![Friendshut [TAMAT]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/friendshut--tamat-.webp)
“Ah... Minta-minta!”
Natasya langsung merebut sendok di tangan Delfano, tersenyum kecut saat sesuap rujak serut masuk ke mulutnya. Matanya menyipit dengan senyuman di bibirnya sambil bergidik. Melihat ekspresi keasaman Natasya, Delfano tersenyum lebar.
“Udah di bilangin asam,” tukas Delfano, dia kembali menyuapkan rujak serut di atas meja kantin. Dia menikmati rujak tersebut, meskipun rasa asamnya bukan main.
Natasya mengelap sudut matanya yang tiba-tiba berair, menatap Delfano yang menikmati rujak tersebut. “Segar tapi, enak juga.” jawab Natasya, langsung membuka mulutnya saat Delfano menyuapinya rujak tersebut.
“Udah, ya, asam. Nanti sakit perut lagi.” ucap Delfano yang langsung mendapat gelengan dari Natasya.
“Enggak, ah, lagi. Lo juga makan lagi, nanti sakit perut gimana?” elak Natasya, dia menikmati sekali rujak asam itu.
Delfano terkekeh, dia mengedarkan pandangannya mencari keberadaan sahabatnya yang masih belum menunjukkan batang hidung mereka di kantin ini. “Perut gue kebal kali sama ginian,” jawab Delfano yang mendapat cebikan dari Natasya.
“Sok banget. Sakit perut baru tahu rasa.” ejek Natasya, dia beranjak dari duduknya yang membuat Delfano mendongak menatap bingung perempuan itu.
“Mau kemana?”
“Mau beli Pempek dulu,” jawab Natasya, dia beranjak meninggalkan Delfano yang kembali menikmati rujaknya itu.
Tak butuh waktu lama, Natasya sudah kembali dengan semangkuk pempek. Perempuan itu meletakkan mangkuk dihadapannya, duduk di hadapan Delfano. “Yang lain kemana sih? Tumben belum istirahat.” ucap Natasya, dia menyendok kan sesendok teh sambal yang tersedia di atas meja kedalam mangkuk pempeknya.
Delfano mengendikkan bahunya, dia memperhatikan Natasya yang tengah menyendok sambal. “Jangan banyak-banyak, sakit perut nanti.” ucap Delfano memperingati.
Natasya memakan pempeknya, tersenyum puas saat rasanya pas di mulutnya. Dia menatap sebal Delfano, “Ini itu gak boleh, terus boleh nya apa?” tanya Natasya dengan nada sebal. Dia menikmati pempeknya.
“Ya, kan gue care sama lo, Ta.” balas Delfano yang tak diacuhkan Natasya, perempuan itu sibuk dengan makanannya.
“Wah... Enak tuh, minta dong.”
Natasya mendongak menatap Antonio yang langsung duduk di sampingnya. Lelaki itu merebut sendok milik Natasya, menyendok kan pempek ke mulutnya. Natasya mencibir, selalu saja seperti ini. Antonio dan kebiasaannya. Dia memperhatikan Antonio yang tengah menikmati pempek miliknya.
“Pedas banget sih, Na.” ucap Antonio, dia langsung meminum minuman milik Delfano.
“Tuh kan, dibilangin juga.” timpal Delfano, dia menggelengkan kepalanya menatap Natasya yang mencebik.
“Eh, apaan tuh, Fan?”
Delfano melirik Anya yang ternyata duduk di sampingnya, sedangkan Sebastian duduk di samping Natasya dengan kursi lain. “Rujak serut, mau?” tawar Delfano, dia mendorong mangkuk berisi rujak serut kehadapan Anya.
Anya memakan rujak tersebut dengan senyuman. “Enak banget, segar.” ucap Anya, tak ada ekspresi asam sedikitpun yang ditunjukkan perempuan itu.
“Emang, seger banget.”
Natasya menatap sebal Delfano. Kenapa lelaki itu membiarkan saja Anya memakan rujak itu, sedangkan dia dilarang mentah-mentah oleh Delfano. Dasar, tidak adil. Dia menghela napas kasar, kembali memakan pempek pedas miliknya dan mengunyah dengan kasar. Dia sedang dalam mode kesal.
Sebastian sejak tadi memperhatikan Natasya. Dia memerhatikan perempuan itu yang sejak tadi terus menerus memperhatikan Delfano dan Anya. Terlihat jelas sekali ketidaksukaan perempuan itu. Meskipun Natasya hanya diam, tapi tatapan matanya bisa mengartikan semua. Dia tentu tahu arti tatapan itu. Dia menggelengkan kepalanya, “Ta, jangan di terusin. Pedas tuh, sakit perut pasti.” ucap Sebastian yang membuat Natasya mendongak.
Sebastian menatap Natasya, memberikan tatapan yang entah kenapa membuat perempuan itu terdiam, namun kemudian mengangguk. Natasya menghentikan makannya, dia meminum minuman miliknya. Dan, sikap seperti ini membuat Delfano dan Antonio mengerutkan kening.
***
Natasya mengerutkan keningnya melihat keterdiaman Delfano sejak tadi. Lelaki itu lebih sibuk dengan ponsel di tangannya, daripada memperhatikan dia yang sejak tadi disini. Dia mencebik, melipat tangan di depan dada.
“Nyebelin,” tukas Natasya, dia melirik sinis Delfano yang langsung mendongak menatapnya.
Delfano mengendikkan bahunya, “Siapa?” tanya Delfano, nada suaranya seperti tak suka tentunya. “Lo, kan? Lo yang nyebelin.” lanjut Delfano.
Natasya menoleh, menganga tak percaya dengan ucapan Delfano. Dia berdecak pinggang, menyipitkan matanya menatap lelaki itu. “Gue?” tanya Natasya, dia menunjuk dirinya sendiri. Delfano menoleh, mengangguk sambil menatap Natasya. Kini mereka berhadapan.
“Hello... Lo kali. Lo yang nyebelin, bukan gue.” ucap Natasya, dia menunjuk Delfano tepat di dada lelaki itu.
Delfano menarik sudut bibirnya, dia berdecak pinggang sambil sedikit membungkuk tubuhnya. “Masa? Bukannya lo, ya yang nyebelin.” ucap Delfano, dia membalikkan tubuhnya kembali menyender pada cup mobilnya. Oh, iya, mereka kini tengah menunggu sahabatnya yang masih belum keluar kelas. Aneh sih, tumben anak IPS ngaret keluar kelas, padahal jam pulang sudah berbunyi.
“Tian ngomong aja di dengerin,” cibir Delfano, dia berdecak pinggang.
Natasya mengerutkan keningnya. “Apa hubungannya sama Sebastian?” tanya Natasya, dia pun ikut memutar tubuhnya dan kembali menyender pada mobil Delfano. “Lo juga, Anya di biarin, gue dilarang.” lanjut Natasya, dia menolehkan kepalanya menatap Delfano yang ternyata juga menatapnya.
Kening Delfano mengerut, “Lo juga, ngapain bawa-bawa Anya. Ini gak ada hubungannya ya sama dia.”
“Ada,”
“Apa?”
“Pikir aja sendiri.”
“Lo juga,”
“Apa?”
“Lo sama Tian, nyebelin banget.”
“Dih, emangnya kenapa?”
“Pikir aja sendiri.”
Natasya berdecak, mencebikkan bibirnya menatap Delfano yang ternyata tengah terkekeh. “Nyebelin!” ucap Natasya, bahkan kedua tangannya terkepal gemas menatap sebal Delfano.
Mereka mengedarkan pandangannya, masih belum ada tanda-tanda kedatangan sahabat mereka. Padahal siswa lain sudah berhamburan sejak tadi dari koridor IPS.
“Ta,”
Natasya berdehem saja.
Natasya terdiam, “Cemburu, gimana?” tanya Natasya bingung.
“Ya, kayak tadi,” jawab Delfano, dia sudah memutar tubuhnya kembali menghadap Natasya.
“Kayak, tadi?”
Delfano terkekeh. Kenapa juga mode lemot Natasya harus berfungsi di saat seperti ini. Tangannya seperti biasa terulur mengacak rambut perempuan itu yang membuat si empunya berdecak sebal. Dia menarik sudut bibirnya. “Ya, kayak tadi, Ta. Gue gak suka lihat lo lebih dengerin Tian daripada gue. Gue gak suka dan gak suka itu bisa dibilang cemburu. Apa itu wajar?” tanya Delfano yang seketika membuat Natasya terdiam.
“Kenapa harus cemburu?”
“Karena gue gak suka.”
Natasya diam, dia tak tahu harus meladeni apa lagi.
“Ta, lebih dari sahabat boleh gak sih?”
Natasya menatap Delfano dengan kening mengerut. “Maksudnya?”
“Kita pacaran.”
***
Natasya terus memandang langit malam yang lumayan cerah malam ini. Matanya tertuju pada satu bintang yang paling bersinar diantara bintang lain yang berhamburan di langit. Dia menghela napas pelan, menekuk kakinya dan meletakkan dagunya tepat di atas lutut, masih menatap bintang itu. Tapi, sayang, tatapan dan pikirannya tidak sinkron. Disaat matanya menatap bintang, tapi pikirannya tertuju pada Delfano—lebih tepatnya pada ucapan lelaki itu tadi.
“Apa mungkin, ya?”
“Emang bisa?”
“Nantinya gimana?”
“Tian sama Anton, gimana?”
“Gimana reaksi mereka?”
Itu mungkin sederet pertanyaan yang timbul di benaknya. Entah kenapa, ada bagian dimana hatinya senang sekaligus ragu dalam satu waktu.
Dia senang? Tentu.
Siapa yang tidak senang saat orang yang kita suka membalas perasaan kita, tentu senang itu akan datang. Bahagia rasanya mengetahui fakta bahwa lelaki itu ternyata sama menyukainya. Ya, meskipun memang tak ada kalimat langsung yang mengatakan bahwa lelaki itu 'cinta' atau 'suka' dengannya. Tapi, pertanyaan yang dilontarkan lelaki itu tadi seolah menjelaskan semua perasaannya.
Dia langsung terlonjak kaget saat seseorang menepuk pundaknya. Dia menatap kesal sekaligus kaget orang yang sudah duduk di sampingnya. Dia menurunkan kakinya yang tadi dinaikan keatas sofa.
“Ngagetin aja,” ketus Natasya, dia menatap sebal orang disampingnya.
Antonio, orang itu tersenyum lebar. Dia mengambil toples berisi kacang, menikmati cemilan itu dengan santainya. “Lagian, melamun mulu. Kesambet baru tahu rasa.” ejek Antonio, masih menikmati cemilannya.
Natasya mencibir, dia ikut mencomot cemilan di pangkuan Antonio, menikmatinya.
“Ngelamunin apaan sih?”
“Enggak kok,” jawab Natasya. Dia beranjak dari duduknya, masuk kedalam kamarnya dan kembali dengan dua botol kecil air mineral kemudian menyerahkannya kepada Antonio.
Antonio menerima botol air mineral tersebut dan langsung membukanya, menyerahkan satu pada Natasya. “Bohong banget,” tukas Antonio, dia meneguk air miliknya.
“Beneran kok,”
“Jujur,”
Natasya terdiam, dia menatap was-was Antonio yang tengah menunggu jawabannya. Dia menghela napas dengan kasar.
“Ton. Masa, tadi Fano bilang kita pacaran.”
“Kita?”
“Maksud gue. Gue sama Fano, masa katanya kita pacaran aja.” jelas Natasya yang membuat Antonio terdiam.
Antonio yang sejak tadi menikmati cemilan menghentikannya, dia menatap lurus ke depan. Beberapa saat dia kembali menatap Natasya. “Terus?”
“Kok terus sih?”
“Lo suka sama Fano?”
Natasya terdiam dan diamnya Natasya sudah menjawab pertanyaan Antonio. Antonio mengangguk-angguk, tersenyum masam.
“Yaudah, berarti itu jawabannya.” ucap Antonio yang sama sekali tak di mengerti Natasya.
“Lo tahu sendiri jawabannya, Na. Hati lo gak mungkin bohong kan? Berarti itu jawabannya.” ucap Antonio yang membuat Natasya terdiam. Dia beranjak dari duduknya yang seketika membuat Natasya kebingungan.
“Mau, kemana? Baru juga datang.”
Antonio memasukkan tangan ke saku celana pendeknya, dia tersenyum dengan raut yang sulit diartikan. “Tadinya mau ajak main gitar buat live Instagram. Tapi, gue baru ingat, ada tugas yang mesti dikerjain. Gue cabut dulu, ya.”
“Gue bantuin, ya?”
“Gak usah, gue pinter kok.”
Natasya hanya mengangguk, dia menatap Antonio yang baru aja sampai di balkon kamar lelaki itu setelah melewati berbagai rintangan biasanya.
Tanpa diketahui, ada rasa sakit yang timbul karena sebuah pengakuan tersirat. (April — @katatokoh16)