Friendshut [TAMAT]

Friendshut [TAMAT]
F-ENAMPULUHDELAPAN



Semuanya terasa berbeda semenjak kejadian dimana Natasya pingsan saat itu. Anya yang biasanya bergabung bersama mereka kini menjauh. Anya yang biasanya menyapa kini acuh. Semuanya terasa berbeda meskipun pada kenyataannya semua kembali seperti dulu. Kembali seperti saat dimana hanya ada Natasya diantara Antonio, Delfano dan Sebastian.


Seperti saat ini, mereka tengah bercanda gurau langsung terhenti saat mendengar pekikan keras seseorang.


“Lo tuh, ya! Seragam gue jadi basah kan!? Makanya jalan tuh lihat-lihat, dasar!”


Itu semua Anya pelakunya. Anya memang terlihat lebih angkuh, keras dan kasar kini. Tipikal kakak kelas yang suka mem-bully. Anya berubah, kini dia tak segan memarahi siapapun yang mencoba mencari masalah dengannya.


Semuanya saling tatap, mereka saling tatap satu sama lain.


Antonio menghela nafas kasar, dia kembali melanjutkan menikmati mie ayam nya. “Udahlah, biarin aja.” ucap Antonio, dia tak mau ambil pusing.


Delfano dan Natasya masih saling tatap, bingung harus melakukan apa. Sedangkan, Sebastian masih menatap Anya, bahkan menatap kepergian perempuan itu dari kantin. Delfano mengalihkan tatapannya kearah Sebastian, membuat Natasya ikut menatap kearah Sebastian. Antonio yang sejak tadi tak mendapat respon apapun menghentikan suapannya, menatap satu persatu sahabatnya yang tengah tertuju pada Sebastian.


Dasar Sebastian tak peka, dia langsung beranjak begitu saja meninggalkan area kantin.Mereka sih bisa menebak, akan kemana perginya lelaki itu. Ya, siapa lagi kalau bukan ke Anya.


***


Anya terus menggerutu, dadanya bergemuruh dengan hebatnya. Dia menumpu tangannya disamping wastafel, menatap pantulan wajahnya lewat cermin besar di hadapannya.


Matanya memanas, dadanya sesak saat harus ingat kejadian beberapa saat yang lalu. Saat dimana dia marah-marah di depan publik hanya karena hal sepele. Sebenarnya dia tak terbiasa melakukan itu semua, tapi sekali lagi karena kekecewaannya membuat dia melakukan itu semua.


Orang-orang terlalu menyalahkannya, bahkan yang sedang membaca ini pun benci kepadanya. Padahal mereka tidak tahu, apa yang sebenarnya terjadi.


Inhale, exhale. Dia menghembuskan napasnya saat dirasa semua sudah stabil dalam hatinya. Dia segera merapikan penampilannya, bergegas keluar dari sini.


Baru saja dia melangkah keluar dari toilet, seseorang sudah lebih dulu menarik lengannya membuat dia seketika membalikan tubuhnya dan langsung bersandar pada tembok saat orang yang menariknya memojokkannya ke tembok.


Anya terlonjak, kaget tentunya.


Bagaimana tak terkejut coba. Di hadapannya sudah ada Sebastian yang menatap tajam dirinya. Dan, tolong. Ini posisi mereka rasanya kurang aman. Sebastian terlalu menyudutkan Anya, membuat Anya harus menahan napas dan debaran di jantungnya karena posisi mereka yang lumayan dekat ini.


Sekian lama mereka dalam keadaan diam membuat Anya tak kuasa.


“Lo apa-apaan sih?” tanya Anya, dia mencicit.


Sebastian masih menatap intens Anya, dia tak mengalihkan sedikitpun pandangannya dari Anya di hadapannya. “Yang harusnya tanya tuh gue. Lo yang apa-apaan?” balas Sebastian, suaranya pelan namun cukup menusuk.


“Gue gak ngapa-ngapain kok, gue—”


“Gue gak nyangka, ternyata ini sifat asli lo. Bersyukur, gue udah jauh lebih tahu sifat lo yang sebenarnya sebelum gue jatuh hati sama ko.”


Sebastian melepas perlahan cekalannya, sudah ada jarak diantara mereka. Anya kini bisa bernapas lega.


“Maksud lo apa?”


Sebastian menarik sudut bibirnya. “Lo ingat dimana gue traktir lo makan karena udah bantuin gue?” tanya Sebastian.


Anya ingat, saat itu dia di traktir Sebastian karena jajanan miliknya yang sudah tak cantik waktu itu. Tapi, apa hubungannya sekarang.


“Saat itu, gak tahu kenapa tiba-tiba ada sesuatu yang beda,” ucap Sebastian, dia menjeda sejenak ucapannya. “Ada yang beda sama perasaan gue. Tapi, gue tolak perasaan itu, gue tetep yakin hati gue cuma buat Natasya.” Sebastian menghela napas. “Tapi, ternyata salah, emang ada yang beda sama perasaan gue terhadap lo. Dan, lebih disayangkan lagi, setelah gue tahu sifat asli lo kayak gini, seenaknya, curang or everything. Rasanya itu hilang gitu aja, bahkan sekarang gue ilfeel sama lo.” lanjut Sebastian sedangkan Anya hanya diam.


Jujur, Anya terkejut saat Sebastian berkata dia pernah merasakan perasaan yang berbeda kepadanya. Dia senang tentu saja. Tapi, Sebastian seolah tengah melempar barang begitu saja. Mengangkat dia ke awan dan menghempaskan nya hanya dalam jentik kan jari.


“Gue rasa, penolakan gue kemarin ada benarnya. Lo gak cocok. Lo gak cocok sama sekali gantiin Natasya di hati gue. Gak pantes.” sambung Sebastian, dia diam sejenak kemudian membalikkan tubuhnya hendak meninggalkan Anya.


Sekali kali, Natasya.


Kenapa perempuan itu selalu ada?


“Lo ingat, waktu gue nangis saat itu?”


Sebastian sontak menghentikan langkahnya mendengar suara Anya. Anya tersenyum pilu menatap punggung Sebastian. Sepertinya Sebastian tak ada niatan membalikkan tubuhnya menatap Anya.


“Saat itu, gue bilang gue gak nangis.”


Sebastian ingat. Saat dimana dia menemukan Anya yang menangis di tempat yang sepi. Bocor ban mobilnya menjadi alasan utama dia bisa menemukan Anya saat itu.


“Padahal gue nangis, tapi gue gak mau jujur sama lo. Apa lo tahu, siapa penyebab utama gue nangis?” tanya Anya, Sebastian masih diam.


“Bokap gue, dia yang buat gue nangis.”


“Dan apa lo tahu, sumber utama dari permasalahan gue sama bokap?”


Sekali lagi, Sebastian hanya bisa diam.


“Dia, Natasya.”


Sontak, Sebastian membalikkan tubuhnya menatap Anya dengan kening mengerut. Mereka saling tatap dengan jarak yang lumayan jauh.


“Lo gak tahu apapun, Yan. Lo gak tahu, masalah apa yang terjadi sama gue dan lo gak tahu, rasa sakit apa yang gue rasakan selama bertahun-tahun. Dan, itu semua karena Natasya.” lanjut Anya, dia tersenyum kecut kemudian berjalan pergi meninggalkan Sebastian dengan perasaan yang berkecamuk di hatinya.


***


“Anya,”


Anya membalikkan tubuhnya saat namanya di panggil. Rasa marah dan kecewa yang dikarenakan Sebastian masih belum hilang, ditambah sekarang keberadaan seorang perempuan yang menjadi akar masalahnya membuat rasa itu berkecamuk lebih dalam hatinya.


Natasya tersenyum pilu. Dia mendengar apa yang dibicarakan Sebastian dan Anya. Dia sengaja mengikuti Sebastian tadi dan sekarang dia mengikuti Anya sampai di belakang sekolah yang lumayan sepi.


Taman yang jarang sekali dikunjungi siapapun karena memang tak ada yang menarik di taman ini, kecuali rerumputan yang hijau dan beberapa kursi kayu.


Natasya berjalan perlahan menghampiri Anya, dia masih tersenyum menatap pilu Anya yang menatap tak suka kearahnya. “Gue dengar tadi apa yang lo omongin sama Tian.” ucap Natasya yang menimbulkan senyum pahit di bibir Anya.


Anya melipat tangannya didepan dada, mengalihkan pandangannya sejenak kemudian kembali menatap Natasya. “Berarti sekarang lo tahu dong, apa yang jadi masalahnya.”


Natasya menggeleng membuat Anya rasanya ingin tertawa mengejek perempuan itu.


“Gue sama sekali gak ngerti, apa yang lo maksud. Apa hubungan lo, bokap lo dan gue. Gue gak paham.”


“Lo gak paham?”


Natasya mengangguk.


“Tanya bokap lo. Kenal gak sama Anya anaknya ibu Ashilla Darmawati.” ucap Anya, dia sudah berdecak pinggang. “Gue yakin sih, bokap lo tahu.” lanjut Anya, dia membalikkan tubuhnya meninggalkan Natasya dengan sejuta pertanyaan di benaknya.


***


Natasya menatap gedung besar di hadapannya. Gedung yang menjulang tinggi dengan desain huruf ANcorp di atasnya. ANcorp sebuah perusahaan yang bergerak dalam bidang properti milik Bramantyo—ayahnya. Sebuah perusahaan gabungan milik kakeknya dulu dengan perusahaan yang dirintis ayahnya dari nol.


Dia segera melangkah memasuki gedung tersebut. Senyuman dan sapa dilemparkan orang-orang kepadanya sejak dia menapaki kaki disini. Dia segera memasuki lift khusus yang akan menghantarkan langsung ke lantai dimana ruangan ayahnya berada.


Natasya disini sendiri, tanpa Delfano ataupun Antonio dan Sebastian. Dia ingin mendapatkan jawaban yang pasti atas pertanyaan yang sejak tadi di pikirannya. Dia tak ingin melibatkan siapapun, termasuk mereka.


Ting!


Lift terbuka, dia segera melangkah keluar berjalan lurus ke depan kearah meja sekertaris ayahnya.


“Mbak maaf, ayah ada?” tanya Natasya pada sekertaris ayahnya yang sudah dia kenal sejak lama.


Sekertaris itu beranjak dari duduknya, mengangguk. “Ada, mbak Nata. Bapak ada di dalam. Mau ketemu bapak?”


“Iya, mbak.”


“Yaudah, silahkan masuk, mbak.”


“Makasih, ya.”


Natasya segera memasuki ruangan ayahnya. Di sana, Bramantyo terlonjak kaget karena kehadirannya yang tiba-tiba. Bramantyo tengah berkutat dengan berkas-berkas di atas mejanya.


Natasya berjalan menghampiri ayahnya. Dia tersenyum lebar. Ayahnya tersenyum, menyambut kedatangannya.


“Loh, kamu kesini? Kenapa gak kabarin ayah?” tanya Bramantyo, dia beranjak dari duduknya menghampiri Natasya yang masih berdiri di tempatnya semula.


Natasya segera menyalami ayahnya. Dia tersenyum sambil mengangguk. “Yah, ada yang mau aku tanyain sama ayah.” ucap Natasya, dia menghela napas pelan.


Bramantyo mengerutkan keningnya bingung, wajah putrinya sedikit lebih serius dan ada keraguan yang timbul di benak putrinya. “Ada apa sih? Kok kayak serius banget?” tanya Bramantyo, dia menggiring anaknya untuk duduk di sofa ruangannya.


Natasya menghela napas pelan, dia menatap serius ayahnya yang juga menatap sama kepadanya. “Jujur sama aku, siapa Anya dan tante Ashilla.” ucap Natasya pelan yang sontak membuat raut wajah ayahnya berubah.


Deg.