Friendshut [TAMAT]

Friendshut [TAMAT]
F-LIMAPULUHDUA



Natasya menatap pantulan wajahnya lewat cermin di hadapannya, dia menatap lurus ke depan dengan pandangan kosong. Namun, sebenarnya pikirannya masih tertuju pada ucapan Antonio beberapa saat yang lalu.


Flashback On


“Apanya yang harus jujur? Perasaan gue?”


Natasya mengerutkan keningnya, dia terkekeh. “Maksud lo apaan sih? Gue gak ngerti, Ton.” ucap Natasya, dia bingung dengan sikap Antonio yang tiba-tiba seperti ini.


Antonio terdiam beberapa saat sebelum kemudian beranjak dari duduknya bergegas meninggalkan Natasya di ruangan ini. Natasya buru-buru mengejar langkah Antonio yang berjalan menuruni anak tangga dengan cepatnya.


“Ton,” panggil Natasya yang diacuhkan Antonio. Antonio seolah menulikan pendengarannya memilih berjalan menuju dapur dengan cepat meninggalkan perempuan itu.


Natasya diam sejenak, kemudian dia segera menarik lengan Antonio agar menatapnya. Lelaki itu baru saja membuka lemari es nya, namun Natasya lebih dulu menghentikan kegiatannya.


“Lo kenapa sih?” tanya Natasya kesal, dia sedikit frustasi melihat sikap Antonio yang tak biasa.


“Gak, gue gakpapa.” jawab Antonio, dia membalikkan tubuhnya dan mengambil botol minuman soda kemudian memilih meminumnya di mini bar.


Natasya menggeleng, dia tak percaya dengan ucapan Antonio. Dia duduk di kursi mini bar samping Antonio. “Bohong. Terus tadi maksudnya apa? Perasaan lo? Kenapa sama perasaan lo?” tanya Natasya.


“Lupain aja.”


Natasya diam, dia tak puas dengan jawaban Antonio.


Antonio menghela napas kasar, “Udahlah, mending lo pulang. Gue ada urusan.” lanjut Antonio, dia beranjak meninggalkan Natasya yang masih diam menatap punggung lelaki itu yang semakin menjauh dari pandangannya.


Flashback Off


“Apa jangan-jangan yang diomongin Nara, benar?” gumam Natasya, dia jadi memikirkan kembali ucapan Kinara tadi tentang dia dan perasaan mereka.


***


Natasya langsung bergegas keluar saat panggilan dari Delfano tengah berlangsung sekarang. “Iya, iya. Ini keluar kok.” ucap Natasya, dia menyelipkan anak rambut yang sedikit menghalangi wajahnya. Fyi, saat ini dia memakai pakaian casual—sweater turtle neck putih dilapisi rajut cardigan coklat dipadu dengan jeans dan sling bag senada, tak lupa sneakers putih.


Natasya membuka pintu rumahnya, tersenyum menatap Delfano yang sudah duduk di atas motor lelaki itu. Dia berjalan menghampiri Delfano yang tengah tersenyum kearahnya, tersenyum lebar. “Ini udah di depan kan.” ucap Natasya.


Delfano menatap Natasya dengan intens, entah kenapa perempuan itu terlihat berkali lipat lebih cantik dari biasanya, seperti ada aura lain yang lebih memancar dari perempuan itu. Apakah ini efek jatuh cinta?


“Gak janjian tapi, kita samaan.” tukas Delfano sambil mengendikkan bahunya yang langsung disadari oleh Natasya. Mereka memakai outfit yang hampir sama dengan warna yang senada. Jujur, ya, mereka tak ada janjian sebelumnya akan memakai warna yang sama. Memang ya, jodoh.


“Iya, ya, padahal gak janjian. Kok bisa sama sih?”


“Jodoh kali,” celetuk Delfano yang membuat Natasya diam.


“Yaudah, yuk! Keburu malam nanti.” lanjut Delfano sambil menyerahkan helm nya. Natasya sebenarnya tak terlalu suka naik motor tapi, karena Delfano yang membawanya dia mengenyahkan rasa tak sukanya itu.


By the way, orang tua Natasya sedang tak ada di rumah. Mereka tengah pergi ke kondangan salah satu kolega Ayahnya. Memang, ya, orangtuanya itu sering sekali pergi kondangan, kalau bukan saudara, ya seperti ini kolega ayahnya.


“Berangkat,” seru Delfano yang langsung melanjutkan motornya meninggalkan pekarangan rumah Natasya.


Tanpa di sadari, ada sepasang mata yang sejak tadi memperhatikan mereka. Pemilik mata itu tak sedikitpun mengalihkan matanya sebelum pada akhirnya mereka menghilang dari pandangannya.


***


Natasya turun perlahan dari motor Delfano, dia menyerahkan helm yang dikenakannya pada lelaki itu. Dia menatap takjub pemandangan di depan, dengan senyum yang menghias bibir manis nya dia menoleh menatap Delfano.


“Lo ajak gue kesini?” tukas Natasya, terdengar sekali nada senang dan antusias dari ucapannya itu. Delfano mengangguk, dia kini sudah berdiri di samping Natasya dan merangkul pundak perempuan itu.


Natasya semakin melebarkan senyumnya, dia mendongak menatap Delfano yang lebih tinggi darinya. “Udah lama banget gue gak kesini, kangen.” ucap Natasya yang membuat Delfano terkekeh. Mereka melangkah memasuki tempat ini.


Sebuah pasar malam, tempat yang mereka kunjungi kini. Di tempat ini banyak sekali wahana yang cukup menantang adrenalin. Kelap-kelip lampu yang menghiasi wahana-wahana tersebut cukup memanjangkan mata siapa saja, di tambah berbagai makanan dijajakan mulai dari yang asin, manis sampai pedas.


“Fan, pengen naik itu.” tunjuk Natasya, dia menunjuk sebuah wahana bianglala. Dia ingat sekali, kapan terakhir kali menaiki wahana itu. Terakhir kali dia naik bianglala saat dia memasuki sekolah menengah pertama. Dia datang ke tempat ini bersama ayah dan bundanya.


“Boleh,” balas Delfano, dia segera menarik lengan Natasya menuju loket dimana mereka harus membeli tiket untuk menaiki wahana itu.


Dan, disinilah mereka, di dalam sebuah sangkar burung setelah mengantri beberapa menit yang lalu. Natasya tak henti-hentinya tersenyum lebar sambil menatap pemandangan di bawah sana dari atas. Posisi sangkar burung mereka kini berada tepat di atas, di ujung.


Delfano tak henti-hentinya menatap Natasya yang tersenyum lebar. Dia senang, ternyata usahanya tak mengecewakan. Melihat senyuman Natasya itu seolah menjelaskan bahwa misinya berhasil.


“Makasih, ya.” ucap Natasya, dia menatap Delfano yang duduk di depannya.


Delfano mengangguk, “Seneng?”


“Banget. Udah lama gak kesini, jadi kangen.”


“Fano, nanti kita beli permen kapas, terus—”


***


Sudah hampir dua jam mereka di sini, masih belum puas sepertinya meskipun sudah menaiki berbagai wahana disini. Natasya turun dari wahana ombak banyu. Dia menggenggam erat tangan Delfano, terkekeh pelan sambil berjalan kearah tempat duduk di dekat mereka. Dia menatap Delfano yang masih diam, mereka saling tatap kemudian tertawa bersama.


“Aduh.. Gue masih gemetaran, Fan.” ucap Natasya, dia terkekeh bahkan matanya sampai berair.


Delfano menghela napas dengan kasar, dia bersandar pada sandaran kursi. Dia mengangguk, membenarkan ucapan Natasya. Bahkan sampai kini, jantungnya masih berdetak tak karuan setelah baru saja merasakan sensasi di ombang ambing.


Natasya menatap Delfano, dia tertawa lumayan keras melihat wajah Delfano yang masih di selimuti ketegangan. “Lucu banget sih, mukanya masih tegang.” ucap Natasya, dia menunjuk wajah Delfano sambil mengusapnya pelan.


Delfano ******* bibirnya, dia kini menegakkan tubuh sambil menggeleng kuat. “Gak lagi deh naik yang gituan, bikini jantungan.”


“Cemen,”


“Biarin.”


Natasya mencebik, “Biasa naik motor, mobil ngebut juga. Aneh.”


“Ya, beda lagi lah, Ta.”


“Dih, sama kali.”


“Beda,”


“Sama.”


“Enggak, beda.”


“Iya, sama kok.”


“Yaudah, yaudah terserah.” ucap Delfano, dia mengakhiri perselisihan manja diantara mereka. “Haus atau laper gak?” tanya Delfano.


“Dua-duanya.”


“Yaudah, cari makan sama minum yuk!”


“Ayo!”


Mereka berjalan mencari makanan dan minuman, menelusuri satu persatu penjual untuk mencari sesuatu yang menarik perhatian.


“Mau makanan manis atau asin?” tanya Delfano, dia melirik Natasya. Genggaman tangannya cukup erat karena mereka harus berdesak-desakan dengan beberapa orang.


“Dua-duanya,”


Delfano menarik sudut bibirnya, tersenyum mendengar jawaban Natasya. “Oke deh.”


***


Mereka memilih duduk lesehan disalah satu kedai, memilih duduk di belakang bersama beberapa orang untuk menghindari kerumunan. Delfano segera mengeluarkan makanan dari kresek, mulai dari martabak, kerak telor, telur gulung, sosis bakar dan sebotol air mineral juga es teh manis.


“Enak, ya?” tanya Delfano, dia menyuapkan kerak telor ke mulutnya menatap Natasya yang tengah minum air mineral.


“Belum juga nyobain,” ucap Natasya, dia terkekeh. Dia mengambil kerak telor yang sama yang tengah dinikmati Delfano, mengangguk mengiyakan pertanyaan Delfano tadi.


Mereka mulai mencoba satu persatu makanan itu, menikmatinya sambil sesekali bergurau. Percaya atau tidak, semua itu bisa mereka habiskan, tentu.


Delfano mengedarkan pandangannya dan langsung menatap tajam seorang lelaki yang dengan terang-terangan menatap Natasya. Sedangkan, yang ditatap tak sadar dan lebih sibuk dengan makanannya. Dengan cepat, dia menarik wajah Natasya agar menatap kearah lain, sehingga kini hanya kepala bagian Natasya yang dilihat oleh lelaki yang memperhatikannya tadi.


“Kenapa, Fan?” tanya Natasya, dia melirik Delfano dan masih pada posisinya menatap samping.


Delfano memajukan wajahnya sedikit lebih dekat dengan Natasya. “Gue gak suka, cewek gue diliatin cowok lain.” desis Delfano yang membuat Natasya mengerutkan keningnya.


“Maksudnya?”


“Cowok di sana,” ucap Delfano, menunjuk lelaki yang menatap Natasya dengan dagunya. “Dia ngeliatin lo mulu, gak tahu apa ada pacarnya disini.” lanjut Delfano, kini kening lelaki itu mengerutkan tanda tak suka.


Diam-diam Natasya tersenyum, terlihat jelas sekali kecemburuan Delfano ini. “Cemburu, nih?” goda Natasya, dia menaik turunkan alisnya.


Delfano terdiam, dia menegang seolah tengah tertangkap basah sesuatu. Memangnya terlihat jelas sekali kecemburuan dirinya ini? Argh, gengsi dong.


“Apaan sih? Geer!” Elak Delfano yang membuat Natasya terus melebarkan senyumnya.