Friendshut [TAMAT]

Friendshut [TAMAT]
F-TIGABELAS



“Ya ampun, Nat...”


Semua orang menoleh kearah datangnya suara teguran, mereka terkejut bukan main saat melihat keberadaan bunda Natasya. Di sana berdiri Emma dengan senyum manisnya, berjalan pelan menghampiri Natasya yang langsung berhamburan ke pelukan sang bunda.


Emma menatap Natasya yang masih belum berhenti tertawa. “Pantesan bunda ngucapin salam gak ada yang sahut, ternyata disini toh.” ucap Emma yang mendapat senyuman lebar dari Natasya.


Natasya melepas pelukannya, menatap geli ketiga sahabatnya yang kini sudah beranjak dari dalam kolam, naik ke atas. “Abis mereka tuh,” ucap Natasya.


Emma mengerutkan kening, dia melirik jam bermerek dipergelangan tangannya. “Kalian kok pagi banget udah disini, nginep?” tanya Emma.


Ini masih cukup pagi untuk mereka yang jarak rumahnya cukup jauh—terkecuali Antonio tentu—datang kesini. Emma tak pernah mempermasalahkan mereka untuk datang atau bahkan menginap disini. Dia percaya pada ketiganya, meskipun mereka laki-laki semua. Karena nyatanya, mereka lah yang menjaga putrinya. Toh, dia kenal bukan setahun dua tahun, tapi sampai bertahun-tahun, bahkan sejak mereka masih seukuran jagung.


Natasya mengangguk, dia menggiring Emma untuk duduk di atas gazebo sedangkan ketiga sahabatnya kini sudah duduk di pinggir kolam renang, dibawah sinar matahari pagi yang cukup terang benderang.


“Iya, bun. Semalam mereka masih kejutan buat aku. Jadi, nginep deh.” jawab Natasya, dia melirik pada mereka yang tersenyum lebar sambil menaikturunkan alisnya.


Emma membuatnya matanya, dia menepuk pelan keningnya. Bagaimana mungkin, dia lupa dengan hari ulang tahun anak semata wayangnya. Dia melirik Natasya, meringis pelan. “Maaf, ya sayang, bunda lupa kalau kamu ulang tahun. Tahu gitu, bunda gak pergi kemarin supaya ikutan kasih kejutan.” ucap Emma, dia merasa bersalah.


Natasya tersenyum, dia menggeleng. “Gakpapa, Bun. Santai aja. Lagi pula, ini kan pertama kalinya bunda lupa. Sebelum-sebelumnya? Enggak.”


“Ayah kemana, Bun?” tanya Delfano, dia tak melihat keberadaan Bramantyo sejak tadi.


Emma terdiam mendengar pertanyaan Natasya, dia menatap mereka bergantian sebelum akhirnya memberikan senyuman untuk menjawab pertanyaan itu. “Ayah lagi ada urusan, penting. Jadi, tadi pulangnya gak bareng.” jawab Emma dengan lembutnya.


Mereka saling tatap, kemudian mengangguk-angguk mendengar jawaban yang diberikan Emma.


“Yaudah, mending sekarang kalian cepetan mandi terus ganti baju. Nanti masuk angin. Terus, kita makan. Biar bunda yang siapkan.” sambung Emma yang langsung diangguki Natasya.


Antonio mengangguk, “Yaudah deh Bun, kita ganti baju dulu. Yuk!” ajak Antonio sambil beranjak dari duduknya.


Emma mengangguk. Natasya beranjak dari duduknya, dia menggiring bundanya untuk berdiri dan memasuki rumah. “Yuk, bun! Aku pengen liat oleh-oleh apa yang bunda bawa buat aku.” ucap Natasya disela perjalanan mereka memasuki ruang tengah.


Emma mencebik, “Oleh-oleh mulu yang dipikirin.”


“Ya, abisnya aku gak di ajak sih,”


“Ya, ngapain ikut, udah gede ini.”


“Ih, tapi kan—”


Sedangkan di lain tempat, Antonio dan kedua sahabatnya langsung menaiki tangga yang menghubungkan taman rumah Natasya dengan taman rumahnya. Mereka memilih jalan alternatif ini daripada harus memutar jalan yang mungkin akan memakan waktu untuk mereka.


***


Delfano memasuki rumah Natasya, melewati Pak Jono yang sedang asyik menikmati secangkir kopi ditemani nyanyian dangdut dari radio kecil yang ada di posnya. Dia memutar tubuhnya, bersandar pada pos satpam menatap Pak Jono yang langsung keluar dari pos satpam tersebut.


“Pagi, Pak,” sapa Delfano, dia mengangkat tangannya untuk bertosria dengan pak Jono yang merupakan satpam rumah Natasya yang cukup akrab dengannya.


“Pagi juga, den. Pasti mau ketemu non Natasya ya?” tebak pak Jono, dia tersenyum diakhiri ucapannya.


Delfano menjentikkan jarinya, tersenyum lebar. “Betul banget! Seratus buat bapak.” jawab Delfano.


“Seratus apa atuh ini teh?”


Delfano terkekeh, mengerti maksud dari ucapan pak Jono ini. “Tenang aja, pak. Nanti siang saya traktir di warung depan, deh.” ucap Delfano yang langsung membuat Pak Jono cengengesan dibuatnya.


“Peka aja nih den Fano,”


“Ya iyalah, pak. Selain saya peka sama perasaan perempuan, apalagi ciwi-ciwi saya. Saya juga peka kali sama kode bapak yang satu ini.” balas Delfano.“Ya udahlah pak, saya masuk dulu ya. Assalamualaikum.” lanjut Delfano, dia segera melangkahkan kakinya meninggalkan Pak Jono yang kembali menikmati kopi dan nyanyian dangdut nya itu.


Pemandangan di depannya sukses membuat langkahnya terhenti, dia menatap sendu. Tepat di depannya Natasya yang tengah menikmati makanan bersama Emma. Bukan makanan itu yang membuatnya seperti ini, tapi perhatian Emma lah yang justru sedikit mencubit hatinya.


Andai. Andai Mami nya sama seperti Emma mungkin dia akan senang. Andai Mami nya mau berhenti bekerja dan hanya terfokus pada keluarga saja mungkin dia akan bahagia. Andai Mami nya lebih perhatian terhadapnya seperti perhatian Emma pada Natasya, bahkan pada mereka—Antonio, Sebastian juga dirinya mungkin dia akan betah di rumah. Tapi sepertinya itu semua hanya andaian nya semata, itu semua tak bisa terwujud begitu saja.


“Fano,” tegur Emma yang membuat Delfano tersadar dari lamunannya.


Delfano tersenyum, kembali melangkahkan kakinya menghampiri Natasya dan Emma kemudian memilih duduk di samping kursi Natasya.


“Kamu cobain deh, soto ini enak banget. Tadi bunda beli di jalan sebelum pulang. Dicoba, ya. Udah di panasin juga kok.” ucap Emma dengan tulusnya, dia menuangkan soto dari panci besar kedalam mangkuk yang disediakan di atas meja. Kemudian meletakkannya dihadapan Delfano.


Delfano masih terus memperhatikan Emma, menatap sendu Emma hingga tanpa disadari ada bagian hatinya yang teriris mendapatkan perlakuan seperti ini, membuatnya kadang tak kuasa menahan tangis.


Emma mengerutkan kening melihat keterdiaman Delfano, begitupun Natasya. Mereka saling tatap, namun dibalas gelengan oleh Natasya.


Emma mengambil alih sendok, dia mengangkat sendok yang berisi kuah soto di depan Delfano. “Cobain, deh, enak tau.” ucap Emma yang menyadarkan Delfano. Delfano mengangguk, dia segera melahap suapan kuah soto dari Emma.


“Enak, kan?”


Delfano mengangguk.


“Yaudah, di terusin sendiri ya.”


“Iya Bun, makasih, ya.”


***


Delfano memasuki rumahnya dengan senyuman yang tak pernah pudar dari bibirnya, dia melangkah menaiki anak tangga menuju kamarnya dilantai atas. Namun langkahnya terhenti saat ada suara menginstruksikan. Dia memutar tubuhnya, menatap seorang wanita paruh baya yang berdiri dengan setelan kerja. Senyum yang sedari tadi melekat di bibirnya pun hilang seketika.


Dengan malas, Delfano melangkahkan kakinya menghampiri wanita paruh baya itu.


“Kamu darimana aja sih Fano?” tanya Sinora—Mami Delfano menatap anak tunggalnya yang menampilkan wajah datar seperti biasa. “Kamu tuh ya, harusnya pas Mami pulang, kamu di rumah jangan keluyuran mulu. Udah tau, waktu mami—”


“Harusnya mami yang punya waktu, bukan aku. Oke, aku udah coba punya waktu buat kita, tapi apa? Apa mami sama papi pernah nyisihin waktu buat aku?” tanya Delfano, membuat Sinora terdiam. Delfano menghela napas dengan kasar, dia memutar bola matanya jengah kembali menatap Sinora. “Enggak, Mih. Kalian sibuk sama kerjaan. Coba kalau kalian punya waktu buat aku, aku mungkin betah di rumah. Tapi, ini apa? Kalian gak disini, apa mungkin aku betah di rumah yang sepi tanpa penghuni? Enggak, Mih.” lanjut Delfano, kemudian segera membalikkan tubuhnya dan kembali melangkahkan kaki menuju kamarnya, tak peduli dengan teriakan Sinora yang terus memanggil namanya.


Delfano menjatuhkan dengan kasar tumbuhnya di atas ranjang, menatap langit-langit kamar kemudian menggeram kesal mengingat kejadian beberapa menit yang lalu. “Kenapa sih? Kenapa gue harus punya orang tua yang gila kerja. Kenapa?” geram Delfano.


Tok... Tok... Tok...


“SIAPA?” teriak Delfano, dia melirik pintu kamarnya yang baru saja di ketuk oleh seseorang dari luar.


“Ini bibi Den. Ibu titip pesan, katanya ibu sudah transfer. Ibu langsung pergi lagi den.”


Delfano kembali menggeram, baru saja dia melihat Mami nya beberapa menit lalu. Mami nya itu baru saja pulang dari Dubai, urusan bisnis bersama Papi-nya 3 bulan lalu. Dan lihat sekarang? Baru pulang langsung pergi lagi? Huh. Baru saja dia berandai-andai di rumah Natasya tadi, dan benar saja itu semua hanya andaian nya semata, tak akan pernah terwujud bagaimana pun juga.


Ting!


Delfano merogoh ponsel di sakunya, mendengus sebal saat membaca pesan yang dikirimkan Mami nya.


“Mami udah transfer uang bulanan kamu. Tenang aja, mami tambah kok. Mami pergi ke Singapore, urusan bisnis sama Papi kamu. Gak sempet pamit, mami buru-buru. Kamu take care ya di sana. Love.”


Delfano kembali mendengus, “Bodo.”


To: Mami


Ya


*send