![Friendshut [TAMAT]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/friendshut--tamat-.webp)
“Iya, gue sakit. Kenapa?”
Delfano langsung melengos begitu saja meninggalkan Antonio dan Sebastian yang dibuat bingung sekaligus terkejut karena pernyataan Delfano itu. Buru-buru mereka menyusul langkah Delfano di depan mereka.
“Lo sakit apa, kenapa gak pernah cerita sama kita?” tanya Antonio. Serius, meskipun hubungan mereka ini bisa di bilang kurang harmonis akhir-akhir ini, mengingat beberapa masalah yang hanya karena cinta membuat hubungan mereka sedikit renggang. Tapi, sahabat tetap sahabat, tak akan merubah apapun.
Delfano terkekeh, dia tersenyum lebar menatap kedua sahabatnya yang malah bingung dengan senyuman itu. Dia menghentikan langkahnya, menatap bergantian kedua sahabatnya sambil berdecak pinggang.
“Kalian percaya, gue sakit?” tanya Delfano, dia masih belum menghentikan senyumannya.
Sebastian mengangguk, “Lo kan manusia, ya, kali gak sakit.”
Delfano semakin mengeraskan tawanya, membuat beberapa orang yang berlalu-lalang menatap kearah mereka. Untungnya mereka sudah berada di luar rumah sakit, jadi sedikit tak mengganggu lah.
Delfano merubah raut wajahnya menjadi sendu yang semakin membuat Antonio dan Sebastian bingung. Apalagi saat melihat Delfano yang tiba-tiba berjalan kearah trotoar dan duduk di sana.
“Lo kenapa sih?” tanya Antonio, raut khawatir tak bisa di sembunyikannya.
Delfano masih diam, tak mengeluarkan sepatah katapun.
“Gue sakit, sakit parah. Gue, di diagnosa gagal ginjal sama dokter. Gue—”
“—serius Fan!?”
Delfano mengangguk.
“Lo kenapa gak pernah cerita sama kita?” tanya Sebastian. Tak bisa dipungkiri, dia cukup sedih mendengar itu semua. Apalagi dia tahu, bukan hanya Delfano yang sakit, melainkan Natasya juga. Membayangkan harus kehilangan dua sahabat sekaligus rasanya tak sanggup. Apalagi—
Hahahaha...
Antonio dan Sebastian langsung menatap bingung Delfano yang sudah mencak-mencak tertawa. Lihat sekarang, bahkan lelaki itu tak henti-hentinya tertawa disaat semua orang semakin memperhatikan mereka.
Delfano mengusap sudut matanya yang mengeluarkan air mata, mungkin ini efek tertawa. “Kalian berdua percaya, gue sakit gagal ginjal?” tanya Delfano, dia menatap bergantian kedua sahabatnya.
Antonio dan Sebastian mengangguk.
“Iya, lo kan anaknya bandel banget. Rokok sering, minum apalagi. Tapi,—”
“— Ya kali?! Ya, kali gue sakit begituan.” potong Delfano, dia menarik sudut bibirnya. “Gue tuh cuma diare kemarin, makanya ke rumah sakit. Emang bokap gue nya aja yang lebay, pake nyuruh segala ajudannya maksa gue ke rumah sakit.” lanjut Delfano.
Tak!
Aw!
Delfano meringis saat kepalanya mendapat toyoran dari Antonio dan Sebastian bergantian. Dia menatap sebal mereka yang hanya menampilkan wajah datarnya.
“Bangke, lo!”
“Bangsat!”
Mereka beranjak dari duduknya meninggalkan Delfano yang masih terkekeh. Delfano diam, dia tersenyum menatap kedua sahabatnya yang sudah menjauh menuju parkiran rumah sakit.
Satu hal yang hanya mampu dilakukannya kini.
Tersenyum, sendu.
“Woy, tungguin!”
***
Mobilnya berhenti disebuah rumah di kawasan elite. Dia masih diam di dalam mobil, belum ada niatan untuk keluar. Matanya menatap lurus ke depan. Hanya dengan sekali helaan napas, dia memutuskan untuk keluar dari mobilnya itu.
Anya, dia lah orang itu.
Dia menatap rumah besar di depannya, rumah yang sudah hampir 16 tahun terakhir ini ditempatinya. Rumah yang menjadi saksi bisu semua memori di benaknya. Dengan langkah pelan, dia berjalan memasuki rumah tersebut. Dan, tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, dia masuk.
Di sana, di kursi yang langsung menghadap kearah pintu utama ruang tengah duduk seorang pria paruh baya yang tengah membaca koran.
Mendengar pintu yang terbuka, pria paruh baya itu menghentikan kegiatan membaca korannya. Dia menatap Anya yang masih berdiri didepan pintu tanpa ada niatan untuk melanjutkan langkahnya.
“Anya.”
Dengan langkah pelan, Anya menghampiri Papa nya. Kini dia sudah berhadapan dengan Papa nya itu.
Entah apa yang dirasakannya kini. Namun, karena rasa itu membuat matanya terasa memanas dan sayangnya harus membuatnya menitikkan air mata.
“Anya. Papa—”
“—buat apa Papa kesini?” tanya Anya dingin. Dia menghapus cepat air matanya dan menatap datar Papa nya.
“Anya, Papa kangen sama anak Papa ini. Jadi, Papa kesini. Kok kamu tanya gitu sih, sayang?”
Anya menarik sudut datarnya. “Kangen? Bukannya Papa gak pernah sayang sama aku? Bukannya Papa cuma sayang sama anak Papa itu? Jadi, rasanya, kangen itu gak ada artinya, Pa.”
“Anya, Papa sayang sama kamu, sama seperti Papa sayang sama—”
Anya menggeleng kuat, “Enggak! Papa cuma sayang sama Natasya. Enggak sama Anya!” teriak Anya, air matanya kembali menetes saat harus kembali diingatkan pada kenyataan itu.
Karena teriakannya itu membuat seorang wanita paruh baya berlari menghampiri mereka.
“Anya!” tegur wanita paruh baya itu. Dia tak suka saat anaknya harus berteriak pada seseorang yang lebih tua, apalagi ini orang tuanya sendiri. Tak pernah sedikitpun dia mengajarkan demikian.
Anya menatap Mama nya, dia mengangguk paham kini. “Oh, jadi ini alasan Mama nyuruh aku pulang ke rumah?” tanya Anya marah, namun tak sedikitpun mendapat jawaban dari Mama nya yang diam.
Ashilla—Mama Anya itu menghela napas dengan pelan. Dia ikut sakit saat melihat anaknya yang kesakitan. Bukan, bukan sakit fisik, tetapi sakit yang hanya bisa dirasakan beberapa orang.
“Anya, Papa kamu itu—”
“Kenapa sih, Ma? Kenapa Mama selalu belain Papa?” tanya Anya, suaranya sedikit tersedak karena tangisannya itu. “Mama gak perlu lagi bohongin Anya, Anya udah gede mah. Anya tahu semuanya. Anya tahu!” lanjut Anya, dia menunduk sambil meringis merasakan sakit di hatinya.
Mereka terdiam.
“Sejak kecil, Anya gak pernah rasain kasih sayang Papa seutuhnya. Anya selalu di nomor duakan. Anya, Anya iri sama temen Anya. Anya iri sama—”
“Anya.”
Papa nya itu langsung membawa Anya ke pelukannya, merasakan rasa sakit yang sama yang tengah dirasakan putrinya itu. Dia mengelus punggung putri nya, berharap mampu menyalurkan ketenangan. Namun, bukannya ketenangan yang didapat melainkan rasa sakit yang berkali lipat.
Anya langsung melepas paksa pelukan itu. Dia langsung berlari meninggalkan orangtuanya menuju mobil, buru-buru memasuki mobil tersebut tanpa mempedulikan teriakan yang berasal dari orangtuanya.
Sedangkan, di tempat yang lain. Pria paruh baya itu memeluk istrinya yang kini menangis menatap kepergian putri mereka.
“Maafin aku Ashilla. Maaf.”
***
“Anjir, pake acara bocor segala!” dengus Sebastian, dia berdecak pinggang sambil menatap ban mobilnya yang bocor. Dia baru saja mengantarkan Antonio dan Delfano bergantian, disaat dia hendak pulang entah kenapa tiba-tiba ban mobilnya bocor seketika.
Dia menatap sekitar, sepi.
Hiks... Hiks... Hiks...
Haruskan Sebastian bergidik ngeri sekarang? Coba bayangkan, dia berada di tempat yang sepi dan harus mendengarkan suara tangisan seorang perempuan. Apa itu lucu?
Dia mengedarkan pandangannya, mencari sumber suara tangisan itu. Dia memicingkan matanya saat menangkap seseorang yang tengah duduk di trotoar sambil menunduk, menyembunyikan wajahnya.
“Itu beneran manusia?” gumam Sebastian pelan.
Sebenarnya, dia bukan tipikal orang yang kepo. Tapi, entah kenapa, seperti ada dorongan dalam dirinya untuk menghampiri orang itu. Dengan langkah pelan, dia menghampiri orang itu yang lumayan jauh dari tempatnya berdiri sekarang.
“Mbak?” panggil Sebastian, dia mengerutkan keningnya saat sudah dihadapan orang itu. Dia yakin, orang dihadapannya adalah perempuan, mengingat rambut orang itu yang diikat kepang.
“Mbak,”
Hiks... Hiks... Hiks...
Masih belum ada jawaban, dia mengulurkan tangannya menyentuh pundak perempuan itu yang bergetar cukup kuat. Baru saja tangannya mendarat di pundak perempuan itu, perempuan itu langsung menepisnya.
“MAS NYA KENAPA SIH? KENAPA GANGGU SAYA? SAYA GAK MAU DI GANGGU. SAYA—”
“Anya.”