Friendshut [TAMAT]

Friendshut [TAMAT]
F-LIMAPULUH



Natasya memasuki mobil Sebastian, dia mengerutkan keningnya saat mendapati Delfano di mobil. Sedikit kikuk tentunya, apalagi saat lelaki itu tak lepas menatapnya dengan senyum menghiasi bibirnya. Dia duduk di jok depan di samping Sebastian, melepaskan tasnya. “Anton, mana?” tanya Natasya, dia tak menemukan keberadaan Antonio disini.


“Udah berangkat.” jawab Sebastian, dia mulai menyalakan mesin mobil dan melajukan nya.


Natasya mengerutkan keningnya bingung mendengar jawaban Sebastian, dia melirik jam di pergelangan tangannya. Ini masih pagi, tapi kenapa Anton berangkat sepagi ini? Dia mengendikkan bahunya, kemudian mendongak dan langsung bertatapan dengan Delfano lewat spion tengah. Dengan senyum di bibirnya, dia membalas senyuman Delfano yang ditunjukkan padanya.


Dia siap, siap memberikan jawaban untuk lelaki itu.


Semalam dia sudah memikirkannya. Benar kata Antonio, hati tak mungkin berbohong kan? Dan, dia percaya dengan hatinya.


***


“Eh... Eh... Bangun!”


Antonio mengerang, dia mengerjapkan matanya saat cahaya masuk ke matanya dan suara bising menerpa indera pendengarannya. Satu hal yang pertama kali dilihatnya, yaitu wajah seorang perempuan dengan kening mengerut menatapnya.


“Udah puas, tidurnya?” tanya perempuan itu, berdecak pinggang dihadapan Antonio. Perempuan itu memundurkan tubuhnya saat Antonio hendak bangun dari posisi tidurnya.


Antonio mengedarkan pandangannya. Dia berada di ruang musik, ruangan yang gelap dan jarang sekali dikunjungi kalau bukan untuk praktek seni budaya. Dia baru ingat. Dia datang lebih awal ke sekolah dan sekolah masih sepi, hanya beberapa orang yang sudah datang. Tanpa sengaja dia melewati ruangan ini dan tanpa niat yang direncanakan dia memilih memasuki ruangan ini, memilih merebahkan sebentar tubuhnya sambil menunggu jam pelajaran dimulai.


Dia masih ingat betul, alasannya memilih berangkat lebih cepat. Siapa lagi kalau bukan karena Natasya. Semalaman suntuk dia terus memikirkan perempuan itu, lebih tepatnya pada perasaan perempuan itu pada orang lain. Dan, paling mengenaskan adalah cinta nya bertepuk sebelah tangan.


“Malah bengong. Woy!”


Antonio menatap sebal perempuan yang menggangu tidurnya itu. Tidak tahu saja perempuan ini kalau dia baru tidur subuh tadi.


“Biasa aja dong,” tukas Antonio, dia menarik kasar tasnya yang tergeletak tak jauh dari posisinya kini. Dia bergegas pergi meninggalkan perempuan itu yang ternyata tengah menggerutu tentangnya.


***


Sebastian memasuki kelasnya dan langsung menghampiri Antonio yang merebahkan tubuh di atas meja pojok kelas. Dia menarik kursi kosong. Sebenarnya dia malas seperti ini, tapi melihat Antonio yang tak seperti biasa membuat dia menghilangkan rasa malas itu.


“Lo kenapa, Ton?” tanya Sebastian.


Antonio membuka sebelah matanya, menatap Sebastian yang duduk disampingnya. Tanpa berniat menjawab, dia kembali memejamkan matanya.


Sebastian menghela napas dengan pelan. “Syasya tadi—”


“Gue malas bahas itu,”


Sebastian mengerutkan keningnya bingung mendengar ucapan Antonio. “Lo lagi ada problem sama Natasya?” tanya Sebastian.


Antonio bangkit dari posisinya, duduk di atas meja dengan sebelah kaki terangkat. “Lo gak ada harapan lagi,” ucap Antonio yang semakin membuat kerutan bingung di kening Sebastian bertambah.


“Lo ngomong apaan sih?”


Antonio memajukan tubuhnya, “Natasya.suka.sama.Delfano.” cicit Antonio pelan dengan penekanan.


Sebastian terdiam, dia menyenderkan tubuhnya biasa saja yang membuat Antonio mengerutkan keningnya. Sekarang giliran Antonio yang bingung dengan sikap Sebastian, terlihat santai seolah tak mempermasalahkan. Padahal jelas, perempuan yang dia —mereka— suka sudah menentukan dimana hatinya dijatuhkan. Tidak pada mereka, tapi pada yang lain.


“Kok lo diam saja sih?” tanya Antonio.


Sebastian menarik sudut bibirnya, tersenyum masam sambil menatap datar ke depan. “Gue udah tahu,” jawab Sebastian santai seolah tanpa beban.


“Lo, tahu?”


Sebastian mengangguk.


Antonio terdiam, dalam hati dia membenarkan ucapan Sebastian. Hati siapa yang bisa paksa? Kita tak bisa memaksakan pada siapa hati ini dijatuhkan, begitupun perempuan itu.


Sebastian tersenyum, tersenyum penuh arti menatap Antonio yang terdiam. “Gue tahu, Ton. Lo juga suka kan sama Syasya?”


Antonio mendongak, dia terdiam. Namun diam nya itu berarti 'iya' bagi Sebastian.


“Gue ngerti. Sejak kecil kita bareng-bareng, mustahil kalau rasa itu gak pernah muncul.” ucap Sebastian, tangannya terulur menepuk pelan pundak Antonio. “Sans, cewek masih banyak. Biarin Natasya bahagia sama pilihannya.” lanjut Sebastian, dia beranjak dari duduknya.


Sebastian menjatuhkan bokongnya di kursinya, menatap lurus ke depan. Mengapa dia bisa mengatakan itu? Karena dia tahu semuanya, semua rahasia perempuan itu. Tentang penyakit yang tak tahu kapan bertahan. Tentang Natasya yang berjuang mati-matian hanya untuk satu orang. Tentu Delfano, bukan dirinya ataupun Antonio. Hanya lelaki itu —Delfano. Dia berkata seolah-olah semuanya terasa mudah. Membuka hati untuk orang baru? Jelas, itu sulit baginya. Apalagi dia adalah tipikal lelaki yang tak pernah bisa dekat dengan perempuan manapun, kecuali Natasya. Tak mudah tentunya. Tapi, demi kebahagian perempuan itu, Sebastian rela.


***


Delfano berjalan santai memasuki perpustakaan. Dia mengedarkan pandangannya, mencari keberadaan orang yang sejak tadi di ikutinya. Bibirnya langsung melengkung, tersenyum lebar saat matanya menangkap orang yang tengah berdiri membelakanginya sambil memilih beberapa buku pelajaran. Kakinya di langkahkan menghampiri orang itu.


“Ta,”


Natasya, orang itu dia. Perempuan itu membalikkan tubuhnya saat namanya dipanggil dan langsung tersenyum kikuk menatap Delfano dihadapannya. Entah kenapa, tiba-tiba suasana terasa awkward. Lebih tepatnya sejak lelaki itu secara tidak langsung menyatakan perasaannya.


“Kenapa, Fan?” tanya Natasya, hanya itu yang bisa di ucapkan mulutnya dengan senyuman kikuk di bibirnya.


Delfano menghela napas pelan, “Masa tanya kenapa sih? Lo tahu dong jawabannya.” ucap Delfano, dia yakin perempuan dihadapannya mengerti maksud ucapannya.


Natasya tersenyum kikuk, sebenarnya dia mengerti dan sangat paham kemana arah pembicaraan ini. Dia tersenyum lebar menatap Delfano yang tengah menunggu jawabannya. Dengan berbagai pertimbangan yang sudah di pikirkan sebelumnya, dia mengangguk pasti.


Delfano tersenyum. Senang tentunya melihat anggukan Natasya. Tapi, dia ingin tahu lebih pasti, maksud dari anggukan itu. “Maksudnya, apa? Gue gak ngerti.” ucap Delfano yang membuat Natasya mengerutkan keningnya.


Natasya bersandar pada rak buku, begitupun Delfano. “Lo ngerti kok,” balas Natasya yang mendapat gelengan dari Delfano.


“Enggak, serius.”


Natasya sebal, dia meninju pelan pundak Delfano yang membuat si empunya meringis seolah kesakitan. “Lo ngerti.”


Delfano terkekeh, “Enggak, Ta. Asli, gue gak ngerti.” ucap Delfano kekeh, dia berusaha membuat Natasya mengucapkan 'kata itu'.


Dengan sedikit merona, Natasya mengangguk. “Iya, gue mau.” ucap Natasya pelan, dia sedikit memajukan wajahnya seolah membisikkan ucapannya.


Boom!


Begini, ya rasanya jatuh cinta yang sebenarnya. Baru kali ini seorang Delfano yang notabene nya seorang playboy merasakan jatuh cinta yang benar-benar jatuh cinta [?].


Masih belum puas tentunya, Delfano masih ingin menggoda perempuan yang sudah resmi menjadi, kekasihnya? Apa boleh dia mengklaim Natasya sebagai kekasihnya? Lebih dari sahabat tentunya. Delfano menaikkan sebelah alisnya. “Mau apa, Ta? Gak ngerti sumpah.” goda Delfano yang membuat Natasya ternganga dibuatnya.


“Gak usah sok gak ngerti gitu deh,”


“Ya, emang gak ngerti.”


Natasya menegakkan tubuhnya, menatap sebal Delfano yang ternyata masih menggodanya. “Yaudah deh, kalo lo gak ngerti. Gak jadi.” ketus Natasya, dia membalikkan tubuhnya hendak meninggalkan Delfano.


Tapi, bukan Delfano namanya kalau tidak bisa mencegah perempuan itu pergi. Dia lebih dulu mencekal lengan perempuan itu. Dia memajukan tubuhnya, menunduk tepat di telinga perempuan itu. “Iya, iya. Ngerti kok. Maaf, ya, pacar.” bisik Delfano sambil terkekeh yang langsung membuat rona merah di pipi Natasya.


Ah, rasanya pipi Natasya kini memanas, merah merona karena bisikan Delfano di telinganya.


Ya ampun Delfano... Kenapa sih?