Friendshut [TAMAT]

Friendshut [TAMAT]
F-TIGAPULUHDUA



Delfano memasuki Apartemen Antonio dengan santainya, lelaki itu langsung melepas sepatu yang dikenakannya kemudian diletakkan di tempat biasa. Dia langsung mendapati Antonio dan Sebastian yang tengah menikmati semangkuk mie instan sambil menonton siaran ulang pertandingan sepakbola yang sudah dilangsungkan beberapa waktu lalu.


“Anjrit! Itu wasitnya gimana sih!?”


“Wah... Gila-gila, gak adil tuh!”


“Asu! Sedikit lagi padahal!”


Delfano terkekeh saat mendengar beberapa umpatan yang dilontarkan sahabatnya itu. Antonio lebih banyak mengumpat, daripada Sebastian yang sejak tadi terlihat santai, bahkan Sebastian bisa saja sangat santai saat orang-orang banyak mengumpat karena berbagai hal.


Delfano langsung menjatuhkan bokongnya begitu saja di lantai yang beralaskan karpet, dia merampas mangkuk berisi mie yang tengah dinikmati Antonio yang membuat si empunya mendengus namun tetap membiarkan akhirnya. Matanya tak lepas dari layar televisi yang masih setia menampilkan pertandingan itu, meskipun beberapa menit lagi pertandingan tersebut akan usai.


Antonio merampas kembali mie instannya dari Delfano, mendengus saat tinggal sesuap mie lagi. “Udah, anterin Nana?” tanya Antonio, lelaki itu meletakkan mangkuk bekas mie yang tinggal tersisa kuahnya saja di atas meja. Dia meneguk air yang sudah disiapkannya terlebih dahulu tadi.


Delfano mengangguk, “Dari tadi malah.” jawab Delfano, dia beranjak kearah kulkas kemudian mengeluarkan sebotol minuman kaleng dari dalamnya, membukanya kemudian meneguk sambil kembali ke tempatnya.


“Lah, emang lo yang nganterin Syasya? Bukannya Anton, ya?” tanya Sebastian menanggapi, dia menaikkan sebelah alisnya menatap Delfano dan melirik Antonio.


“Iya, tadinya tuh anak.” tukas Delfano tanpa mengalihkan perhatiannya dari televisi. “Tapi, tiba-tiba ada urusan gitu, ya, jadi gue deh.” lanjut Delfano.


“Urusan, apa?” tanya Sebastian, kini lelaki itu menatap Antonio menuntut penjelasan.


Antonio terkekeh, “Kepo lo! Kenapa, sih? Bacot mulu, santai aja kali.” ucap Antonio.


“Iya nih, khawatir bener.”


Sebastian berdehem, mengatur raut mukanya agar datar seperti biasanya. “Ya bukan gitu, gue— Ya, gue khawatir, udah itu aja.” jawab Sebastian yang terkesan kikuk.


Delfano memutar tubuhnya, memicingkan matanya menatap Sebastian. “Lo kenapa sih? Kalo setiap sesuatu yang berhubungan sama Natasya, lo khawatir banget. Kenapa lo? Jangan, jangan—”


“—Apaan sih!? Lo juga gitu, kan? Kenapa, coba?” tanya balik Sebastian yang membuat Delfano bungkam.


Delfano terlihat kikuk, lelaki itu bingung harus menjawab apa. Apalagi sekarang dia sudah didesak Sebastian dan Antonio. Dia menatap sengit Antonio. “Lo juga, kan? Kenapa, tuh?”


Mereka saling tunjuk, saling menuding yang pada akhirnya membuat mereka tertawa sendiri merasa lucu dengan sikap mereka.


“YA, KARENA DIA SAHABAT KITA LAH.” jawab mereka serempak, tapi anehnya jawaban tersebut terkesan tak benar-benar jujur, hanya terlontar dari mulut mereka, bukan hati mereka.


Mereka masih terkekeh, bahkan sampai lupa dengan pertandingan sepakbola yang telah usai itu.


“Oh, iya, masa tadi gue kan becanda tuh sama Tata. Gue bilang aja kalau gue jadian sama Anya, eh tuh cewek malah nangis. Aneh kan tuh?”


Pernyataan yang dilontarkan Delfano seketika membuat Antonio dan Sebastian menghentikan tawa mereka. Mereka berdua tiba-tiba diam setelah mendengar pernyataan tersebut yang anehnya malah memberikan penjelasan aneh di otak mereka, seolah memberikan sebuah jawaban atas pertanyaan yang entah apa itu hinggap di otak mereka.


Delfano mengehentikan tawanya saat dirasa tak ada tawa lain selain dirinya, dia mengerutkan kening melihat keterdiaman kedua sahabatnya itu. “Kenapa lo pada?” tanya Delfano, heran karena mereka tiba-tiba diam.


Antonio menggeleng, dia kembali meneguk air minumnya. “Gak papa,“ jawab Antonio santai, dia menyenderkan tubuhnya sambil mengutak-atik remote di tangannya, mengganti siaran televisi saat pertandingan sepakbola telah usai.


Delfano semakin mengerutkan keningnya, dia kini menatap Sebastian, seolah memberikan pertanyaan yang sama untuk lelaki itu lewat tatapan matanya. Sebastian menggeleng sebagai jawaban.


Delfano mengendikkan bahunya acuh, dia berjalan kearah lemari kemudian mengeluarkan cup noodle untuk mengganjal perutnya yang lapar ini. Dia berjalan kearah pemanas air, menuangkan air secukupnya untuk memasak mienya. Kemudian, kembali lagi menghampiri kedua sahabatnya sambil menunggu air tersebut matang.


Mereka semua diam, di selimuti keheningan.


Delfano mendengus, merasa jenuh dengan keheningan ini. Dia melirik satu persatu sahabatnya yang terfokus kearah televisi yang menayangkan siaran yang menurutnya tak menarik sedikitpun.


“Woy, main PS yuk!”


“Males ah,”


“Yan?”


“Mager,”


Delfano mendengus mendengar jawaban mereka. Tiba-tiba otaknya mengingat sesuatu, sesuatu yang entah kenapa ingin dicurahkannya kepada dua sahabatnya ini.


“Eh, gue pengen nanya deh. Menurut lo pada, si Anya sama Natasya tuh sama gak sih?” tanya Delfano, dia menaikkan kedua alisnya meminta jawaban atas pertanyaan itu.


“Sama, apanya?” tanya Antonio, lelaki itu mengerutkan keningnya.


“Ya... Apa kek, gitu. Menurut kalian, gimana?”


“Kalau gue sih, senyumnya.”


“Nah, itu!” tukas Delfano, dia setuju dengan jawaban yang diberikan Sebastian. “Gue kira, cuma gue aja yang kepikiran kayak gitu, lo juga ternyata.”


“Aneh, gak sih?”


“Aneh sih menurut gue. Dua orang yang beda, tapi punya kesamaan, di senyum lagi.” timpal Delfano, dia menimpali pertandingan Antonio.


“Jangan... Jangan... Mereka adik kakak lagi.” tukas Antonio, dia terkekeh mengucapkan itu namun akhirnya mendapat jitakan pelan dari Sebastian.


“Bisa aja, kan?”


“Gak mungkin lah, orang mereka beda orang tua. Lagian, mereka baru kenal sekarang kan? Gak mungkin banget.”


“Ya, terus?”


Sebastian mengendikan bahunya, begitupun Delfano.


“Eh, airnya matang, gue lupa!”


***


Perubahan status mental. Ini bisa berupa perubahan konsentrasi, ingatan, perhatian, bahkan kebingungan tanpa sebab.


Merasakan mual dan muntah terutama di pagi hari dengan yang bisa disebabkan oleh vertigo.


Kelainan dalam penglihatan (misalnya, penglihatan ganda, penglihatan kabur, hilangnya penglihatan tepi).


Kesulitan berbicara ( yang diakibatkan oleh gangguan suara).


Perubahan bertahap dalam kapasitas intelektual atau emosional. Misalnya, sulit atau mengalami ketidakmampuan untuk berbicara yang diikuti dengan tidak paham dengan apa yang lawan bicaranya katakan.


Natasya memperhatikan layar laptopnya yang menampilkan sebuah artikel kesehatan. Dia terdiam sejenak, tangannya tiba-tiba terulur menyentuh kepalanya sendiri. Berawal dari kepala dan berakhir di mata. Dia memejamkan matanya sejenak, memikirkan kembali apa yang sudah dibacanya.


Perlahan matanya mengerjap, tulisan di laptopnya adalah hal pertama yang dilihatnya. Tak terasa, setetes air mata jatuh dari pelupuk matanya. Namun, dengan cepat dia menghapus itu semua, dia tak ingin terlihat lemah, dia kuat, sangat.


“Apa bisa sembuh?” gumamnya pelan. Otaknya kembali memikirkan hal buruk apa yang nantinya akan terjadi kedepannya. Kematian? Mungkin. Itu mungkin saja terjadi dan pasti terjadi. Tapi, apa secepat ini?


Tok... Tok... Tok...


“Nata...”


Natasya menutup cepat laptopnya, membalikkan tubuhnya saat pintu kamarnya dibuka seseorang. Emma, bundanya itu tersenyum sambil berjalan menghampiri Natasya dengan nampan berisi makanan dan minuman.


“Makan dulu ya, jangan lupa.” ucap Emma, dia meletakkan nampan tersebut di atas meja disamping laptop yang kosong.


Natasya mengangguk, tersenyum lebar. “Makasih ya, Bun.” ucap Natasya yang mendapat anggukan serta elusan pelan di rambutnya dari Emma.


“Jangan lupa juga, di minum—”


“Iya... Iya... Makasih udah selalu ingetin aku.”


Emma mengangguk, “Kamu lagi ngapain?”


“Mau ngerjain tugas sekolah,” bohong Natasya, dia tak mungkin menjawab jujur atas pertanyaan bundanya itu. Dia tak ingin membuat hati bundanya sakit saat mengetahui itu.


Emma mengangguk-angguk.


“Oh iya, bun. Ayah kemana?”


Emma terdiam, membuat Natasya mengerutkan keningnya. “Bun?” panggil Natasya pelan.


Emma tersadar, dia tersenyum semakin lebar. “Ayah kamu ada urusan, mungkin pulangnya nanti agak malam.”


“Sibuk banget, ya?”


“Udahlah, kamu maklumi aja. Yaudah, cepat dimakan, ya, bunda mau ganti baju dulu.” ucap Emma, menunjuk dress yang dikenakannya yang belum sempat diganti setelah menemui wanita itu.


Natasya mengangguk, “Iya, sekali lagi makasih, ya, bun.”


“Iya.”


Setelah kepergian Emma, Natasya berjalan kearah pintu kamarnya kemudian menguncinya dan kembali ke tempat semula. Dia kembali menyalakan laptopnya dan melanjutkan kegiatan membacanya tentang informasi itu.


***


Anya menatap langit-langit kamarnya. Satu orang yang tiba-tiba melintas di pikirannya, sayangnya orang itu tak pernah sedikitpun mau meliriknya.


Sebastian.


Lelaki yang akhir-akhir ini selalu hinggap di pikiran dan hatinya. Lelaki itu selalu menghantuinya, membuat hatinya kadang bergetar sendiri saat lelaki itu tiba-tiba terlintas di pikirannya.


“Se-bas-tian,” ucap Anya pelan sambil mengeja nama lelaki itu diikuti senyum di bibirnya.


Anya terkekeh, dia membalikkan tubuhnya sehingga kini tengkurap dan menumpu dagunya di atas guling yang tengah dipeluknya. “Kenapa gue bisa jatuh cinta sama lo, ya? Padahal jelas-jelas, ada Delfano yang lebih dari lo.” gumam Anya, tangannya tak henti-hentinya mengukir sesuatu yang tak jelas di atas ranjang.


“Tapi, sayang, lo kayaknya anti sama gue. Dan, malah deket sama Natasya.” lanjut Anya, kini dia tersenyum miris.


“Kenapa sih!? Lagi-lagi Natasya, perempuan itu lagi. Tuh, cewek emang serakah deh, dari kecil gak pernah mau berbagai. Dasar!”