Friendshut [TAMAT]

Friendshut [TAMAT]
F-ENAMPULUHTUJUH



Mereka berada di UKS, menatap seorang perempuan yang terbaring di atas ranjang UKS. Antonio, Delfano, Sebastian dan tentunya Anya. Mereka masih menunggu kesadaran Natasya dari pingsannya.


Anya memperhatikan mereka, menatap mereka satu persatu. Rasanya dia ingin mendengus, merutuki ini semua. Kenapa mereka harus sampai se-khawatir ini dengan Natasya? Padahal perempuan itu hanya pingsan dan pingsan bukan hal yang harus benar-benar di khawatirkan. Tapi, mereka? Berlebihan.


Semuanya membuat Anya kesal.


Dan, yang semakin membuatnya kesal adalah Sebastian yang sejak tadi tak mengalihkan pandangannya dari Natasya, tatapan datar lelaki itu yang biasanya dilemparkan untuk siapapun termasuk dirinya seketika hilang saat menatap Natasya. Digantikan dengan tatapan penuh kekhawatiran.


Menyebalkan.


Natasya mengerjapkan matanya, membuat ketiga lelaki itu menatap cemas-cemas perempuan itu. Sedangkan, Anya memutar bola matanya malas dengan adegan ini.


Natasya meringis, dia mengerjapkan matanya menyesuaikan cahaya yang masuk ke iris matanya. Hal pertama yang dilihatnya adalah wajah ketiga sahabat. Mereka yang tersenyum setelah menanti kesadaran.


“Lo gakpapa?” tanya Delfano khawatir, dia menggenggam erat sebelah tangan Natasya.


Natasya menggeleng, dia tersenyum sambil menatap satu persatu dari mereka. Namun, senyumnya langsung hilang seketika saat matanya menangkap Anya disini.


“Lo kenapa sih, Na? Kok bisa sampai pingsan.” tanya Antonio, dia cemas sekali dengan keadaan Natasya. Takut terjadi hal tak terduga.


Natasya kembali menggeleng, tapi tatapannya tak lepas dari Anya. Dan, itu semua membuat ketiga lelaki itu menatap bingung Anya.


Anya yang sejak tadi melipat tangan didepan dada, mengendikkan bahunya saat semua tatapan tertuju padanya. “Kenapa?” tanya Anya, kesal.


Mereka diam, semakin membuat Anya kesal.


“Gue cabut,” ucap Anya, dia segera membalikkan tubuhnya meninggalkan tempat ini.


Antonio beranjak, dia butuh bicara dengan Anya sekarang juga. Sebastian pun sama, dia melangkah meninggalkan tempat ini untuk menemui Anya. Sebenarnya Delfano ingin melakukan hal yang sama, tapi dia masih khawatir dengan Natasya sehingga dia memutuskan tetap disini bersama Natasya.


***


Anya membalikkan tubuhnya saat Antonio mencekal lengannya, dia langsung menghempaskan dengan kasar cekakan itu. “Apa-apaan sih, lo?!” ketus Anya, dia menatap tajam Antonio.


Entah kenapa, semuanya terasa berbeda. Awalnya dia cukup khawatir dengan jati dirinya yang sudah diketahui Antonio. Tapi, saat penolakan yang dilakukan Sebastian tempo lalu rasanya kekhawatiran itu hilang seketika. Sekarang dia masa bodo, terserah jika nantinya Antonio akan membeberkan rahasianya.


“Lo apain Natasya?”


Anya memicingkan matanya. “Maksud lo apa? Lo nuduh gue ngapa-ngapain perempuan itu? Lo pikir, gue yang buat dia pingsan? Gitu?”


“Gimana gue gak berpikir kayak gitu. Natasya sejak tadi tatap lo mulu dan—”


“Terus gue pikirin? Bodo amat!”


Anya langsung membalikkan tubuhnya meninggalkan Antonio yang kini mendengus kesal karena perempuan itu. Perempuan itu berubah, berubah dari apa yang dipikirkan sebelumnya.


Sebastian menggeleng, tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Apakah benar, ini semua adalah efek dari penolakannya kemarin? Bahkan sampai membuat Anya berubah seperti ini. Atau memang, inilah Anya yang sebenarnya.


Sebastian melangkahkan kakinya hendak menemui Anya, berjalan begitu saja melewati Antonio yang mengacuhkannya. Antonio hanya menatap kepergian Sebastian, dia tak terlalu ambil pusing. Mungkin berbicara dengan orang yang dicintai, Anya akan mengerti.


Sebastian melangkahkan kakinya lebar, mencoba menyusul langkah Anya yang menurutnya cepat. Dia langsung mencekal lengan Anya, membuat perempuan itu menghentakkan dengan keras cekalannya.


“Lo apa-apaan sih Ton—Tian?” humam Anya pelan, dia terkejut saat mendapati Sebastian disini. Dia pikir Antonio lagi yang mencekalnya, ternyata Sebastian lah orangnya.


Anya tahu kemana arah pembicaraan ini. Dia berdecak pinggang, mengalihkan pandangannya ke sembarang arah sambil tersenyum kecut, kemudian kembali menatap Sebastian. “Lo juga nyalahin gue? Wow banget!” seru Anya.


Sebastian hanya diam, dia menunggu apa yang akan diucapkan Anya selanjutnya.


“Lo tuh gak tahu apapun, jadi jangan sok tahu deh!” ketus Anya, dia menatap tajam Sebastian.


Melihat keterdiaman Sebastian membuat Anya geram, dia mendengus kemudian membalikkan tubuhnya berniat pergi. Namun sayang, detik berikutnya Sebastian kembali mencekal lengannya bahkan kini bukan hanya mencekal melainkan mencengkram lumayan kuat pergelangan tangannya.


“Gue gak suka, apapun yang lo lakukan ke Natasya. Gue gak suka, lo nyakitin cewek yang gue sayang. Gue gak suka.” cicit Sebastian, dia menatap tajam Anya yang kini hanya terdiam.


Anya hanya mampu menatap Sebastian diam, bahkan wajahnya mengeras karena marahnya kini lebur dengan wajah sendu yang tiba-tiba muncul.


“Kalau alasan lo sakiti Natasya karena penolakan gue. Itu sama aja kayak lo bikin tembok penghalang untuk gue tatap lo lebih. Jadi, jangan salahi gue kalau sampai kapanpun gue gak akan jatuh hati sama lo.” desis Sebastian, dia melepas cengkeramannya dengan kasar kemudian berbalik meninggalkan Anya yang sedikit sempoyongan.


Anya menatap sendu, lebih tepatnya pada tempat dimana Sebastian berdiri tadi.


“Lo gak tahu apapun.”


***


Natasya masih diam, bahkan sejak kepergian Delfano yang berniat membelikannya makanan. Pikirannya masih tertuju pada ucapan Anya saat itu.


Yaya. Perempuan itu dia. Gadis kecil itu Anya.


Natasya masih ingat jelas, bahkan sangat jelas dan sampai kini pun tak pernah dilupakannya. Logikanya berpikir, jika Anya adalah Yaya kenapa perempuan itu seolah menatapnya penuh kebencian. Padahal nyatanya Yaya adalah teman sekolah dasarnya dulu, mereka dekat, bahkan sangat dekat. Tapi, kenapa Anya—


“Ta, lo mikirin apa sih?”


Natasya terlonjak saat Delfano tiba-tiba mengguncang pundaknya. Dia mengerjap, menyesuaikan keadaan. Dia tersenyum menatap Delfano yang bingung.


“Lo kenapa?” tanya Delfano cemas.


Natasya menggeleng, dia kembali tersenyum. “Enggak kok, gak papa.” jawab Natasya, dia sedikit bergerak untuk duduk dari baringan nya.


Delfano yang peka langsung membantu Natasya duduk. Dia langsung membuka bungkusan bubur ayam dalam styrofoam yang dibelinya. Dia duduk di samping brankar yang ditempati Natasya.


“Makan dulu, ya.” ucap Delfano lembut, dia mulai mengambil bubur beserta lauknya menggunakan sendok plastik yang disediakan dari sana nya.


Natasya menggeleng saat Delfano berniat menyuapinya. “Enggak mau, gue kan udah makan bubur tadi.” tolak Natasya, perutnya masih kenyang karena bubur tadi pagi.


Dasar Delfano. Dia merutuki dirinya sendiri. Bagaimana mungkin dia lupa kalau Natasya sudah makan bubur tadi. Seharusnya, dia membelikan makanan lain selain bubur. “Iya juga, ya.” Gumam Delfano dengan kening mengerut yang justru membuat Natasya terkekeh pelan melihat tampang kebingungan Delfano.


Delfano mendongak, dia tersenyum melihat Natasya yang terkekeh karenanya. “Yaudah deh, gue makan aja, ya. Sayang.” ucap Delfano, dia mulai memakan bubur tersebut.


Natasya mengangguk. “Makanya, apa-apa tuh jangan buru-buru.” ucap Natasya, dia masih terkekeh.


Delfano mengehentikan suapannya, dia tersenyum pilu. “Makanya, jangan buat gue khawatir mulu supaya gue gak buru-buru.” balas Delfano, dia mengacak pelan rambut Natasya dan kembali memakan bubur tersebut mengacuhkan Natasya yang kini terdiam kikuk dengan semburat merah di pipinya.


Ah... Delfano.