Friendshut [TAMAT]

Friendshut [TAMAT]
F-ENAMPULUHEMPAT



Natasya sudah diperbolehkan pulang. Sebenarnya bukan diperbolehkan yang benar-benar diperbolehkan oleh dokter, tapi karena dia tak bisa berlama-lama, takut menimbulkan kecurigaan. Sehingga dia meminta kepada dokter untuk memperbolehkannya pulang.


Jadi, disinilah dia sekarang. Di kamarnya sendiri, seorang diri.


Natasya terdiam, merenung.


Hingga pintu kamarnya terbuka, membuat dia menoleh untuk tahu siapa orang yang membuka pintu kamarnya. Dia tersenyum saat mendapati ayahnya yang berdiri diambang pintu.


Bramantyo berjalan menghampiri Natasya, kemudian duduk disampingnya yang masih terbaring di atas ranjang. “Kok gak ngomong sama ayah, kalau putri cantik ayah ini sakit? Kenapa?” tanya Bramantyo sambil mengelus puncak kepala putrinya itu.


Natasya hanya bisa tersenyum, tersenyum miris lebih tepatnya. “Ayah sibuk terus, jadi gak sempet kasih kabar.”


Deg.


Rasanya seperti ada hantaman keras yang dirasakan Bramantyo mendengar ucapan Natasya. Dia tersenyum miris saat putrinya sendiri bicara seperti itu. Memang itu fakta, tapi entah kenapa dia tak bisa menerima ini semua. “Maafin ayah, ya?” ucap Bramantyo yang diangguki Natasya.


“Ayah emang kemana? Ada urusan bisnis?” tanya Natasya, dia menaikkan kedua alisnya.


Bramantyo terdiam, namun detik berikutnya mengangguk. “Iya, jadi ayah agak sibuk.” jawab Bramantyo yang lagi-lagi diangguki Natasya.


Natasya mengangguk-angguk, dia tersenyum. Namun jauh di lubuk hatinya, dia merasa sakit. Sakit karena sebuah kebohongan.


Ayah bohong.


***


Mereka langsung memasuki rumah Natasya yang selalu terbuka lebar. Mereka langsung menghampiri Emma yang tengah memasak di dapur.


“Sore, Bun.” sapa Antonio, dia diikuti yang lain segera menyalami Emma yang baru saja menuangkan bubur ke mangkuk.


Emma mengangguk-angguk. “Kalian tahu kalau Nata udah pulang?” yanya Emma, tangannya terulur mengambil sendok, kemudian meletakkan di atas mangkuk berisi bubur itu.


“Tadi kita ke rumah sakit, eh ternyata kata dokter udah pulang. Yaudah deh, kita langsung kesini.” jawab Delfano.


“Yaudah, bunda mau suapi Natasya dulu.”


Delfano lebih dulu mencegah. “Eh, bun, biar sama aku aja.” pinta Delfano, dia sudah merebut mangkuk bubur itu dari tangan Emma.


Emma mengangguk, “Yaudah, langsung masuk aja ke kamar, ya. Ingat, jangan ditutup pintu kamar nya.” ucap Emma, mengingatkan. Memang itu sudah peraturannya, boleh masuk asal pintu kamar tidak di tutup.


“Siap!”


Mereka berjalan beriringan menuju kamar Natasya.


“Eh, gue ke wc dulu deh. Kebelet.” ucap Antonio, dia membalikkan tubuhnya kembali menuruni anak tangga menuju kamar mandi bawah.


Sedangkan, Delfano dan Sebastian mereka melanjutkan langkahnya menuju kamar Natasya. Hanya dengan sekali ketukan pintu, mereka langsung masuk. Hal pertama yang mereka lihat adalah punggung Natasya yang dibungkus selimut, perempuan itu tengah membelakangi mereka sambil menatap jendela kamar.


Mereka melangkah menghampiri Natasya. Semakin dekat, mereka semakin mendengar jelas suara isak tangis yang mereka yakini keluar dari mulut Natasya.


Mereka saling tatap, mencoba memastikan apa yang mereka dengar sama? Tangis Natasya? Mereka hanya bisa menggeleng seolah tak tahu.


Delfano lebih dulu melangkah, bahkan kini lelaki itu sudah berdiri dihadapan Natasya. Dan benar, perempuan itu menangis dengan mata terpejam, tangannya menutup mulut. Sepertinya perempuan itu tengah memendam suara tangisnya yang sayangnya masih bisa didengar.


Delfano menatap Sebastian, mengangguk.


Hiks... Hiks...


Delfano berjongkok, menyentuh pelan pundak Natasya yang membuat perempuan itu terlonjak dan membuka mata. Delfano bisa melihat rasa sakit itu, tapi dia tak tahu penyebab itu semua. Wajah Natasya sudah penuh dengan air mata.


Natasya langsung beranjak duduk, dia terkejut dan langsung menghapus air matanya. Dia menatap Delfano dan Sebastian bergantian. “Sejak kapan kalian disini?” tanya Natasya, dia masih menghapus air matanya.


Meskipun Natasya sudah menghapus air matanya, tapi bekas air mata itu tak bisa hilang begitu saja dari mata perempuan itu.


Delfano beranjak, Sebastian berjalan mendekat. Delfano duduk di samping Natasya, sedangkan Sebastian duduk di sofa kecil di kamar ini.


“Kenapa?” Tanya Delfano pelan, tangannya terulur menghapus jejak air mata di pipi perempuan itu.


Sebastian hanya bisa melihat itu semua. Dia tak bisa bertindak lebih. Dia tak mau karena tindakannya itu membuat Delfano kembali murka yang nantinya berpengaruh bagi kebahagiaan Natasya. Sehingga dia hanya bisa diam, membiarkan ini semua.


Delfano tersenyum, dia menghela napas. Dia mencoba memaklumi, mungkin Natasya masih belum bisa mencurahkan semua kepadanya. “Lo makan dulu, ya, bunda tadi bikinin bubur.” ucap Delfano, matanya terarah pada bubur ditangannya, mengaduknya pelan kemudian menyiapkan perlahan pada Natasya.


Sebenarnya, Natasya ingin menolak. Tapi, karena dia tak ingin Delfano bertanya lebih jauh. Akhirnya dia menerima itu semua.


Sesuap...


Dua suap...


Tiga suap...


“Anton gak ikut?” tanya Natasya, dia sejak tadi tak melihat keberadaan Antonio.


“Ada kok, kebelet dia.”


“Oh.”


***


Antonio keluar dari kamar mandi, dia langsung tertegun saat berpapasan dengan Bramantyo. Dia menatap datar pria paruh baya itu, rasa kecewa masih ada dihatinya dan tersirat jelas lewat tatapan matanya.


“Anton,”


“Maaf, yah, aku harus pergi.”


“Anton, dengerin ayah dulu.”


“Apa lagi yang harus didengar?” tanya Antonio, dia menatap nyalang Bramantyo. Dia menggeleng pelan. “Gak ada, yah, semuanya udah jelas menurut aku. Semuanya aku lihat dengan mata kepala aku sendiri. Jadi, rasanya gak ada lagi yang perlu didengerin ataupun dijelasin.” lanjut Antonio.


Bramantyo menghela napas kasar. Dia mengangguk-angguk. “Anton, ada beberapa hal yang kamu gak tahu.” ucap Bramantyo pelan, dia menepuk pelan pundak Antonio.


Bramantyo tersenyum pilu. “Maaf, buat kamu kecewa.” Lanjut Bramantyo kemudian bergegas pergi meninggalkan Antonio yang kini terdiam kaku.


Antonio diam. Pikirannya tiba-tiba tertuju pada ucapan Bramantyo tadi. Beberapa hal yang tidak dia tahu? Tapi, rasanya apa yang sudah dia lihat dengan mata kepalanya sendiri sudah menjawab semuanya. Jadi, bagian mana lagi yang dia tidak tahu?


Antonio menggeleng, dia bergegas pergi menemui Natasya.


Sedangkan, di tempat yang sama, Emma bersandar pada salah satu pilar di dapur. Tangannya terkepal kuat didepan dada dengan mata terpejam.


Jantungnya berdetak kencang bahkan kini bibirnya bergetar pelan. Dia membuka matanya perlahan saat pundaknya disentuh seseorang. Dia mendongak, menatap nyalang Bramantyo dihadapannya.


“Em,”


Emma membuang muka, dia menghapus cepat air mata yang tanpa sengaja jatuh dari sudut matanya.


Bramantyo menghela napas pelan, dia menyentuh pundak Emma kemudian memutar pelan tubuh wanita itu sehingga kini mereka berhadapan. Bramantyo masih setia menatap Emma yang tak sedikitpun menatapnya, wanita itu memilih mengalihkan pandangannya dari Bramantyo.


“Sampai kapan kamu mau kayak gini?” tanya Bramantyo yang sukses membuat Emma menatapnya.


“Aku tahu aku salah, tapi apa gak cukup kamu menghukum aku bertahun-tahun lamanya. Apa masih belum cukup?” lanjut Bramantyo.


Emma menarik sudut bibirnya, tersenyum miris lebih tepatnya. “Kamu rasa itu cukup? Gimana sama aku?” tanya Emma, lirih.


“Bertahun-tahun aku hidup dengan pria yang sama sekali gak bisa mencintai aku seutuhnya, pria yang hatinya ada wanita lain. Pria yang diam-diam menikah dengan wanita lain, yang mempunyai anak dari wanita lain. Dan, sayangnya, pria itu adalah suami aku sendiri. Ayah dari anak ku. Lebih mirisnya lagi, wanita lain itu sahabat aku sendiri.”


“Apa kamu pikir itu mudah buat aku ngobatin rasa sakit karena dua orang terpenting dalam hidup aku, mengkhianati aku? Apa kamu pikir mudah? Enggak, sama sekali enggak mudah.” cicit Emma, dia berucap pelan karena tak mau sampai ada yang dengar.


Bramantyo hanya bisa diam, dia kalah telak karena apa yang diucapkan Emma memang benar adanya.


Emma menghapus kembali air matanya, dia melepaskan tangan Bramantyo dari pundaknya.


“Kalau alasan kamu masih sama seperti dulu, yaitu karena kamu cinta dengan kami. Maka sekali lagi aku katakan. Aku, bukan, wanita, yang BISA berbagi suami. Maaf.”


Selanjutnya, Emma meninggalkan Bramantyo yang hanya bisa terdiam kaku.