Friendshut [TAMAT]

Friendshut [TAMAT]
F-ENAMPULUHLIMA



Orang bilang, selalu ada pelangi setelah hujan. Selalu ada kebahagiaan setelah kedukaan. Tapi, rasanya itu semua hanya omong kosong. Hanya seperti ungkapan yang dibuat untuk menenangkan hati seseorang.


Buktinya sampai saat ini, kedukaan masih menyelimutinya. Bahkan, setelah bertahun-tahun lamanya.


Flashback on


Anya kecil turun dari mobil yang dinaikinya bersama sang Mama—Ashilla. Dia menggenggam erat tangan besar itu dengan tangan kecilnya. Dia menatap bingung rumah besar dihadapannya. Dia menatap sekeliling rumah ini, tersenyum lebar saat melihat taman luas yang dihiasi berbagai tanaman hias dan jangan lupakan ayunan juga perosotan yang semakin membuatnya senang.


Andai, dia bisa setiap hari disini. Mungkin dia akan puas bermain di taman ini.


“Mama, ini rumah siapa?” tanya Anya polos, dia mendongak menatap Ashilla yang berdiri menjulang tinggi disampingnya.


Ashilla hanya bisa tersenyum lembut. “Anya nanti juga tahu ini rumah siapa.” Jawab Mama sambil mengelus pelan puncak kepala Anya.


Anya mengangguk dan saat pintu besar dihadapannya terbuka dia semakin takjub melihatnya.


“Mas Bram ada?”


“Ada, non. Mari, silahkan masuk.”


Anya dan Ashilla masuk kedalam. Sekali lagi, Anya tak henti-hentinya takjub dengan rumah ini. Andai ini rumahnya. Membayangkan nya saja Anya sepertinya tak sanggup karena kalau dibayangkan pun dia tak tahu karena rumah ini berkali-kali lipat lebih besar dari rumah yang ditempatinya. Anya kecil tak tahu apa-apa.


“Ashilla.”


Anya tersenyum lebar, dia melepas genggaman tangan mamanya dan langsung berlari menghampiri Bramantyo—Papa. Dia kini sudah berada di pangkuan papanya.


Anya mendongak menatap wajah papanya. “Ini rumah Papa?” tanya Anya antusias.  Dia membulatkan matanya tak percaya. Ternyata rumah besar ini milik Papa nya. Jadi, dia bisa dong bebas datang ke tempat ini.


Bramantyo mengangguk, dia mengecup pelan kening Anya.


“Kok Yaya gak dikasih tahu sih, berarti Yaya sama Mama tinggal disini dong.”


Senyum yang menghiasi wajah Bramantyo seketika hilang. Anya sebenarnya bingung, tapi dia tak mengambil pusing itu semua. Toh, dia tak mengerti.


“Mas, aku—”


Semuanya menoleh kearah datangnya suara. Di sana berdiri seorang wanita seumur Ashilla dengan seorang gadis kecil seperti Anya. Semua nya terkejut, terutama Ashilla yang melihat keberadaan wanita yang berstatus sebagai sahabat sekaligus istri pertama suaminya.


“Ashilla, kamu kesini? Kok gak kabarin aku?” tanya Emma—wanita itu. Dia berjalan menghampiri mereka bersama Natasya kecil yang sejak tadi di tuntunnya.


Emma sudah dihadapan mereka. Dia menatap bingung Ashilla dan anak yang berada di pangkuan Bramantyo—suaminya. Entah kenapa, tiba-tiba perasaannya tak enak. Namun, dengan cepat dia menggeleng, mengenyahkan semua prasangka buruk di benaknya. 


Emma duduk. Dia menatap bergantian Ashilla dan Bramantyo yang sejak tadi terlihat gugup sejak kedatangannya.


“Kamu kok udah pulang? Bukannya nanti sore?”


Pertanyaan yang terlontar dari mulut Bramantyo semakin membuat Emma bingung. Tak seharusnya pertanyaan itu keluar dari mulut suaminya saat kedatangannya. Tapi,—


“Bunda, Nata mau main di taman.” ucap Natasya kecil, gadis itu tengah menikmati lollipop ditangannya.


Emma mengangguk, dia tersenyum lembut sambil berjongkok menyejajarkan tubuhnya dengan tubuh mungil milik putrinya. “Yaudah, tapi hati-hati, ya. Jangan ke jalanan, okay?” ucap Emma, sekali lagi dia tersenyum sambil mengelus lembut puncak kepala Natasya.


“Okay.”


Anya tertarik dengan ucapan Natasya tentang taman. Dia pun segera turun dari pangkuan Papa. “Yaya juga mau ke taman, boleh?” tanya Anya dengan gemasnya. Dia menatap papa dan mama nya meminta persetujuan.


Mereka mengangguk membuat Anya dengan cepat berlari menuju taman. Hanya ada taman, ayunan dan perosotan yang ada dipikirannya saat ini.


Anya mengedarkan pandangannya dan tersenyum lebar menghampiri Natasya yang tengah duduk di atas ayunan.


“Halo,”


“Hi!”


“Aku boleh, gak main ayunan sama kamu.”


Natasya menjilat lollipop nya, dia mengangguk sambil tersenyum lebar. “Boleh, kamu duduk disamping Nata aja.”


Anya mengangguk senang, dia duduk disamping Natasya yang tengah menikmati lolipop nya. Dia menggerakkan ayunan itu pelan dengan kaki kecilnya itu.


“Kamu enak, ya tiap hari main ayunan.”


“Iya, kan ayah aku bikinin ini buat aku.”


“Ayah kamu?”


“Iya, ayah aku.”


“Ayah kamu baik, tapi bentar lagi ayunan ini buat aku.”


“Hah?”


“Kata papa aku, ini rumah dia. Jadi, ayunan ini juga nanti jadi punya aku.”


“Tapi, rumah ini punya ayah aku.”


“Emangnya ayah kamu mana? Gak ada kan? Orang cuma ada papa aku.” ucap Anya polos, dia terkekeh pelan menatap Natasya yang mencebikkan bibirnya.


“Ada kok, di dalam.”


“Itukan papa aku.”


“Ih, itu ayah aku.”


Anya mengerutkan keningnya bingung.


“Ayah kamu papa aku?”


Natasya mengendikkan bahunya, dia menggeleng. “Gak tahu.” ucap Natasya, dia kembali memakan lolipop nya. Dia menatap Anya sebentar, kemudian mengeluarkan lolipop lain miliknya dan menyodorkannya kepada Anya.


“Ini buat kamu. Nama kamu siapa?” tanya Natasya.


“Aku Nata.”


Mereka berjabat tangan, tertawa bersama di atas ayunan ini sambil menikmati manisnya lolipop ditangan mereka.


“Anya.”


Anya menoleh, mengerutkan keningnya melihat mama nya yang sudah menangis. Dia turun perlahan dari ayunan, diikuti Natasya.


“Tante cantik kenapa nangis?”


“Mama kenapa?”


Ashilla menggeleng, dia menghapus air mata yang mengalir di pipinya. Dia berjongkok, menyejajarkan tubuhnya dengan Anya dan Natasya. Dia mengusap pelan pipi kecil mereka. “Gak papa kok. Yaudah Anya, kita pulang, ya.” ajak Ashilla.


“Kok pulang? Ini kan rumah papa.”


“Ini emang rumah papa, tapi bukan rumah mama. Jadi, Anya gak bisa disini.”


“Tapi, Nata bilang ini rumah ayahnya dan dia bisa disini. Kenapa Yaya gak bisa?”


Ashilla mengalihkan pandangannya kearah Natasya yang hanya menatap polos mereka. Dia tersenyum kembali menatap Anya. “Karena Anya beda, kita gak bisa disini. Ayo, pulang.” ajak Ashilla yang diangguki Anya.


Anya menolehkan kepalanya. “Nata, Yaya pulang dulu ya.”


Natasya mengangguk. “Iya, nanti main lagi, ya.”


“Iya.”


***


“Mama.. Papa Yaya, ayah Nata juga, ya?”  tanya Anya pelan, dia sebenarnya tak berani bertanya seperti ini. Tapi, dia harus tahu sekarang.


Ashilla mengangguk. “Iya, papa kalian sama.”


“Tapi, kenapa kita nggak bisa tinggal sama Papa?”


Ashilla diam.


***


“Mah, Nata selalu cerita. Dia selalu di temenin tidur sama Papa. Tapi, kenapa Papa jarang nemenin tidur Yaya?”


***


“Setiap ambil rapot, papa selalu ke kelas Nata. Gak pernah ke kelas Yaya.”


“Setiap hari, papa jemput nya Nata. Bukan Yaya.”


***


“Yaya kira Papa datang, tapi ternyata enggak. Padahal Yaya udah siapin puisi buat Papa.”


Anya menatap lesu kertas ditangannya yang berisikan sebuah puisi yang khusus dibuatkan nya untuk sang Papa. Tapi, sekali lagi Anya hanya mampu menghela napas kecewa. Dan untuk kesekian kalinya, dia kecewa.


***


“Papa ngapain disini?” 


Anya yang baru saja selesai melakukan pementasan seni musik memandang Papa nya tak suka. Sebenarnya dia tak percaya dengan keberadaan papa nya ini. Jarang sekali bahkan terkadang tak pernah dilihat sekalipun keberadaan papa nya disaat acara-acara penting seperti ini. Papa nya itu terlalu acuh kepadanya.


Anya memang tak suka papa nya, namun jauh di lubuk hatinya dia gembira melihat keberadaan papanya disini.


Untuk pertama kalinya sang papa datang ke acara perlombaan yang diikutinya.


Namun sayang, rasa bahagianya ini masih bisa dikalahkan oleh rasa kecewa yang sudah bertengger bertahun-tahun karena sikap acuh sang papa selama ini.


“Anya, papa disini mau lihat pementasan putri papa dong.”


“Gak usah, gak perlu. Aku udah biasa kok, cuma mama yang lihat penampilan aku.”


“Anya, papa—”


Flashback off


Arghhhhh!!!


Anya menjerit kencang disini. Dia menatap nyalang danau kecil dan sepi dihadapannya. Perlahan namun pasti, banjiran air di pelupuk matanya menggenang dan lama kelamaan akhirnya jatuh juga.


Anya menangis.


Menangisi nasibnya.


Kadang dia berpikir, kenapa nasib baik seolah enggan menghampirinya. Kenapa hanya kesedihan yang senantiasa datang dan hinggap di hidupnya.


Pertama orangtuanya. Apa tak cukup, menjauhkan Anya dari papa kandungnya sendiri. Membuat dia mempunyai penyakit hati (read: benci) yang sampai kini belum sembuh oleh apapun. Dan sekarang, ditambah penolakan dari orang yang dicintainya.


Iya, Anya suka dan cinta dengan Sebastian.


Tapi, kenapa lelaki itu menolaknya? Dan itu semua karena Natasya. Iya, perempuan itu akar dari semua permasalahan dan kesialan yang menghampirinya.


Jadi, sekarang sudah benar bukan kalau dia sampai membenci Natasya? Benar bukan?


“NATASYA... I HATE YOU!”


Hiks... Hiks... Hiks...


Arghhhhh!