![Friendshut [TAMAT]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/friendshut--tamat-.webp)
Dia duduk bersimpuh di atas makam yang masih basah. Baru beberapa jam yang lalu, orang yang dikasihinya pergi untuk selamanya. Air mata tak berhenti mengalir, bahkan sampai rasanya sesak karena hidungnya tersumbat sebab tangis ini.
“Bunda...”
Natasya, dia menjatuhkan tubuhnya sampai setengah berbaring memeluk makam yang bertuliskan nama bundanya.
Emma binti Abdul Aziz.
Gemuruh sudah berbunyi sejak tadi, awan mendung kini menghiasi langit. Dan, tepat saat air hujan turun membasahi bumi, saat itu pula hujan membantu mengharukan suasana sedih ini. Seolah, hujan juga menangis melihat Natasya kehilangan orang terkasihnya.
“Nata,”
Natasya tak bergeming, dia masih menangis bersama hujan. Dia tak peduli suara ayahnya yang sejak tadi memanggil, memintanya beranjak dari tempat ini. Dia tak peduli, bahkan sampai seluruh tubuhnya kotor pun dia tak peduli. Dia kehilangan, kehilangan seseorang tanpa bisa kembali lagi.
“Bunda...”
Bramantyo menyeka air matanya, dia sama sedihnya seperti putrinya. Dia menatap Natasya yang masih belum mau beranjak. Putrinya tak peduli dengan keadaannya sendiri, tak peduli lukanya karena kecelakaan waktu itu basah kembali.
Bramantyo menoleh saat pundaknya disentuh. Tepat disampingnya, Ashilla—istri keduanya berdiri dengan setelan hitam dan juga payung di tangannya. Dia tersenyum pilu, mencoba menguatkan hatinya.
Ashilla mengerjapkan matanya yang terasa buram karena terhalang air mata. Kehilangan sahabat sekaligus istri pertama suaminya membuat hatinya sakit. Dia tak senang, sama sekali tak senang. Mungkin orang-orang beranggapan dia senang karena istri pertama dari suaminya, pergi untuk selamanya dan itu membuat posisinya menjadi tunggal, kuat.
Nyatanya tidak.
Sejak dulu pun, dia tak pernah ada niatan merebut Bramantyo dari Emma. Dia rela mendapatkan cibiran dari orang-orang yang tahu statusnya sebagai istri kedua. Dia tak pernah meminta Bramantyo untuk meninggalkan Emma. Dia tak pernah meminta Bramantyo untuk selalu ada dengannya dan Anya. Dia bahkan rela, rela sejak kecil putrinya tak mendapat kasih sayang utuh dari seorang ayah. Hanya demi Emma dan Natasya, dia rela.
Dia tak pernah menuntut apapun.
Tapi, orang-orang selalu beranggapan buruk tentangnya, seolah memang dia yang paling bersalah disini.
Air matanya jatuh juga. Ashilla terisak pelan, dia membekap mulutnya agar isakan tak terdengar siapapun, meskipun nyatanya kini tengah hujan. Bisa saja suaranya kalah dengan derasnya hujan.
Namun, nyatanya, dia akhirnya terisak keras saat Bramantyo menariknya ke dekapan lelaki itu. Dia menangis dalam pelukan hangat sang suami.
Tak jauh dari sana. Anya berdiri kaku dengan wajah yang sulit di artikan. Dia harusnya senang melihat tangis Natasya, tapi hati mengkhianatinya. Nyatanya dia tak kuasa menahan tangisnya saat melihat Natasya kehilangan orang terpenting dalam hidupnya.
Nyatanya, dia munafik.
Ingin melihat Natasya sengsara, tapi dia tak tega.
Air mata akhirnya jatuh juga di pipinya. Dia menyesali ini semua. Ternyata apa yang ditimpa Natasya jauh lebih susah darinya. Ternyata apa yang dirasakan Natasya lebih sakit dari apa yang dirasakannya selama ini.
Mungkin dia hanya butuh waktu 10 tahun untuk merasakan sakit karena kehilangan. Dia sempat kehilangan sosok papa sejak kecil. Dia tak pernah merasakan kasih sayang dan perhatian dari seorang papa. Dia hanya butuh waktu sedikit dan semuanya akan indah.
Tapi, Natasya?
Perempuan itu kehilangan sosok ibu untuk selamanya. Selamanya.
***
Anya memasuki ruang kamar inap Natasya. Dia berdiri sebentar diambang pintu sebelum kemudian berjalan masuk. Dilihatnya, Natasya tengah duduk di atas kursi roda memunggunginya. Kakinya melangkah menghampiri Natasya, bersimpuh di samping perempuan itu yang tak sedikitpun terusik karena kehadirannya.
Anya tersenyum miris.
Bagaimana bisa dia begitu benci dengan perempuan ini?
Bagaimana bisa iri dengan perempuan ini?
Bagaimana bisa?
Anya menyentuh lengan Natasya di atas pahanya. Dia menggenggam, tersenyum saat Natasya menatapnya. Mereka saling tatap.
Natasya hanya menatap Anya, tak ada senyuman atau ekspresi apapun dari perempuan itu. Datar, hanya itu. Sedangkan Anya, dia tersenyum miris. Begini rasanya saat orang yang biasanya tersenyum manis padamu tiba-tiba berubah menjadi datar.
“Makan, ya? Nanti minum obat.” ucap Anya, lembut. Dia mengusap punggung tangan Natasya.
Anya baru tahu sekarang. Fakta yang sekali lagi mengejutkannya. Fakta tentang penyakit Natasya. Sekali lagi, dia bodoh. Kenapa dia harus iri dengan Natasya? Kenapa?
Natasya tak merespon, bahkan dia langsung menarik tangannya dari genggaman Anya. Dia kembali mengalihkan pandangannya dari Anya, menatap lurus ke depan—menatap gedung-gedung pencakar langit dari lantai dimana kamar inapnya berada.
Anya tersenyum miris.
Apakah Natasya baru saja menolaknya?
Tentu, Natasya pasti benci dengannya. Natasya pasti benci saat tahu bahwa mereka saudara. Natasya pasti benci mengetahui dia juga anak dari ayahnya. Natasya pasti benci dia. Pasti.
Anya beranjak, dia berdehem sebentar untuk menghilangkan rasa sesak dihatinya. Dia tersenyum, mencoba menyikapi ini semua dengan baik. Dia membenarkan bajunya sebentar.
“Gue nunggu di luar, ya, kalau pengen sesuatu lo tinggal panggil gue aja.” ucap Anya, dia menyentuh pelan pundak Natasya sambil mengusapnya singkat. Dia membalikkan tubuhnya, berniat pergi dari sini.
Namun, baru kakinya melangkah suara Natasya membuatnya mengurungkan niat. Dia kembali menatap Natasya, bersimpuh dihadapan perempuan.
“Maaf, Nya, maaf.” lirih Natasya, matanya sudah berkaca-kaca menatap Anya. Tak bisa dipungkiri, Anya pun merasakan matanya memanas mendengar suara lirihan Natasya.
“Maaf karena aku gak tahu, ternyata kamu juga anak ayah.” ucap Natasya pelan, air matanya sudah menggenang dan siap menetes. Anya langsung menggenggam erat tangan Natasya sambil menggeleng pelan.
“Maaf karena aku gak tahu, ternyata kamu saudara aku.”
“Maaf karena aku, kamu gak dapat sepenuhnya kasih sayang ayah.”
“Maaf—maaf, Nya, maaf.”
Hanya itu yang bisa diucapkan Natasya. Anya menggeleng, dia langsung menarik Natasya ke pelukan. Menangis bersama mengingat kesalahan mereka.
***
Flashback on
Bramantyo dan Antonio berlari cepat menyusuri koridor rumah sakit. Mereka langsung berjalan kearah resepsionis, bertanya dengan suara bergetar dan penuh kecemasan.
Setelah mendengar penjelasan resepsionis tadi. Mereka langsung bergegas pergi ke ruangan yang dimaksud. Mereka menerobos masuk, membuat semua yang ada di ruangan ini terkejut.
Bramantyo langsung menghampiri Emma yang tak sadarkan diri dengan luka-luka di sekujur tubuh dan kepalanya. Terlebih luka di kepala tak henti-hentinya mengalir mengeluarkan darah segar. “Emm, Emma. Sayang...” lirih Bramantyo sambil mencoba mengguncangkan tubuh Emma. Dia tak peduli bajunya kotor karena darah Emma ataupun malu karena tangisnya ini.
Emma tak merespon, mata perempuan itu masih setia memejam meskipun Bramantyo setia memanggil nama wanitanya.
Sedangkan Antonio, dia menatap sedih Natasya yang memejamkan matanya dengan luka di bagian kakinya. “Na... Bangun, Na.” lirih Antonio, dia tak kuasa meneteskan air matanya. Dia mendekap tubuh yang tak sedikitpun memberikan respon itu.
“Maaf, Pak, kalian harus menunggu di luar. Dokter yang akan menanganinya.” ucap salah satu perawat disini, dia mencoba meminta Antonio dan Bramantyo untuk keluar dari sini.
“Dokter, mereka istri dan anak saya. Saya harus disini menemani mereka.”
“Maaf, pak, tapi tidak bisa. Kalian harus mengikuti prosedur di rumah sakit ini. Mohon tunggu di luar.”
Akhirnya dengan segala paksaan, mereka mau keluar. Bramantyo merosot saat pintu ruangan itu tertutup rapat, dia membenamkan wajahnya diantara kedua lututnya, menangis pilu saat kembali mengingat keadaan anak istrinya.
Sedangkan Antonio, dia mengacak pelan sampai kasar rambutnya, menggeram kesal. Jantungnya terus berdebar hebat dengan segala kekhawatiran yang timbul di benaknya. Dia tak bisa membayangkan bagaimana nanti kedepannya. Dia tak mau kehilangan siapapun.
Drtt...
Antonio merogoh sakunya, mengeluarkan ponsel kemudian langsung menggeser tombol hijau untuk mengangkat panggilan.
“Halo, Ton. Lo dimana? Keadaan Fano udah parah, dia butuh donor ginjal secepatnya.”
Itu suara Sebastian, namun Antonio tak mengeluarkan sepatah katapun.
“Ton? Halo!?”
“Natasya sama bunda, mereka kecelakaan.”
Akhirnya, Antonio bisa juga mengeluarkan suaranya.
“Apa!? Sekarang Lo dimana? Gue nyusul kesana!”
“Gue di rumah sakit***”
***
Sebastian tergesa-gesa menghampiri mereka. Dia menggeleng tak percaya melihat penampilan Antonio dan Bramantyo. Penampilan mereka tak karuan, apalagi Bramantyo yang berlumuran darah.
“Ayah, Anton. Gimana keadaan bunda sama Syasya?” tanya Sebastian dengan cemas, dia langsung menghampiri kedua lelaki itu yang sudah tak karuan.
Bramantyo tak menjawab, dia hanya bisa menunduk. Sedangkan Antonio mendongak, menggeleng sebagai jawaban. Baru saja Sebastian siap melontarkan kembali pertanyaan, ruangan yang terbuka mengalihkan perhatian mereka semua.
“Gimana sus, gimana keadaan anak dan istri saya?”
“Maaf sebelumnya, istri anda sejak tadi terus menggumamkan nama Natasya. Apa kalian tahu siapa Natasya? Kalau bisa, cepat dibawa kesini orangnya.” ucap suster tersebut.
“Natasya itu korban yang bersama istri saya, korban di samping bangkar istri saya sus.” jelas Bramantyo. “Sus, boleh saya masuk?”
Suster tersebut seperti ragu, namun kemudian mengiyakan. “Tapi, satu orang saja.” ucap suster tersebut yang diangguki ketiganya.
Bramantyo langsung masuk, meninggalkan Antonio dan Sebastian yang masih dirundung kegelisahan. Mereka tak marah, toh menurutnya memang seperti itu seharusnya. Bramantyo lebih berhak daripada mereka.
***
Bramantyo langsung menundukkan kepalanya, menatap Emma yang sudah membuka matanya meskipun sayu. “Emm, ini aku. Kamu harus kuat sayang.” ucap Bramantyo sambil menggenggam tangan Emma yang terasa dingin.
“Natasya,” lirih Emma.
“Natasya baik-baik aja, kamu yang kuat ya.”
“Dia sakit mas, dia sakit.”
Bramantyo mengangguk. “Iya, aku akan obati dia supaya sembuh dari sakitnya.”
Emma mengulas senyum tipis.
“Mas, tolong,” ucap Emma terputus, dia memejamkan matanya kemudian kembali menatap Bramantyo. “Fano, dia butuh ginjal. Tolong berikan ginjal aku buat dia.”
Bramantyo lagi-lagi mengangguk, dia tak kuasa menahan tangisnya. “Iya, tapi kamu sembuh dulu.”
Emma menggeleng. “Waktu aku udah dekat mas, tolong jaga Natasya.” ucap Emma yang mendapat gelengan dari Bramantyo.
Bramantyo masih membutuhkan Emma. Dia tak siap kehilangan istrinya itu. Emma seperti kesulitan bernapas membuat tangis Bramantyo tak terbendung. Bramantyo mencoba menuntun Emma mengucapkan syahadat, diikuti Emma dengan suara yang tercekat.
Dan tepat saat air mata menetes kembali dari pipinya, saat itu pula Emma menghembuskan napas terakhirnya.
***
Delfano mengerjapkan matanya, dia menyesuaikan cahaya yang masuk ke matanya. Hal pertama yang ditangkap indra penglihatannya adalah Antonio dan Sebastian, tak lupa juga ayah Natasya.
“Lo kenapa, Fan, ada yang sakit?” tanya Antonio yang mendapat gelengan dari Delfano. Dia kembali mengerutkan keningnya, bingung sendiri.
“Operasinya?”
Antonio tersenyum, dia mendongak menatap Bramantyo yang mengangguk. “Operasinya berhasil, ternyata ginjalnya cocok sama lo.” jawab Antonio yang membuat senyuman tercetak di bibir Delfano.
Delfano meringis, merasakan rasa sakit bekas jahitan yang masih dirasakannya. “Siapa pendonornya?” tanya Delfano yang seketika membuat semuanya terdiam.
Delfano kembali mengerutkan keningnya, dia menatap Sebastian, Antonio dan Bramantyo bergantian. “Kenapa? Kenapa kalian diam?” sambung Delfano.
Antonio berdehem, dia tersenyum. “Dia gak mau, identitasnya ada yang tahu. Udahlah, yang terpenting sekarang lo udah sehat. Jangan macam-macam lagi, nanti susah sendiri.” tukas Antonio yang membuat Delfano mendengus.
“Iya... Iya...” jawab Delfano. Dia menatap lurus ke depan. “Buat siapapun, orang yang udah relain ginjalnya buat gue. Gue terimakasih banget, berkat dia gue bisa hidup lagi.” ucap Delfano yang membuat senyum sendu tercipta di bibir mereka.
Flashback off