Friendshut [TAMAT]

Friendshut [TAMAT]
F-ENAM



Natasya turun dari mobil Delfano, sedikit membungkukkan tubuhnya. “Makasih ya traktirannya, gue seneng banget deh.” ucap Natasya, dia tersenyum lebar sambil menunjukkan dua paper bag berukuran sedang yang berisi beberapa novel yang dibelinya tadi— ah ralat, dibelikan sahabatnya tadi.


Delfano melipat tangannya di atas kemudi, sedikit membungkukkan badannya sambil tersenyum. "Itu diganti ya, gak gratis loh." ucap Delfano sambil menaik-turunkan alisnya, kembali menggoda Natasya.


Natasya memicingkan matanya sambil mendengus. “Ih... Perhitungan banget sih." kesal Natasya, dia mengerucutkan bibirnya. Sebal sekali mendengar ucapan Delfano, meskipun dia tahu itu hanyalah candaan semata.


“Lagian, Lo juga cuma beliin satu! Tian aja yang beliin dua gak minta ganti rugi!” balas Natasya, dia tersenyum senang seolah telah menang atas Delfano.


Delfano memasang wajah datar.


“Duit, Nat satu juga! Lo kira itu di beli pakai daun? Ampun deh!” timpal Antonio, dia menggeleng tak habis pikir. Sedangkan, Delfano tersenyum lebar sambil mengangguk-angguk, merasa menang atas pembelaan dari Antonio. Lain halnya dengan Natasya yang mendengus kesal.


Natasya menatap sebal Antonio. “Berisik! Beliin juga enggak, ikut-ikutan aja.” degus Natasya yang langsung membuat Antonio ternganga.


Antonio terkekeh, menggeleng tak percaya sambil mengacungkan telunjuknya. “Hei... Ingat dong, yang bayar makan tadi itu siapa?” tanya Antonio, dia menaikkan kedua alisnya menatap Natasya. Dia tak habis pikir dengan Natasya. Apa perempuan itu lupa siapa yang membayar makanan tadi? Kalau iya, oke dia akan ingatkan. Yang membayar itu semua adalah dirinya. ANTONIO.


Natasya terkekeh, “Becanda kali,” ucap Natasya sambil berdecak. "Iya... Iya ... Tau kok. Anton banyak uang, jadi traktir kita terus.” ucap Natasya dengan nada dibuat manja, menatap Antonio dengan puppy eyes.


Delfano melirik Antonio yang duduk di kursi belakang, tersenyum lebar.


Antonio menarik sudut bibirnya, kembali bersandar pada jok. “Bagus, bagus kalau sadar.” balas Antonio, dia bergegas keluar dari mobil kemudian berjalan memutari mobil, berdiri tepat di depan Natasya.


Natasya memutar tubuhnya, dia menatap Antonio didepannya dengan kening mengerut karena lelaki itu tiba-tiba saja melemparkan senyum lebar sambil memegang kedua bahunya. Tubuhnya tiba-tiba mundur begitu saja saat Antonio mendorong mundur tubuhnya. Dan yang semakin membuatnya bingung adalah Antonio yang kembali masuk ke mobil Delfano dan duduk di tempat yang semula didudukinya—samping Delfano.


Ngomong-ngomong tentang Sebastian, pria itu sudah pulang lebih dahulu. Alasannya karena dia ada urusan. Entah urusan apa, tak ada yang tahu. Memang sok sibuk Sebastian itu, heh.


“Lo kok naik mobil lagi sih?” tanya Natasya bingung. “Rumah Lo kan disini.” sambung Natasya, dia menunjuk rumah Antonio di samping rumahnya dengan mengendikkan dagu.


Antonio dan Delfano saling tatap, membuat Natasya semakin bingung. Mereka kembali menatap Natasya, tersenyum lebar sampai menampilkan deretan gigi Pepsodent nya.


“Urusan cowok, cewek jangan kepo.” jawab Antonio sambil memangku wajahnya di atas pintu mobil, menaik-turunkan alisnya.


Natasya memutar bola matanya jengah, “Dih... Sombong! Bodo amat ah, gue mau masuk. Sana pergi!” usir Natasya. Dia segera membalikkan tubuhnya berjalan kearah pagar rumahnya, berdiri di depan sana.


Antonio dan Delfano terkekeh.


“Udah, lo masuk dulu aja, Ta. Nanti kita pergi ada yang bawa kabur lo lagi, kan bisa berabe kita.” ucap Delfano sambil mengendikan dagunya. Natasya tersenyum, ucapan Delfano cukup menghangatkan di hatinya.


“Ya ampun Fan, siapa juga yang mau bawa kabur dia. Nyesel banget nantinya tuh orang.” timpal Antonio yang langsung membuat Natasya yang tadinya tengah dirundung bahagia langsung jatuh seketika.


“Udahlah, gue masuk dulu ya. Bye and thanks buat traktiran kalian. Dah...”


Natasya melambaikan tangannya, membuka pintu gerbang rumahnya kemudian memasuki rumahnya sambil terus tersenyum. Sedangkan Delfano langsung melajukan mobilnya saat pintu gerbang Natasya sudah kembali tertutup, meninggalkan perumahan perempuan itu menuju apartemen bersama Antonio.


***


“Anjay...”


Antonio mendengus, dia hampir menendang kaleng minuman yang dia simpan di samping kaki kanannya. Dia kesal karena kocekan bolanya masih melesat dari perkiraan. Dia kembali mendengus, menatap sebal Delfano yang terkekeh melihat kegagalan Antonio untuk kesekian kalinya.


Saat ini, mereka tengah bermain sepak bola lewat PlayStation milik Antonio ditemani beberapa cemilan dan minuman soda kaleng yang kemasannya sudah berserakan di lantai.


Delfano mendesah pelan, “Ah... malas gue, kalah mulu lo.” ucap Delfano, dia menyenderkan tubuhnya pada sofa dan semakin merosotkan tubuhnya dengan kepalanya menengadah di atas sofa.


Antonio melirik tajam Delfano, merasa tersinggung dengan ucapan lelaki itu. “Gak usah pede deh. Ok, gue akuin gue selalu kalah dari lo, but now gue gak bakal kalah lagi.” balas Antonio sambil tersenyum, menampilkan smirk-nya.


Delfano yang melihat itu hanya terkekeh, dia mengendikan bahunya acuh. Selalu saja kalimat itu yang dilontarkan Antonio saat Delfano mengejeknya. Dan pada akhirnya, kalimat itu hanya ucapan semata yang tak pernah sekalipun terwujud akhirnya.


Drtt...


Antonio mendengus saat ponsel di saku celananya bergetar, dia mem-pause terlebih dahulu permainannya membuat Delfano yang tengah bermain pun ikut berhenti.


Delfano mengerutkan kening melihat nama Natasya yang tertera di layar ponsel Antonio. Bukan karena dia aneh dengan nama yang tertulis di sana, pasalnya itu adalah hal biasa. Toh, Natasya sendiri yang menamainya. Jangankan di ponsel Antonio, di ponselnya dan Sebastian pun nama perempuan itu berbeda, ditambah ada sedikit kealayan dari Natasya. Di ponsel Delfano, nama Tataku lah yang menjadi username nya sedangkan di ponsel Sebastian adalah Syasyasyantik . Hah, aneh memang Natasya itu, tapi ya sudahlah, toh mereka tak mempermasalahkan itu semua.


“Hello...”


Langsung terpampang di layar ponsel wajah Natasya di sana yang tersenyum lebar, ah lebih tepatnya pipi perempuan itu karena selalu saja seperti ini. Natasya itu suka sekali mendekatkan wajahnya sedekat mungkin kearah kamera, baru kemudian di jauhkan setalah beberapa saat. Ya, seperti sekarang ini.


Delfano terkekeh melihat kelakuan Natasya, berbeda dengan Antonio yang malah memutar bola matanya malas. “Apaan sih, Na? Ganggu aja.” dengus Antonio, dia mengatur ponselnya agar dia dan Delfano bisa pas di kamera.


Nataysa mendengus, dia menyimpan ponselnya yang disederhanakan pada senderan ranjangnya kemudian menangkup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. “Gue bosen, bunda sama ayah belum pulang.” lirih Natasya, dia mengerucutkan bibirnya sambil menatap sendu mereka.


“Emangnya kemana, Ta?” tanya Delfano, dia kini yang memegang ponsel Antonio langsung menambahkan panggilan ke Sebastian.


“Natasya kenapa? Sya kenapa?” tanya Sebastian yang baru saja bergabung dengan panggilan mereka dan malah menemukan wajah Natasya yang ditekuk.


“Bunda sama Ayah ke Surabaya, lagi kondangan dan belum pulang. Katanya besok pulangnya.”


Natasya mulai merebahkan tubuhnya di atas kasur, mengangkat ponselnya agar wajahnya bisa terlihat di layar pintar itu.


“Terus Lo sendiri dong di rumah?” tanya Antonio yang langsung mendapat anggukan dari Natasya. Sebenarnya, gak sendiri juga sih masih ada mbak dan satpam rumahnya.


“Hibur gue dong, gue sedih nih.”


“Bodo amat, gak peduli.” ucap Antonio sambil menunjuk ekspresi wajahnya yang membuat Natasya kesal.


“Ih... Fano, lihat Anton!”


Delfano terkekeh, dia bangkit dari duduknya kemudian berjalan entah kemana meninggalkan Antonio yang hanya mengendikkan bahunya acuh. Dia membawa ponsel milik Antonio.


“Udah terhibur belum sama kesempurnaan gue?” tanya Delfano sambil menaik turunkan alisnya, dia merubah kameranya menjadi kamera belakang. Dia mengarahkan kamera pada cermin di kamar mandi dan berpose ria yang malah membuat Natasya terkekeh geli.


“Idih banget sih muka Lo. So ganteng!”


“Dih, emang ganteng kali. So munafik Lo.” balas Delfano, dia menyugar rambutnya dengan sebelah tangan dan masih setia melihat wajah tampannya didepan cermin.


“Bodo ah. Bas, Lo dimana sih? Berisik amat perasaan dan mana muka Lo? kok malah gambar jalanan sih?” tanya Natasya. Dia bingung dimana Sebastian sekarang berada karena sedari tadi hanya gambar jalan dan beberapa kaki orang yang berlalu-lalang ditambah suara yang bising.


“Gue lagi nemenin nyokap, udah ya rame banget disini. Bye.”


Natasya mendengus melihat sikap Sebastian yang satu ini. Selalu dan akan selalu begitu, menutup panggilan saat orang yang tengah melakukan panggilan bersamanya belum selesai bicara. Huh, dasar Sebastian.


“Cie... Di cuekin, kasihan deh.” ejek Delfano, dia keluar dari kamar mandi berjalan kearah kulkas yang berada di Apartemen milik Antonio ini.


Delfano langsung mengeluarkan botol air mineral kemudian membukanya dengan mudah menggunakan tangan kanannya —tangan kirinya tengah memegang ponsel— dan meneguknya begitu saja, mengabaikan Natasya yang diam-diam terpesona melihat wajah Delfano yang semakin tampan apalagi saat tenggorakan lelaki itu meneguk air tersebut.


Delfano menyimpan botol air mineral yang tinggal setengah isinya, terkekeh melihat Natasya yang terdiam dengan wajah yang... “Terpesona, heh?” tanya Delfano sambil menaikkan sebelah alisnya, dia menatap menggoda Natasya yang sedari tadi menatapnya. Dia cukup peka saat perempuan itu menatapnya dengan tatapan terpesona, pasalnya dia itu penakluk wanita sehingga sudah dipastikan tak akan ada wanita manapun yang akan menolak pesonanya.


Natasya tersadar, dia memutar bola matanya jengah. “Geer, udah ah, basi Lo semua. Bye, mau tidur gue."


Tut.


Delfano kembali terkekeh melihat Natasya yang salah tingkah. Ini satu sifat Natasya, saat dia sedang gugup dia akan salah tingkah dan mengalihkan semuanya pada hal tak penting.


Delfano berjalan menghampiri Antonio yang tengah asik bermain sendiri tanpanya. Dia mendengus saat melihat Antonio yang tengah memainkan sendiri permainan tersebut dan semakin membuat mendengus saat lelaki itu juga memainkan stik miliknya sehingga kini skor sudah seri. Dia melempar asal ponsel Antonio, beruntung ponsel dengan logo apel digigit itu mendarat sempurna di atas sofa. Kalau tidak, ya... say good bye aja.


“Najong banget sih lo,” dengus Delfano sambil merampas paksa stik PS nya dan kembali memainkan permainan tersebut seperti mestinya. Antonio yang melihat itu hanya terkekeh, dia siap melawan Delfano sekarang.


Curang!