnya bingung. “Kenapa harus selalu Tian? Kan sekarang ada gue, pacar lo. Kenapa gak sama gue aja?” lanjut Delfano, nada suaranya sedikit lebih tinggi dari biasanya.


Natasya terdiam, dia bingung harus menjawab apa. Dia mengulum bibirnya, menelan ludahnya dengan kasar. “Fan, gue—”


“Apa status kita gak artinya buat lo?”


Natasya cepat-cepat menggeleng. Dia tak menyetujui ucapan Delfano itu. Bahkan jika lelaki itu ingin tahu, status hubungan mereka itu sangat diharapkannya sejak dulu. Mana mungkin tak berarti. “Bukan gitu, Fan, tapi—”


“—tapi kenapa selalu Tian sih? Emang lo lagi ngapain sampai-sampai kesini dan Tian yang anterin.”


Natasya menghela napas pelan. “Tadi gak sengaja ketemu di perpus dan tiba-tiba pusing gitu aja. Berhubung Tian yang ada di sana, jadi dia yang bawa gue kesini. Lagian tadi gak cuma berdua kok, tapi berempat sama anak di UKS, cuma mereka pamit duluan.” jelas Natasya, jujur.


Delfano diam, dalam hati dia percaya dengan apa yang diucapkan Natasya. Namun, sekali lagi ego dan cemburu menguasainya, membuatnya sulit hanya untuk percaya.


Melihat keterdiaman Delfano, Natasya gusar. Tangannya terulur menyentuh tangan Delfano, menggenggamnya lumayan erat. “Percaya, ya?” pinta Natasya, dia menatap sendu Delfano yang masih diam.


“Makasih.”


***


Emma menatap ketiga sahabat putrinya yang tengah memakan makanan yang sengaja di bawa nya untuk mereka. Dia menarik sudut bibirnya, tersenyum menatap mereka bertiga. Dia terkejut saat mendengar kabar bahwa Natasya kembali masuk rumah sakit. Dan, sedikit lega saat tahu ada siapa di rumah sakit, setidaknya keberadaan sahabat putrinya itu cukup menenangkan hatinya.


Terkadang hati membuatnya merutuki takdir, mencemooh takdir yang seolah tak pernah adil. Tapi saat melihat putrinya yang bahagia hanya bersama sahabatnya itu, dia merasa menyesal.


Tak seharusnya takdir selalu disalahkan kan?


“Bun,”


Emma terlonjak kaget, dia menatap Natasya yang tengah menikmati apel hasil kupasannya. “Kenapa?” tanya Emma lembut.


“Bunda, kenapa?”


Emma tersenyum kemudian menggeleng.


“Jangan bohong, Bun.”


“Enggak kok, ngapain juga bunda bohong sama anak bunda ini. Apa untungnya coba?”


Natasya mencoba percaya. “Ayah kemana sih Bun? Kok akhir-akhir ini aku jarang lihat ayah.“


Emma terdiam. Ada bagian di hatinya yang terasa sakit mendengar pertanyaan itu. Namun, sekali lagi dia mencoba kuat, menguatkan semuanya. “Ayah sibuk. Ayah kan ke luar kota, banyak urusan yang harus di urus di kantor cabang sana.“


Natasya menatap dalam Emma. Emma tak sanggup ditatap seperti itu, sehingga membuatnya cepat-cepat mengalihkan tatapannya. Emma beranjak dari hadapan Natasya yang masih diam, dia berjalan menghampiri ketiga sahabat putrinya.


Antonio mendongak, tersenyum lebar kearah Emma yang kini sudah mengambil duduk di samping kursi kosong Delfano. “Makasih, ya Bun, tahu aja lagi lapar.“ ucap Antonio, dia kembali melanjutkan makannya.


Emma tersenyum, puas sekaligus senang melihatnya. Dia mengangguk.


“Eh, tadi lo pada pulang ngapain aja? Makan kek di rumah, malah—”


“Udah, Fano, udah.” lerai Emma, dia sudah bisa menebak pertengkaran kecil apa yang akan tercipta diantar ketiganya.


Antonio menunjukkan wajah menangnya, sedangkan Delfano mendelik melihat wajah songong itu. Beda halnya dengan Sebastian yang lebih kalem, dia lebih memilih menikmati makanannya.


“Makasih, ya Bun,”


“Thank you banget, ya, Bun.”


Emma mengangguk, “Iya... Iya... Yaudah kalian lanjutin makannya, santai aja gak akan ada yang minta ini.” ucap Emma, dia menatap menggoda Antonio dan Delfano yang tergesa-gesa dalam makannya. Yang di goda pun hanya mampu tersenyum kikuk, malu sendiri dibuatnya.


***


Antonio, Sebastian dan Delfano. Mereka keluar dari ruangan Natasya. Tadi, Emma meminta mereka untuk pulang dan tak mengijinkan satupun dari mereka untuk menginap menjaga Natasya di sini. Jadi, dengan terpaksa mereka menuruti perintah Emma dan tentunya Natasya.


Mereka berjalan beriringan menyusuri koridor rumah sakit yang lumayan sepi, hanya ada beberapa orang yang duduk di kursi depan ruang inap.


“Fano,”


Mereka menghentikan langkahnya saat seorang dokter menyapa Delfano. Delfano terkejut tentunya, lain halnya dengan Antonio dan Sebastian yang kebingungan. Mereka saling tatap, meminta penjelasan pada Delfano.


“Dok,”


“Kamu udah satu minggu gak kesini, kenapa? Udah abis kan obatnya?” Tanya Dokter tersebut yang semakin membuat Delfano dibuat panas dingin.


“Obat?” Gumam Sebastian pelan, keningnya semakin mengerut mendengar itu semua.


Dokter tersebut pun ikut bingung, apalagi dia tak mendapat jawaban apapun dari Delfano yang diam. “Iya, obat. Kan seharusnya—”


“—dok, maaf pasien kamar 23 keadaan semakin memburuk.” potong Suster yang tiba-tiba berdiri dihadapan dokter tersebut.


“Oh, ya sudah, baik-baik. Saya permisi dulu.”


Delfano mengangguk. Harus kan dia bernapas lega saat dokter itu sudah pergi. Ya, seharusnya begitu. Sebelum pada akhirnya—


“Obat apaan? Lo sakit?” Tanya Antonio, dia langsung menuding Delfano dengan pertanyaan yang sudah berputar-putar di otaknya sejak pernyataan dokter tadi.


Delfano diam.


“Ngomong, Fan, diam gak bisa jawab semuanya.” tambah Sebastian, dia masih menunjukkan raut wajah bingungnya sejak tadi.


Delfano menelan kasar ludahnya. “Iya, gue sakit.”