Friendshut [TAMAT]

Friendshut [TAMAT]
F-TIGAPULUHTUJUH



Emma berjalan tergesa-gesa memasuki sebuah ruangan kamar inap di Rumah Sakit Bunda. Dia langsung memasuki kamar inap tersebut dan terpaku menatap tubuh perempuan yang terbaring di atas sebuah ranjang rumah sakit. Dengan langkah pelan, dia berjalan menghampiri perempuan itu yang masih memejamkan matanya. Dia membiarkan pintu ruangan ini tertutup dengan sendirinya. Matanya kini beralih pada tangan yang sudah terpasang infus. Tak terasa, setetes air mata jatuh dari pelupuk matanya.


Emma menjatuhkan bokongnya pada kursi yang berada di samping ranjang tersebut. Perlahan, tangannya mengusap pelan wajah pucat itu. Dia terisak dan menunduk, tak kuasa menyaksikan ini semua.


Perempuan itu, Natasya. Dia mengerjapkan matanya perlahan, mencoba menyesuaikan cahaya yang masuk melalui kornea matanya. Dia mengalihkan pandangannya kini pada seorang wanita paruh baya yang tengah terisak. Perlahan, dia mencoba menggerakkan tangannya yang digenggam oleh wanita itu. “Bun,” panggil Natasya yang membuat Emma seketika menegakkan tubuhnya.


Dengan air mata yang membasahi wajahnya, Emma menatap Natasya, putri semata wayangnya. Dia dengan cepat menghapus air mata tersebut dan mencoba menahan tangisnya, meskipun gagal. Air mata itu tak kunjung berhenti melihat keadaan putrinya.


“Jangan nangis,” ucap Natasya parau, suaranya sedikit serak. Pandangan matanya tertuju pada Emma, mencoba menunjukkan senyum kecil di bibirnya.


Bukannya berhenti menangis, tapi Emma semakin tak kuasa dan kini tangisnya semakin tak terkendali.


Natasya terkekeh, “Aku gak papa, bun. Tadi cuma pusing aja kok.” tukas Natasya, mencoba menghilangkan rasa khawatir bundanya.


Beberapa saat Emma masih belum bisa mengontrol perasaan, namun dengan cepat dia mencoba mengatur semuanya demi Natasya. Dia tak ingin membuat putrinya merasa sedih karena kesedihannya. Karena kini hanya dirinya yang dibutuhkan putrinya itu.


“Bibi sekarang mana?” tanya Emma sambil mengedarkan pandangannya kesemua penjuru kamar inap ini dan kembali menatap Natasya. Kenapa dia bertanya itu? Karena yang menelpon dirinya tentang keadaan Natasya adalah pembantu rumah tangganya yang sudah dipastikan bahwa dia lah yang membawa Natasya kesini.


Natasya menggeleng, dia tak tahu dimana keberadaan pembantu rumah nya itu.


Baru saja pertanyaan itu dilontarkan Emma. Suara pintu kamar terbuka membuat mereka menatap pelakunya. Di sana sudah ada pembantu rumah tangga yang ditanyakan Emma tadi.


“Maaf, bu tadi saya habis nelpon bapak dulu. Pinjam telepon rumah sakit.”


Emma mengangguk memaklumi, tersenyum. “Iya bi, gakpapa. Terima kasih, ya. Bibi sekarang mending pulang, terus siapin beberapa keperluan Natasya. Karena pasti dia akan dirawat untuk beberapa hari ke depan.” jelas Emma yang diangguki pembantu tersebut.


Setelah kepergian pembantu tersebut, Emma kini menatap Natasya, mengelus pelan puncak kepala perempuan itu.


“Bunda kesini sama siapa?” tanya Natasya pelan.


“Delfano,”


Natasya terlonjak kaget.


“Tenang aja, bunda udah cari alasan kok kenapa datang kesini. Jadi, kamu gak usah khawatir Delfano akan tau.” jawab Emma yang cukup melegakan hati Natasya. Perempuan itu kini diam.


***


Antonio melenggang memasuki rumah Natasya. Namun, pembantu rumah tangga dengan sebuah tas jinjing ditangannya menjadi pemandangan pertama yang dilihatnya.


“Loh bi, itu tas Natasya mau dikemanain?” tanya Antonio bingung, dia menatap tas tersebut yang diyakininya memang milik Natasya.


Pembantu tersebut diam, dia cukup sulit untuk menjawab pertanyaan yang dilontarkan anak majikan temannya itu.


“Ini den, non Natasya mau liburan. Jadi, minta disiapin keperluannya.” jawab pembantu tersebut sekenanya. Karena dia sudah diwanti-wanti oleh majikannya, untuk tidak memberi tahu siapapun tentang keadaan Natasya, terutama sahabat perempuan itu.


Kening Antonio mengerut mendengar ucapan pembantu tersebut. “Liburan?” tanya balik Antonio, mencoba memastikannya yang langsung mendapat anggukan dari pembantu tersebut.


Sebenarnya Antonio cukup ragu, namun dia akhirnya mengangguk. “Yaudah, saya permisi dulu kalau begitu.”


Antonio berjalan meninggalkan rumah Natasya menuju rumahnya. Dia kini sudah duduk di ruang tamu rumahnya, mengeluarkan ponselnya dan langsung menghubungi nomor perempuan itu.


“Hallo,”


“Kenapa?”


Antonio mengerutkan keningnya mendengar suara perempuan itu.


“Suara lo enapa? Sakit?”


“...Enggak kok, gak kenapa-napa. Kenapa nih nelpon?”


Antonio sedikit lega mendengarnya namun kemudian mendengus.


“Gue vc ya?”


“Enggak, gak mau ah!”


“Dih? Kenapa?”


“Boros kuota,”


“Nanti gue ganti,”


Natasya mendengus di sana, “Udah, deh. Ada apa nelpon?”


Iya, Antonio sampai lupa dengan niat awalnya menelpon perempuan itu. “Katanya lo mau liburan?”


“Liburan?”


Antonio mengerutkan keningnya, kemudian mengangguk, meskipun dia yakin orang diseberang sana tak melihat apa yang dilakukannya. “Iya, tadi bibi bilang gitu sama gue pas gue ke rumah.” jelas Antonio yang membuat Natasya di sana terdiam.


Antonio semakin mengerutkan keningnya, dia menatap layar ponselnya yang masih menunjukkan panggilan yang terhubung. “Halo? Lo masih di sana kan, Na?” tanya Antonio, mencoba memastikan.


“Jadi?”


“Iya, gue lagi liburan. Jadi, please deh, jangan ganggu waktu liburan gue dulu.”


Antonio mendengus, “Lo liburan tapi gak ajak gue,”


“Ya terserah gue dong, mau ajak lo atau enggak.”


“Ya tapikan, setidaknya—”


“Udah ah, bye! Gue mau menikmati liburan gue dulu tanpa gangguan dari siapapun.”


Tut!


Panggilan diputus sepihak oleh Natasya membuat Antonio mendengus kesal karena kelakuan perempuan itu. Dia menatap layar ponselnya yang hanya menampilkan wallpaper berisi foto dirinya dan ketiga sahabatnya itu. Seulas senyum di bibirnya muncul.


Antonio memainkan ponselnya, memutar pelan ponsel tersebut. “Gue salah deh kayaknya bersikap kayak tadi, gak seharusnya gue kayak gitu.” gumam Antonio pelan, menyesali perbuatannya yang kekanakan. Marah hanya karena hal sepele.


Cinta.


Kata singkat namun memiliki arti mendalam. Dia marah hanya karena 'kata' tersebut. Oke, sekarang dia percaya bahwa 'cinta' bisa melakukan segalanya, merubah apapun, termasuk sikapnya tadi.


Antonio segera berdiri, dia langsung berjalan menuju garasi mobilnya dan memasuki mobil tersebut kemudian melajukannya ke tempat tujuan.


***


Natasya menatap nanar layar ponselnya, dia menarik tipis sudut bibirnya. Dia baru saja selesai melakukan panggilan dengan Antonio, lelaki itu lebih dulu menelponnya. Awalnya dia bingung dengan pernyataan yang dilontarkan lelaki itu.


Liburan?


Rasanya dia ingin terbahak sekarang mengingat itu semua. Namun, perlahan senyuman itu pudar kala pikirannya mulai sinkron dengan keadaan sebenarnya.


Dia menatap tangannya yang terpasang infus, kembali menatap nanar punggung tangannya itu. Dia segera menghapus air mata yang tanpa sengaja mengalir dari sudut matanya. Dia tak mau sampai bundanya melihat tangisnya itu, tak ingin membuat bundanya sedih melihat keadaannya ini.


Beruntung, bundanya sedang pergi mengurus administrasi. Sehingga bundanya tak melihat tangisnya itu.


***


Antonio menghentikan mobilnya di sebuah pekarangan rumah besar milik Sebastian. Dia segera turun dari mobilnya itu dan berjalan dengan santai memasuki rumah yang pintunya selalu terbuka lebar. Dia tadi sempat menyapa satpam di depan, jadi tak ayal kalau pintu selalu terbuka lebar karena ada penjaganya.


“Anton,”


Antonio menghentikan langkahnya, dia langsung menghampiri seorang wanita paruh baya yang masih terlihat muda di usianya yang tak lagi muda. Dia segera menyalami wanita tersebut.


Sonya Betty Gunawan, ibu dari Sebastian itu tersenyum menatap Antonio. “Mau ketemu Tian ya?” tebak Sonya yang langsung diangguki Antonio. Memang benar, niat awal lelaki itu ingin menemui Sebastian.


“Ada kan Tan?”


“Ada, kamu langsung aja ke kamarnya ya.” ucap Sonya yang diangguki Antonio. “Yaudah, Tante mau pergi dulu ya, ada arisan sama ibu-ibu. Jadi, kalau mau apapun, langsung aja minta sama bibi. Ok?” lanjut Sonya sambil merapikan bagian depan rambutnya yang dibuat dengan gaya pixie cut.


Antonio langsung menaiki anak tangga, berjalan menuju kamar Sebastian yang ada di lantai atas di pojok ruangan. Sebuah pintu berwarna hitam merupakan ciri khas dari kamar Sebastian, karena tak ada lagi pintu berwarna hitam di lantai atas ini kecuali pintu kamarnya.


Tanpa mengetuk terlebih dahulu, Antonio langsung membuka pintu kamar Sebastian dan menemukan pemilik kamarnya yang tengah berbaring. Perlahan, kakinya mulai melangkah menghampiri lelaki itu yang sepertinya tak terusik sedikitpun atas kehadirannya.


Kamar Sebastian itu layaknya kamar remaja lelaki pada umumnya, hanya yang membedakannya adalah banyak sekali foto mereka berempat terpajang di setiap penjuru kamar lelaki itu.


Pantas, pantas Sebastian tak terusik dengan kedatangannya. Ternyata lelaki itu tengah tertidur dengan sebuah earphone yang menyumpal kedua telinganya.


“WOY!”


Sebastian seketika membuka matanya saat tubuhnya tiba-tiba dipukul lumayan keras oleh seseorang. Antonio, dialah pelakunya. Dia segera mengubah posisinya menjadi duduk, melepaskan earphone yang terpasang di telinganya.


Antonio terkekeh melihat wajah bingung Sebastian, maklum muka bantal—orang bilang. Dia berjalan kearah lemari televisi di kamar ini, membuka lacinya dan mengeluarkan sebotol minuman kaleng ditambah snack yang menjadi pendampingnya.


“Ngapain lo disini?” tanya Sebastian, wajah lelaki itu kini sudah berubah—dari kebingungan, kini datar seperti biasa. Mata lelaki itu mengikuti langkah kaki Antonio menuju balkon kamarnya.


Antonio duduk di sebuah sofa panjang di balkon kamar Sebastian, dia membuka minuman kaleng tersebut dan meneguk isinya. “Mainlah!” jawab Antonio asal, dia memandang daerah perumahan Sebastian lewat balkon kamar lelaki itu sambil membuka snack ditangannya dan mulai menikmatinya.


Sebastian mengucek matanya, dia berjalan mengambil sebotol minuman kaleng kemudian duduk di sebelah Antonio. Matanya memandang lurus ke depan. “Tumben banget lo.”


Antonio menarik sudut bibirnya, dia menghentikan kegiatan menikmati snack di tangannya. “Sorry,” ucap singkat Antonio tanpa menoleh, membuat Sebastian menatap lelaki itu.


“Sorry? Buat?”


“Sikap gue tadi.”


Mereka terdiam. Sibuk dengan pikirannya masing-masing. Hingga tiba-tiba Antonio berdehem.


”Lo suka sama Natasya?”