![Friendshut [TAMAT]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/friendshut--tamat-.webp)
Anya langsung berlari menghampiri Delfano yang sudah berdiri di koridor kelas IPS. Dengan senyum, dia menatap Delfano yang kini sudah menegakkan tubuhnya yang tadi bersandar pada tembok. “Kok, disini?” tanya Anya, dia terus menampilkan senyum manisnya yang sialnya membuat Delfano terpukau dengan senyum itu.
Senyum Anya itu, sama dengan senyum manis Na—
“Hey!” tukas Anya, melambaikan tangannya didepan wajah Delfano yang sedari tadi diam memperhatikannya. Dalam hati dia senang melihat Delfano yang menatap terpukau padanya. Dia pikir, Delfano suka padanya.
Delfano tersentak kaget, dia mengerjapkan matanya, menggaruk ujung alisnya yang tiba-tiba gatal. “Kenapa, tadi?” tanya Delfano balik, dia kurang fokus sehingga tak tau apa yang diucapkan Anya padanya.
Anya terkekeh, mendengus kesal dengan senyuman di bibirnya. “Tadi tuh gue nanya. Kok lo disini? Di koridor anak IPS? Nungguin, siapa? Antonio sama—”
“Gue nungguin lo,” potong Delfano. Dia memotong ucapan Anya yang belum selesai perempuan itu ucapkan.
Anya yang mendengar itu terkejut, dia kaget dengan jawaban Delfano. Dia menunjuk dirinya sendiri, mengerutkan kening bingung. “Nungguin gue?” tanya Anya, lagi, dia mengangguk ragu.
Delfano mengangguk, “Iya, lo lah. Ini lo gak lupakan kalau kita tuh mau nonton hari ini? Lo sendiri yang kemarin ngajakin gue nonton teater, ingat, gak?” tanya Delfano, dia mencoba menjelaskan apa yang perempuan itu ucapkan kemarin.
Anya menepuk pelan jidatnya, bagaimana mungkin dia lupa dengan ajakannya kemarin. Dia menatap Delfano, “Iya, gue lupa. Berati jadi dong?” tanya Anya, memastikan.
“Ya jadilah, gue nungguin lo disini.” balas Delfano.
Anya mengangguk-angguk sambil tersenyum puas. “Yaudah, yuk!” ajak Anya.
Mereka berjalan beriringan.
Anya melirik Delfano, dia mengerutkan kening saat lelaki itu malah terfokus pada ponselnya ketimbang mengobrol dengannya. Dia berdehem, mencoba mengalihkan fokus lelaki itu kepadanya.
Delfano melirik Anya, mengerutkan keningnya menatap perempuan itu yang kini tersenyum kikuk ke arahnya.
“Hm, ini kita cuman berdua aja?” tanya Anya, dia mencoba memulai percakapan baru dengan Delfano.
“Iya, yang lain pada gak mau ikut.”
Anya mengangguk-angguk.
“Kita nebeng dulu di mobil Anton, soalnya gue gak bawa mobil. Sekalian ngambil di rumah Natasya.” lanjut Delfano, membuat Anya menolehkan kembali kepalanya kearah lelaki itu.
Natasya, perempuan itu.
***
Natasya melambaikan tangannya kearah Kinara yang sudah melajukan mobilnya terlebih dahulu meninggalkan parkiran sekolah. Dia tersenyum menatap kepergian teman sekelasnya itu. Dia mengedarkan pandangannya, mencari keberadaan sahabatnya.
Dia mendesah, menyenderkan tubuhnya pada mobil milik Antonio. Sahabat-sahabatnya masih belum datang, masih belum menunjukkan batang hidung mereka. Dia sedikit mendongak, memicingkan matanya saat cahaya matahari cukup menyinari matanya. Memang, cuaca hari ini lumayan cerah, panas lebih tepatnya. Dilirik jam di pergelangan tangannya, membuatnya mendengus saat sahabatnya masih belum datang. Hingga sebuah panggil membuatnya mendongak.
Natasya mencebik, menatap sebal Antonio dan Sebastian yang tengah berjalan ke arahnya dengan sebotol minuman di tangan mereka. Dia menegakkan tubuhnya, berdecak pinggang menatap mereka. “Darimana dulu sih? Lama.” cebik Natasya, dia kini melipat tangan di depan dada.
“Sorry, Sya.” ucap Sebastian, dia berdiri di samping kanan Natasya, menyerahkan minuman di tangannya. “Ini nih, Anton minta dulu ke kantin, haus katanya.” lanjut Sebastian.
Antonio mencebik, menatap jengah Sebastian. “Lo juga kayak gak haus aja, buktinya ikut beli juga kan.” tukas Antonio, mencebikkan bibirnya, melirik minuman milik Sebastian yang kini berada ditangan Natasya.
“Biasa aja kali bibirnya, biasa aja.” kekeh Natasya, terkekeh sambil memukul pelan bibir Antonio dengan botol minuman di tangannya. Natasya masih terkekeh, malah kini tertawa melihat Antonio yang semakin mencebikkan bibirnya. Namun tiba-tiba tawanya hilang saat tiba-tiba kepalanya berdenyut saat dirinya tertawa.
“Lo kenapa, Sya?” tanya Sebastian, kekhawatiran tersirat jelas di wajah lelaki itu saat kini Natasya memegang kepalanya.
“Pusing kepala gue, nyut-nyutan gitu.” jawab Natasya.
Antonio dan Sebastian, menggiring Natasya ke tempat yang lebih teduh. Sebastian melepas jaket yang melekat di tubuhnya, menggelarnya di atas tanah untuk menjadi alas duduk Natasya, sedangkan Antonio langsung mendudukkan Natasya.
Di lain sisi, Delfano langsung mempercepat langkahnya saat matanya menemukan Natasya yang sepertinya tengah meringis sambil memegangi kepalanya. Anya yang melihat Delfano itu mengerutkan keningnya, mengikuti kemana arah pandangan lelaki itu dan segera mengikuti langkahnya.
“Tata, kenapa?” tanya Delfano, khawatir. Dia berjongkok di hadapan Natasya, menyentuh pundak perempuan itu.
“Iya, Natasya kenapa?” timpal Anya, dia hanya memperhatikan Natasya yang tengah dikelilingi 3 lelaki tampan yang sepertinya khawatir terhadapnya.
Natasya membuka matanya perlahan, mengerjapkan matanya dan kemudian gelap. Semuanya gelap, perempuan itu jatuh pingsan.
“Na,”
“Ta, bangun Ta!”
“Sya, Syasya!”
Delfano langsung mengangkat tubuh Natasya, membawanya ke arah mobil Antonio yang langsung dibuka dengan cepat oleh pemiliknya. Dia segera mendudukkan Natasya, dia langsung duduk di bangku kosong, sedangkan Antonio dan Sebastian langsung duduk di kursi depan.
Delfano terus menatap khawatir Natasya yang masih terpejam, dia terus berusaha menyadarkan perempuan itu yang kini berada di pangkuannya.
Tok... Tok... Tok...
Antonio menurunkan kaca mobil otomatis, membuat Anya kini bisa melihat Delfano yang tengah mengkhawatirkan Natasya, lebih tepatnya ketiga lelaki itu yang khawatir dengan perempuan itu.
“Del—”
“Sorry, Nya, Natasya lebih penting.” potong Delfano yang membuat Anya terdiam seketika. Setelah mengucapkan itu, Antonio langsung meninggalkan Anya begitu saja yang masih berdiri terbengong menatap kepergian mobil tersebut dengan pandangan kosong.
Entah, entah kenapa seperti ada sesuatu yang untuk kesekian kalinya menusuk di dadanya, membuat rasa benci itu semakin membuncah di hatinya. Siapa lagi orang yang dibencinya selain perempuan itu?
***
Delfano terus berjalan kesana kemari sambil sesekali melirik ruang IGD dengan cemas nya. Dia tak bisa barang sedetikpun untuk diam. Dia terlalu khawatir dengan Natasya yang pingsan dan kini tengah ditangani dokter di ruangan itu.
Sedangkan Antonio dan Sebastian yang tak kalah khawatir hanya bisa duduk, menggerakkan kaki mereka untuk menghilangkan sedikit saja rasa cemas mereka. Antonio menunduk, menumpu dagunya di atas kepalan tangannya di atas lutut dengan raut wajah cemas menantikan kabar perempuan di dalam sana. Sedangkan Sebastien hanya memasang wajah datarnya, meskipun tak bisa dipungkiri kecemasan cukup besar di hatinya.
“Natasya mana?”
Semua mata langsung tertuju kearah datangnya suara. Emma, bunda Natasya berjalan tergesa-gesa menghampiri mereka, membuat mereka segera mencoba menenangkan perempuan paruh baya itu.
“Bun, tenang Bun. Tata lagi di tangani di dalam sama dokter.” ucap Delfano, mencoba menenangkan Emma yang sangat khawatir dengan keadaan putri semata wayangnya.
Emma mencengkram lengan Delfano, menatap dengan surat kekhawatiran di wajahnya. “Natasya, kenapa? Kenapa tiba-tiba dibawa ke sini?” tanya Emma, dia butuh penjelasan.
“Tadi, Nana tiba-tiba pingsan bun, gak tau kenapa.”
Emma terdiam setelah mendengar penjelasan Antonio, dia teringat sesuatu. Perlahan, kakinya berjalan kearah kursi rumah sakit, duduk di sana dengan pandangan yang sulit diartikan.
Emma terdiam cukup lama, membuat ketiga lelaki itu cemas dengan keterdiaman itu. Dia menatap bergantian ketiga lelaki itu, lelaki yang berstatus sahabat dari putrinya yang sudah dia anggap seperti anak sendiri. “Kalian pulang aja, biar Natasya bunda yang urus.” ucap Emma, dia punya tujuan khusus datang ke rumah sakit ini.
Semua menggeleng.
“Enggak, Bun. Kita disini aja. Kita mau nemenin bunda sekalian jagain Syasya.” balas Sebastian yang diangguki Delfano dan Antonio.
Emma tersenyum haru, tangannya terulur menyentuh perlahan rambut belakang ketiga lelaki itu bergantian. “Bunda mohon, biar ini jadi urusan bunda. Kalian pulang,”
“Tapi, Bun—”
“Please,”
Mereka semua menghela napas dengan gusar, mereka tak bisa menolak jika perempuan paruh baya itu sudah menunjukkan tatapan memohonnya, seperti ada hipnotis dari tatapan itu.
“Yaudah Bun, kita pulang. Kalau ada apa-apa, langsung hubungin kita aja.” ucap Antonio, beranjak dari jongkoknya.
Emma mengangguk, dia ikut berdiri menatap bergantian ketiga lelaki itu. “Makasih ya udah bawa Natasya kesini.”
“Gak perlu terima kasih, itu udah tugas kita.”
Emma tersenyum.
“Yaudah Bun, sekali lagi kalau ada apa-apa hubungin kita.”
“Iya... Iya... ”
“Bunda masih save kan nomor aku?”
“Fano... ”
***
Bruk!!
Anya melempar tasnya dengan asal, membuat terbentuknya bunyi yang cukup keras. Dia menjatuhkan tubuhnya dengan kasar di atas kursi kamarnya, terengah-engah karena marah. Pikirannya masih teringat kejadian tadi, kejadian beberapa menit lalu.
“Sorry, Nya. Natasya lebih penting.”
Kalimat itu terus saja terngiang di telinganya, seperti enggan untuk pergi.
Dia marah, sangat.
Bukan, bukan karena Delfano yang mengucapkan kalimat itu. Tapi karena arti dari kalimat itu. Natasya lebih penting. Apa selalu perempuan itu yang di prioritaskan? Kenapa selalu perempuan itu yang menang? Menang dalam segala hal? Termasuk mendapat kasih sayang Ba—
Anya menggeram, dia kesal dengan fakta itu. Fakta dimana Natasya mendapatkan semuanya. Fakta dimana Natasya dikelilingi orang tersayangnya. Fakta dimana—
“Gue sumpah, gue akan rebut semuanya. Termasuk sahabat-sahabat lo!” desis Anya, bersumpah pada dirinya sendiri.