![Friendshut [TAMAT]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/friendshut--tamat-.webp)
Natasya tersenyum menatap ketiga sahabatnya yang sudah berdiri menyender pada mobil masing-masing. Antonio dengan mobil merahnya, Sebastian dengan mobil putihnya dan Delfano dengan mobil kesayangannya—Robet.
Natasya berjalan dengan anggunnya menghampiri ketiga lelaki itu, tersenyum menatap mereka satu persatu. Dia menatap geli Antonio, ternyata lelaki itu membuktikan ucapannya kemarin.
“Bawa mobil juga?” tanya Natasya, dia terkekeh melihat Antonio yang mulai berjalan kearahnya, begitupun yang lain.
Antonio mengangguk, “Iya. Supaya cewek di depan gue mau pulang bareng. Jadi, gak ada alasan nolak karena naik motor.” cibir Antonio yang sudah berdiri berjajar bersama yang lain di hadapannya Natasya, perempuan itu terkekeh mendengar cibiran Antonio.
Natasya memperhatikan ketiga mobil bermerek di hadapannya yang dibawa ketiga sahabatnya. Dia meringis, menatap mobil bermerek tersebut dan kembali menatap mereka. “Guys, gimana kalau kita berangkatnya bareng aja?” tawar Natasya, menaikkan kedua alisnya meminta persetujuan dari mereka.
“Ya, emang bareng, kan?” tanya Delfano, dia bingung dengan pernyataannya Natasya.
Natasya mendesah pelan, dia menatap sebal Delfano. “Ya, maksud gue tuh, kita satu mobil aja. Jangan masing-masing bawa satu gitu, kan terpisah jadinya.” jelas Natasya, berharap ketiga sahabatnya mengerti maksud dari pernyataannya tadi.
Mereka mengangguk-angguk.
“Yaudah, ayo! Naik mobil gue aja.” tukas Sebastian, membuat Antonio memberangus kesal.
“Naik mobil gue aja deh. Mobil gue jarang di pake, sekalian panasin mesinnya.” ucap Antonio yang disetujui Natasya dan Sebastian, namun ditolak Delfano.
Natasya menatap bingung Delfano yang menolak, “Kenapa,sih?” tanya Natasya, sedikit ketus.
“Nanti sore kan gue mau nonton sama Anya. Kalo kita semua satu mobil, gue berangkat sama dia nanti naik apa?” jelas Delfano atas penolakannya.
Yang lain hanya ber'oh'ria, sedangkan Natasya mendengus. “Yaudah, sana lo bawa mobil sendiri. Kita bertiga aja. Iya, gak?” ajak Natasya, dia segera mengapit Antonio dan Sebastian untuk berjalan kearah mobil Antonio.
“Kita mah para jomblo, gak mau ganggu yang udah—”
“Apaan sih, Ta?”
Natasya melepas rangkulan nya di lengan Antonio dan Sebastian, memutar tubuhnya menatap Delfano yang mendengus atas pernyataan tadi. “Bener, kan? Lo mau jadiin Anya pacar lo?” tanya Natasya, dia menatap tajam Delfano yang malah terkekeh.
“Kenapa, emangnya? Cemburu?” tanya Delfano, dia terkekeh melihat tatapan Natasya.
Natasya menggeram, “Enggak kok, siapa juga yang cemburu.”
“Ya ampun, Ta, gak perlu cemburu lah. Lagian nih ya, lo sendiri yang bawa Anya diantara kita. Jadi—”
“ENGGAK, GUE GAK CEMBURU. GEER BANGET SIH LO!” kesal Natasya, dia segera berjalan meninggalkan ketiga lelaki itu, memasuki mobil Antonio dan menutup pintu mobil dengan keras membuat mereka terkekeh melihat kekesalan Natasya, tak terkecuali Sebastian.
“Itu-tuh, sahabat kalian. Ambekan.” ucap Delfano, menunjuk kearah mobil Antonio yang berisi Natasya di dalamnya.
Antonio dan Sebastian tertawa, menahan tawa lebih tepatnya. “Sahabat lo juga kali!”
“Udahlah, Fan, mending lo ikut kita aja. Nanti sore gampang, di antar lah, atau gimana nanti deh.” ucap Sebastian yang disetujui Antonio.
Delfano mengangguk, setuju juga dengan ucapan Sebastian. “Iya, iya gue ikut kalian. Yuk, ah nanti telat kita.” ajak Delfano, merangkul pundak dua sahabatnya menuju mobil Antonio.
Mereka memasuki mobil.
“Ngapain disini?” ketus Natasya, menatap Delfano lewat kaca tengah dengan sinis nya.
Delfano memajukan tubuhnya, memiringkan kepalanya untuk menatap Natasya yang duduk di jok depan hadapannya. “Turutin yang ambekan,” jawab Delfano, dia menatap menggoda Natasya.
Natasya melipat tangan di depan dada, melirik sinis wajah Delfano yang ada tepat di samping wajahnya. “Siapa yang ambekan? Gaje.” balas Natasya.
“Masa?” goda Delfano, membuat Natasya mulai terpancing lagi kekesalannya.
Natasya memutar tubuhnya, meraup wajah songong Delfano yang membuatnya kesal. “Sebel...” pekik Natasya, dia terus mencoba menggapai Delfano yang semakin menjauhkan tubuhnya dari jangkauan Natasya, mereka tak peduli meskipun mobil sedari tadi sudah melaju menuju sekolah mereka.
***
Natasya buru-buru keluar dari mobil Antonio, menghindari Delfano yang tak henti-hentinya menggoda dia. Dia mempercepat langkahnya, meninggalkan Delfano yang kini sudah menyusulnya.
“Cie cemburu, cie...” goda Delfano, membuat Natasya risih mendengarnya. Apalagi mereka yang selalu menjadi pusat perhatian, tak ayal kalau siswa siswi lain akan berpikir aneh setelah mendengar ucapan Delfano tadi.
Delfano tertawa, membuat kaum hawa yang sejak tadi memperhatikannya menjerit histeris melihat tawa dari playboy tampan mereka. Dia terus mengejar langkah Natasya, menghalang jalan perempuan itu yang membuat si empunya geram.
“Cemburu? Jujur aja kali.”
“Enggak, ya! Minggir!”
“Jujur dulu, baru gue minggir.”
Natasya memutar bola matanya jengah, dia hendak melangkahkan kakinya ke kiri Delfano malah menggeser tubuhnya ke kiri, dia hendak melangkah ke kanan Delfano malah ikut kembali menggeser tubuhnya ke kanan, begitu saja seterusnya hingga Natasya benar-benar kesal dengan lelaki itu.
“Ngaku dulu!”
“Bodo amat!”
Natasya langsung mendorong tubuh Delfano, membuat lelaki itu jatuh terduduk. Tidak menyia-nyiakan kesempatan, Natasya langsung melangkahkan kakinya melewati Delfano. Namun sepertinya lelaki itu lebih cekatan, buktinya dia langsung menarik lengan Natasya, membuat perempuan itu ikut terjatuh juga bersamanya.
Semua orang terus memperhatikan mereka, berbisik-bisik melihat pemandangan di depan mereka. Maklum lah netizen, ada yang suka dan memuji tingkah konyol mereka serta tentunya malah ada yang mencibir tingkah mereka itu.
“Fano... Sakit...” ringis Natasya saat lututnya terasa perih lagi, tadi lututnya bergesekan dengan keramik, membuat luka yang sudah mengering itu kembali basah.
Delfano yang tadinya tertawa langsung cemas seketika, begitupun yang lainnya. Dia segera mengecek lutut Natasya yang memang benar saja luka yang sudah kering itu mengelupas, menjadikan lukanya kembali basah.
“Ayo, UKS!” titah Delfano, dia segera berdiri dari duduknya, menuntut pelan Natasya menuju UKS.
Untung bel masuk sudah berbunyi beberapa saat yang lalu, sehingga koridor kelas lumayan sepi karena hampir semua murid sudah memasuki kelasnya.
Delfano mendudukkan Natasya di kursi di UKS, dia segera bergegas mencari kotak P3K. Dia kembali dengan kotak P3K di tangannya, berlutut di hadapan Natasya yang masih meringis sambil mengibaskan tangan di atas lukanya.
Natasya terus memperhatikan Delfano yang telaten mengobatinya, senyum tipis terukir dibibir cantiknya. Dia senang, senang melihat wajah khawatir yang ditunjukkan Delfano. Dia meringis saat Delfano tiba-tiba meneteskan obat merah ke lukanya.
Delfano mendongak, menatap khawatir Natasya yang meringis. “Maaf ya,” ucap Delfano tulus, terlihat sekali dari tatapan matanya.
Natasya terdiam, “Enggak mau.”
“Maaf dong ...”
“Sakit, tahu...”
“Iya tahu sakit. Tapi, kan gak sengaja.”
“Lagian tarik-tarik segala.”
“Siapa suruh gak mau jujur kala situ cemburu, sekarang salah siapa coba?”
Natasya melongo mendengar itu, dia pikir lelaki dihadapannya ini tak akan membahas itu, tapi ternyata? Oh... Diluar dugaan.
***
“Ke kelas?” tanya Delfano kearah Natasya yang tengah menyenderkan tubuhnya di kursi. Mereka sudah 20 menit berada di UKS.
Natasya mengangguk, “Iya, ke kelas aja deh.” jawab Natasya, dia beranjak dari duduknya hendak melangkahkan kakinya. Namun tiba-tiba dia terjatuh, membuat Delfano dengan sigap menangkap tubuh itu.
“Lo, kenapa?” tanya Delfano pada Natasya yang berada di pelukannya, dia mencoba membantu Natasya berdiri dengan tagak.
Natasya terdiam, dia mengerutkan keningnya bingung saat tiba-tiba kakinya terasa lemas, ditambah kepalanya yang tiba-tiba pening. Melihat keterdiaman itu, membuat Delfano ikut kebingungan.
“Kenapa?”
Natasya menggelengkan kepalanya, “Gakpapa, cuman lemas aja.”
“Masih kuat jalan?”
“Insyaallah,”
“Yaudah, yuk gue antar ke kelas.”
Natasya menggeleng, menolak ajakan Delfano. “Gak perlu, gue sendiri aja. Mending lo juga ke kelas deh.” tolak Natasya.
“Enggak. Ayo gue antar aja, gue tuntun.” putus Delfano, dia menuntut Natasya yang masih lemas itu keluar UKS menuju kelas perempuan itu.
Mereka telah sampai di depan kelas Natasya. Perempuan itu melepaskan rangkulan Delfano padanya, “Makasih, ya, gue masuk dulu.” ucap Natasya.
“Udah gak lemes?”
“Enggak kok.”
Delfano menghela napas lega, “Kalau kayak tadi lagi, telpon gue.”
“Buat apa?”
“Gue kan care sama lo. Ya kali lo kayak tadi gue diem aja? Gue obati kek, apa kek, yang penting lo sehat.”
Ucapan Delfano kembali berhasil membuat jantung Natasya berdetak kencang, membuat dia sulit mengontrol perasaannya pada lelaki dihadapannya yang berstatus sahabatnya itu.