Friendshut [TAMAT]

Friendshut [TAMAT]
F-SEPULUH



Natasya dan sifat keras kepalanya memang sulit di pisahkan. Dengan tubuh lemas, Natasya beranjak dari brankar, meringis saat luka yang setengah kering terasa sakit saat dia menggerakkan kakinya. Disampingnya, ada Delfano yang menemaninya. Lelaki itu senantiasa menjaga Natasya, memastikan kondisi perempuan itu baik-baik saja, tak kembali terluka.


“Sorry, ya, Ta.”


Pernyataan itu sukses membuat Natasya menarik sudut bibirnya, meringis karena pergerakan bibirnya itu mampu berefek pada luka di dagunya. Ekor matanya melirik sekilas Delfano disampingnya.


“Maaf kenapa?” tanya Natasya seolah dirinya tak tahu kemana arah pembicaraan Delfano ini. Biarkan saja, dia ingin tahu sampai mana ucapan Delfano nantinya.


“Maaf karena mantan gue, lo jadi gini.”


Natasya mencoba menahan senyumnya, dia tak mau merasakan efek lagi dari luka di dagunya hanya karena pergerakan kecil di bibirnya itu. Hatinya senang mendengar ucapan yang terlontar dari mulut Delfano. Beberapa orang berpikir bahwa kata maaf, terimakasih dan tolong tak terlalu penting dalam pertemanan ataupun persahabatan. Beralasan ‘dekat’ terkadang membuat orang-orang menganggap sepele kata itu. Padahal nyatanya, pengucapan kata itu penting. Penting sekali. Penting dijadikan sebagai sebuah pengharapan bagi seseorang atau juga bisa menjadi sebuah pelajaran seperti Delfano ini. Memang, bukan Delfano pelakunya. Tapi, akar permasalahannya kan dia. Karena rasa cinta berlebih juga membuat orang terkadang berpikir kurang waras, seperti mantan Delfano itu.


Okelah, biarkan saja. Toh, sudah terjadi ini. Intinya, dijadikan pelajaran saja kejadian hari ini.


Kantin mulai ramai karena jam istirahat tinggal beberapa menit. Terkadang beberapa guru lebih awal keluar kelas dari waktu seharusnya, entah karena apa yang jelas cukup menguntungkan untuk siswa yang cacing di perutnya sudah berdemo ria.


Natasya menatap Delfano yang duduk di hadapannya, menarik sangat tipis sudut bibirnya. Mereka sudah memilih tempat di pojok kantin, tempat biasa mereka. Menghela napas pelan dan mengacuhkan orang-orang yang menatap mereka terang-terangan.


“Gakpapa. Tapi, please ya Fan, sekarang pikirin lagi kelakuan lo.”


Delfano menghela napas kasar, tangannya menyugar rambutnya sambil memikirkan kembali kesalahannya. Dia kembali menatap Natasya, mengangguk dengan wajah sendunya. “Iya, gue janji. Mulai hari ini, jam sekarang, detik ini juga, gue akan berubah.” ucap Delfano yakin. Dia mengangguk, menatap Natasya yang belum meresponnya. “Iya, gue akan berubah jadi yang lebih baik lagi. Gue gak akan lagi mainin hati perempuan, gue akan berusaha jadi Delfano tanpa image playboy lagi.“


Natasya mengangguk, mengendikkan bahunya. “Buat siapa?”


“Apanya?”


“Perubahan lo.”


“Buat semuanya, terkhusus lo. Gue gak mau cuman karena sifat gue ini. Lo lagi yang terluka, gue gak suka lihatnya. Gue gak suka, apa-apa yang seharusnya jadi kesalahan gue selalu di limpahkan ke lo.”


Natasya sekarang tersenyum tipis, namun masih bisa dilihat dengan jelas oleh Delfano. “Gue gak mau sih sebenarnya alasan lo berubah itu karena gue. Sebab, gue tau. Cowok tuh gak suka di atur, kalian pengennya bebas melakukan apapun yang kalian mau.” balas Natasya. “Tapi, gue selalu berharap semoga apa yang lo omongin emang bener adanya. Karena apa?” Natasya menjeda ucapannya. “Karena gue akan sangat marah saat lo ingkar janji. Lo tau yang gue maksud.”


Flashback On ~


Hiks... Hiks...


Suara tangis itu berasal dari seorang gadis dengan dress selutut yang tengah memeluk boneka Pooh kecil. Bando pink yang seharusnya terletak cantik di puncak kepalanya, kini tergolek begitu saja di bawah pekarangan rumahnya. Dia duduk di teras rumah, membenamkan wajahnya yang sudah berlinang air mata ke boneka Pooh nya.


“Tata,”


Gadis itu mendongak, membuat tangis yang seharusnya reda dan berhenti itu semakin menjadi-jadi. Bibir mungil itu semakin mengeluarkan suara tangisnya dengan keras. Dia menatap sebal anak laki-laki seumurannya tengah berdiri di hadapannya.


“Jangan deket-deket!”


“Tapi, Fano mau.”


“Tapi, Tata enggak mau! Fano pergi, sana!“ usir gadis itu sambil menunjuk gerbang rumahnya yang bersebalahan dengan gerbang milik tetangganya.


“Enggak mau! Di sana orang dewasa semua. Fano gak ngerti ngomongin apa.”


“Tata gak peduli! Fano, pergi sana! Tata marah sama Fano!”


Anak laki-laki itu menggigit pelan bibirnya, merasa bersalah saat netra bening itu menangkap tumpahan cokelat di dress gadis itu yang sangat kontras dengan warna dress yang dikenakan gadis itu. Dan itu semua, karenanya.


“Maaf ya, Fano tadi gak sengaja.”


“Enggak, Fano sengaja! Fano mau buat Tata jelek!”


Anak laki-laki itu menggeleng dengan cepat. “Enggak kok, tadi gak sengaja. Abis Anton ngejar-ngejar Fano, jadi Fano gak sengaja deh nabrak Tata.” jelas Anak laki-laki itu, menghembuskan napas pelan. “Tumpah deh, di baju Tata.” lanjut nya.


Gadis itu tak menjawab dan malah memilih melanjutkan tangisnya sambil memeluk Pooh nya. Sedangkan, anak laki-laki itu langsung merogoh semua saku yang dimilikinya, mencari sesuatu yang menjadi satu-satunya kunci maafnya. Dia mengeluarkan semua permen yang dimiliknya, menyodorkannya kearah Natasya.


“Ini buat Tata, semuanya. Asal jangan marah lagi ya?” ucap anak laki-laki itu polos, berharap dengan gula-gula permen, gadis itu mau memaafkannya.


“Ini, ambil aja! Fano bawa ini dari rumah, semua. Tapi Fano kasih ke Tata supaya Tata gak marah lagi sama Fano.” ucap anak laki-laki itu, dia menggerakkan tangannya agar gadis itu mau mengambil permen yang disodorkan nya.


Gadis meletakkan boneka Pooh nya di samping, di teras rumahnya. Uluran kedua tangan mungil itu langsung dihujani jatuhan permen dari tangan anak laki-laki itu. Dan itu semua sukses membuat senyuman tercetak di bibir anak laki-laki tersebut.


“Berarti Tata udah gak marah lagi, kan sama Fano?”


Gadis mengerutkan keningnya, dia meletakkan permen-permen tersebut di pangkuannya dan memilih membuka bungkusan permen itu tanpa berniat menjawab pertanyaan anak laki-laki itu.


“Gimana?”


“Enggak, tapi janji ya jangan gitu lagi. Gara-gara Fano, Tata jadi jelek deh.” dengus gadis itu, dia kembali membuka bungkusan permen itu.


“Iya, janji!”


Gadis itu memasukkan permen ke mulutnya, menatap anak laki-laki tersebut dan mengulurkan jari kelingkingnya. “Janji ya, kalo bohong Tata marah lagi dan gak mau kasih maaf lagi.”


Anak laki-laki itu mengangguk mantap, dia mengaitkan jari kelingkingnya dengan gadis itu.


“Iya, janji!“


Flashback off~


“WOY!”


Delfano terlonjak kaget saat tiba-tiba Antonio dan Sebastian datang, membuyarkan semua lamunan masa lalu di benaknya. Sedangkan mereka terkekeh melihat wajah terkejut Delfano yang lucu bukan main.


Antonio mengerutkan keningnya, menatap Delfano yang duduk di hadapannya. “Kenapa, lo? Kesambet?” tukas Antonio asal sambil terkekeh yang langsung mendapat dengusan dari Delfano.


“Gak tau tuh, senyum-senyum gak jelas dari tadi.” timpal Nataysa.


Sebastian hanya menarik tipis sudut bibirnya, melirik Natasya dan memperhatikan perempuan itu. Natasya memang selalu membuatnya tak bisa berpaling, bahkan luka di dagu perempuan itu justru semakin menarik perhatiannya. “Lo udah gak papa kan, Sya?” tanya Sebastian, kentara sekali nada khawatir dari suaranya itu.


Natasya menggeleng pelan, “Enggak, cuman masih perih aja.” jawab Natasya yang diangguki Sebastian. “Apalagi tadi ada yang pegang lukanya, padahal perih banget, belum kering.” lanjut Natasya, dia melirik sinis Delfano yang kini terkekeh.


Antonio dan Sebastian mengerutkan kening, bingung kenapa Delfano sampai terkekeh seperti ini.


“Abis gue gemes. Masih cantik aja meskipun dagunya luka.” bela Delfano, dia tersenyum geli menatap Natasya yang kini mencebik.


“Tapi kan sakit,” dengus Natasya.


Mereka menatap Natasya, menelisik wajah perempuan itu untuk mencari tahu kebenaran dari ucapan Delfano itu. Dan memang benar, apa yang diucapkan Delfano benar adanya. Sedangkan Natasya dibuat kesal seketika melihat tatapan mereka, apalagi Antonio yang dengan sengaja nya menangkup wajahnya dengan kedua telapak tangannya di atas meja membuat Natasya gatal sekali ingin meraup wajah itu.


“Apa sih!? Ngapain juga lihatin gue kayak gitu. Malu tau!”


“Tapi, Sya, kalau dilihat-lihat bener juga sih apa yang di omongin Fano. Lo tetep cantik, meskipun ada luka di dagu lo.” ucap Sebastian yang langsung membuat Antonio dan Sebastian histeris mendengar itu semua, sedangkan Natasya tersipu malu.


Oh... Ayolah. Natasya hanya perempuan biasa seperti kebanyakan. Dia juga akan tersipu malu saat di puji, apalagi ini oleh lawan jenis. Dan orang yang memujinya modelan Sebastian. Aduh, gimana gak malu coba.


“Anjay... Bastian gombal.” pekik Delfano dengan wajah yang dibuat sekaget mungkin menatap Sebastian yang kini bersikap acuh dan kembali diam dengan wajah datarnya.


“Sekarang tanggal berapa?” tanya Antonio.


“25, kenapa emangnya?” tanya Natasya.


Antonio merentangkan tangannya, tersenyum lebar. Dia melirik Delfano, mengode lelaki itu yang tentunya langsung dimengerti oleh empunya karena mereka satu server, yaitu ingin mengerjai Sebastian.


“Oke, Fan lo keluarin hp lo.” titah Antonio yang langsung dilakukan oleh Delfano. Natasya dan Sebastian semakin dibuat bingung oleh mereka.


“Catat nih, ya! Sejarah banget soalnya. Tanggal 25 bulan November 2019, seorang Sebastian Gunawan menggombal. Catat tuh. Jangan sampe lupa.” lanjut Antonio yang diakhiri tawa, diikuti Delfano dan Natasya. Sedangkan Sebastian langsung memutar bola matanya jengah, gak lucu.


Natasya tersenyum haru, dalam hati dia bersyukur mempunyai sahabat seperti mereka. Sahabat yang selalu ada, sahabat yang tak henti-hentinya membuat dia tertawa. Tapi, apa mungkin akan tetap seperti ini saat ada perasaan lain yang timbul diantara mereka?